Cast :: iSKUL9 (Tamara, Anggara, Dycal, Kevin, Gege, Willy, Alia, Claresta, Puspa) + Bayu, Ujang, Budi, Suster, Dokter
Genre :: teenlite (romance+sad)
Author :: Assyifa Widiastomo :D
Tamara Tyasmara adalah nama kesayanganku. Tapi
kalian cukup memanggilku Ara saja. Sekarang ini aku baru duduk dibangku kelas 2
SMP. Aku hidup dikelilingi oleh orang-orang yang sayang kepadaku. Kedua orang
tuaku, sahabat, dan.... Ohya aku punya seorang sepupu laki-laki yang tinggal
dirumahku karena dia telah kehilangan keluarganya dalam kecelakaan bus sekitas
4 tahun silam. Dan yang membuatku paling bahagia saat ini adalah Amdycal
Siahaan, pacarku tersayang.
***
Dengan terburu-buru aku turun dari motor 75 Kevin.
Ya, setiap hari aku selalu berangkat dan pulang sekolah bersama sepupuku yang
satu ini. Seperti siang ini saat hujan turun dengan lebatnya dengan cepat aku
turun dari motornya dan bergegas masuk rumah.
”Oi’ bantuin dong!”teriak Kevin yang sedang
kesulitan membuka pintu pagar yang tadi aku buka asal-asalan saja.
”Besok-besok aja ya, Kev.”balasku berteriak dan
berlari meninggalkankan Kevin dan motor 75 nya yang masih mengeluarkan asap
knalpot yang mengepul.
Aku memasuki sebuah kamar berpintu putih. Kamar yang berukuran 3 meter x 4 meter dengan cat berwarna biru
muda. Ada sebuah tempat tidur personal di pojok kiri dengan banyak boneka
stitch di sekeliling tempat tidur juga bantal beberbentuk hati yang cukup besar
pemberian dari Dycal. Inilah
tempatku bersemayam disetiap waktu longgarku. Yaps! Ini kamar tidurku.
Aku membuang tas ranselku begitu saja kelantai.
Dengan langkah malas-malasan aku berjalan ke tempat tidurku dan langsung
merebahkan diri disana. Tiba-tiba si slonong boy alias Kevin masuk ke dalam kamarku tanpa permisi.
”Kevin!!!!!!! Permisi dulu kek!”seruku sebal
seraya melempar boneka stitchku ke arahnya.
”Eits! Santai, Sis.”dengan cekatan Kevin menangkap
boneka milikku. ”Ada yang aku mau omongin ke kamu.”lanjut Kevin setelah duduk di
kasurku.
”Apa?”tanyaku.
”Teman aku ada yang suka tuh sama kamu.”Kevin
memulai notification nya.
”Aku udah punya pacar.”tukasku cuek.
”Siapa?”tanya Kevin sedikit nada kecewa. Mungkin
karena dia merasa gagal menjadi mak comblang.
”Dycal.”jawabku singkat.
”Dycal yang satu angkatan sama aku?”tanya Kevin
lagi. Ohya, Kevin memang satu angkatan di atasku. Dia sekarang kelas 3 SMP. Aku
hanya mengagguk mengiyakan.
”Satu tim sepak bola dong sama Anggara?”tanya Kevin
sekaligus memberitahuku.
”Anggara yang kadang ponian kadang jambulan enggak jelas itu?”aku balik
bertanya untuk memastikan.
”Betul! Dia suka lhoh sama kamu.”goda Kevin membuatku sebal.
“Emang gue pikirin?! Udah keluar kamu
dari kamarku!”aku mendorong tubuh Kevin dari belakang agar ia segera keluar
dari kamarku. Setelah memastikan Kevin keluar dari kamarku, aku membanting
pintu kamarku dengan kasar lalu berjalan ke arah kasur lalu merebahkan diri
kembali ke atas kasur melanjutkan tidur siangku yang tadinya sempat tertunda.
***
Hari ini diadakan pertandingan sepak bola antar
sekolah. Dycal adalah salah satu pemainnya. Pemain bernomor punggung 13 yang
sedang berlari mengejar bola. Pertandingan kali ini berjalan sangat alot. Timer
menunjukkan waktu telah berjalan 79 menit 34 detik, tapi score masih seri 3-3. Dycal berhasil menyumbangkan 2 gol dan yang
satu gol lagi entah siapa aku tidak begitu kenal tapi aku lihat dari kaosnya,
namanya Gege.
3 kali peluit dibunyikan wasit pertanda
pertandingan telah berhenti dengan score
seri, 3-3. Ke-22 pemain keluar lapangan dengan lesu karena tidak berhasil
memenangkan pertandingan kali ini.
Aku menunggu Dycal berganti pakaian sekaligus
diceramahi oleh pelatih tim sekolah kami karena tidak bisa menang
dipertandingan hari ini. Cukup lama menunggu Dycal akhirnya pemain-pemain sepak bola itu keluar,
Dycal berada di antara mereka.
”Cus...”kata Dycal mengajakku pergi.
”Ke mana?”tanyaku untuk memastikan.
”Ke manapun kamu mau. Aku pasti ikut.”ujarnya
membuatku semakin klepek-klepek.
”Ahh!! Gombal terus!!”seruku. Dycal tertawa pelan,
dia mencubit hidungku yang kata dia pesek ini. Dycaly selalu mencubit hidungku
katanya agar semakin lama hidungku jadi mancung.
Ternyata ada seorang pemain yang baru keluar dari
kamar ganti. Dia Anggara. Anggara terlihat aneh, mukanya terlihat pucat.
Jalannyapun pelan sekali, juga sedikit tertatih.
”Cal, kak Anggara kenapa tuh?”tanyaku. Dicky
mengeryit memperhatikan Anggara.
”Ngga, kamu kayaknya lagi enggak enak badan. Mau aku
antar pulang?”Dicky sedikit berteriak karena jarak Anggara sudah cukup jauh. Anggara
membalikkan badannya. Dan menatap Dycal dengan aneh.
”Aku enggak apa-apa kok, Cal. Aku bisa pulang
sendiri. Kasian cewek kamu kalo kamu tinggal buat nganter aku pulang.”jawab Anggara
seraya berjalan pelan kembali. Dycal mengedikkan bahu, heran dengan kelakuan Anggara.
Langkah Anggara semakin tidak karuan. Langkahnya
melemah dan tidak menentu arahnya. Pada akhirnya Anggara berhenti. Tangan
kanannya memegang kepalanya. Entah mengapa. Saat dia mencoba melangkah, Anggara
malah terjatuh kelantai. Anggara pingsan!
“Cal, Cal kak Anggara, Cal.”aku panik bukan main.
Bagaimana tidak? Aku ada ditempat kejadian! Dengan sigap Dycal berlari ke arah
tempat jatuh pingsannya Anggara.
“Ayo cepetan kita bawa Anggara ke rumah
sakit.”ujar Dycal yang masih ribet memangku kepala Anggara agar kepalanya tidak
terbentur lantai lebih keras lagi.
“Kita??”tanyaku sedikit memprotes. Setahuku Dycal
kesekolah menggunakan sepeda motor, masa iya ke rumah sakit bertiga?
“Udahlah, Ra kalo ada moment polisi pasti polisinya juga ngerti. Ini darurat!! Kalo
enggak cepet mungkin aja ada yang lebih buruk daripada ini.”tukas Dycal seperti
bisa membaca apa yang ada dipikiranku.
Dycal akhirnya bersusah payah menggendong Anggara
sampai ke parkiran motor. Dengan penuh perjuangan dibantu dengan tukang parkir
yang ada disitu kami berhasil menaikkan Anggara dan menata tempat duduk kami
agar Anggara tidak merasa sesak walaupun sedang tak sadarkan diri sekarang.
Dengan kecepatan penuh Dycal mengarahkan motornya ke rumah sakit terdekat.
Setelah Anggara ditangani para dokter dan suster
di Unit Gawat Darurat aku dan Dycal menunggu dengan gelisah di sebuah Ruang
tunggu.
”Kita contact siapa nih, Cal?”tanyaku yang masih
panik.
”Duhh aku enggak begitu deket sama Anggara. Aku
enggak punya nomor handphone keluarganya.”ujar Dycal dengan gusar.
”Sahabatnya?”tanyaku penuh harap.
”Betul! Gege sama Willy pasti bisa bantuin.”tanpa
banyak bicara lagi Dycal menelepon sahabat-sahabat Anggara yang tadi ku dengar
namanya Gege dan Willy.
Tak lama datanglah 2 cowok yang pernah aku temui. Gege,
ternyata dia yang tadi berhasil mencetak 1 gol untuk sekolah kami. Sedangkan Willy
dia yang tadi pagi menjadi komentator bersama seorang cewek bernama Alia.
”Anggara kenapa, Cal?”tanya Willy dari raut
wajahnya terlihat dia sangat cemas.
”Aku juga enggak tahu. Tadi
tiba-tiba dia pingsan gitu aja. Kalian bisa bantu telepon keluarganya supaya
datang kesini kan?”pinta Dycal yang masih belum bisa tenang semenjak tadi.
“Dia tinggal sendirian di sini.
Semua keluarganya tinggal di Garut.”jawab Gege. Tiba-tiba dokter dengan tubuh
yang kurus tinggi berlari kearah kami.
“Saya butuh bicara dengan salah
seorang keluarga saudara Anggara. Ini penting sekali.”perasaanku semakin tidak
enak. Pasti terjadi sesuatu dengan Anggara.
“Keluarganya enggak ada disini, Dok.
Tapi kami bisa menggantikannya.”ujar Willy. Dokter tersebut terdiam sejenak.
“Ya sudah. Ayo, ikut saya.”ucapnya
akhirnya. Sang dokter
berjalan menuju sebuah ruangan dengan sedikit tergesa. Aku dan Dycal menunggu
mereka keluar dengan hati yang kacau balau. Sedikit-sedikit melihat jam di handphone.
Hampir 10 menit Willy dan Gege keluar dari ruangan tersebut.
”Kenapa, Wil?”tanya Dycal dengan segera. Tidak ada
jawaban dari Willy. Gege pun tidak mau menjawab.
”Enggak terjadi apa-apakan ke Kak Anggara?”tanyaku
dengan pelan.
”Kanker liver primer.”ucap Gege. Dia menyandarkan
tubuhnya ke tembok.
”Aku bodoh banget enggak peka sama perubahan Anggara.”desah
Willy menyesalkan sikapnya. ”Kulitnya semakin lama semakin menguning. Keadaan
jelas kayak gitu aku bisa dibodohin sama omongan Anggara kalo itu efek berjemur
yang gagal. Dan aku malah ketawa saat itu!”Willy memaki dirinya sendiri.
”Kalo lagi kumpul-kumpul dia sering menggigil
sendiri. Kata dia itu cuma
flu biasa. Aku bukan temen yang baik buat Anggara.”Gege tidak berhasil menahan
laju airmatanya.
“Pantes. Kalo lagi latihan dia gampang capek. Kenapa dia enggak jujur aja.”timpal
Dycal pelan.
“Tapi kak Anggara bisa sembuh
kan?”tanyaku was-was.
“Bisa sih.”jawab Gege.
“Tapi kecil kemungkinannya. 85%
kemungkinan dia enggak bisa bertahan hidup.”Willy melanjutkan ucapan Gege.
“Kata dokter hidupnya enggak lama lagi. Cuma 7 hari. Karena ternyata penyakit ini
udah lama. 2 tahun sudah...”cerita Gege terduduk lesu dilantai.
”Kak! Yang nentuin umur manusia itu Tuhan bukan
dokter. Kalo Tuhan masih berkehendak kak Anggara hidup pasti akan ada
perpanjangan dari Tuhan, Kak.”protesku dengan menggebu-gebu. Tidak ada jawaban dari siapapun. Hanya
terdengan suara tangis yang tertahan. Aku miris melihat kedua sahabat Anggara.
”Tuhan, sembuhkan kak Anggara untuk mereka
Tuhan..”do’aku di dalam hati.
***
Aku melangkah keluar kelas bersama beberapa teman
dekatku. Kanker liver primer
yang diidap Anggara sedang menjadi trending
topic disekolahku. Sedikit-sedikit menggosip tentang Anggara. Aku sendiri
sampai bosan menjawab pertanyaan yang silih berganti dari mulut teman-temanku.
”Jadi kamu beneran lihat dengan mata kepala kamu
sendiri kejadian kemarin?”tanya Claresta untuk yang kesekian kalinya. Aku hanya
mengangguk malas-malasan.
”Terus kamu enggak ngasih nafas buatan gitu?”tanya
Puspa membuat tanganku yang tadinya diam saja jadi mencubit lengannya dengan
emosi yang tinggi.
”Sembarangan aja kalo ngomong.”sentakku sebal.
”Ihh padahal badannya Anggara sama Dycal gedhean Anggara
kemana-mana. Kuat banget si Dycal?”puji
Alia yang menurutku juga sindiran.
”Katanya Anggara suka ya sama kamu? Katanya kalo
orang yang sakit keras dicintai sama orang yang ia cintai pasti lebih mudah
sembuhnya.”ujar Puspa membuatku terdiam sejenak.
”Tapi aku enggak suka sama Anggara.”jawabku.
”Kamu coba dulu. Kalo kamu bisa bantu dia dengan
sepenuh hati kamu pasti lama-lama cinta itu bakal tumbuh dengan
sendirinya.”bujuk Alia.
”Terus Dycal gimana?”tanyaku spontan.
”Kak Dycal pasti bisa ngerti kok. Walaupun berat,
aku tahu kak Dycal pasti enggak tega lihat temennya terbaring lemah enggak
berdaya di rumah sakit kayak gitu. Dan kamu harus ingat kak Dycal masih bisa
ngerasain yang namanya cinta. Tapi kak Anggara? Kemungkinan sembuh kecil banget
kan?”Claresta bermonolog panjang dengan penuh perasaan. Aku menggeleng lemah.
Tidak ingin meninggalkan Dycal.
”Ra, ikut aku.”Kevin tiba-tiba menarik tanganku. Langkahnya begitu tergesa-gesa
membuatku harus berlari kecil untuk mengikutinya. Kevin menghentikan langkah
kakinya di sebuah lapangan kecil di sebuah tempat yang jarang penduduknya.
Sudah ada Gege, Willy, dan Dycal yang terlihat tak sabar menunggu kami disana.
Raut wajah terlihat murung. Aku semakin bertanya-tanya. Ada apa ini?
“Kita langsung aja kali ya, Ra.”ujar
Willy ketika aku sudah berdiri di sebelah Dicky. “Hmm... Kita mau kalo kamu
cintai Rangga. Walaupun cuma sebentar.”Willy menjelaskan maksud diculiknya aku
kesini.
”HA?”seruku kurang mengerti maksud mereka. Tidak
mungkin aku bisa meninggalkan Dycal hanya demi Anggara walaupun dia sedang
sakit keras.
”Cuma sebentar, Ra. Kamu tahu kan umur Anggara
enggak lama lagi?”tanya Willy membuatku terdiam. Haruskah aku melakukannya?
”Kami cuma mau lihat Anggara bahagia di saat-saat terakhirnya.”lanjut Willy
semakin membuatku tak berdaya untuk berucap.
”Tapi kan...”ucapan ku terpotong ketika Dycal
mengalungkan tangannya ke pundakku.
”Aku enggak mungkin bisa bahagia lihat Anggara
kaya gitu. Kamu pasti bisa bikin sisa hidupnya jadi berarti untuk dia.”ucap Dycal
membuatku terdiam kembali. ”Please, Ra. Aku mohon dengan sangat.”bujuk
Dycal kembali seraya menggenggam kedua tanganku. Sulit untukku memutuskan. Ada
perasaan ingin membantu Anggara tapi rasanya sulit untuk aku meninggalkan Dycal.
Aku menghela nafas panjang.
”Bakalan aku coba.”desahku pelan berharap ini
adalah keputusan yang benar.
”Makasih, Ra.”ujar Gege.
Setelah rapat itu selesai aku pulang bersama Kevin.
Ditengah perjalanan pulang handphoneku bergetar. Ternyata itu sms dari Dycal.
Yang isinya:
”Jalani
semua ini dengan senyuman :). Jangan kecewain siapapun disini. You can
do it, my sweety :). I will miss you :*.
Aku menghela nafas setelah membaca
sms Dycal. Dycal terlalu perhatian kepadaku. Yang seperti ini membuatku semakin
membuatku susah meninggalkan Dycal.
***
Tepat pukul 8 pagi aku sudah berdiri di depan rumah
sakit tempat Anggara dirawat. Aku akan mencoba mengindahkan hari Anggara.
Semoga saja semua berjalan sebagaimana mestinya. Dan semoga saja misi kami
semua berhasil. Anggara bisa sembuh seperti dulu.
Aku berjalan menyusuri lorong-lorong rumah sakit. Mencari
kamar ICU nomor 19. Tak lama aku sudah berhasil manemukannya. Aku intip dari
luar kamar yang dihuni Anggara. Ternyata dia sudah bangun dari tidurnya. Aku
memasuki kamar tersebut dengan perlahan.
“Hai, Kak.”sapaku. Anggara tersenyum ketika
melihat kedatanganku.
“Ara?”tanyanya kaget bercampur senang.
”Maaf ya, Kak baru bisa jenguk sekarang. Kemarin-kemarin
sekolahnya padat sampai sore.”aku berbasa-basi sebentar.
”Enggak apa-apa kok, Ra.”ujar Anggara. Aku duduk
disebuah kursi desebelah ranjang Anggara.
”Udah sarapan, Kak?”tanyaku denagn masih nervouse.
”Udah.”jawab Anggara. Aku tidak tahu harus
bertanya apa lagi. Lama kami berdiam diri. Membuat kamar rumah sakit ini
menjadi sunyi senyap.
”Eh, Ra antar aku keluar ya.”pinta Anggara
tiba-tiba.
”Ke mana, Kak?”tanyaku heran dengannya.
Keadaannyakan tidak mendukung.
”Udah pokoknya keluar saja. Aku bosan dikamar
terus 2 hari ini.”cetus Anggara. Akupun mengangguk menyanggupinya. Aku membantu
Anggara duduk disebuah kursi roda yang sudah disiapkan dan mendorongnya keluar.
Rumah sakit ini memiliki sebuah taman yang asri. Rumputnya
tumbuh subur dengan warna hijau lembut yang menyejukkan mata, tapi rumput ini
rajin dipangkas membuatnya terlihat rapi. Pohon-pohon yang rindang membuat
siapapun betah berada disitu. Aku menghentikan kursi roda Anggara disana.
”Awannya bagus.”celetuk Anggara. Sontak aku
menengadahkan kepalaku untuk memandang awan-awan yang bergumpal dilangit.
”Iya. Bentuknya juga bagus-bagus.”ujarku yang
masih terus memandang langit.
”Kamu lihat deh yang itu.”Anggara menunjuk
kesebuah arah awan. ”Yang itu bentuknya kayak kamu.”lanjut Anggara.
”Kok bisa?”tanyaku tidak percaya.
”Kamu perhatikan deh. Bentuknya kayak muka kamu
lagi senyum. Manis banget.”gumam Anggara.
”Ihh... Sok sweet
deh.”ujarku menanggapi gombalannya.
”Kok sok sweet
sih? Kan harusnya so sweet.”ucap Anggara
seraya memanyunkan mulutnya. Pura-pura saja tentunya.
”Ih, ngambek. Cakepnya ilang deh.”candaku. Duk! Sebuah bola sepak mendarat dengan
mantapnya tepat di betisku.
”Aduh! Siapa sih ini. Nendang enggak
lihat-lihat.”runtukku sembari mengambil bola tersebut.
”Maaf, Mbak. Bayu enggak maksud nendang ke arah Mbak.”tiba-tiba
datanglah seorang anak laki-laki. Mendengarnya mengatakan hal seperti itu
dengan tulus aku menjadi tidak ada dendam apapun lagi.
”Enggak apa-apa kok. Siapa tadi namanya? Bayu ya?”aku berusaha mengakrabkan diri.
“Bayu, kamu main sepak bola sama siapa?”tanya Anggara
tiba-tiba.
”Cuma sama Ujang dan Budi, Mas.”jawab Bayu.
”Kakak ikutan boleh? Nanti kakak ajarin
teknik-teknik sepak bola.”aku kaget setangah mati. Gila apa ini bocah? Dia lagi
sakit keras padahal.
”Tapi kan...”
”Aku kangen main sepak bola, Ra.”elak Aggara
sebelum aku berucap. ”Please, aku
masih kuat kok kalo berdiri.”pinta Anggara. Aku menggeleng pelan. Percuma aku
melarang, dia pasti merengek terus. Tanpa bicara apa-apa aku membantunya
berdiri. Ia langsung berjalan dengan sedikit tertatih ketempat anak-anak itu
bermain.
Aku memandang dengan cemas. Kulihat Anggara
tertawa-tawa bersama anak-anak kecil itu. Anggara seperti sehabis keluar dari
penjara dan menghirup udara segar. Anggara tertawa dengan lepasnya saat bola
itu berpindah kaki. Kebersamaan yang pasti Anggara rindukan. Jika aku jadi Anggara
aku juga pasti rindu dengan rutinitasku.
Aku menunggu cukup lama. Akhirnya Anggara
mengakhiri permainan mereka. Ia berjalan menghampiriku. Keringat sudah
membasahi sekujur tubuhnya. Dia terlihat lelah sekali tetapi senyumannya tetap
terpampang di wajahnya.
”Anak-anak tadi seru banget, Ra.”ujar Anggara
sembari duduk kembali di kursi rodanya. Aku hanya tersenyum.
”Maaf, Mbak. Ini makan siangnya Anggara.”seorang
suster memberikan semangkok bubur kepadaku.
”Oh, iya. Makasih ya, Mbak.”ucapku setelah menerima makanan Anggara.
”Ayo, Kak. Makan.”cetusku setelah suster
tersebut berjalan pergi.
”Enggak ah bosan makan bubur terus. Aku enggak doyan.”tukas Anggara.
”Kalo enggak mau makan nanti enggak
sembuh-sembuh dong. Berarti harus di sini terus, makan bubur terus.”ucapku
sambil memainkan bubur yang ada di hadapanku.
”Emang aku bisa sembuh ya, Ra?”tanya Anggara
membuatku tercekat.
”Hush! Enggak boleh bilang gitu. Kalo ada
usaha, tekad, dan niat untuk sembuh di dalam hati kamu, pasti kamu bisa sembuh.
Yakin deh.”nasehatku kepada Anggara.
”Iya deh. Aku mau makan. Ada tapinya nih.”
”Apa?”tanyaku penasaran.
”Suapin...”kata Anggara.
”Ihh manja banget.”seruku seraya tertawa.
”Iya deh. Ini... Aaaa...”aku menirukan cara orang tua menyuapi anaknya
Dalam sekejap saja bubur yang tadinya
dihindari Anggara sudah habis. Setelah ia meminum beberapa obat dari dokter,
aku berinisiatif untuk menghibur Anggara.
”Kak, tunggu bentar ya. Aku mau beli
sesuatu.”pamitku. Anggara mengeryitkan dahinya. ”Enggak lama kok.”lanjutku
langsung berlari pergi. Tak lama aku kembali membawakan barang untuk Anggara.
”Ini buat kakak.”
”Kok aku dikasih balon sih? Kaya’ anak
kecil aja.”protes Anggara ketika aku memberikan barang yang baru saja aku beli.
”Ehh, jangan protes dulu. Kamu pernah
lihat enggak film-film barat atau Korea yang dia nulis surat untuk Tuhannya dan
diterbangin pake balon?”tanyaku. ”Kamu tulis apa aja yang ingin kamu ungkapin
ke Tuhan dikertas ini.”jelasku kemudian.
”Oh, kayak A Letter to God?”tanya Anggara.
”Kurang lebih sih.”jawabku. Rangga
menerima kertas dan ballpoint yang
aku serahkan sedari tadi. Dengan sedikit perjuangan Anggara menuliskan sebuah
surat.
”Udah nih. Terbangin sekarang ya.”pinta Anggara
setelah cukup lama menulis suratnya. Aku mengangguk dan mengaitkan sebuah tali
di surat yang sudah dibentuk rapi dan menalinya dengan kuat.
”See
my letter, God.”bisik Anggara ketika melepaskan balon berwarna biru cerah
itu.
Balon yang sengaja dilepaskan dari
genggaman tangan Anggara mulai mengangkasa. Meliuk-liuk tertepa angin.
Terkadang bermain bersama para kupu-kupu dan burung-burung kecil yang sedang
melintas. Langit yang berwarna orange dengan paduan kuning dengan awan-awan
lembut di atas sana tampak semakin cantik dengan kehadiran balon berwarna biru
tersebut. Balon pegas itu terbang jauh mencari tujuan surat tersebut bagaikan
burung merpati pengantar surat. Tuhan. Yaps. Tuhan yang diinginkan Anggara untuk
membaca suratnya. Aku memang tidak tahu apa yang dituliskan oleh Anggara. Aku
tidak tahu apa yang diinginkan Anggara saat ini. Tapi aku tahu, keinginan Anggara pasti mulia.
Karena itu, Tuhan, aku pinta aku yakin engkau tahu isi surat tersebut. Kabulkan
Tuhan. Jika memang dia tidak lama lagi di sini, dia pasti bisa pergi dengan
bahagia jika isi suratnya terkabul, Tuhan.
Aku memandang ke arah Anggara. Ia masih
terus memandang kemana arah balonnya pergi. Raut wajahnya terlihat bahagia bisa
menulis sebuah surat kepada penguasa jagad raya ini, Tuhan. Anggara, andai saja
aku bisa melakukan lebih dari ini pasti aku akan melakukannya. Sayangnya aku
tidak mampu melakukan yang lebih indah dari ini.
***
Aku bergegas menuju rumah sakit. Kebetulan
hari ini tanggal sedang merah jadi aku bisa pergi menjenguk Anggara. Saat aku
memasuki kamarnya aku lihat ada beberapa dokter dan suster yang mengelilingi
ranjang Anggara. DEG! Kenapa perasaanku menjadi tidak enak? Apakah terjadi
sesuatu kepada Anggara?
Aku terus melangkah maju walaupun sangat
lambat. Tidak berani berlari dan melihat apa yang terjadi kepada Anggara
seperti di sinetron-sinetron. Akupun sampai di sebelah seorang dokter yang
sepertinya menyadari kehadiranku.
”Dia sudah kembali ke Sang Pencipta.”ucap
si dokter membuat jantungku serasa berhenti berdetak. Mataku tidak bisa lepas
dari tubuh Anggara yang terbaring tanpa nafas, tanpa aliran darah.
”Saat kami datang tangannya menggenggam
surat ini. Kami yakin ini untuk kamu.”lanjut sang dokter. Aku menerima sebuah
surat. Aku lirik sejenak. Tulisan tangan Anggara semakin tidak terkontrol lebih
parah dari kemarin. Tiba-tiba airmataku jatuh satu persatu seperti para dokter
dan suster yang mulai meninggalkanku dan Anggara berdua di kamar ini. Lama aku
menangis sendirian. Hanya ada jenazah Anggara yang menemaniku. Tak kusadari Dycal
sudah ada disitu.
”Kamu jangan nagis terus. Kalo kamu masih
nangis terus Anggara pasti ikut sedih dan merasa bersalah di alamnya
sana.”bisik Anggara seraya menghapus airmata di pelupuk mataku dengan ibu
jarinya.
”Aku belum sempat melakukan apapun untuk kak
Anggara, Cal. Aku belum bisa bikin saat-saat terakhirnya jadi indah. Tapi
dia... dia udah pergi begitu saja.”sesalku di tengah-tengah isak tangis.
”Ssttt... Kamu enggak boleh bilang seperti
itu, Ra. Kamu lihat wajah Anggara. Dia tersenyum. Itu artinya dia pergi dengan
bahagia sekarang. Jangan kamu usik kebahagian Anggara dengan tangisan kamu
itu.”ucap Dycal masih berusaha menenangkan tangisku. Tapi sayang, bujuk rayunya
tidak mempan untuk saat ini. Buktinya, airmataku tetap mengucur deras saat ini.
Bukan karena aku mencintai Anggara tapi karena para sahabatnya. Aku tidak bisa
melakukan amanat dari para sahabat Anggara. Itu yang membuat aku menyesal
setengah mati.
Saat pemakaman Anggara aku masih belum
bisa tenang sepenuhnya. Padahal sudah banyak orang berusaha menghiburku. Alia, Puspa,
Claresta, bahkan Kevin yang sering meledekku saat airmataku jatuh berusaha
membuatku tersenyum kembali. Apalagi Dycal. Dia berjuang keras untuk
mengembalikan senyuman dan semangat yang telah tertutup kabut tebal.
Ketika tubuh Anggara dimasukkan ke liang
kubur dan dikubur dengan tanah hatiku semakin perih. Tangisanku semakin
menjadi-jadi seperti ingin mengulang sesuatu yang telah aku sia-siakan.
Tiba-tiba aku teringat oleh seuatu. Surat
dari Anggara. Aku segera mengambilnya dari saku celanaku dan membacanya pelan:
Dear:
Ara
Ra,
makasih ya udah mencoba untuk mencintai aku meskipun hanya satu hari. Makasih
juga bisa buat aku tersenyum bahagia disaat terakhirku. Maaf aku enggak bisa
membalas kebaikanmu selama ini.
Oya,
tolong bilang ke Willy dan Gege maaf aku enggak bisa bilang jujur tentang
penyakitku selama 2 tahun ini. Aku cuma enggak mau mereka ngasihani aku. Dan
makasih untuk Dycal yang udah mati-matian nganterin aku kerumah sakit dan
ngedukung aku supaya cepat sembuh. Sampai-sampai dia rela kamu seharian
berduaan sama aku. Dia pasti dapat balasan kebaikannya dari
Tuhan karena aku udah enggak bisa ngebales dan cuma bisa bilang terima kasih.
Ra,
kamu mau tahu kemarin apa isi surat aku? Aku bilang ke Tuhan aku enggak mau
siapapun nangis saat aku sudah berada di alam lain. Semuanya harus tetap
semangat menjalani hidup tanpa aku. Toh dengan kalian nangis aku
enggak bisa hidup lagi kan? Ingat. Jangan sekali-lagi nangis
karena aku.
Aku
enggak bisa lama-lama, Ra. Liver aku semakin lama semakin sakit aja saat ini.
Sepertinya udah saatnya aku pergi. Udah hapus airmata kamu. Aku mau pulang
dulu. Pokoknya aku enggak mau lihat kamu nangis dari sini. Good bye, Ra. Salam
Untuk yang lainnya ya.
Best love
Anggara
Anggara
Purnama Hadiansyah
”Sekarang kamu percayakan kalo Anggara
enggak mau kamu nagis?”tanya seseorang di belakangku. Aku menengok kearahnya.
Ternyata Dycal yang sepertinya sudah berada disitu sejak tadi. ”Jadi, jangan
nangis ya, My sweety.”lanjut Dycal yang sekali lagi mengusap airmataku dengan
ibu jarinya. Aku hanya tersenyum karenanya.
Benar kata Dycal, Anggara yang udah pergi
dengan tersenyum akan menjadi sedih melihat aku menangis. Lagipula Anggara
sudah merasa aku bisa membuat akhir hidupnya menjadi sebuah kenangan indah yang
pasti akan ia kenang selalu di surga sana. Ini memang sudah jalan takdir
Rangga.
”Kayaknya dari tadi pagi my sweety belum
senyum. Senyum dulu dong.”ujar Dycal seraya tersenyum lebar kepadaku. Hatiku
menjadi tergerak untuk membalas senyum manis Dycal.
”Sekarang udahkan.”aku tersenyum lebar
tulus dari lubuk hatiku.
”Kalo gitukan tambah cantik my
sweety....”aku tambah tertawa ketika Dycal mulai menggombal seperti sedia kala
lagi.
Sekarang sudah saatnya aku kembali tertawa
bahagia seperti dulu lagi. Tidak ada kesedihan karena kepergian Anggara. Aku
harus berdiri tegap menjalani hariku lagi. Dengan tetap senyum juga semangat
untuk hidupku. Selamat jalan, Anggara. Tidak akan aku menangis lagi agar kamu
tenang di sana.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar