Author:: Assyifa Widiastomo
Genre:: Fantasy
creation for your self :)
Malam ini Gara pulang kerumah dengan berjalan kaki dan menuntun sepedanya
yang ban belakangnya tanpa sengaja terkena paku di perjalanan pulangnya dari
berjualan kue keliling. Gara
memanglah seseorang yang terkenal ceroboh dan satu hal lagi tentang Gara, dia
juga terkenal suka mencuri.
GUBRAK!
Kaki Gara tersandung sebuah batu yang berukuran cukup besar yang tergeletak
begitu saja di jalanan. Gara melihat ada darah yang menetes dari dahinya
setelah itu pandangannya kabur dan semuanya menjadi gelap begitu saja.
*
Gara terbangunkan oleh sinar
rembulan yang malam ini begitu menyilaukan mata. Saat sudah terbangun yang
pertama kali dilakukan Gara ialah meletakkan telapak tangannya ke dahinya untuk
memastikan masih ada darah yang tersisa akibat kecelakaan tadi atau darah itu
sudah menghilang. Gara melihat telapak tangannya, disana memang tidak ada
setetespun darah tapi Gara nampak sangat terkejut. Seingatnya tadi dia terjatuh
dijalan raya yang beraspal tapi kenapa sekarang dia menginjakkan kakinya di
tanah yang penuh ranting dan daun-daun yang mulai berwarna kuning kecoklatan
karena mengering. Gara melihat pemandangan disekelilingnya. Semuanya pohon.
Tiada yang lain! Bahkan sinar rembulan yang bertemankan taburan bintang diatas
sama sedikit tertutup oleh pohon-pohon yang rimbun.
Gara melihat kearah jam tangan yang
melingkar dipergelangan tangan kirinya. Jam yang berbentuk digital itu
menunjukkan pukul 07.03. Tapi matahari belum terlihat sama sekali, masih ada
sinar rembulan disini. Apakah waktu dihutan ini berbeda dengan ‘dunia’ Gara
yang asli? Lalu hutan apa ini?
Gara berusaha berdiri. Tapi belum
sempat dia berdiri tegak pandangannya mulai kabur kembali. Semua terlihat semu
dan sangat banyak membuat Gara semakin pusing melihatnya. Gara memutuskan untuk
memejamkan matanya dan semuanya menjadi hitam polos kembali tanpa ada gambaran
benda apapun yang membuatnya sakit kepala.
*
Gara
merasakan geli ditelapak kakinya membuatnya terbangun dengan kagetnya.
“HAHAHAHA….”Gara tertawa keras.
“EROH!!!!”teriak seseorang yang
berdiri didekat tempat tidurnya sambil bertepuk tangan dengan hebohnya. Gara
terlihat terkejut melihat orang itu. Tingginya mungkin tidak lebih dari 100 cm.
Kulitnya berwarna coklat gelap. Pakaiannya pun pasti terlihat aneh jika dikenakan
pada tahun 2011, tapi sepertinya Gara pernah melihatnya disebuah film. Lama
Gara mencoba mengingatnya akhirnya ia menemukannya di memori otaknya. Baju itu
pernah dilihatnya dalam sebuah film yang menceritakan suku Indian. Lalu apakah
ia berada diantara orang-orang suku Indian sekarang? Bagaimana bisa? Padahal ia
hanya terjatuh dan pingsan karenanya dijalan raya! Orang itu sepertinya tahu
kebingungan didalam diri Gara dan dia sepertinya juga tahu Gara bukanlah salah
satu dari mereka dan pastilah Gara tidak akan mengerti jika ia menjelas dengan
bahasanya.
Orang itu lalu bergerak kesana
kemari untuk memperagakan sesuatu. Gara langsung paham maksudnya bahwa dia mau
me-reka ulang kejadian pingsannya Gara dihutan tadi. Ternyata saat orang
tersebut mencari bahan makanan dihutan dia melihat sesosok manusia yang
‘raksasa’ menurutnya. Dia berusaha menggoyang-goyangkan kaki Gara,
menepuk-nepuk seluruh bagian tubuh Gara tapi hasilnya tetap nihil. Gara tetap
tidak terbangun dari pingsannya. Dengan gusar ia memanggil beberapa orang
temannya untuk menggotong tubuh Gara yang kurang lebih dua kali lebih tinggi
dan lebih lebar daripada orang tersebut. Setelah 2 jam barulah Gara tersadarkan
oleh bulu ayam yang digunakan untuk menggelitik telapak kaki Gara tadi.
Gara sangat antusias mendengar
cerita penyelamatan dirinya. Tanpa sungkan sedikitpun ia langsung mengucapkan
terima kasih.
“Terimakasih banyak.”ujar Gara
seraya menjulurkan tangannya untuk berjabat tangan.
“Naeyir.”orang itu menerima jabat
tangan Gara. Sepertinya dia salah tangkap. Padahal Gara sebenarnya ingin
berterimakasih karena Naeyir mau menyelamatkannya tapi sepertinya ia mengira Gara ingin
berkenalan sesosok mungil itu. Gara sanat memaklumi hal itu. Bahasa yang mereka
memang gunakan sangat jauh berbeda denagn bahasa Gara sehari-hari, begitupun
sebaliknya.
“Gara.”Gara menyebutkan namanya. Naeyir mengerutkan kening ketika dia
mendengar nama yang cukup unik ditelinganya.
“HA?
Gar??”tanyanya sedikit bingung saat
menyebutkan nama Gara.
“Gara.
G-A-R-A. Gara.”Gara membenarkan.
“Ga…ra?”Gara langsung mengangguk
senang. Tiba-tiba Naeyir menarik tangan Gara untuk turun dari tempat tidur dan
segera mengikuti langkah kaki mungilnya.
Perjalanan
yang cukup panjang berakhir disebuah bangunan yang waww! Sangat megah! Bangunan
megah itu terbentuk atas berbagai logam mulia. Emas, intan, permata, dan masih
banyak lagi yang menambah kesan elegan di gedung yang terlihat luas dan
menjulang tinggi. Menurut Gara istana presidenpun kalah megah dengan istana
yang satu ini. Walaupun istana itu tampil dengan elegannya bangunan ini masih
memiliki halaman yang asri dengan banyaknya tumbuhan hijau yang rindang serta
adanya berbagai macam bunga dengan berbagai macam bentuk dan warna. Istana ini
semakin mengundang decak kagum karenanya. Belum ditambah lagi dengan sebuah
kolam yang ditengahnya terdapat patung seorang kurcaci pria dan seorang lagi
kurcaci wanita yang mengeluarkan air mancur dari topinya. Sungguh istana yang
unik.
Naeyir
berlari memasuki istana megah itu dengan bersiul riang. Kakinya yang
meloncat-loncat kanan berganti
dengan kiri seirama dengan siulannya tapi saat mulai memasuki istana tersebut
langkah kakinya berubah menjadi sangat sopan seketika.
Ternyata
Naeyir membawa Gara untuk menghadap kepada seseorang yang Gara pikir mungkin
ini raja disuku ini. Disamping sang raja berdirilah seorang gadis manis yang
sangat Gara yankini bukan istri sang raja melainkan purti sang raja. Raja dan
Naeyir asyik berbincang-bincang. Setelah itu Naeyir menjelaskan kepada Gara
tentang orang itu, ternyata benar dugaan Gara dia adalah seorang raja di suku dan
yang disampingnya adalah putri kerajaan.
Secara reflek Gara merapikan rambut,
terutama poninya yang berantakan saat terkena angin diluar. Tanpa berlama-lama
ia berjongkok persis seperti adat sungkem yang ia lakukan setiap hari fitri
umat islam, Idul Fitri datang kepada sang raja.
”Hemmm....
Aganis.”ujarnya. Aganis? Apa itu? Atau mungkin itu nama sang raja? Baru saja
Gara bertanya ke dirinya sendiri, Naeyir sudah menjelaskannya lewat peragaan
seperti biasa bahwa Aganis merupakan nama milik sang raja.
”Afiyssa.”ujar sang putri kemudian.
’Afiyssa, nama yang bagus.”Gara memuji
nama milik putri Afiyssa didalam hatinya.
Setelah
itu Gara hanya berdiam diri mendengarkan percakapan antara Raja Aganis dengan
Naeyir yang sesungguhan ia tidak mengerti. Sesekali Gara mencuri pandang
kearah seorang gadis manis dihadapannya, Afiyssa.
*
Sudah
sangat panjang waktu yang dihabiskan Gara didunia barunya. Gara
menggunakan waktunya
didunia barunya ini dengan membantu pekerjaan-pekerjaan disuku Omotsaidiw,
sebuah suku yang ditumpanginya saat ini. Terkadang dia melamun saat mengingat
kehidupannya yang dulu. Saat dia harus sekolah dipagi hari, bimbingan belajar
disiang hari, dan berjualan kue saat sore menjelang hingga malam. Gara juga sangat
merindukan ayahnya dan ibunya, walaupun mereka lebih sering memarahi Gara
terutama jika Gara mulai mencuri.
“BAAAA!!!”teriak Naeyir mengagetkan
lamunan Gara tentang kehidupannya yang dulu, telinganya yang sanagt besar dan
tidak singron dengan mukanya terlihat bergerak-gerak lembut.
“Naeyir.”Gara pura-pura kaget untuk
sedikit berbasa-basi.
“Hmmm?? Apa ada?”Naeyir memandang
wajah Gara. Kening Gara berkerut pertanda Gara bingung dengan bahasa yang
diucapkan oleh Naeyir. Nampaknya Naeyir mengerti tentang hal itu kemudian ia
memperagakan sesuatu yang artinya putar. Gerakan Naeyir membuat Gara semakin
bingung. Naeyir hanya tersenyum manis menunjukkan lesung pipitnya yang cukup
dalam.
“Aynnakumenem naka umak taas
utaus.”ujar Naeyir membuat Gara semakin pusing saja. Tapi Naeyir hanya kembali
memamerkan lesung pipit yang ia miliki dan meninggalkan Gara dengan senyuman
penuh. Kaki mungilnya yang berbulu lebat berlarian pelan.
Satu misi dari Naeyir untuk Gara! Menemukan arti bahasa Suku Omotsaidiw.
Tetapi Gara hanya bermodalkan putar, walaupun begitu Gara berjanji kepada
dirinya sendiri untuk dapat menemukan arti dari bahasa suku Omotsaidiw.
*
Saat ini Gara membantu warga suku
Omotsaidiw untuk menyimpan bahan makanan didalam tanah. Kegiatan ini memang
sudah menjadi ritual suku Omotsaidiw
setiap bulannya,
menyimpan bahan makanan didalam tanah untuk digunakan pada
bulan
berikutnya.
Sedari tadi Gara terus mencangkul
tanah yang sudah disiapkan. Sudah hampir 76 lubang yang dibuat oleh Gara. Saat
menjatuhkan cangkul untuk memulai membuat lubang yang ke-77 Gara merasakan
sesuatu yang aneh dari dalam tanah. Sepertinya ada yang mengganjal
pekerjaannya. Gara langsung mencari tahu. Setelah ia cangkul dan cangkul
akhirnya ditemukannya sebongkah emas putih. Sangat cantik dan mengangumkan.
Gara sangat ingin memilikinya tapi ada sesuatu dihatinya yang membuatnya
sedikit bimbang dan ragu untuk mengambil benda antik yang cantik itu. Gara
merasa ia tidak berhak sama sekali untuk memilikinya. Tapi pikirannya merasa
tidak dapat melewatkan kesempatan emas ini untuk memiliki emas putih tersebut. Sangat lama Gara menimang emas putih
ditangannya yang terlihat berkilau karena terkena sinar matahari yang terik
yang semakin membuat Gara ingin memilikinya. Akhirnya dengan berhati-hati Gara
memasukkan emas putih itu kedalam saku celananya berharap tidak ada yang
mengetahuinya.
“Irucnep!!!”teriak seorang warga
yang membuat Gara tersentak kaget. Gara memang tidak mengerti sama sekali arti
dari yang yang diucapkan orang itu, tapi Gara sangat mengerti aksi pencurian
emas putih yang ia temukan tadi tertangkap basah!
Orang tadi meanggil teman-temannya
untuk membawa Gara menghadap ke Raja Aganis. Gara hanya bisa pasrah saat
dirinya dikepung warga Omotsaidiw yang kemudian digiring menuju istana yang
dulunya bagi Gara adalah surganya suku Omotsaidiw, tapi kini mungkin itu adalah
nereka bagi Gara karena nyawanya akan musnah disana! Gara terus berdo’a kepada
Tuhan agar bisa terselamatkan dari maut yang akan menerpanya.
Ditempat lain yang tak jauh dari
tempat penangkapan Gara, tanpa sepengetahuan Gara Naeyir yang melihat kejadian
itu sangat sedih kelakuan buruk Gara terulang lagi ditempat barunya. Tapi dia
tidak mau hidup sahabat barunya berakhir
ditempat yang dimana dia tidak memiliki siapa-siapa selain Naeyir. Akhirnya
Naeyir memutuskan untuk meminta bantuan putri Afiyssa. Mungkin hanya putri
Afiyssa yang bias membujuk raja Aganis untuk membatalkan hukuman untuk Gara.
Raja marah besar saat mengetahui
kelakuan buruk Gara. Setelah mereka
berunding
akhirnya diputuskan hukuman mati untuk Gara karena ternyata emas putih yang ia
ambil dari tanah tadi, emas putih milik raja yang tidak ada siapapun selain
raja yang boleh mengambilnya yang memang sengaja disimpan ditanah untuk mengetes
kejujuran warga suku Omotsaidiw.
Tangan Gara diikatkan kebelakang, kakinya pun juga diikat dengan sangat
kuat. Gara tidak berani sama sekali membuka matanya. Bagaimana tidak? Dia
dikelilingi warga suku Omotsaidiw yang membawa pedang masing-masing. Raja Aganis
juga sudah menyiapkan pedangnya yang siap memutuskan antara kepala dan badan
Gara. Bahkan pedang milik raja Aganis sudah melukai kulit epidermis dileher
Gara yang membuat lehernya mengeluarkan darah segar. Tapi Gara sangat berusaha
tidak mengeluarkan airmata dan menahan perih yang sangat luar biasa di lehernya.
“Pais?”teriak
Raja Aganis. “PAIS
TAGNAS!!!”teriak seluruh warga suku Omotsaidiw.
“HIYAAAA!!!!”Gara
semakin menutup atanya erat-erat tidak mau melihat keadaan dimana nyawanya akan
menghilang dalam waktu beberapa detik. Saat seluruh pedang warga suku
Omotsaidiw melukai tubuhnya.
“ Uggnut!!”teriak seseorang. Dalam sekejap
Gara sudah membuka matanya. Dilihatnya ada putri Afiyssa yang diikuti oleh
Naeyir. Dilihatnya mata Naeyir menatap Gara dengan tatapan penuh makna. Mata
Naeyir sangat memperlihatkan kekecewaannya terhadap Gara yang tidak mau
berpikir panjang saat mengambil emas putih yang bukan miliknya. Kelakuan Gara
yang satu ini sangat persis seperti kehidupannya di dunianya yang asli.
Raja
Aganis dan putri Afiyssa berdebat sengit dalam bahasa mereka yang Gara sampai saat ini masih belum mengerti
sedikitpun. Raut wajah raja Aganis yang sudah mulai mengerut terlihat bimbang.
Raja Aganis menarik nafas panjang dan mengatakan sesuatu kepada warga suku
Omotsaidiw. Warga terlihat tidak terima dengan keputusan raja Aganis yang
menurut mereka adalah keputusan sepihak. Tapi apa boleh buat? Mereka tentu saja
tidak bisa menentang keputusan raja Aganis. Mereka mulai menurunkan pedang
mereka dan melepas ikatan tali ditubuh Gara.
Wajah
Gara terlihat terkejut juga heran. Bukankah tadi nyawanya terancam berakhir
ditempat ini? Tapi kenapa tiba-tiba hukumannya dibatalkan? Apakah putri Afiyssa
yang menyelamatkannya? Tapi kenapa putri Afiyssa mau menolongnya? Padahal emas putih
yang dicurinya adalah emas putih milik ayahnya. Atau bahkan Naeyir yang meminta
pertolongan putri Afiyssa? Gara mungkin
tidak paham bahasa suku Omotsaidiw tapi dia sangat yakin Naeyir, sahabat
barunya tidak menginginnya kehidupannya berakhir ditempat yang sama sekali
tidak ia kenali. Gara sangat bahagia
dapat terlepas dari hukuman berat itu karena itu ia sangat ingin berterimakasih
kepada raja Aganis, putri Afiyssa, Naeyir, dan seluruh warga suku Omotsaidiw
karena telah mau melepaskannya.
Saat
Gara berjalan menghampiri putri Afiyssa tak sengaja kakinya menginjak emas
putih milik raja Aganis. Lantai yang memang licin membuat Gara terpeleset dan
jatuh terjerembab kebelakang.
”HUAA!!!!” teriak Gara kaget.
Gara sempat melihat Naeyir memperagakan sesuatu yang artinya putar kembali. Gara
baru ingat ia belum menyelesaikan misi khusus untuknya dari Naeyir yaitu
menemukan maksud dari bahasa suku Omotsaidiw! Belum sempat Gara menanyakan
maksud dari Naeyir, Gara sudah merasa kepalanya terasa nyeri karena terjatuh
cukup keras dan semuanya langsung menjadi gelap kembali seperti setiap kali ia
tidak sadarkan diri.
*
Tiba-tiba
Gara sadarkan diri kembali. Tapi
kali keadaan sekitarnya kembali berbeda. Ini adalah tempat dimana dia pingsan karena jatuh tersandung batu. Jadi
artinya ia sudah kembali kedunia aslinya? Atau kejadian tadi hanya bunga mimpi
disaat ia pingsan?
Entah
mengapa tiba-tiba Gara teringat gerakan Naeyir yang artinya memutar yang belum
ia temukan jawabannya hingga kini. Gara terus memikirkannya. Entah mendapat
ilham dari mana, Gara menerka maksud dari putar yaitu memutar kalimat yang
diucapkan warga suku Omotsaidiw agar ia bisa mengerti. Bahasa mereka sama
dengan bahasa Gara! Gara mencoba mengingat percakapannya dengan warga suku
Omotsaidiw yang menambah keyakinan Gara akan argumentasinya.
Gara
merasakan perih di leher bagian kanan secara reflek ia menyentuh lehernya dan
ternyata ada bekas luka disana! Apakah kejadian tadi bukan mimpi? Apa Gara benar-benar mengalami
petualangan itu? Apapun itu, mimpi atau bukan. Imajinasi atau kenyataan, Gara
tidak peduli itu. Karena dari kejadian tadi dia belajar suatu hal. Kejujuran. Suatu
hal yang tidak pernah ia miliki sebelum pergi berpetualang ke tempat suku
Omotsaidiw berada. Ya, mungkin selama ini dia telah melakukan kesalah dalam
hidupnya. Mencuri bukanlah perilaku yang bijak dan kelakuan itu bisa
menimbulkan masalah bagi dirinya sendiri dan orang lain. Dari suku Omotsaidiw
Gara belajar betapa pentingnya sikap jujur. Gara berjanji pada dirinya sendiri
untuk tidak melakukan hal itu lagi. Mulai dari detik ini sampai
kapanpun.

kalo anggara baca cerita ini gimana yah, hehe
BalasHapus