music box

Senin, 11 Juni 2012

Gara dan Suku Omotsaidiw


Author:: Assyifa Widiastomo
Genre:: Fantasy

creation for your self :)


Malam ini Gara pulang kerumah dengan berjalan kaki dan menuntun sepedanya yang ban belakangnya tanpa sengaja terkena paku di perjalanan pulangnya dari berjualan kue keliling. Gara memanglah seseorang yang terkenal ceroboh dan satu hal lagi tentang Gara, dia juga terkenal suka mencuri.
            GUBRAK! Kaki Gara tersandung sebuah batu yang berukuran cukup besar yang tergeletak begitu saja di jalanan. Gara melihat ada darah yang menetes dari dahinya setelah itu pandangannya kabur dan semuanya menjadi gelap begitu saja.
*
            Gara terbangunkan oleh sinar rembulan yang malam ini begitu menyilaukan mata. Saat sudah terbangun yang pertama kali dilakukan Gara ialah meletakkan telapak tangannya ke dahinya untuk memastikan masih ada darah yang tersisa akibat kecelakaan tadi atau darah itu sudah menghilang. Gara melihat telapak tangannya, disana memang tidak ada setetespun darah tapi Gara nampak sangat terkejut. Seingatnya tadi dia terjatuh dijalan raya yang beraspal tapi kenapa sekarang dia menginjakkan kakinya di tanah yang penuh ranting dan daun-daun yang mulai berwarna kuning kecoklatan karena mengering. Gara melihat pemandangan disekelilingnya. Semuanya pohon. Tiada yang lain! Bahkan sinar rembulan yang bertemankan taburan bintang diatas sama sedikit tertutup oleh pohon-pohon yang rimbun.
            Gara melihat kearah jam tangan yang melingkar dipergelangan tangan kirinya. Jam yang berbentuk digital itu menunjukkan pukul 07.03. Tapi matahari belum terlihat sama sekali, masih ada sinar rembulan disini. Apakah waktu dihutan ini berbeda dengan ‘dunia’ Gara yang asli? Lalu hutan apa ini?
            Gara berusaha berdiri. Tapi belum sempat dia berdiri tegak pandangannya mulai kabur kembali. Semua terlihat semu dan sangat banyak membuat Gara semakin pusing melihatnya. Gara memutuskan untuk memejamkan matanya dan semuanya menjadi hitam polos kembali tanpa ada gambaran benda apapun yang membuatnya sakit kepala.
*
            Gara merasakan geli ditelapak kakinya membuatnya terbangun dengan kagetnya.
            “HAHAHAHA….”Gara tertawa keras.
            “EROH!!!!”teriak seseorang yang berdiri didekat tempat tidurnya sambil bertepuk tangan dengan hebohnya. Gara terlihat terkejut melihat orang itu. Tingginya mungkin tidak lebih dari 100 cm. Kulitnya berwarna coklat gelap. Pakaiannya pun pasti terlihat aneh jika dikenakan pada tahun 2011, tapi sepertinya Gara pernah melihatnya disebuah film. Lama Gara mencoba mengingatnya akhirnya ia menemukannya di memori otaknya. Baju itu pernah dilihatnya dalam sebuah film yang menceritakan suku Indian. Lalu apakah ia berada diantara orang-orang suku Indian sekarang? Bagaimana bisa? Padahal ia hanya terjatuh dan pingsan karenanya dijalan raya! Orang itu sepertinya tahu kebingungan didalam diri Gara dan dia sepertinya juga tahu Gara bukanlah salah satu dari mereka dan pastilah Gara tidak akan mengerti jika ia menjelas dengan bahasanya.
            Orang itu lalu bergerak kesana kemari untuk memperagakan sesuatu. Gara langsung paham maksudnya bahwa dia mau me-reka ulang kejadian pingsannya Gara dihutan tadi. Ternyata saat orang tersebut mencari bahan makanan dihutan dia melihat sesosok manusia yang ‘raksasa’ menurutnya. Dia berusaha menggoyang-goyangkan kaki Gara, menepuk-nepuk seluruh bagian tubuh Gara tapi hasilnya tetap nihil. Gara tetap tidak terbangun dari pingsannya. Dengan gusar ia memanggil beberapa orang temannya untuk menggotong tubuh Gara yang kurang lebih dua kali lebih tinggi dan lebih lebar daripada orang tersebut. Setelah 2 jam barulah Gara tersadarkan oleh bulu ayam yang digunakan untuk menggelitik telapak kaki Gara tadi.
            Gara sangat antusias mendengar cerita penyelamatan dirinya. Tanpa sungkan sedikitpun ia langsung mengucapkan terima kasih.
            “Terimakasih banyak.”ujar Gara seraya menjulurkan tangannya untuk berjabat tangan.
            “Naeyir.”orang itu menerima jabat tangan Gara. Sepertinya dia salah tangkap. Padahal Gara sebenarnya ingin berterimakasih karena Naeyir mau menyelamatkannya  tapi sepertinya ia mengira Gara ingin berkenalan sesosok mungil itu. Gara sanat memaklumi hal itu. Bahasa yang mereka memang gunakan sangat jauh berbeda denagn bahasa Gara sehari-hari, begitupun sebaliknya.
            “Gara.”Gara menyebutkan namanya. Naeyir mengerutkan kening ketika dia
mendengar nama yang cukup unik ditelinganya.
            “HA? Gar??”tanyanya sedikit bingung saat menyebutkan nama Gara.
            “Gara. G-A-R-A. Gara.”Gara membenarkan.
            “Ga…ra?”Gara langsung mengangguk senang. Tiba-tiba Naeyir menarik tangan Gara untuk turun dari tempat tidur dan segera mengikuti langkah kaki mungilnya.
            Perjalanan yang cukup panjang berakhir disebuah bangunan yang waww! Sangat megah! Bangunan megah itu terbentuk atas berbagai logam mulia. Emas, intan, permata, dan masih banyak lagi yang menambah kesan elegan di gedung yang terlihat luas dan menjulang tinggi. Menurut Gara istana presidenpun kalah megah dengan istana yang satu ini. Walaupun istana itu tampil dengan elegannya bangunan ini masih memiliki halaman yang asri dengan banyaknya tumbuhan hijau yang rindang serta adanya berbagai macam bunga dengan berbagai macam bentuk dan warna. Istana ini semakin mengundang decak kagum karenanya. Belum ditambah lagi dengan sebuah kolam yang ditengahnya terdapat patung seorang kurcaci pria dan seorang lagi kurcaci wanita yang mengeluarkan air mancur dari topinya. Sungguh istana yang unik.
            Naeyir berlari memasuki istana megah itu dengan bersiul riang. Kakinya yang meloncat-loncat kanan berganti dengan kiri seirama dengan siulannya tapi saat mulai memasuki istana tersebut langkah kakinya berubah menjadi sangat sopan seketika.
            Ternyata Naeyir membawa Gara untuk menghadap kepada seseorang yang Gara pikir mungkin ini raja disuku ini. Disamping sang raja berdirilah seorang gadis manis yang sangat Gara yankini bukan istri sang raja melainkan purti sang raja. Raja dan Naeyir asyik berbincang-bincang. Setelah itu Naeyir menjelaskan kepada Gara tentang orang itu, ternyata benar dugaan Gara dia adalah seorang raja di suku dan yang disampingnya adalah putri kerajaan.
            Secara reflek Gara merapikan rambut, terutama poninya yang berantakan saat terkena angin diluar. Tanpa berlama-lama ia berjongkok persis seperti adat sungkem yang ia lakukan setiap hari fitri umat islam, Idul Fitri datang kepada sang raja.
            ”Hemmm.... Aganis.”ujarnya. Aganis? Apa itu? Atau mungkin itu nama sang raja? Baru saja Gara bertanya ke dirinya sendiri, Naeyir sudah menjelaskannya lewat peragaan seperti biasa bahwa Aganis merupakan nama milik sang raja.
            ”Afiyssa.”ujar sang putri kemudian. ’Afiyssa, nama yang bagus.”Gara memuji
nama milik putri Afiyssa didalam hatinya.
            Setelah itu Gara hanya berdiam diri mendengarkan percakapan antara Raja Aganis dengan Naeyir yang sesungguhan ia tidak mengerti. Sesekali Gara mencuri pandang kearah seorang gadis manis dihadapannya, Afiyssa.
*
            Sudah sangat panjang waktu yang dihabiskan Gara didunia barunya. Gara
menggunakan waktunya didunia barunya ini dengan membantu pekerjaan-pekerjaan disuku Omotsaidiw, sebuah suku yang ditumpanginya saat ini. Terkadang dia melamun saat mengingat kehidupannya yang dulu. Saat dia harus sekolah dipagi hari, bimbingan belajar disiang hari, dan berjualan kue saat sore menjelang hingga malam. Gara juga sangat merindukan ayahnya dan ibunya, walaupun mereka lebih sering memarahi Gara terutama jika Gara mulai mencuri.
            “BAAAA!!!”teriak Naeyir mengagetkan lamunan Gara tentang kehidupannya yang dulu, telinganya yang sanagt besar dan tidak singron dengan mukanya terlihat bergerak-gerak lembut.
            “Naeyir.”Gara pura-pura kaget untuk sedikit berbasa-basi.
            “Hmmm?? Apa ada?”Naeyir memandang wajah Gara. Kening Gara berkerut pertanda Gara bingung dengan bahasa yang diucapkan oleh Naeyir. Nampaknya Naeyir mengerti tentang hal itu kemudian ia memperagakan sesuatu yang artinya putar. Gerakan Naeyir membuat Gara semakin bingung. Naeyir hanya tersenyum manis menunjukkan lesung pipitnya yang cukup dalam.
            “Aynnakumenem naka umak taas utaus.”ujar Naeyir membuat Gara semakin pusing saja. Tapi Naeyir hanya kembali memamerkan lesung pipit yang ia miliki dan meninggalkan Gara dengan senyuman penuh. Kaki mungilnya yang berbulu lebat berlarian pelan.
            Satu misi dari Naeyir untuk Gara! Menemukan arti bahasa Suku Omotsaidiw. Tetapi Gara hanya bermodalkan putar, walaupun begitu Gara berjanji kepada dirinya sendiri untuk dapat menemukan arti dari bahasa suku Omotsaidiw.
*
            Saat ini Gara membantu warga suku Omotsaidiw untuk menyimpan bahan makanan didalam tanah. Kegiatan ini memang sudah menjadi ritual suku Omotsaidiw
setiap bulannya, menyimpan bahan makanan didalam tanah untuk digunakan pada
bulan berikutnya.
            Sedari tadi Gara terus mencangkul tanah yang sudah disiapkan. Sudah hampir 76 lubang yang dibuat oleh Gara. Saat menjatuhkan cangkul untuk memulai membuat lubang yang ke-77 Gara merasakan sesuatu yang aneh dari dalam tanah. Sepertinya ada yang mengganjal pekerjaannya. Gara langsung mencari tahu. Setelah ia cangkul dan cangkul akhirnya ditemukannya sebongkah emas putih. Sangat cantik dan mengangumkan. Gara sangat ingin memilikinya tapi ada sesuatu dihatinya yang membuatnya sedikit bimbang dan ragu untuk mengambil benda antik yang cantik itu. Gara merasa ia tidak berhak sama sekali untuk memilikinya. Tapi pikirannya merasa tidak dapat melewatkan kesempatan emas ini untuk memiliki emas putih tersebut.         Sangat lama Gara menimang emas putih ditangannya yang terlihat berkilau karena terkena sinar matahari yang terik yang semakin membuat Gara ingin memilikinya. Akhirnya dengan berhati-hati Gara memasukkan emas putih itu kedalam saku celananya berharap tidak ada yang mengetahuinya.
            “Irucnep!!!”teriak seorang warga yang membuat Gara tersentak kaget. Gara memang tidak mengerti sama sekali arti dari yang yang diucapkan orang itu, tapi Gara sangat mengerti aksi pencurian emas putih yang ia temukan tadi tertangkap basah!
            Orang tadi meanggil teman-temannya untuk membawa Gara menghadap ke Raja Aganis. Gara hanya bisa pasrah saat dirinya dikepung warga Omotsaidiw yang kemudian digiring menuju istana yang dulunya bagi Gara adalah surganya suku Omotsaidiw, tapi kini mungkin itu adalah nereka bagi Gara karena nyawanya akan musnah disana! Gara terus berdo’a kepada Tuhan agar bisa terselamatkan dari maut yang akan menerpanya.
            Ditempat lain yang tak jauh dari tempat penangkapan Gara, tanpa sepengetahuan Gara Naeyir yang melihat kejadian itu sangat sedih kelakuan buruk Gara terulang lagi ditempat barunya. Tapi dia tidak mau  hidup sahabat barunya berakhir ditempat yang dimana dia tidak memiliki siapa-siapa selain Naeyir. Akhirnya Naeyir memutuskan untuk meminta bantuan putri Afiyssa. Mungkin hanya putri Afiyssa yang bias membujuk raja Aganis untuk membatalkan hukuman untuk Gara.
            Raja marah besar saat mengetahui kelakuan buruk Gara. Setelah mereka
berunding akhirnya diputuskan hukuman mati untuk Gara karena ternyata emas putih yang ia ambil dari tanah tadi, emas putih milik raja yang tidak ada siapapun selain raja yang boleh mengambilnya yang memang sengaja disimpan ditanah untuk mengetes kejujuran warga suku Omotsaidiw.
            Tangan Gara diikatkan kebelakang, kakinya pun juga diikat dengan sangat kuat. Gara tidak berani sama sekali membuka matanya. Bagaimana tidak? Dia dikelilingi warga suku Omotsaidiw yang membawa pedang masing-masing. Raja Aganis juga sudah menyiapkan pedangnya yang siap memutuskan antara kepala dan badan Gara. Bahkan pedang milik raja Aganis sudah melukai kulit epidermis dileher Gara yang membuat lehernya mengeluarkan darah segar. Tapi Gara sangat berusaha tidak mengeluarkan airmata dan menahan perih yang sangat luar biasa di lehernya.
            “Pais?”teriak Raja Aganis. “PAIS TAGNAS!!!”teriak seluruh warga suku Omotsaidiw.
            “HIYAAAA!!!!”Gara semakin menutup atanya erat-erat tidak mau melihat keadaan dimana nyawanya akan menghilang dalam waktu beberapa detik. Saat seluruh pedang warga suku Omotsaidiw melukai tubuhnya.
            “ Uggnut!!”teriak seseorang. Dalam sekejap Gara sudah membuka matanya. Dilihatnya ada putri Afiyssa yang diikuti oleh Naeyir. Dilihatnya mata Naeyir menatap Gara dengan tatapan penuh makna. Mata Naeyir sangat memperlihatkan kekecewaannya terhadap Gara yang tidak mau berpikir panjang saat mengambil emas putih yang bukan miliknya. Kelakuan Gara yang satu ini sangat persis seperti kehidupannya di dunianya yang asli.
            Raja Aganis dan putri Afiyssa berdebat sengit dalam bahasa mereka yang Gara  sampai saat ini masih belum mengerti sedikitpun. Raut wajah raja Aganis yang sudah mulai mengerut terlihat bimbang. Raja Aganis menarik nafas panjang dan mengatakan sesuatu kepada warga suku Omotsaidiw. Warga terlihat tidak terima dengan keputusan raja Aganis yang menurut mereka adalah keputusan sepihak. Tapi apa boleh buat? Mereka tentu saja tidak bisa menentang keputusan raja Aganis. Mereka mulai menurunkan pedang mereka dan melepas ikatan tali ditubuh Gara.
            Wajah Gara terlihat terkejut juga heran. Bukankah tadi nyawanya terancam berakhir ditempat ini? Tapi kenapa tiba-tiba hukumannya dibatalkan? Apakah putri Afiyssa yang menyelamatkannya? Tapi kenapa putri Afiyssa mau menolongnya? Padahal emas putih yang dicurinya adalah emas putih milik ayahnya. Atau bahkan Naeyir yang meminta pertolongan putri Afiyssa?  Gara mungkin tidak paham bahasa suku Omotsaidiw tapi dia sangat yakin Naeyir, sahabat barunya tidak menginginnya kehidupannya berakhir ditempat yang sama sekali tidak ia kenali.  Gara sangat bahagia dapat terlepas dari hukuman berat itu karena itu ia sangat ingin berterimakasih kepada raja Aganis, putri Afiyssa, Naeyir, dan seluruh warga suku Omotsaidiw karena telah mau melepaskannya.
            Saat Gara berjalan menghampiri putri Afiyssa tak sengaja kakinya menginjak emas putih milik raja Aganis. Lantai yang memang licin membuat Gara terpeleset dan jatuh terjerembab kebelakang.
”HUAA!!!!” teriak Gara kaget. Gara sempat melihat Naeyir memperagakan sesuatu yang artinya putar kembali. Gara baru ingat ia belum menyelesaikan misi khusus untuknya dari Naeyir yaitu menemukan maksud dari bahasa suku Omotsaidiw! Belum sempat Gara menanyakan maksud dari Naeyir, Gara sudah merasa kepalanya terasa nyeri karena terjatuh cukup keras dan semuanya langsung menjadi gelap kembali seperti setiap kali ia tidak sadarkan diri.
*
            Tiba-tiba Gara sadarkan diri kembali. Tapi kali keadaan sekitarnya kembali berbeda. Ini adalah tempat dimana dia pingsan karena jatuh tersandung batu. Jadi artinya ia sudah kembali kedunia aslinya? Atau kejadian tadi hanya bunga mimpi disaat ia pingsan?
            Entah mengapa tiba-tiba Gara teringat gerakan Naeyir yang artinya memutar yang belum ia temukan jawabannya hingga kini. Gara terus memikirkannya. Entah mendapat ilham dari mana, Gara menerka maksud dari putar yaitu memutar kalimat yang diucapkan warga suku Omotsaidiw agar ia bisa mengerti. Bahasa mereka sama dengan bahasa Gara! Gara mencoba mengingat percakapannya dengan warga suku Omotsaidiw yang menambah keyakinan Gara akan argumentasinya.
            Gara merasakan perih di leher bagian kanan secara reflek ia menyentuh lehernya dan ternyata ada bekas luka disana! Apakah kejadian tadi bukan mimpi? Apa Gara benar-benar mengalami petualangan itu? Apapun itu, mimpi atau bukan. Imajinasi atau kenyataan, Gara tidak peduli itu. Karena dari kejadian tadi dia belajar suatu hal. Kejujuran. Suatu hal yang tidak pernah ia miliki sebelum pergi berpetualang ke tempat suku Omotsaidiw berada. Ya, mungkin selama ini dia telah melakukan kesalah dalam hidupnya. Mencuri bukanlah perilaku yang bijak dan kelakuan itu bisa menimbulkan masalah bagi dirinya sendiri dan orang lain. Dari suku Omotsaidiw Gara belajar betapa pentingnya sikap jujur. Gara berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak melakukan hal itu lagi. Mulai dari detik ini sampai kapanpun.

1 komentar: