music box

Senin, 11 Juni 2012

Cerita di Bimbingan Matematika


Author:: Assyifa Widiastomo
Genre :: saya sendiri bingung (?)
Cast :: Ikrima Lauhil Wifa, Harwian Caesar Cendraviardi, Bu Puji, Bu Nunik
Reader :: Siapa aja boleh

Say No Plagiat :)
Let's Go for creations \^,^/


            Hari ini adalah hari Selasa, pukul 4 kurang 10 menit terdengar suara dari dapur memanggil Rima.
            “Ma…Rima…”
            “Dalem, Bu.”jawab Rima sopan
            “Ayo les.”suruh Ibu Rima
            “Males aku, Bu. Habis ini ada acara  TV bagus.”Rima mengelak ajakan Ibunya untuk les
            “Kamu itu enggak mau pintar? Lihat TV aja. Lihat di YouTube kan juga bisa.”paksa Ibu Rima
            “Mana uangnya?”
            “Ya pake uang kamu sendiri dong. Pokoknya kalo kamu enggak les uang jajan kamu ibu potong.”ancam Ibu Rima
            “Iya, iya ayo berangkat.”ujar Rima yang akhirnya mengalah
            Dengan terpaksa Rima memasukkan buku-buku Matematika ke dalam tasnya. Masih dengan perasaan tidak rela Rima menaiki motor menuju tempat lesnya. Setelah sampai di tempat lesnya Rima segera mengucapkan salam
            “Assalamualaikum.”salam Rima
            “Wa’alaikumsalam. Ayo, Ma. Masuk.”ajak Bu Nunik, guru les Matematika Rima. Rima hanya mengangguk dan mengikuti langkah Bu Nunik. Tanpa sengaja pandangan Rima menangkap televisi di meja, Rima menjadi teringat drama korea di televisi yang setiap sore selalu ia tunggu.
            Setelah duduk dan mengeluarkan bukunya, tiba-tiba terdengar suara motor di luar sana. Orang yang duduk di boncengan dengan jaket abu-abu. Rima merasa mengenalnya. Tapi siapa?
            “Siapa, Ma?”tanya Bu Nunik
            “Enggak tahu, Bu.”jawab Rima
            “Eh, Ma. Itu Echa ya?”kali ini pertanyaan Bu Nunik membuat Rima terhenyak. Harwian Caesar Cendraviardi. Seorang cowok Sagitarius kelahiran 28 November 1996 yang pernah mengisi relung hati Rima.
            “Ha?! Bukan, Bu. Bukan Echa.”jawab rima segera. Tapi jawaban Rima tersebut tidak ada gunanya karena cowok yang di maksud Bu Nunik ada di depan pintu.
            ”Assalamualaikum.”salamnya. Suara itu. Suara yang di kenal Rima. Suara yang dulu selalu di rindukannya. Echa.
            “Wa’alaikumsalam. Ayo, Cha. Masuk.”ujar Bu Nunik Mempersilahkan Echa masuk. Echa menurut perintah Bu Nunik. “Mau duduk di mana, Cha? Apa mau di sebelahnya Rima?”tawar Bu Nunik
            “Enggak usah, Bu. Disini aja.”ujar Echa sambil menunjuk tempat di depan Rima
            Oh, God!!!!!!!!! Mimpi apa aku semalem? Bisa duduk hadap-hadapan sama Echa?!”batin Rima kegirangan setengah mati. Echapun duduk dan mengeluarkan buku-bukunya.
            “Bu, ini gimana caranya?”tanya Echa
            “Set dah! Ni bocah aneh banget yak? Belom baca soal udah tanya aja!”Rima kembali membatin “Tapi gapapa mau segimana koplaknya ini bocah, saya Ikrima Lauhil Wifa tetep cintaaaaaa ama itu bocah“!pikiran Rima semakin menggila saja.
            Sejenak ruangan itu sejenak hening. Akan tetapi tiba-tiba ada seseorang yang mengucapkan salam diluar sana.
            “Assalamualaikum.”
            “Semoga aja bukan pengacau yang merusak les terbaikku bersama Echa!”pikir Rima sekaligus berdo’a
            Bu Nunik pergi menemui orang tersebut. Ternyata itu bukan salah seorang murid Bu Nunik. Mereka terdengar asyik berbincang di Ruang Tamu.
            “Ma, yang telpon aku waktu itu kamu kan, Ma?”tanya Echa dengan nada sedikit menuduh.
            “HA?! Enggak!” seru Rima dengan sedikit kaget
            “Halah?”
            “Beneran?”ujar Rima
            “Aku hafal kok, itu suaramu.”ucap Echa
            “Kapan sih aku telpon kamu?”tanya Rima menantang Echa untuk memberikan bukti yang lebih kuat.
            “Ya...Waktu itu. Aku lupa.”jawab Echa mencari alasan
            “Kapan? Hari apa, tanggal berapa? Jam berapa????”Rima semakin menantang Echa. Akhirnya Rima dan Echa terlibat dalam pertengkaran seru. Sayang, Bu Nunik tiba-tiba kembali ke dalam ruangan.
            “Heh! Sudah kelas 2 SMP semua. Enggak boleh bertengkar!”nasehat Bu Nunik
            Akhirnya Rima dan Echa kembali tenggelam dalam tugas matematika masing-masing. Tak lama kemudian Echa berhenti mengerjakan tugas Matematikanya. Pandangan Echa bertumpu pada suatu titik. Rima. Rima menyadari ada seorang cowok yang memandangi dia. Rima membalas pandangan Echa. Mereka berdua saling pandang.
            “Ada apa dengan diriku ini? Kenapa jantungku berdegup kencang di saat dia menatapku? Echa, kenapa kamu hadir lagi dalam kehidupanku saat aku ingin melupakanmu?”batin Rima. Rima menggeleng untuk meninggalkan pikiran-pikirannya tentang hal itu. Tentang Echa. Rima kembali mengerjakan tugasnya, berusaha untuk tidak mempedulikan Echa yang masih memandanginya penuh arti. Lama....... Echa masih memandangi Rima.
            “Hayo, Echa ndang di kerjakan, jangan ngeliatin Rima aja. Nanti malah malah CLBK. Kalo Selasa bukannya les malah pacaran aja.”ceramah Bu Nunik.
            “HA?! CLBK sama Rima? Moh, Bu!”seru Echa membuat tubuh Rima menjadi kaku seperti robot.
            “He? Emang aku mau CLBK sama kamu? Aku yo ogah!”balas Rima tak mau kalah.
            “Sudah , jangan membohongi diri kalian sendiri kalo masih suka bilang! Pikirkan itu baik-baik sambil mengerjakan tugas Matematikanya.”nasehat Bu Nunik.
            Rima dan Echa terdiam sembrani mengerjakan tugas masing-masing. Tapi waktu mereka untuk berpikir terlalu singkat. Kini mulut mereka yang harus berbicara bukannya hati dan pikiran mereka yang saling berbicara. Karena...
            “Assalamualaikum Bu Nunik.”panggil orang di luar sana
            “Wa’alaikumsalam.”Bu Nunik bergegas meninggalkan kedua muridnya yang sedang tersandung masalah cinta.
            Begitu sepi ruangan tempat mereka les. Tidak ada suara.
            ”Hmm..Ma..”panggil Echa pelan.
            ”Kenapa?”tanya Rima yang cuek bebek dan tetap berkutat saja dengan soal-soalnya.
            ”Ada yang bilang kamu CLBK sama Dery ya?”tanya Echa yang sedikit terdengar ragu-ragu. Dery? Hmm.. Dery adalah teman Rima sejak kecil. Dulu memang Rima dan Dery saling menyukai. Bahkan mereka sempat menjalin hubungan khusus. Tapi saat ini Rima tidak yakinperasaan itu masih ada.
            ”Siapa yang bilang?! BOHONG!!”tegas Rima tetap berusaha cuek.
            ”Alhamdulilah deh.”gumam Echa sambil senyum-senyum tidak jelas.
            ”Kenapa, Cha?”tanya Rima karena suara Echa memang terlalu lirih.
            ”Berarti kamu enggak punya pacar dong?”bukannya menjawab pertanyaan Rima Echa malah menanyakan hal lain.
            ”Enggak.”jawab Rima singkat
            ”Kalo gitu aku boleh dong jadi pacar kamu?”tanya Echa cuek. Walaupun begitu dia menundukkan mukannya. Pasti malu!
            ”Hmm...Kasih tahu enggak ya?”
            ”Kasih tahu aja lah.”rayu Echa.
            ”Hmm.. I need times, Cha.”ucap Rima yang tiba-tiba berubah serius.
            ”Berapa lama?”tanya Echa yang terlihat kecewa.
            ”Rima!!! Udah dijemput!”teriak Bu Nunik dari depan
            ”Sampai hati aku siap, Cha.”jawab Rima.
            ”I will waiting you.”ucap Echa sebelum Rima keluar dari ruangan.
            Rima hanya tersenyum. Saat seperti ini yang sudah lama ia nantikan. Saat Echa menyatakan cinta kepadanya. Saat Echa berani mengungkapkan perasaannya kembali ke Rima. Rima memang sudah menunggu lama. Tapi ia masih ingin melihat perjuangan Echa. Dia tak mau kecewa untuk yang kedua kalinya nanti. Rima tidak menyangka kejadian ini akan terjadi disebuah bimbingan matematika.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar