Author:: Assyifa Widiastomo
Genre:: Romance
Reader:: All of you :)
Plagiat? No! CoPas? No! Creation? Let's GO!!
Genre:: Romance
Reader:: All of you :)
Plagiat? No! CoPas? No! Creation? Let's GO!!
Nindya
Rezvina Pangestikkaningrum. Itulah nama yang diberikan orangtuaku kepadaku. Aku
hidup bahagia bersama kedua orangtuaku. Ehm…Lebih tepatnya tiga orangtua. Ya,
Ayahku telah menikah untuk kedua kalinya. Walaupun Ayahku, Bima Saktiono tetap
sayang dan perhatian kepadaku dan Ibuku, seringkali aku melihat Ibuku menangis
melihat foto keluarga kami dulu. Mungkin Ibu sedih harus berbagi ranjang dengan
wanita lain. Aku sendiri tidak terlalu suka dengan pernikahan Ayah dengan Mama,
begitulah aku menyebut wanita itu. Mama memiliki seorang anak perempuan yang
usianya terpaut 3 tahun dibawahku tapi gayanya yang sok cantik dan kecentilan
itu yang membuatku sebal dengan dia. Tapi aku tidak terlalu peduli dengan rumah
tangga keluargaku yang semakin lama semakin berantakan itu. Buat apa aku
memikirkan mereka yang menghancurkan hatiku toh mereka tidak memikirkanku.
Lagipula aku masih punya Ibu dan teman-temanku yang menyayangi aku dan bisa
tertawa bersamaku.
“Nindy!”panggil
suara cempreng dibelakangku. Aku menengok ke belakang mencari arah suara itu.
Ternyata Ify, teman satu angkatanku.
“Kenapa,
Fy?”tanyaku merespon panggilannya.
“Ada kuliah siang ini?”Ify
balik bertanya kepadaku.
“Ada . Nanti aku ada kelas
jam setengah 2.”jawabku.
“Busyett,
masih semangat aja kuliah jam segitu.”canda Ify sambil mengeluarkan suara
tawanya yang khas seperti Kuntilanak.
“Daripada
harus ngulang? Cukup 2 kali aja aku masuk kelas statistik. Lagian kalau aku
lulus kan tahun depan kan enggak usah ada kelas itu lagi.”jawabku
panjang lebar.
“Oh
iya bener tuh. Masih jam 12 nih ke kantin dulu yuk. Aku nanti juga ada kelas
jam 2 tahun lalu aku kan
lulus statistik.”ajak Ify sedikit mengejek ku di akhir kalimatnya.
“Iya
deh. Anak pinter.”Aku dan Ify beradu tawa aneh ala Spongesbob dan Mbak Kunti.
Aku dan Ify asyik bercanda sampai-sampai aku tidak berhati-hati dan menabrak
seseorang yang sepertinya kerepotan membawa sesuatu ditangannya. Dan tidak bisa
di hindari barang yang dibawanya jatuh dan pecah berantakan di lantai.
“
Yahh! Ancur kan !”teriak
orang itu histeris. Aku memandang ke arahnya dengan penuh rasa bersalah. Dia
Panji, begitulah teman-temanku memanggilnya. Dia satu angkatan di atas ku.
Tubuhnya tidak menjulang tinggi, penampilannya sedikit culun walaupun
kelakuannya jauh dari culun, dan wajahnya pun hanya sekedar manis. Standart.
Tapi prestasinya yang segudang dalam bidang MTQ, seni, dan pelajaran membuat
cewek-cewek satu kampus memuja-mujanya kecuali aku tentunya. Sebenarnya jika
dia mendaftar di kedeokteran ataupun hukum pasti diterima beda dengan aku yang
otaknya pas-pasan, tapi jiwa seninya menghasut Panji untuk masuk ke seni rupa.
Dan yang semakin membuatku merasa tidak enak dengan Panji, kabarnya Panji
menyukaiku! Aku telah mengecewakan fans ku dengan kelakuan teledorku.
“Maaf.
Aku enggak sengaja.”ujarku dengan suara memelas sembrani berjongkok untuk
membantu Panji membereskan barangnya yang telah hancur.
“Hati-hati
dong! Mau di kumpulin tahu’.”maki Panji. Aku terenyak, aku baru sadar kalau itu
pasti tugas keseniannya! Bagaimana ini kalau sampai dia tidak lulus hanya
gara-gara tidak mengumpulkan 1 kesenian dan aku disuruh membayar uang kuliahnya
selama satu tahun kedepan! Tidak mungkin, itu pasti hanya khayalanku. Aku
mencoba menenangkan diriku sendiri.
“Aku
kan sudah
minta maaf.”sentakku karena sebal dia memarahiku, padahal itu wajar.
“Ya
udah enggak usah bentak-bentak mendingan kamu bantuin aku beresin pekerjaanku
yang susah payah aku kerjain seminggu tapi dalam 3 detik kamu berhasil
ngancurin.”runtuk Panji menyindirku. Aku tidak berkomentar apapun percuma saja
aku mau ngomong apa lagipula Panji tidak peduli dengan semua omonganku. Aku
masih ikut membantu Panji membereskan pekerjaan seni rupanya yang tebuat dari
kaca. Saat aku memunguti kaca itu tiba-tiba salah satu serpihan kaca itu
melukai ujung jari tengahku.
“Aduh!”seruku
terkejut. Panji yang berada diseberang ikut terkejut dan langsung berdiri untuk
membantuku. Semua serpihan kaca yang ia kumpulkan terjatuh kembali menjadi
serbuk kaca. Panji tidak memperhatikan pekerjaannya malah berjongkok di
sebelahku.
“Mana
yang sakit?”tanya Panji seraya memengang tanganku membuatku terkejut setengah
mati. Orang yang tadinya sangat cuek bisa berubah perhatian seketika? Bullshit!
“Enggak
usah.”kataku sembrani menarik tanganku dengan sedikit kasar. Panji terbengong
sejenak melihat kelakuan ajaibku.
“Ya
udah kalo enggak mau di bantuin.”ujar Panji bersikap sok cool.
“Ough!
Sial banget aku hari ini harus ketemu sama perusuh yang suka marah-marah
seperti emak-emak dan gara-gara kamu tanganku luka. Cukup, Panji aku enggak mau
dan enggak akan berurusan sama kamu lagi.”agak aneh memang kalau aku marah
kepada Panji harusnya Panji yang marah kepadaku karena dia terancam tidak mendapat
nilai.
“Terserah
deh kamu mau ngomong apa. Tapi kamu harus tanggung jawab, beresin itu kaca-kaca
yang udah pecah.”Panji membentakku lagi. Aku sedikit sakit hati. Begitukah
perlakuan untuk gadis manis yang di sukainya?
“Panji…Tangan
luka. Harus dibawa ke klinik kampus. Jadi maaf-maaf saja aku enggak bisa ikut
mulungin kaca itu. Lagian enggak ancur paling juga dapet nilai D.”ujarku
semakin terbawa arus emosi dan segera beranjak berdiri meninggalkan Panji.
“Tunggu.”kata
Panji dengan segera menggenggam pergelangan tanganku untuk mencegahku pergi.
Aku berharap ini akan menjadi tragedi romantis dalam hidupku.
“Anak
manja, Nindy. Aku kakak angkatmu di universitas ini, jadi panggil aku Mas
Panji.”desis Panji dengan menekan ucapan terakhirnya. Aku tetap saja tidak
peduli dengan perkataannya dan melengos pergi.
Selama
kuliah pikiranku sedikit tidak tenang. Pelajaran statistik hanya masuk telinga
kanan dan keluar dari telinga kiri. Tidak ada satupun pelajaran statistik yang
masuk dalam otakku. Pikiranku tertuju pada satu orang, Panji. Entah angin apa
yang membuatku memikirkan cowok yang dipikir-pikir tidak kalah manis dengan Kim
Jeffrey Kurniawan. Aku berusaha mengusir pikiran-pikiran usil itu. Bagaimana
bisa cowok culun seperti Panji aku sama-samakan dengan atlet sepakbola
favoritku itu? Ini semua sudah gila!
Akhirnya
pelajaran statistik yang menurutku membosankan itu selesai juga. Aku segera
pulang menuju rumahku yang juga neraka bagiku karena aku harus bertemu dengan
Mama dan gadis kecilnya itu yang terkadang membuatku muak. Dari dalam rumah
terdengar suara tawa beberapa orang sepertinya Ayah sedang bertemu dengan teman
bisnisnya atau arisan rutin Mama bulan ini diadakan disini. Aku tetap cuek
melewati kerumunan orang-orang disana.
“Nindy.
Sini.”panggil Ayah ketika melihatku mulai menaiki tangga.
“Nindy
capek, Yah habis pulang kuliah.”ujarku memberi alasan. Aku malas bertemu dengan
rekan kerja Ayah. Aku yakin sekali ketika aku diperkenalkan kepada mereka
monoton saja tanggapan mereka.
“Ini
Nindy putrinya Bu Dewi? Aduh…Udah besar ya sekarang? Cantik lagi.”kalau urusan
puji-memuji teman kerja semuanya kompak.
“Sini
sebentar, Nin. Ada
yang mau Ayah kasih tahu ke kamu.”ujar Ayah sedikit memaksaku. Disana ada Mama,
Risnha, dan Ibu juga. Mata Ibu yang sayu dan senyuman di bibirnya seperti
menyuruh aku untuk menuruti permintaan Ayah. Dengan malas akhirnya aku menuruni
anak tangga coba saja tidak ada Ibu disana pasti ini tidak terjadi.
“Duduk,
Nin.”perintah Ayah. Perasaanku tidak enak. Akan menjadi korban perlakuaan over
protection seperti apa aku nanti?
“Ayah
dan Ibu ingin kamu segera menikah. Kamu kan
sudah dewasa, Kamu enggak usah repot-repot cari calon. Ayah dan Ibu sudah punya
calonnya. Ayah yakin kamu pasti kenal, dia kuliah di UNISKA juga tapi satu
angkatan diatas kamu dan prestasinya sungguh luar biasa. Dan mungkin dia bisa
membuat IPK mu itu jadi lebih bagus, Nin.”jelas Ayah sedikit membuatku
bertanya-tanya. Aku sepertinya tahu orang yang ciri-ciri sama seperti itu. Tapi
rasanya tidak mungkin.
“Namanya
siapa, Yah?”tanyaku dengan heran.
“Muhammed
Rizki Panjibasuki, itu dia duduk disebelah Risnha.”jawab Ayah seraya tersenyum
lebar. Aku memandang ke orang yang duduk disebelah Risnha ternyata benar itu
Panji. Mengapa bisa aku tidak tahu ada makhluk sebesar itu dihadapanku tadi?
“Sama
dia? Enggak ah, Yah.”tolakku tapi masih berusaha sedikit sopan didepan Ayah.
“Lho
kenapa, Nin?”kali ini Ibu juga angkat bicara.
“Kurang
cocok aja, Bu.”jawabku asal-asalan
“Coba
dijalani dulu, Nak.”bujuk Ayah.
“Enggak,
Yah. Sekali Nindy bilang enggak tetap enggak.”aku mulai berontak. Aku berdiri
dan meninggalkan mereka.
“NINDY!”aku
tidak menyangka, Panji akan ikut memanggilku. Kenapa rasanya aku ingin berbalik
dan mengatakan aku setuju dengan pernikahan itu? Tapi, ini bukan jaman Siti
Nurbaya. Bukan jamannya perjodohan. Ketika aku sudah menikah dengan Panji dan
harus mengikuti Panji keluar kota
apa yang akan dilakukan mereka kepada Ibu? Menyiksanya? Menjadikannya budak?
Atau membuangnya? Aku tidak tega jika Mama dan Risnha melakukan hal tidak
manusiawi kepada Ibu. Lebih baik aku saja yang sakit jangan Ibu. Lagipula tidak
ada cinta untuk Panji di hatiku.
“Nindy…”Panji
kembali memanggil namaku kali ini dengan suara yang lebih pelan dan sedikit
memelas.
“Udah
lah, Kak Panji. Disini aja.”entah apa yang dilakukan Panji sehingga Risnha
mulai kecentilan. Aku berbalik badan, aku melihat sebuah pemandangan yang
didalam hati kecilku tidak ingin ku lihat Panji berdiri dengan pergelangan
tangan kanannya di pengang erat oleh Risnha. Mengapa ada rasa cemburu didalam
hatiku? Tidak! Aku tidak mencintai Panji! Aku yakin itu. Panji yang sudah
merasa langsung melepas paksa genggaman Risnha.
“Nindy
enggak bisa, Yah.”ujarku meminta pengertian Ayah.
“Kamu
setuju enggak setuju, Panji akan melamar kamu minggu depan. Enggak usah
protes.”aku tertunduk lesu. Aku tidak ingin menikah, pacaran saja tidak pernah terpikirkan
olehku dan dengan tiba-tiba aku diperintahkan ayah untu menikah? Sungguh tidak
masuk akal. Dan pastinya aku tidak bisa menghindar dari pernikahan itu.
“Tuhan, Nindy
harus bagaimana?”do’aku disetiap waktu. Tapi belum ada jawaban dari Tuhan untuk
masalahku ini. Akhirnya karena terlalu putus asa aku mencari jawaban atas
pertanyaanku di internet. Aku menemukan satu artikel untuk menghindari
pernikahan.
- Tolaklah si pelamar dengan baik-baik.
Aku sudah melakukan itu dan tidak berefek apapun.
- Berontaklah.
Aku juga sudah melakukan itu, bukannya berhasil Ayah menjadi marah
kepadaku.
- Berpura-puralah lupa dengan hari pernikahan anda.
Betapa bodohnya orang yang membuat artikel ini, itu tidak mungkin.
- Berpura-puralah sakit.
Hidup dalam
kepura-puraan itu itu tidak akan di ridhoi Tuhan. Pamali.
- Kaburlah dari rumah ketika akan menikah.
Mungkin ide
ini tidak terlalu buruk. Tapi aku harus pergi kemana? Dan bagaimana dengan Ibu?
Ah, aku harus segera pergi dari rumah ini tinggal 11 jam lagi Panji akan
melamarku. Maaf Ibu, aku harus meninggalkan Ibu.
Dengan
barang-barang seadanya dan uang secukupnya aku pergi ke terminal bus. Sebenarnya
aku tidak suka naik bus, penumpangnya tidak tahu malu dan sopir busnya selalu
ugal-ugalan. Tapi mau bagaimana lagi? Di kotaku ini, kota
Kediri tidak
ada bandara satupun, dan aku tidak yakin ada kereta api yang berangkat pukul
22.00. Aku hanya asal masuk bus saja, yang penting aku bisa keluar dari kota Kediri .
Bus yang aku tumpangi berjalan perlahan-lahan disana satu keluarga, seorang
nenek dan cucunya, juga seorang perempuan seumuranku. Aku tidak berani tertidur
dalam bus, aku takut kecopetan walaupun rasanya tidak mungkin. 3 jam sudah
perjalananku aku melihat tulisan “SELAMAT DATANG DI KOTA MADIUN” jadi aku ada
di kota Madiun.
Aku pernah mendengarnya walaupun belum pernah mengunjungi kota kecil itu. Bus yang ku tumpangi berhenti
di terminal bus terakhir, semua penumpang dan sopir beserta antek-anteknya
turun semua. Aku harus bisa menjalani hidupku di kota ini! Perjalananku cukup membuatku lapar,
diaat seperti ini tidak mungkin aku makan di restoran. Setelah ku teguhkan hati
akupun makan di sebuah warung kecil.
“Ibu, pesen
nasi sama telor, Bu.”aku memesan makanan yang secukupnya.
“Iya,
Dek.”dengan cekatan tangannya mengambilkan pesananku.”Adek manusiakan kan , ya?”tanyanya dengan
polos sambil menyerahkan makananku.
“Ya iya lah,
Bu.”jawabku seraya tertawa untungnya aku tidak mempunyai ciri khas tawa seperti
Ify, kalau Ify disini si Penjual nasinya pasti langsung lari terbirit-birit.
“Malam-malam
kayak gini mau kemana, Dek?”tanyanya, mungkin Ibu itu masih tidak percaya jika
aku ini manusia.
“Liburan, Bu.
Tadi ban bisnya sempet bocor jadi telat sampai di Madiun.”jawabku asal saja.
“Mau menginap
dimana, Dek? Hotel di Madiun mahal, Dek. Kalau murah pasti hotelnya kumuh,
lebih baik kamu tinggal di rumah Ibu. Tidak besar sih tapi bersih.”akhirnya si
Ibu percaya aku benar-benar manusia dan mulai berani menawariku.
“Boleh, Bu?
Saya mau.”aku langsung mengiyakan lumayan tempat tinggal gratis dan makannya
mungkin juga gratis. Setelah aku selesai makan Ibu penjaga warung dan aku pergi
menuju ke rumah si Ibu. Benar, rumahnya memang tidak besar tapi bersih dan asri
satu lagi yang tidak bisa aku pungkiri penuh dengan kehangatan.
“Nara . Nava.”Ibu itu
memanggil anaknya.
“Anak Ibu
kembar?”tanyaku seketika.
“Iya. Namanya
Nara dan Nava Ibu sendiri Bu Sukinah O iya kamu sendiri siapa?”tanya Ibu
Sukinah
“Saya..Faya,
Bu.”jawabku berbohong. Tidak mungkin aku mengatakan nama asliku pasti akan
semakin mudah dicari. Dari kamar yang paling ujung keluarlah 2 gadis kembar.
“Apaan sih,
Bu? Nava ngantuk.”gerutu gadis yang bernama Nava.
“Ini ada yang
mau menginap. Namanya Faya. Kalian anggap kayak adik kalian sendiri ya?”ujar Bi
Sukinah berbasa-basi.
“Enggak ah.
Adikku cuma Nava.”tolak si kakak.
“Aku enggak
punya adik, Ibu.”timpal Nava.
“Makanya kalian anggap saja.”kata Bu Sukinah santai.
Keduanya kompak cemberut. “Nara ,
kamu tidur di ruang tamu ya biar Nava tidur di kamar sama Faya.”lanjut Bu
Sukinah.
“Saya saja, Bu
yang tidur di luar.”ucapku segera sebelum Nara
marah-marah tidak jelas.
“Untung deh
kalo nyadar.”gumam Nara
memandangku tajam.
Aku tahu
kedatanganku ke rumah Bu Sukinah disambut dengan antusias oleh dua anak kembar
ajaib Bu Sukinah. Baru beberapa jam di rumah Bu Sukinah saja aku sudah menjadi
asisten pribadi mereka sedangkan mereka hanya makan, minum, tidur, menonton
televisi, dan BBM-an hanya berulang-ulang seperti itu. Aku sendiri bosan
melihat keseharian mereka.
Aku duduk
didepan rumah Bu Sukinah. Aku suka duduk disini. Asri. Aku berpikir kenapa aku
bisa membenci Panji seperti itu? Padahal Panji sebenarnya baik dan perhatian
kepadaku dan jika aku menuruti permintaan Ayah dan Ibu untuk menjalin hubungan
dengan Panji aku bisa memperbaiki IPK-ku yang standart hanya 2,6-2,8. Tidak
bisa aku pungkiri ada Panji di hatiku.
“Ugly
Faya!!!!”panggil Nara .
“Fay, bikinin mie rebus dong. Aku sama Nava lapar.”perintah Nara seenaknya sendiri.
“Enggak
mau.”tolakku mentah-mentah enak saja main suruh-suruh tanpa ada ongkos.
“Fay, buatin
dong.”minta Nava.
“Enggak.
Daripada aku buatin makan malam buat kalian lebih baik aku pergi jalan-jalan.”ujarku
seraya pergi meninggalkan Nara
dan Nava yang terbengong melihat kelakuanku. Sebenarnya ini sudah malam ditambah
lagi aku belum mengenal kota
Madiun. Tapi aku tetap nekad keluat rumah untuk mencari udara malam.
Sudah cukup
lama aku berjalan menyusuri jalan di kota
Madiun. Aku tidak suka dengan keadaan malam hari kota ini. Banyak sekali laki-laki yang
nongkrong di pinggir jalan dan dengan kurang kerjaan mereka meneriaki
cewek-cewek yang lewat jalan itu. Seperti aku di malam ini.
“Cewek!”panggil
salah seorang dari mereka. Aku berusaha untuk cuek meskipun di dalam hatiku
sungguh tidak nyaman. Aku mempercepat laju kakiku. Aku ingin kembali ke rumah
Bu Sukinah saja. Walaupun aku tidak menggubris mereka, tetap saja mereka
menyorakiku dan bersiul-siul menyebalkan. Ini memang salahku aku hanya memakai
celana pendek dan kaos lengan pendek. Tapi tidak aku sangka ada yang begitu
kurang ajar memakaikan jaket buluknya kepadaku.
“Apaan sih,
Mas.”seruku berusaha melepaskan genggamanya di kedua lenganku.
“Tumben
manggilnya pake sopan santun?”aliran darahku serasa berhenti. Aku mengenali
suara itu. Akupun langsung menatap wajahnya.
“Panji?”aku
tidak tahu kehariran Panji disini membuatku senang atau malah sebal tapi yang
pasti kehadirannya membuatku nyaman disini.
“Kenapa? Kaget
lihat aku bisa nemuin kamu?”tanyanya ketika melihat ekspresi heran diwajahku.
Aku bahkan lupa dengan pernikahan tersebut! “Kalo kamu enggak mau nikah sama
aku enggak apa-apa kok, Nin. Tapi kamu pulang ya? Kasihan Ibu kamu sedih
kamu kabur kayak gini. Pulang ya,
Nin?”pinta Panji berusaha meyakinkanku untuk pulang.
“Enggak, Panji
kamu salah. Aku mau kok nikah sama kamu. Dulu, aku memang pernah merasa benci
sama kamu tapi sebenarnya ada perasaan cinta di hatiku untuk kamu. Sayangnya
dulu aku terlalu gengsi untuk menyatakan hal itu.”ucapku sedikit tersipu malu.
“Kalau kamu
enggak cinta sama aku enggak apa-apa lho, Nin. Enggak usah maksain diri.”Panji
masih saja tidak percaya dengan ucapanaku tadi.
“Aku beneran,
Panji. Ini bukan karena aku berbakti kepada orang tuaku atau apalah tapi siapa
sih yang enggak mau jadi istrinya seniman yang hafal 30 juz dan otaknya encer?
Lumayan memperbaiki keturunan.”aku berusaha meyakinkan Panji dengan sedikit
bergurau. Panji terdiam, masih tidak percaya. Secara tiba-tiba Panji memelukku.
“Jangan pergi
lagi ya? Aku enggak mau sendiri.”bisik Panji. Aku hanya tersenyum mendengarnya.
![]() |
| foto: Tamara Tyasmara&Kevin Leonardo |
Benar kata
orang disaat aku membenci seseorang suatu ketika perasaan itu akan berubah menjadi
cinta karena perbedaan benci dan cinta sangatlah tipis.. Meskipun aku dan Panji
adalah dua orang yang sangat bertolak belakang, Panji pintar aku tidak, Panji
GAPTEK aku tidak, aku stylish Panji tidak, aku pandai berbahasa asing Panji
berbicara menggunakan bahasa Indonesia saja selalu terkontaminasi dengan Bahasa
Jawa. Dan masih banyak perbedaan kami, tapi aku sudah tahu sejak dulu akan ada
sesuatu hal yang akan menyatukan kami. Cinta. Bukan cinta yang untuk dipamerkan
kepada teman-teman satu kampusku tapi cinta yang bisa membuatku tersenyum
bahagia saat ini, esok, dan sampai ajal menjemputku aku akan selalu tersenyum
karena cinta. Inilah cinta pertamaku bukan cinta monyet seperti cinta pertama
pada umumnya tapi sebuah cinta yang bisa membuat hatiku yang mulai hilang entah
kemana menjadi utuh kembali. Itu semua karena cintaku untuk Panji dan cinta
Panji untukku. Untuk selamanya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar