Author:: Assyifa Widiastomo
Genre:: Friendship
Cast:: Anggara Purnama Hadiasnyah, Gege Diaz, Novriansyah Fachri, Surya Atmaja, Lintang Wardhani, Nutyas Surya Gumilang
sebuah cerpen untuk tetap mengingat ada warna biru, kuning, merah, dan ungu. Untuk selamanya
Berawal dari sebuah audisi boysband. Terlahirlah sebuah persahabatan.
Tentang Rian.
Aku berjalan pelan sambil memegangi perutku. Dari tadi
aku sangat gelisah, kepalaku celingak-celinguk mencari sesuatu sedari
tadi. Sudah hampir 15 menit aku menahan rasa ingin buang air besar.
Tapi aku belum menemukan toilet.
Tanpa sengaja aku melihat seseorang dengan jaket
berwarna biru dan kaos dengan warna yang senada. Di kupingnya terpasang
earphone. Dia satu-satunya orang yang sedang berada disitu. Aku segera
berlari menghampirinya masih dengan tangan memegangi perutku. BRUK!!
Aku tak sengaja menabrak si jaket biru. Itulah aku, orang yang sembrono!
“Aduh, Mas maaf.”seruku gugup.
“Enggak apa-apa kok.”ujar orang itu seraya melepas earphonenya.
“Mas, kalo boleh tahu, toilet dimana, Mas?”tanyaku
segera. Orang itu tersenyum, lalu menunjuk tempat yang tak jauh dari
situ.
“Itu.”ucapnya.
“O,iya. Makasih, Mas.”ujarku langsung melesat kekamar mandi.
Tak lama akupun keluar dari toilet dangan tampang lega. Senyuman lebar ku pasang diwajah imutku ini.
Namaku Novriansyah Fahri. Anak dari Lampung yang cerewet
dan sembrono. Tapi kata orang tampangku itu imut bagai anak umur 15
tahun. Tapi jangan berpikir bahwa aku sudah berkepala 2 lebih, umurku
masih 19 tahun! Aku masih kuliah di sebuah perguruan tinggi,
dr.Moestopo. Sekarang ini aku sedang mengikuti sebuah audisi boysband
yang digelar seorang musisi handal dari London. Mungkin cukup sampai
disini dulu. Aku harus segera ke tempat audisi lagi.
Tentang Surya.
Aku memainkan blackberry ditanganku. Diputar-putar,
dilempar-lempar untungnya aku selalu bisa menangkapnya. Itu selalu aku
lakukan jika aku sedang gugup. Aku juga selalu celingak-celinguk
mencari pemandangan. Disampingku ada seorang lelaki berkulit hitam
dengan topi bundar berwarna kuning juga kemeja warna kuning.
“Nervouse ya?”tanya orang itu. Aku hanya meringis dan mengangguk mengiyakan.
“Nih, ambil.”orang itu memberikan sebungkus permen yang cukup besar.
“Makasih.”ujarku sambil mengambil permen itu.
“Orang mana?”tanyanya.
“Medan.”jawabku singkat. Si kuning hanya mengangguk-angguk.
“Kenapa? Kayak orang Jepang ya?”tanyaku sambil tersenyum
lebar. Orang itu hanya menjulurkan lidahnya sama sekali menolak
pernyataanku.
Namaku Surya Atmaja. Tapi karena mukaku ini memang
oriental jadi aku sedikit mengubah namaku menjadi Surya Lee. Kece kan?
Percaya tidak percaya umurku sudah 26 tahun loh. Tua ya? Tapi kata
orang sih aku tetep keren dan ngganteng. Aku ini orang Medan asli. Aku
sangat suka berolahraga, jadi jangan heran kalo tubuhku atletis. Aku
sedang mengikuti audisi boysband dengan bermodalkan dance ku yag kata
orang keren. Aku memang pernah memenangkan beberepa lomba dance. Sudah
ya. Bentar lagi waktuku untuk dipanggil tuh.
*
Ditangan Nutyas Surya Gumilang sudah ada kertas
bertuliskan 20 nama anak yang berhasil lolos audisi mengalahkan ribuan
laki-laki lain. Dari 20 laki-laki itu ia hanya bisa menentukan 4
terbaik. Hanya 4. Dengan percaya diri tinggi Nutyas melingkari 4 nama
yang menurutnya terbaik. 4 orang yang memiliki ciri khas tersendiri.
Nutyas segera menghubungi seorang wanita yang kelak akan menjadi general manager boysband
yang ia bentuk. Nutyas memberi tahukan 4 nama yang harus Lintang
hubungi. Mendengar 4 nama itu Lintang tersenyum sendiri. Dia sudah
menduga semua itu. Tangannya mulai menekan sebuah nomor dan segera
meneleponnya. Dia harus menghubungi mereka berempat 1 per satu.
*
Keempat orang yang berhasil itu sudah dihubungi semua.
Rencananya hari ini pertama kali latihan mereka. Rian datang sangat
awal 1 jam sebelum waktu yang dijanjikan. Itu terjadi bukan karena
kesadarannya. Tapi Lintang meneleponnya terlalu malam. Dia tidak bisa
berkonsentrasi mendengar suara Lintang dan akhirnya… Dia salah
mendengar jam yang dijanjikan. Tapi itu tidak masalah untuk Rian. Dia
malah menikmati tour keliling basecamp hingga
akhirnya ia lelah sendiri dan beristirahat ditempat yang diberitahukan
Lintang. Sebuah ruang latihan yang cukup luas. Dia langsung tiduran
disana. Untuk melepas lelah yang ada.
Tentang Gege.
Aku memasuki sebuah ruangan berpintu lebar. Aku lihat
disana ada seseorang yang tidur menelungkup. Kepalanya tertutup topi
jaketnya yang berwarna ungu. Ada pikiran usil dikepalaku. Aku duduk
jongkok disampingnya.
“WHAT’S UP BRAY!!!!”teriakku tak jauh dari
telinganya sambil menepuk keras pundaknya. Cowok dengan jaket ungu itu
bangun dengan kagetnya. Dia langsung berdiri dan celingukan. Aku tak
kuat menahan tawa. Dia langsung melihat kearahku yang masih berjongkok.
Di amemanyunkan mulutnya dan langsung duduk disampingku.
“Enggak lucu tau!”amuknya. Sangat childish, dia masih memanyunkan mulutnya.
“Bercanda.”ujarku pelan. Dia tak berkomentar lagi, dia malah menatapku dari atas hingga bawah.
“Orang Papua?”tanyanya tanpa pikir-pikir. Mungkin karena kulitku memang gelap.
“Bukan. Tapi Flores, Kupang tepatnya.”jawabku cuek.
KRITTT. Pintu terdengar ada yang membuka. Ku lihat ada
cowok dengan jaket merah yang memasuki ruangan. Aku mengenal orang itu.
“Lohh? Yang waktu itu dari Medan kan?”tanyaku kepadanya.
“Iya. Wah, kamu lolos juga!”serunya.
“Namanya siapa, Kak?”celetuk Rian.
“Surya Lee.”jawab si merah.
“Gege.”jawabku segera. Rian hanya manggut-manggut.
Yaps! Namaku Gege. Gregorius Garo Helan tepatnya.
Seperti yang sudah aku katakan tadi aku orang Kupang bukan Papua. Dance
adalah keahlianku. Aku pernah memenangkan beberapa lomba tari. Aku
pernah sekolah dijurusan tapi tapatnya di IJKS. Aku memang sedikit usil
sih. Padahal umurku sudah 25 tahun. Sudah ah, malu ketahuan masih kayak
anak kecil yang suka ngusilin orang.
Tentang Anggara.
Sudah sangat lama Rian, Gege, dan Surya
berbincang-bincang. Tapi sedari tadi belum ada orang yang datang lagi.
Padahal kabarnya akan ada 4 personil. Lalu mana yang satu lagi?
Aku berlari kencang memasuki basecamp. Setelah
lama bolak-balik mencari ruangan yang seperti digambarkan Lintang
akhirnya ia menemukan ruangan itu. Tanpa basa-basi aku langsung
memasuki ruangan itu. Sudah ada 3 orang laki-laki yang tiga-tiganya
memandang kesatu titik. Aku. Sial! Aku terlambat. Apakah ini awal yang
buruk?
“Kayaknya aku pernah lihat kamu deh. Tapi dimana ya?”cetus si kulit gelap.
“Di TV kali’.”timpal seseorang dengan wajah childish, yang ini aku kenal. Dia pasti orang yang menanyakan keberadaan toilet yang berada didepan matanya.
“Bener, Rian! Indonesian Idol!”si kulit gelap malah
menepuk pundak orang yang ku dengar namanya Rian. Rian meringis
kesakitan. Aku hanya tersenyum malu.
“Cuma 50 besar kok.”ujarku merendah.
“Daripada enggak sama sekali.”ucap seseorang dengan
wajah putih dan terkesan cuek. Aku hanya diam dan terus memandanginya.
Cowok itu langsung berdiri menghampiriku.
“Kenalin, Surya Lee.”Surya mengulurkan tangannya.
“Anggara.”aku menyebutkan namaku. Rian dan si kulit gelap menghampiriku juga.
“Gege.”si kulit gelap yang ternyata bernama Gege memperkenalkan dirinya.
“Rian.”ucap Rian meski aku sudah tahu sebelumnya.
“Anggara.”ujarku sambil mengangguk.
“Eh, aku baru sadar kalo baju yang kita pake itu sama
cuma beda warna aja.”celetuk Surya membuat kami langsung memandang baju
kami ber-4. Surya benar. Fashion style kami hari ini sama. Menggunakan
kaos casual warna putih polos dan jaket. Celana jins pensil dan septum
converse. Hanya saja aku menggunakan jaket dan sepatu warna biru. Gege
ditambah aksen topi yang dimiringkan berwarna kuning warnanya sama
seperti jaket dan sepatunya. Surya menggunakan warna merah menyala
untuk jaket dan sepatunya. Rian lebih cuek pada penampilan, jaket dan
sepatunya itu berwarna ungu yang kata orang adalah warna janda.
“Hmm… Bagus deh kayaknya kalo ini dijadiin style kita tiap manggung.”usulku dengan penuh semangat.
“Jadi, setiap manggung kita pake baju kaya gini?”Tanya Gege dengan polosnya.
“Yang enggak harus setiap manggung. Kita cuma perlu memperlihatkan warna kita disetiap perfom.”jelas Surya.
“Merah, Kuning, Biru, Ungu. Menarik.”gumam Rian sambil menunjuk mereka satu persatu sesui dengan warnanya.
“Ide kalian bagus juga. Welcome to New Sound Gerneration Star.”ujar seseorang yang bertubuh cukup gendut yang mereka tahu namanya Nutyas Surya Gumilang.
“Panjang bener, Oom.”sela Gege.
“Kita bisa menyingkatnya jadi NSG STAR.”usul cewek disamping oom Nutyas. Namanya Lintang Wardhani, General Manager mereka. Semuanya mengangguk-angguk setuja.
“Good idea.”gumam oom Nutyas, seorang musisi yang membentuk mereka menuju sukses. Dan membentuk persahabatan baru mereka.
Kalian sudah tahukan namaku Anggara. Anggara Purnama
Hadiansyah. Aku orang Garut. Diusiaku yang menginjak 23 ini aku sudah
memiliki beberapa prestasi. Seperti yang dikatakan Gege tadi aku adalah
finalis 50 besar Indonesian Idol 2007. Aku juga pernah membintangi
beberapa FTV. Jadi MC juga pernah loh diacara Orkestra di TVRI. Dan
bukannya aku sombong, aku pernah berduet dengan Miss Universe 2007.
Sudah ah cerita tentang diriku. Aku harus membicarakan boysband baru
kami, NSG STAR.
*
Sudah hampir 1 setengah tahun waktu yang mereka lalui
bersama. Kebersamaan yang menjadi sebuah persahabatan. Persahabatan
yang dibumbui dengan tangis dan tawa. Semua itu tetap dilakukan
bersama. Tawa itu berubah menjadi airmata kesedihan ketika kabar buruk
datang.
Surya masuk kedalam ruang latihan dengan wajah suram.
Senyum yang biasanya selalu menghiasi wajah Surya kini hilang entah
kemana.
“Kenapa?”tanya Rian mendekati Surya diikuti dengan Gege dan Anggara.
“Aku sudah enggak bisa bareng sama kalian lagi.”Surya berusaha untuk menyunggingkan seulas senyum meski ia gagal.
“Hah? Kok?”Anggara keheranan.
“Aku kena sanksi. Ntar aja aku certain lebih jelasnya
yang pasti enggak sekarang. Terlalu sakit untuk diinget.”ucap Surya.
Anggara menepuk-nepuk pundak Surya pelan.
“Mungkin ini saat yang tepat juga untuk aku mau
ngomong.”Rian tiba-tiba menunduk. “Aku …. Aku mau keluar dari NSG
STAR...”pamit Rian pelan.
“Gila kamu ya!!”sentak Gege saking kagetnya.
“Sorry, guys.”desah Rian.
“Kenapa harus keluar, Yan?”Tanya Anggara berusaha lebih sabar.
“Kuliahku terlalu keteteran.”jawab Rian.
“Itu nama konsekuensi. Dulu waktu kamu ikut audisi
kenapa kamu enggak mikirin kuliah kamu?”Surya mulai ikut angkat bicara.
Rian menunduk. Mulutnya diam membisu.
“Kalo itu emang pilihan kamu. Enggak ada yang tahu yang
terbaik untuk kamu selain diri kamu sendiri.”ujar Anggara seraya
mengalungkan tangannya keleher Rian.
“Kita tetep sahabatan kan?”tanya Gege juga melakukan hal yang sama seperti Anggara kepada Surya.
“Iya lah. 1,5 tahun bareng cuma karena hal kayak gini
masa’ persahabatannya berakhir gitu aja.”jawab Rian seraya merangkul
Gege.
“Coba aja salam perpisahan kita pake konser pertama NSG STAR.”celetuk Surya.
“Good idea.”ada sebuah suara yang mengangetkan mereka.
“Semua bisa diatur. Kalian siapkan diri kalian
aja.”ternyata oom Nutyas yang sebenarnya sudah memdengar perbincangan
mereka sejak tadi.
*
Konser pertama NSG STAR pun benar-benar terwujud. Konser
yang disaksikan SUPERSTAR diseluruh Indonesia. Disaksikan oleh
orang-orang yang sama sekali tak tahu masalah yang sedang melanda
mereka. Tapi mereka akan tahu, di konser ini. Entah bagaimana reaksi
SUPERSTAR ketika mendengar kabar buruk itu.
Tiket yang mereka sediakan habis terjual semua. Semua
itu sungguh diluar bayangan mereka. Konser merekapun disiarkan live
disalah satu channel televisi swasta terkenal.
Sudah belasan lagu mereka dendangkan. Semangat
SUPERSTARS tidak ada surutnya. Sudah hampir 3 jam konser ini digelar,
tapi tempat outdoor itu tetap penuh sedari tadi.
Dan kini saatnya mereka harus mengumumkan berita buruk
itu kesemua SUPERSTARS yang sedang menyaksikan acara mereka. Saat yang
sebenarnya tidak mau mereka alami.
Kaki Surya sedikit gemetar ketika kembali menaiki
panggung. Mungkin mengucapkan selamat tinggal kepada SUPERSTARS tidak
akan bisa semudah Rian nanti. Dia dikeluarkan bukan mengundurkan diri.
Entah apa nanti yang akan ada dipikiran SUPERSTARS.
“Kami disini akan memberitahukan kepada kalian. Kami
akan membutuhkan 2 personil baru.”ujar Anggara yang langsung membuat
SUPERSTAR berbisik-bisik mempertanyakan maksud ucapan Anggara.
“Karena NSG STAR telah kehilangan 2 personilnya.”lanjut Surya, suaranya sedikit bergetar karena menahan tangisan.
“Saya, Novriansyah Fahri dan Surya Atmaja tidak akan
bersama NSG STAR lagi.”pamit Rian yang berusaha untuk tidak
mengeluarkan airmata.
“Mungkin ini yang terbaik untuk kami. Kami pasti kangen
banget sama kalian. Kangen kalian cubit-cubitin. Mungkin twitter sama
BB kami bakalan sepi tanpa mentions dan BBM kalian.”ucap Surya.
Airmatanya sudah menitik sedikit demi sedikit.
“Untuk lagu terakhir kami akan menyanyikan lagu We Are Superstar.”Gege mulai unjuk suara.
“Mungkin kalian pikir, untuk apa kami menyanyikan lagu
ini. Karena liriknyapun mungkin sudah enggak ada artinya lagi karena
kami udah mengingkari lirik lagu ini.”cetus Rian dengan nada menyesal.
“We are Superstar kami persembahkan khusus untuk
kalian!!”seru Anggara. Musik mulai mengalun. Lirik demi lirik mulai
mereka nyanyikan. Hingga mereka menemukan sebuah lirik yang membuat
hati mereka merasakan sesak.
“We are superstar…!
Tak ada yang bisa hancurkan kami…!
We are superstar…!
Hinaan tak mungkin bisa hentikan kami…!
We are superstar…!
Tak ada yang bisa pecah belahkan kami…!
We are superstar…!
Siapa mau ikut ayo ayo kesini!...”airmata Rian, Surya, Anggara, dan Gege pun mulai turun lumayan deras.
Tanpa disangka-sangka oleh SUPERSTARS tiba-tiba Rian dan Surya loncat turun dari panggung untuk memberikan hugs
terakhir mereka kepada SUPERSTARS. SUPERSTARS pun langsung berebut
untuk menjadi orang yang beruntung itu. Setelah lagu terakhir selesai
mereka pun kembali kebelakang panggung.
“Anggara, Gege.”tiba-tiba Rian memeluk Anggara dan Gege bersamaan.
“I will miss you, Rian.”Anggara ikut memeluk Rian.
“Basecamp pasti sepi enggak ada kamu. Enggak
ada yang cerewet cerita macem-macem. Heboh nyari barang kamu yang
ilang. Mungkin kami bakal boring enggak ada kamu.”Gege mengacak-acak
rambut Rian,
“Gar, Ge inget ya kalo NSG STAR itu menggandeng tangan fans bukan membeli teriakan mereka.”pesan Surya.
“Pasti.”jawab Anggara hampir tak terdengar karena suaranya mulai serak dan airmatanya mulai bercucuran.
“Kita kehilangan 1 break dancer NSG STAR.”Gege memeluk Surya.
“Pengganti kita pasti bisa melakukan hal yang lebih baik. Ayo dong standup! Kita selalu bilang #INDONESIASTANDUP masa’ kita sendiri enggak standup?”Surya berusaha membuat suasana lebih cair.
“Sukses ya, Yan. RIANSTANDUP!”ujar Anggara yang sekali lagi memeluk Rian.
“Kalian juga ya. Makasih selama ini udah jadi sosok
kakak yang baik dan inspiratif buat aku. NSGSTARSTANDUP!”Rian menepuk
pundak Anggara dan Gege bebarengan.
“Surya, dengan wajah kamu yang kaya’ gini. Postur tubuh
yang oke. Dance yang keren. Pasti bentar lagi kamu bisa dapet kerjaan
lain. SURYALEESTANDUP!”Gege memeluk dan menepuk punggung Surya.
“Thanks. Makasih juga untuk 1,5 tahun ini. Semua itu enggak akan pernah aku lupain. INDONESIASTANDUP, guys.”ujar Surya.
Mereka langsung berpelukan berempat bak teletubbies yang
berubah warna menjadi merah, kuning, biru, dan ungu. Warna yang tak
akan pernah hilang dipikiran SUPERSTARS tentang NSG STAR. Meski kelak
warna itu akan berubah.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar