Author:: Assyifa Widiastomo
Genre:: Romance
Reader:: All of you :)
let's go for creations :)
Hari ini adalah hari pertamaku di-OSPEK. Di sebuah perguruan tinggi ternama
di Indonesia, Institut Teknologi Bandung. Kami, mahasiswa baru akan dikerjain
habis-habisan yang membuat tubuhku serasa remuk dalam jangka 1 hari saja.
“Hela!”teriak seorang kakak tingkat didepan sana.
”Iya, Kak.”aku ikut berteriak karena terlalu bersemangat.
”Ambil sound di lantai 6. Suara kami sudah hampir habis harus teriak-teriak
terus.”perintah seorang kakak tingkat yang tetap terlihat modis walaupun berbalut
jilbab dikepalanya.
Tanpa banyak bicara aku langsung menyusuri jalan di kampus untuk menuju ke
lantai 6. Aku berjalan terus tetap dengan semangat 45 tanpa kenal lelah
walaupun keringatku mulai keluar. Aku lihat sudah tersedia seonggok sound yang
cukup besar untuk ku bawa ke lantai 2. Akupun langsung mengangkat sound itu.
Semakin lama nafasku mulai tidak beraturan karena berjalan 10 lantai dengan
sound dipelukkanku sungguh melelahkan.
Glodak!!! Aku sudah tidak kuat lagi membawa sound ini. Aku terjatuh bersama
sound yang sengaja ku jatuhkan terlebih dahulu. Nafasku masih tersengal.
Keringatku terus bercucuran.
”Bodoh banget sih.”cela seseorang yang mengulurkan tangannya kepadaku,
berniat untuk membantuku berdiri. Aku menerima uluran tangannya. ”Udah tahu badan
kurus kaya’ gitu. Nekad aja ngangkat sound.”dia masih mencelaku. Tanpa bicara
lagi dia membantuku mengangkat sound tadi. Aku hnya mendengus kesal seraya
mengikuti langkah kakinya. Padahal badannya juga kurus sepertiku, masih saja
mencela tentang badanku.
”Dicky! Kok kamu bantuin dia sih!!”gerutu seorang kakak tingkat yang dengan
percaya dirinya datang ke kampus dengan hot pants. Ohh, ternyata namanya Dicky.
”Kalian gila apa ya?! Lihat enggak sih badan dia itu kurus kerempeng kayak
gini? Tega banget kalian suruh ngambil sound segede ini?”
”Kenapa kak Dicky belain aku ya?”batinku yang mulai ke-gr-an. ”Ah, enggak
mungkin dia bilang gitu karena belain aku. Paling juga karena kasihan lihat aku.”aku mengelak
pikiran itu sendiri.
”Kamu sendiri pernah di-OSPEK kan, Ky? Ya, kaya’ gitu kan?”protes seorang
cowok bertubuh sedikit berlemak.
“Tapi mikir juga dong, Ham!! Kalo dia jatuh terus cedera gimana??”seru Dicky.
“Udah lah, Ky. Lagian sound itu udah enggak berguna sekarang. OSPEK-nya
udah selesai.”ujar kakak tingkat berjilbab yang tadi menyuruhku mengambil
sound.
“Gila kalian semua!”runtuk kak Dicky yang langsung menarik tanganku untuk
pergi. Aku menundukkan badanku untuk memberi hormat.
“Lain kali kalo di suruh lihat-lihat keadaan! Lagian anak umur 18 tahun
badan kayak anak umur 16 tahun. Makan yang banyak!”nasehat kak Dicky dengan
sedikit kasar.
”Tapi OSPEK kan emang untuk tes mental, Kak.”elakku.
”Udah deh!”seru kak Dicky membuatku sedikit terkejut. “Ini buat kamu.”dia menyerahkan sebotol minuman
isotonic.
”Makasih, Kak Dicky.”ucapku.
”Aku mau pulang dulu.”pamit Dicky.
”Bye, Kak Dicky!!”seruku saat dia mulai terlihat jauh.
Kak Dicky melambaikan tangannya walaupun matanya tidak memandangku dan
kakinya terus berjalan pergi. Aku terus memandanginya. Kakak tingkat yang
pertama aku kenal dan yang pertama membantuku. Serta yang pertama membuatku
merasakan adanya hal yang aneh yang bergejolak didalam dadaku. Aku merasakan
adanya cinta dihatiku....
*
Aku berjalan kearah lokerku. Loker nomor 19. Aku sangat merasa aneh dengan
adanya sesuatu yang tertempel dipintu lokerku, cokelat! Aku lihat ada surat
juga yang tertempel dibelakang cokelat tersebut. Yang isinya:
”Coklat yang manis untuk
Hela yang manis :). Dari sweet secret admirer.”
HA?! Baru aku masuk hari kedua, aku sudah memiliki secret admirer?? Tapi
siapa dia? Oh, tidak nanti malam aku akan sulit tidur dan kejadian ini akan
terbawa hingga mimpi. Siapa dia kira-kira?
Aku langsung berjalan pergi dan masih memegang coklat yang entah dari
siapa. Aku juga masih terus menerka-nerka siapa dia. Aku mengedikkan bahu dan
membuka coklat tersebut serta memakannya. Aku harap dia segera memperlihatkan
dirinya.
**
Aku terduduk di kursi kesayanganku yang berbentuk doraemon. Entah mengapa
aku tiba-tiba teringat oleh coklat-coklat beserta surat-surat kecil dari orang
yang mengaku sebagai secret admirerku. Aku mengambil surat-surat itu dari
tasku. Semuanya berwarna sama. Biru muda dengan pita dengan warna putih bersih
di pojok kanan atas. Kenapa dia bisa tahu aku suka warna itu? Aku mulai membaca
surat surat itu satu persatu kambali.
”Kamulah yang berhasil membuatku suka chocolate. Dan
kamulah yang membuat hatiku suka sama kamu.”
Ih, waow. Pembukaan saja sudah seperti itu.
”Aku mau kamu selalu menjadi
WhiteAngel dengan hati yang selalu putih, bersih seperti white chocolate ini.”
Tanganku mengambil surat lainnya.
”Aku harap kamu bisa
menemukan cinta yang tepat, yang tak lain itu aku. Seperti kamu dengan mudah
menemukan mente didalam chocolate ini.”
Aku langsung membaca surat berikutnya.
”Kamu bagaikan chocolate
ini. Manis tapi keras! Juga ngangenin. Persis seperti chocolate yang aku
berikan ini.”
Aku tersenyum sendiri membaca gombalannya.
”Jika kamu menjadi chocolate
aku ingin menjadi mente untuk bisa selalu menemanimu, sweet chocolate.”
Aku semakin ingin membaca sekali lagi surat lainnya.
”Dark chocolate ini rasanya
pahit tapi juga ada rasa manis didalam dark chocolate ini, membuat orang lebih
suka memakan dark chocolate daripada milk chocolate. Ini menggambarkan kamu
yang mempunyai kekurangan maupun kelebihan, yang membuat aku menyukai kamu.”
Ohh, kata-katanya semakin so sweet saja orang ini.
”Jika orang merasa sebal
mereka suka memakan chocolate. Tapi jika aku sedang gundah ataupun sebal cukup
melihatmu tersenyum itu akan membuatku tersenyum juga.”
Tanganku sudah memegang surat berikutnya.
”Seandainya chocolate punya
hati dan mata dia pasti iri dengan kamu, Hela. Karena dia... kalah manis
dengan kamu.”
Ya Tuhan... Semakin lama kata-katanya semakin menyentuh!
”Saat aku lihat kamu aku
langsung ingat chocolate. Setelah itu aku langsung suka sama yang namanya
”chocolate” dan itu sampai saat ini. Karena sampai saat ini aku masih suka sama
kamu.”
Dia semakin membuatku penasaran.
”Chocolate. Chocolate
itu memang keras tapi mudah lumer. Aku harap hati kamu mudah lumer seperti
chocolate ini.”
Surat berikutnya langsung aku baca.
”Chocolate itu cocok diberi
apapun. Diberi strawberry, mente, pisang. Apapun cocok dengan chocolate. Tapi
aku harap kamu cuma cocok denganku.”
Gombalannya semakin menjadi-jadi saja dia.
“Spongebob suka dengan
krabby patty. Doraemon suka dorayaki. Kalo Nobita suka mie ramen.
Tapi aku... Cuma suka KAMU, sweet chocolate.”
Aku tergelak. Secret admirerku suka melihat film kartun seprti itu.
”Chocolate. Chocolate. Chocolate.
Menggumamkan kata itu selalu membuatku teringat seseorang bernama Agnes
Swarashela. Eh, itu kamu ya? :D”
Surat-suratnya membuatku grogi!
”Senyummu semanis chocolate.
Pendirianmu sekeras chocolate. Tapi hatimu selembut chocolate yang sudah lumer
dimulut, sweet chocolate.”
Ih, waow semakin romantis saja gombalannya!
”Hatiku seperti chocolate
yang aku berikan ini. Diluarnya keras tapi didalamnya sangat soft. Lembut
banget.”
Kenapa kali ini dia memuji dirinya sendiri?
”Suatu hari nanti aku ingin
memakan chocolate bersama kamu, Hela.”
Surat terakhir sudah selesai aku baca. Tiba-tiba aku teringat seseorang. Kak Dicky. Apakah
mungkin itu dia? Tapi enggak mungkin! Kak Dicky kan suka marahin aku. Enggak
mungkin dia bisa seromantis itu. Lalu siapa dia? Mengapa sampai saat ini dia belum
memperlihatkan dirinya?
Aku yakin dia akan segera terlihat. Dan aku harap dia orang yang selama ini
aku inginkan. Kak Dicky. Seorang kakak tingkat yang pernah membantuku dan
membelaku saat OSPEK. Aku harap dia chocolate boy itu.
***
Hari ini cukup spesial untukku. Tanggal 19 September. Aku berulang tahun
yang ke 19! Aku harap kado dari Tuhan selain kehidupanku yang panjang serta
keluarga yang lengkap aku juga ingin chocolate boy memperlihatkan dirinya.
Aku lihat dari kejauhan, ada seseorang berdiri didepan lokerku memegang
sesuatu ditangannya. Apakah itu si boy chocolate? Aku harus bisa menangkap
basah chocolate boy.
Aku mendekatinya. Semakin lama wajahnya semakin terlihat jelas. Tapi aku
tidak yakin dia chocolate boy. Kenapa? Karena orang yang berdiri didepan
lokerku adalah orang yang suka memarahiku. Kak Dicky.
”Kak Dicky? Kok ada disini?”tanyaku penasaran.
”Ah, enggak Cuma kebetulan lewat trus tadi dapet BBM dari temen jadi
berenti bentar.”kak Dicky terlihat kikuk dan buru-buru memasukkan sesuatu kedalam
saku rompinya.
”Kakak chocolate boy?”tanyaku sedikit ragu-ragu.
”Apaan sih maksud kamu, Hel. Aku enggak ngerti.”jawab kak Dicky yang kali
ini terlihat aneh walaupun tetap galak seperti biasa.
”Itu.... Yang suka ngasih aku chocolate sama surat.”aku masih terus
mengejar kebenaran.
”HA? Ya, enggak mungkin lah aku ngasih kamu barang kaya’ gitu.”elak kak
Dicky.
“Oh, ya udah.”kataku dengan nada sedikit kecewa. Aku melangkah meninggalkan kak Dicky.
”Hela, Tunggu!”seru kak Dicky membuatku berhenti dan kemabali memandang
kearah kak Dicky.
”Aku emang terlalu pengecut karena tidak berani bilang kekamu selama ini.
AKU SI CHOCOLATE BOY ITU, SWEET CHOCOLATE!!!”teriak kak Dicky.
”Kak Dicky jahat banget sih ngasih aku chocolate sebanyak itu!! Mau bikin aku gendut ya!”protesku. Padahal
didalam hati aku senang karena chocolate boy itu orang yang aku cintai, kak
Dicky.
”Itu karena aku care sama kamu! Aku enggak mau kamu jatuh lagi kalau disuruh
ngangkat sound sama kakak tingkat kamu, Hel. Aku ingin buat badan kamu jadi
berisi.”kak Dicky membela dirinya. Oh, God!! Harusnya dia memberi aku nasi jika
mau membuat badanku berisi tapi kenapa malah chocolate?
”Please, ambil chocolate ke-19 ini diulang tahun kamu yang ke-19 ditanggal
19 bulan 9. Aku harap ini chocolate terakhir karena aku sudah tidak mau memberi
kamu chocolate aku mau memberi kamu cinta.”monolog kak Dicky stay romantic.
Aku mengambil chocolate besar dengan bentuk hati serta surat berwarna lain
kali ini. Warnanya merah jambu berbentuk hati seperti chocolatenya dengan tulisan
rapi tinta biru. Juga ada aksen pita putih di pojok kanan atas. Aku membaca
surat kak Dicky yang sangat pendek.
Sweet
chocolate, will you be my girlfriend for now, tomorrow, and forever?
Your secret admirer
Muhammad
Dicky Panjijaya”
![]() |
| diambil dari: http://praline-mania.blogspot.com/2010/01/coklat-valentine-edisi-2010.html |
“Yes, I will.”ucapku
pelan. Kak Dicky langsung memelukku dengan suka cita. Pelukannya hangat
sehangat saat aku memakan chocolate-chocolate darinya.
“New girlfriend,
Ky?”teriak seorang teman kak Dicky yang kalau tidak salah namanya kak Bisma.
“New girlfriend
and the last girlfriend.”balas kak Dicky.
Tuhan, terimakasih sudah mengabulkan do’aku. Chocolate boy sudah menampakkan dirinya.
Dan ternyata dia orang yang membuat aku jatuh cinta saat dia menjadi pahlawan
kesorean saat aku di-OSPEK. Hari ini tidak aku kulupakan. Peristiwa langka saat
hariku dipenuhi dengan angka 19. Aku menerima chocolate ke-19 tepat diulang
tahunku yang ke-19 yang kebetulan jatuh tanggal 19 Sepember, bulan ke 9. Ya,
aku menamakan semua ini dengan, Sweet19Chocolates.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar