music box

Senin, 11 Juni 2012

UTUH


 Author:: Assyifa Widiastomo
Genre:: Romance
Reader:: All of you :)


Plagiat? No! CoPas? No! Creation? Let's GO!!

         Nindya Rezvina Pangestikkaningrum. Itulah nama yang diberikan orangtuaku kepadaku. Aku hidup bahagia bersama kedua orangtuaku. Ehm…Lebih tepatnya tiga orangtua. Ya, Ayahku telah menikah untuk kedua kalinya. Walaupun Ayahku, Bima Saktiono tetap sayang dan perhatian kepadaku dan Ibuku, seringkali aku melihat Ibuku menangis melihat foto keluarga kami dulu. Mungkin Ibu sedih harus berbagi ranjang dengan wanita lain. Aku sendiri tidak terlalu suka dengan pernikahan Ayah dengan Mama, begitulah aku menyebut wanita itu. Mama memiliki seorang anak perempuan yang usianya terpaut 3 tahun dibawahku tapi gayanya yang sok cantik dan kecentilan itu yang membuatku sebal dengan dia. Tapi aku tidak terlalu peduli dengan rumah tangga keluargaku yang semakin lama semakin berantakan itu. Buat apa aku memikirkan mereka yang menghancurkan hatiku toh mereka tidak memikirkanku. Lagipula aku masih punya Ibu dan teman-temanku yang menyayangi aku dan bisa tertawa bersamaku.
            “Nindy!”panggil suara cempreng dibelakangku. Aku menengok ke belakang mencari arah suara itu. Ternyata Ify, teman satu angkatanku.
            “Kenapa, Fy?”tanyaku merespon panggilannya.
            “Ada kuliah siang ini?”Ify balik bertanya kepadaku.
            “Ada. Nanti aku ada kelas jam setengah 2.”jawabku.
            “Busyett, masih semangat aja kuliah jam segitu.”canda Ify sambil mengeluarkan suara tawanya yang khas seperti Kuntilanak.
            “Daripada harus ngulang? Cukup 2 kali aja aku masuk kelas statistik. Lagian kalau aku lulus kan tahun depan kan enggak usah ada kelas itu lagi.”jawabku panjang lebar.
            “Oh iya bener tuh. Masih jam 12 nih ke kantin dulu yuk. Aku nanti juga ada kelas jam 2 tahun lalu aku kan lulus statistik.”ajak Ify sedikit mengejek ku di akhir kalimatnya.
            “Iya deh. Anak pinter.”Aku dan Ify beradu tawa aneh ala Spongesbob dan Mbak Kunti. Aku dan Ify asyik bercanda sampai-sampai aku tidak berhati-hati dan menabrak seseorang yang sepertinya kerepotan membawa sesuatu ditangannya. Dan tidak bisa di hindari barang yang dibawanya jatuh dan pecah berantakan di lantai.
            “ Yahh! Ancur kan!”teriak orang itu histeris. Aku memandang ke arahnya dengan penuh rasa bersalah. Dia Panji, begitulah teman-temanku memanggilnya. Dia satu angkatan di atas ku. Tubuhnya tidak menjulang tinggi, penampilannya sedikit culun walaupun kelakuannya jauh dari culun, dan wajahnya pun hanya sekedar manis. Standart. Tapi prestasinya yang segudang dalam bidang MTQ, seni, dan pelajaran membuat cewek-cewek satu kampus memuja-mujanya kecuali aku tentunya. Sebenarnya jika dia mendaftar di kedeokteran ataupun hukum pasti diterima beda dengan aku yang otaknya pas-pasan, tapi jiwa seninya menghasut Panji untuk masuk ke seni rupa. Dan yang semakin membuatku merasa tidak enak dengan Panji, kabarnya Panji menyukaiku! Aku telah mengecewakan fans ku dengan kelakuan teledorku.
            “Maaf. Aku enggak sengaja.”ujarku dengan suara memelas sembrani berjongkok untuk membantu Panji membereskan barangnya yang telah hancur.
            “Hati-hati dong! Mau di kumpulin tahu’.”maki Panji. Aku terenyak, aku baru sadar kalau itu pasti tugas keseniannya! Bagaimana ini kalau sampai dia tidak lulus hanya gara-gara tidak mengumpulkan 1 kesenian dan aku disuruh membayar uang kuliahnya selama satu tahun kedepan! Tidak mungkin, itu pasti hanya khayalanku. Aku mencoba menenangkan diriku sendiri.
            “Aku kan sudah minta maaf.”sentakku karena sebal dia memarahiku, padahal itu wajar.
            “Ya udah enggak usah bentak-bentak mendingan kamu bantuin aku beresin pekerjaanku yang susah payah aku kerjain seminggu tapi dalam 3 detik kamu berhasil ngancurin.”runtuk Panji menyindirku. Aku tidak berkomentar apapun percuma saja aku mau ngomong apa lagipula Panji tidak peduli dengan semua omonganku. Aku masih ikut membantu Panji membereskan pekerjaan seni rupanya yang tebuat dari kaca. Saat aku memunguti kaca itu tiba-tiba salah satu serpihan kaca itu melukai ujung jari tengahku.
            “Aduh!”seruku terkejut. Panji yang berada diseberang ikut terkejut dan langsung berdiri untuk membantuku. Semua serpihan kaca yang ia kumpulkan terjatuh kembali menjadi serbuk kaca. Panji tidak memperhatikan pekerjaannya malah berjongkok di sebelahku.
            “Mana yang sakit?”tanya Panji seraya memengang tanganku membuatku terkejut setengah mati. Orang yang tadinya sangat cuek bisa berubah perhatian seketika? Bullshit!
            “Enggak usah.”kataku sembrani menarik tanganku dengan sedikit kasar. Panji terbengong sejenak melihat kelakuan ajaibku.
            “Ya udah kalo enggak mau di bantuin.”ujar Panji bersikap sok cool.
            “Ough! Sial banget aku hari ini harus ketemu sama perusuh yang suka marah-marah seperti emak-emak dan gara-gara kamu tanganku luka. Cukup, Panji aku enggak mau dan enggak akan berurusan sama kamu lagi.”agak aneh memang kalau aku marah kepada Panji harusnya Panji yang marah kepadaku karena dia terancam tidak mendapat nilai.
            “Terserah deh kamu mau ngomong apa. Tapi kamu harus tanggung jawab, beresin itu kaca-kaca yang udah pecah.”Panji membentakku lagi. Aku sedikit sakit hati. Begitukah perlakuan untuk gadis manis yang di sukainya?
            “Panji…Tangan luka. Harus dibawa ke klinik kampus. Jadi maaf-maaf saja aku enggak bisa ikut mulungin kaca itu. Lagian enggak ancur paling juga dapet nilai D.”ujarku semakin terbawa arus emosi dan segera beranjak berdiri meninggalkan Panji.
            “Tunggu.”kata Panji dengan segera menggenggam pergelangan tanganku untuk mencegahku pergi. Aku berharap ini akan menjadi tragedi romantis dalam hidupku.
            “Anak manja, Nindy. Aku kakak angkatmu di universitas ini, jadi panggil aku Mas Panji.”desis Panji dengan menekan ucapan terakhirnya. Aku tetap saja tidak peduli dengan perkataannya dan melengos pergi.
            Selama kuliah pikiranku sedikit tidak tenang. Pelajaran statistik hanya masuk telinga kanan dan keluar dari telinga kiri. Tidak ada satupun pelajaran statistik yang masuk dalam otakku. Pikiranku tertuju pada satu orang, Panji. Entah angin apa yang membuatku memikirkan cowok yang dipikir-pikir tidak kalah manis dengan Kim Jeffrey Kurniawan. Aku berusaha mengusir pikiran-pikiran usil itu. Bagaimana bisa cowok culun seperti Panji aku sama-samakan dengan atlet sepakbola favoritku itu? Ini semua sudah gila!
            Akhirnya pelajaran statistik yang menurutku membosankan itu selesai juga. Aku segera pulang menuju rumahku yang juga neraka bagiku karena aku harus bertemu dengan Mama dan gadis kecilnya itu yang terkadang membuatku muak. Dari dalam rumah terdengar suara tawa beberapa orang sepertinya Ayah sedang bertemu dengan teman bisnisnya atau arisan rutin Mama bulan ini diadakan disini. Aku tetap cuek melewati kerumunan orang-orang disana.
            “Nindy. Sini.”panggil Ayah ketika melihatku mulai menaiki tangga.
            “Nindy capek, Yah habis pulang kuliah.”ujarku memberi alasan. Aku malas bertemu dengan rekan kerja Ayah. Aku yakin sekali ketika aku diperkenalkan kepada mereka monoton saja tanggapan mereka.
            “Ini Nindy putrinya Bu Dewi? Aduh…Udah besar ya sekarang? Cantik lagi.”kalau urusan puji-memuji teman kerja semuanya kompak.
            “Sini sebentar, Nin. Ada yang mau Ayah kasih tahu ke kamu.”ujar Ayah sedikit memaksaku. Disana ada Mama, Risnha, dan Ibu juga. Mata Ibu yang sayu dan senyuman di bibirnya seperti menyuruh aku untuk menuruti permintaan Ayah. Dengan malas akhirnya aku menuruni anak tangga coba saja tidak ada Ibu disana pasti ini tidak terjadi.
            “Duduk, Nin.”perintah Ayah. Perasaanku tidak enak. Akan menjadi korban perlakuaan over protection seperti apa aku nanti?
            “Ayah dan Ibu ingin kamu segera menikah. Kamu kan sudah dewasa, Kamu enggak usah repot-repot cari calon. Ayah dan Ibu sudah punya calonnya. Ayah yakin kamu pasti kenal, dia kuliah di UNISKA juga tapi satu angkatan diatas kamu dan prestasinya sungguh luar biasa. Dan mungkin dia bisa membuat IPK mu itu jadi lebih bagus, Nin.”jelas Ayah sedikit membuatku bertanya-tanya. Aku sepertinya tahu orang yang ciri-ciri sama seperti itu. Tapi rasanya tidak mungkin.
            “Namanya siapa, Yah?”tanyaku dengan heran.
            “Muhammed Rizki Panjibasuki, itu dia duduk disebelah Risnha.”jawab Ayah seraya tersenyum lebar. Aku memandang ke orang yang duduk disebelah Risnha ternyata benar itu Panji. Mengapa bisa aku tidak tahu ada makhluk sebesar itu dihadapanku tadi?
            “Sama dia? Enggak ah, Yah.”tolakku tapi masih berusaha sedikit sopan didepan Ayah.
            “Lho kenapa, Nin?”kali ini Ibu juga angkat bicara.
            “Kurang cocok aja, Bu.”jawabku asal-asalan
            “Coba dijalani dulu, Nak.”bujuk Ayah.
            “Enggak, Yah. Sekali Nindy bilang enggak tetap enggak.”aku mulai berontak. Aku berdiri dan meninggalkan mereka.
            “NINDY!”aku tidak menyangka, Panji akan ikut memanggilku. Kenapa rasanya aku ingin berbalik dan mengatakan aku setuju dengan pernikahan itu? Tapi, ini bukan jaman Siti Nurbaya. Bukan jamannya perjodohan. Ketika aku sudah menikah dengan Panji dan harus mengikuti Panji keluar kota apa yang akan dilakukan mereka kepada Ibu? Menyiksanya? Menjadikannya budak? Atau membuangnya? Aku tidak tega jika Mama dan Risnha melakukan hal tidak manusiawi kepada Ibu. Lebih baik aku saja yang sakit jangan Ibu. Lagipula tidak ada cinta untuk Panji di hatiku.
            “Nindy…”Panji kembali memanggil namaku kali ini dengan suara yang lebih pelan dan sedikit memelas.
            “Udah lah, Kak Panji. Disini aja.”entah apa yang dilakukan Panji sehingga Risnha mulai kecentilan. Aku berbalik badan, aku melihat sebuah pemandangan yang didalam hati kecilku tidak ingin ku lihat Panji berdiri dengan pergelangan tangan kanannya di pengang erat oleh Risnha. Mengapa ada rasa cemburu didalam hatiku? Tidak! Aku tidak mencintai Panji! Aku yakin itu. Panji yang sudah merasa langsung melepas paksa genggaman Risnha.
            “Nindy enggak bisa, Yah.”ujarku meminta pengertian Ayah.
            “Kamu setuju enggak setuju, Panji akan melamar kamu minggu depan. Enggak usah protes.”aku tertunduk lesu. Aku tidak ingin menikah, pacaran saja tidak pernah terpikirkan olehku dan dengan tiba-tiba aku diperintahkan ayah untu menikah? Sungguh tidak masuk akal. Dan pastinya aku tidak bisa menghindar dari pernikahan itu.
“Tuhan, Nindy harus bagaimana?”do’aku disetiap waktu. Tapi belum ada jawaban dari Tuhan untuk masalahku ini. Akhirnya karena terlalu putus asa aku mencari jawaban atas pertanyaanku di internet. Aku menemukan satu artikel untuk menghindari pernikahan.
  1. Tolaklah si pelamar dengan baik-baik.
Aku sudah melakukan itu dan tidak berefek apapun.
  1. Berontaklah.
Aku juga sudah melakukan itu, bukannya berhasil Ayah menjadi marah kepadaku.
  1. Berpura-puralah lupa dengan hari pernikahan anda.
Betapa bodohnya orang yang membuat artikel ini, itu tidak mungkin.
  1. Berpura-puralah sakit.
Hidup dalam kepura-puraan itu itu tidak akan di ridhoi Tuhan. Pamali.
  1. Kaburlah dari rumah ketika akan menikah.
Mungkin ide ini tidak terlalu buruk. Tapi aku harus pergi kemana? Dan bagaimana dengan Ibu? Ah, aku harus segera pergi dari rumah ini tinggal 11 jam lagi Panji akan melamarku. Maaf Ibu, aku harus meninggalkan Ibu.
Dengan barang-barang seadanya dan uang secukupnya aku pergi ke terminal bus. Sebenarnya aku tidak suka naik bus, penumpangnya tidak tahu malu dan sopir busnya selalu ugal-ugalan. Tapi mau bagaimana lagi? Di kotaku ini, kota Kediri tidak ada bandara satupun, dan aku tidak yakin ada kereta api yang berangkat pukul 22.00. Aku hanya asal masuk bus saja, yang penting aku bisa keluar dari kota Kediri. Bus yang aku tumpangi berjalan perlahan-lahan disana satu keluarga, seorang nenek dan cucunya, juga seorang perempuan seumuranku. Aku tidak berani tertidur dalam bus, aku takut kecopetan walaupun rasanya tidak mungkin. 3 jam sudah perjalananku aku melihat tulisan “SELAMAT DATANG DI KOTA MADIUN” jadi aku ada di kota Madiun. Aku pernah mendengarnya walaupun belum pernah mengunjungi kota kecil itu. Bus yang ku tumpangi berhenti di terminal bus terakhir, semua penumpang dan sopir beserta antek-anteknya turun semua. Aku harus bisa menjalani hidupku di kota ini! Perjalananku cukup membuatku lapar, diaat seperti ini tidak mungkin aku makan di restoran. Setelah ku teguhkan hati akupun makan di sebuah warung kecil.
“Ibu, pesen nasi sama telor, Bu.”aku memesan makanan yang secukupnya.
“Iya, Dek.”dengan cekatan tangannya mengambilkan pesananku.”Adek manusiakan kan, ya?”tanyanya dengan polos sambil menyerahkan makananku.
“Ya iya lah, Bu.”jawabku seraya tertawa untungnya aku tidak mempunyai ciri khas tawa seperti Ify, kalau Ify disini si Penjual nasinya pasti langsung lari terbirit-birit.
“Malam-malam kayak gini mau kemana, Dek?”tanyanya, mungkin Ibu itu masih tidak percaya jika aku ini manusia.
“Liburan, Bu. Tadi ban bisnya sempet bocor jadi telat sampai di Madiun.”jawabku asal saja.
“Mau menginap dimana, Dek? Hotel di Madiun mahal, Dek. Kalau murah pasti hotelnya kumuh, lebih baik kamu tinggal di rumah Ibu. Tidak besar sih tapi bersih.”akhirnya si Ibu percaya aku benar-benar manusia dan mulai berani menawariku.
“Boleh, Bu? Saya mau.”aku langsung mengiyakan lumayan tempat tinggal gratis dan makannya mungkin juga gratis. Setelah aku selesai makan Ibu penjaga warung dan aku pergi menuju ke rumah si Ibu. Benar, rumahnya memang tidak besar tapi bersih dan asri satu lagi yang tidak bisa aku pungkiri penuh dengan kehangatan.
Nara. Nava.”Ibu itu memanggil anaknya.
“Anak Ibu kembar?”tanyaku seketika.
“Iya. Namanya Nara dan Nava Ibu sendiri Bu Sukinah O iya kamu sendiri siapa?”tanya Ibu Sukinah
“Saya..Faya, Bu.”jawabku berbohong. Tidak mungkin aku mengatakan nama asliku pasti akan semakin mudah dicari. Dari kamar yang paling ujung keluarlah 2 gadis kembar.
“Apaan sih, Bu? Nava ngantuk.”gerutu gadis yang bernama Nava.
“Ini ada yang mau menginap. Namanya Faya. Kalian anggap kayak adik kalian sendiri ya?”ujar Bi Sukinah berbasa-basi.
“Enggak ah. Adikku cuma Nava.”tolak si kakak.
“Aku enggak punya adik, Ibu.”timpal Nava.
“Makanya  kalian anggap saja.”kata Bu Sukinah santai. Keduanya kompak cemberut. “Nara, kamu tidur di ruang tamu ya biar Nava tidur di kamar sama Faya.”lanjut Bu Sukinah.
“Saya saja, Bu yang tidur di luar.”ucapku segera sebelum Nara marah-marah tidak jelas.
“Untung deh kalo nyadar.”gumam Nara memandangku tajam.
Aku tahu kedatanganku ke rumah Bu Sukinah disambut dengan antusias oleh dua anak kembar ajaib Bu Sukinah. Baru beberapa jam di rumah Bu Sukinah saja aku sudah menjadi asisten pribadi mereka sedangkan mereka hanya makan, minum, tidur, menonton televisi, dan BBM-an hanya berulang-ulang seperti itu. Aku sendiri bosan melihat keseharian mereka.
Aku duduk didepan rumah Bu Sukinah. Aku suka duduk disini. Asri. Aku berpikir kenapa aku bisa membenci Panji seperti itu? Padahal Panji sebenarnya baik dan perhatian kepadaku dan jika aku menuruti permintaan Ayah dan Ibu untuk menjalin hubungan dengan Panji aku bisa memperbaiki IPK-ku yang standart hanya 2,6-2,8. Tidak bisa aku pungkiri ada Panji di hatiku.
“Ugly Faya!!!!”panggil Nara. “Fay, bikinin mie rebus dong. Aku sama Nava lapar.”perintah Nara seenaknya sendiri.
“Enggak mau.”tolakku mentah-mentah enak saja main suruh-suruh tanpa ada ongkos.
“Fay, buatin dong.”minta Nava.
“Enggak. Daripada aku buatin makan malam buat kalian lebih baik aku pergi jalan-jalan.”ujarku seraya pergi meninggalkan Nara dan Nava yang terbengong melihat kelakuanku. Sebenarnya ini sudah malam ditambah lagi aku belum mengenal kota Madiun. Tapi aku tetap nekad keluat rumah untuk mencari udara malam.
Sudah cukup lama aku berjalan menyusuri jalan di kota Madiun. Aku tidak suka dengan keadaan malam hari kota ini. Banyak sekali laki-laki yang nongkrong di pinggir jalan dan dengan kurang kerjaan mereka meneriaki cewek-cewek yang lewat jalan itu. Seperti aku di malam ini.
“Cewek!”panggil salah seorang dari mereka. Aku berusaha untuk cuek meskipun di dalam hatiku sungguh tidak nyaman. Aku mempercepat laju kakiku. Aku ingin kembali ke rumah Bu Sukinah saja. Walaupun aku tidak menggubris mereka, tetap saja mereka menyorakiku dan bersiul-siul menyebalkan. Ini memang salahku aku hanya memakai celana pendek dan kaos lengan pendek. Tapi tidak aku sangka ada yang begitu kurang ajar memakaikan jaket buluknya kepadaku.
“Apaan sih, Mas.”seruku berusaha melepaskan genggamanya di kedua lenganku.
“Tumben manggilnya pake sopan santun?”aliran darahku serasa berhenti. Aku mengenali suara itu. Akupun langsung menatap wajahnya.
“Panji?”aku tidak tahu kehariran Panji disini membuatku senang atau malah sebal tapi yang pasti kehadirannya membuatku nyaman disini.
“Kenapa? Kaget lihat aku bisa nemuin kamu?”tanyanya ketika melihat ekspresi heran diwajahku. Aku bahkan lupa dengan pernikahan tersebut! “Kalo kamu enggak mau nikah sama aku enggak apa-apa kok, Nin. Tapi kamu pulang ya? Kasihan Ibu kamu sedih kamu  kabur kayak gini. Pulang ya, Nin?”pinta Panji berusaha meyakinkanku untuk pulang.
“Enggak, Panji kamu salah. Aku mau kok nikah sama kamu. Dulu, aku memang pernah merasa benci sama kamu tapi sebenarnya ada perasaan cinta di hatiku untuk kamu. Sayangnya dulu aku terlalu gengsi untuk menyatakan hal itu.”ucapku sedikit tersipu malu.
“Kalau kamu enggak cinta sama aku enggak apa-apa lho, Nin. Enggak usah maksain diri.”Panji masih saja tidak percaya dengan ucapanaku tadi.
“Aku beneran, Panji. Ini bukan karena aku berbakti kepada orang tuaku atau apalah tapi siapa sih yang enggak mau jadi istrinya seniman yang hafal 30 juz dan otaknya encer? Lumayan memperbaiki keturunan.”aku berusaha meyakinkan Panji dengan sedikit bergurau. Panji terdiam, masih tidak percaya. Secara tiba-tiba Panji memelukku.
“Jangan pergi lagi ya? Aku enggak mau sendiri.”bisik Panji. Aku hanya tersenyum mendengarnya.
foto: Tamara Tyasmara&Kevin Leonardo
Benar kata orang disaat aku membenci seseorang suatu ketika perasaan itu akan berubah menjadi cinta karena perbedaan benci dan cinta sangatlah tipis.. Meskipun aku dan Panji adalah dua orang yang sangat bertolak belakang, Panji pintar aku tidak, Panji GAPTEK aku tidak, aku stylish Panji tidak, aku pandai berbahasa asing Panji berbicara menggunakan bahasa Indonesia saja selalu terkontaminasi dengan Bahasa Jawa. Dan masih banyak perbedaan kami, tapi aku sudah tahu sejak dulu akan ada sesuatu hal yang akan menyatukan kami. Cinta. Bukan cinta yang untuk dipamerkan kepada teman-teman satu kampusku tapi cinta yang bisa membuatku tersenyum bahagia saat ini, esok, dan sampai ajal menjemputku aku akan selalu tersenyum karena cinta. Inilah cinta pertamaku bukan cinta monyet seperti cinta pertama pada umumnya tapi sebuah cinta yang bisa membuat hatiku yang mulai hilang entah kemana menjadi utuh kembali. Itu semua karena cintaku untuk Panji dan cinta Panji untukku. Untuk selamanya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar