Aku melangkah dengan sedikit
cepat dengan berbagai macam obat dari apotek rumah sakit dalam sebuah kantong
plastik ditanganku . Obat itu untuk ayahku yang sedang melaksanakan cuci darah
untuk yang kesekian kalinya.
“Mbak! Mbak!”teriak seseorang.
Aku tidak menghiraukannya. Itu pasti
bukan aku.
“Mbak!”orang itu menepuk pundakku. Langkahku langsung terhenti seketika.
Aku membalikkan badanku untuk melihat siapa yang memanggilku. Dari bajunya aku
yakin dia juga seorang pasien di rumah sakit ini.
“Kenapa, Mas?”tanyaku.
“Ada obat yang ketinggalan, Mbak. Tadi sama yang jual udah dipanggil tapi
mbaknya enggak dengar. Jadi saya kejar saja.”jelas orang tersebut seraya
menyerahkan obat yang ia maksud.
“O iya. Makasih ya mas...”
“Ari ia meneruskan ucapanku.
”Makasih ya mas Ari padahal lagi sakit.”ujarku.
”Ahh... Enggak apa-apa, enggak .... parah kok.”ujarnya merendahkan diri.
”Maaf sakit apa, Mas?”entah mengapa timbulnya sifat ingin tahuku.
”Bukan apa-apa, cuma hepatitis B.”jawabnya. Aku tersentak kaget. Bukankah
hepatitis B penyakit yang bisa mematikan tapi ia bilang enggak parah? Dan cuma hepatitis B? Gila apa orang ini?
![]() |
| Dewi Lestari dan Lukman Sardi |
”Ya sudah, Mas. Saya harus mengantar obat ini dulu.”pamitku seraya berjalan
cepat lagi.
”Mbak nama kamu siapa?”tanya mas Ari sedikit berteriak.
”Mayang.”sahutku.
Kenapa hatiku merasakan hal yang aneh? Padahal aku sudah punya pendamping
saat ini! Ares. Tidak mungkin aku mengkhianati dia dengan perasaan baru dengan
orang yang baru saja aku kenal. Tidak! Ini hanya perasaan semu. Anggap saja aku
tidak mengenal Ari. Aku harus bia melakukannya.
*
Satnite yang harusnya bisa aku lewati dengan
romantisnya bersama Ares tidak bisa terjadi hari ini. Malam ini aku harus
melewati satnite di rumaah sakit
karena aku harus menunggui ayahku yang sedang cuci darah.
Dari kejauhan aku melihat mas Ari sedang duduk disebuah kursi pengunjung.
Dia terlihat sendirian disana. Aku sebenarnya ingin menyapanya, tapi....
”Enggak, Mayang!!! Enggak boleh!!! Ingat Ares, Mayang!!!”angel di otak kananku menyuruhku
menghindari mas Ari.
”Mayang!”panggil mas Ari. Mampus aku! Padahal aku sedang berusaha
menghindari mas Ari, tapi aku tidak mungkin menganggapnya tidak ada!
”Eh mas Ari. Sendirian
aja disini?”tanyaku berbasa-basi sedikit.
“Iya. Emang siapa yang mau nemenin aku?”ujarnya disusul dengan suara
tawanya yang renyah.
“Lhah? Emang keluarga kamu?”tanyaku penasaran.
“Orang tua aku tinggal di Bandung. Adik aku lagi sibuk sekolah. Biasalah
anak akselererasi pikirannya belajar terus. Kakaknya lagi sakit tetep aja masa
bodoh.”jawabnya dengan masih menyunggingkan senyuman lebar. Ya Tuhan, dengan
keadaan seperti itu dia bahkan masih bisa tersenyum!
“Hmm... boleh enggak setiap malam minggu aku jengukin kamu?”entah mengapa
hatiku tergerak untuk membantunya. Walaupun hanya dengan menemaninya disetiap
malam minggu.
“Are you really?”tanyanya seperti sedikit tidak percaya.
“Of course.”jawabku.
“Pastilah boleh.”ucapnya dengan mata berbinar. Aku tahu dia pasti kesepian ditempat ini. Tanpa
siapa-siapa disampingnya.
”Oke deh sampai ketemu sabtu depan mas Ari.”pamitku seraya melangkah pergi.
”See you soon.”serunya dengan
nada yag lebih ceria dari biasanya. Aku tersenyum bisa membantunya saat ini.
”Bantu aku menjalankan tugas ini, Ya Allah.”do’aku didalam hati.
**
Aku benar-benar menepati janjiku kepada mas Ari. Aku selalu datang disetiap
malam minggu untuk bersatnite ria
bersama mas Ari. Banyak yang kami lakukan bersama. Bermain games, saling
berbagi cerita. Tak jarang kami memandang ke langit yang penuh bintang dan
berteman rembulan. Jika ada bintang jatuh kami selalu berlomba untuk berdo’a,
memohon. Do’aku selalu sama:
”Sembuhkan mas Ari dari penyakit hepatitis B nya ini.”
Malam ini adalah minggu ke-4 aku melewatkan malam minggu dengan Ares untuk
menjenguk mas Ari. Tapi aku heran sendiri kenapa aku sedikit malas malam ini?
Aku rasa akan ada kejadian tidak mengenakkan malam ini. Tetapi aku tetap
berangkat ke RS untuk menemani mas Ari.
Aku lihat mas Ari sedang duduk dikursi tempat biasanya dia menunggu
kedatanganku.
”Hai mas Ari.”sapaku.
”Eh, Mayang udah dateng.”ucapnya yang sepertinya untuk dirinya sendiri.
”Mayang hari ini adik aku datang juga loh.”ujarnya memberiku informasi.
”Oh ya? Percuma dong aku kesini? Kamu udah ada yang nemenin.”ujarku
pura-pura ngambek.
“Ya enggak lah. Nanti aku kenalkan ke adik aku.”ujarnya. ”Nah! Itu Ares.”aku tercengang kaget. ARES
ADA DISINI!!
“Ares?”tanyaku sedikit grogi.
“Enggak usah kaget gitu kali’. Atau jangan-jangan kalian udah saling
kenal?”selidik Ari.
”Dia pacar aku, Mas. Dan ternyata selama ini dia selalu menolak malam
mingguan sama aku buat jengukin kamu disini.”ujar Ares yang ternyata sudah
berdiri disampingku. Giliran mas Ari yang kaget.
”Maaf, Res. Aku enggak tahu. Beneran deh.”mas Ari terlihat begitu terkejut
dan berusaha menjelaskan keadaan yang sedang terjadi kepada Ares tapi percuma.
Ares terlalu keras kepala dan egois.
”Alah! Itu udah enggak penting. Sekarang semua keputusan ada ditangan kamu, May. Kamu masih mau
mempertahankan hubungan kita atau kamu lebih milih kakak aku.”ujar Ares dengan
nada sedikit kasar karena amarahnya.
Tuhan! Aku harus memilih siapa? Ini sangat sulit untuk aku. Ares. Dia orang yang aku cintai
selama 2 tahun ini. Aku teringat betapa gembiranya hatiku saat dia menyatakan
cinta kepadaku. Saat kami melewati waktu-waktu kami bersama. Disisi lain ada, mas Ari. Orang yang bisa
membuatku jatuh cinta pada pandangan pertama. Dan bisa menggugahhati nuraniku
untuk membantunya.
”Emm... Maaf... Mas Ari... Aku nganggep kamu cuma sebagai sahabat
aku...”ucapku pelan berusaha menjelaskan dengan sehalus mungkin.
”Aku ngerti kok.”kata mas Ari seraya masuk kedalam kamarnya dengan lesu. Ya
Tuhan. Semoga ini keputusan yang benar. Semoga keputusan ini tidak menimbulkan
efek buruk untuk siapapun...
***
Aku menggeliat pelan saat nada dering handphoneku berbunyi nyaring. Jam
digital handphoneku masih menunjukkan pukul 03.57 tapi sudah ada seseorang yang
mengirimiku pesan singkat. Dia Ares. Beginilah isi pesannya.
”Mas Ari udh g bisa bareng-bareng kta lg, May.”
Handphone yang aku pegang langsung terlepa dari genggamanku, terjatuh tepat
ditempat tiduku. Tangisku
langsung pecah seketika. Mas Ari meninggal. Dia pergi setelah aku menyatakan
bahwa aku tidak ada rasa dengannya. Ini salahku. Aku membuat keputusan yang
salah.
Handphoneku kembali berdering pertanda adanya pesan masuk. Ternyata dari
Ares lagi.
”Jgn nyalahin dri km, May. Kata dokter keadaannya 2 bln ini emg smakin
memburuk.”
Benarkah ini bukan kesalahanku? Tapi kenapa timing yang diberikan Tuhan begitu tepat saat aku bilang tidak
punya rasa cinta kepadanya? Tapi tunggu! Siapa bilang tidak ada rasa cinta? Sebenarnya ada satu cinta diantara 3
hati. Aku, Ares, dan mas Ari. Cinta persahabatan.
Aku langsung membalas SMS dari Ares:
“Innalilahi... :( . Yg sabar ya, Res. Smg
aja mas Ari masih inget satu cinta persahabatan diantara kt :).”
Tak lama Ares membalas pesanku:
“Pasti :)”
Kami memang terdiri dari tiga hati. Tapi tidak
berarti jikalau tidak ada cinta diantara kami bertiga. Bahkan inilah cinta yang
paling kuat. Satu cinta untuk
sahabat.
“Selamat jalan mas Ari. Tetaplah ingat sahabatmu ini. Juga adikmu
satu-satunya. Jangan pernah lupakan cinta diantara kita.”do’aku seketika. Tak
terasa airmataku kmbali jatuh. Saat aku harus rela melepaskan dia, sahabatku.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar