Dia bisa dibilang sempurna.Punya
tubuh tinggi tegap, smart, dan punya segudang prestasi.Sudah sepantasnya dia
menjadi cowok ideal bagi semua cewek sekolahan. Siapa lagi cewek yang enggak
naksir Kevin Jonathan?Hanya cewek yang matanya rabun yang enggak kesemsem sama
dia.Kecuali Venna, yang tahu udah 2 tahun ini aku memendam rasa kepada Kevin.
“Kamu
enggak bercanda kan
Ven?"tanyaku kaget, Venna mau melakukan hal gila itu hanya karena aku.
“Kenapa harus bercanda?”Venna balas
bertanya.
“Kevin,Venna.Kevin!?”teriakku
histeris
“Iya.Emang kalo Kevin kenapa?Ada
yang salah?”jawabnya santai.Aku tidak bisa menjawab pernyataan
Venna.”Hoi?!Ketiduran ya?Mahal nih pulsa telepon!”ujarnya mengagetkanku
“Ya sorry.Kenapa?”tanyaku sebisanya
“Karena kamu temenku.”jawab Venna
singkat “Eh,udahan ya!Udah di pelototin sama Bunda nih!”lanjutnya.
Perbincangan via
telepon itu terputus.Aku melangkah gontai ke kamar.Entah mengapa aku masih
ragu.Kevin Jonathan.Aku tersenyum memandang fotonya, cakep memang tapi tidak
ada yang melihatnya dari hati seperti aku.Tak ku sadari aku tertidur dan masih
memeluk foto itu.
***
Pagi sekali aku terbangun.Ku pandangi foto Kevin yang sedang kupeluk
sekali lagi.Tiba - tiba aku menangis.Aku rindu Kevin.Walaupun aku tahu tangis
itu tidak bisa membuat Kevin ada di hadapanku.Lama aku menangis hingga tak
terasa matahari sudah meninggi aku segera siap – siap pergi ke sekolah, dan
sarapan tetapi...O..ow...
![]() |
| http://randykapratana.blogspot.com/2011/04/masa-cinta.html |
“Belekan Fis?”tanya Ayah
tanpa merasa bersalah.Aku pura – pura cemberut dan langsung pamit.Segera ku ambil
sepeda ku.Tak perlu waktu lama aku sudah sampai di sekolah dan ku langkahkan
kakiku ke kelas ku yang berada di belakang.Ocehan Venna menyambut ke hadiranku
“Hai Fis!!Kok lama banget?Tumben?
Bangkok?Lhooooo?........”
ocehannya terhenti seketika“Kamu belekan??”lanjutnya pelan dan berhati – hati
“Enak aja!Kenapa sih hari semua orang
bilang aku belekan?Nyebelin deh!”cerososku sebal.Venna menarikku ke kamar mandi
tanpa peduli jeritanku.Jeritanku semakin menjadi ketika sampai ke kamar
mandi.Mataku merah membengkak, lebih parah daripada pikiranku tadi pagi.Tentu
karena sehabis menangis tapi aku pun tidak menyangkal itu seperti,BELEK!Aku
melongo memandang bayanganku di kaca.
“Nah,loe”ujar Venna,tidak keras tapi
cukup membuatku terkejut dari lamunanku.Aku menatap miris ke Venna.Venna balik
menatapku.Ada sedikit kegelian diraut wajahnya.
“Venna..”kataku entah mengapa ikut
menahan tawa.Venna sudah tidak bisa menahan tawanya.Tawanya meledak bersamaan
dengan tawaku.“Gimana ini?”tanyaku semakin kalut.
“Masalah loe derita loe!”jawabnya
santai diakhiri dengan tawanya yang khas.Aku mendengus.Tanpa menunggu
persetujuanku,tiba - tiba Venna menarik tanganku keluar kamar mandi.
“Venna!!!Jahat banget sih suka
ngelihat ntar anak – anak ngetawain mataku?” teriakku sebal.Dia berhenti
seketika.
“Enggak kalo ini belum bel dan kalo
kamu enggak mau kena BP!!Tahukan jam pertama jamnya siapa?”makinya tidak kalah
sebal dengan aku.Aku kalah dengannya.Akan tetapi Venna telat, guru yang ia maksud sudah dibelakangnya.Beliau
berdehem.Jika aku tidak sedang dalam masalah tentu aku akan tertawa melihat
wajah Venna yang kaget bercampur takut.
“Wah..wah..wah..Brandal kecil
rupanya?”ujar Mr.Gomi guru Bahasa Jawaku.Aku dan Venna mati kutu.tidak dapat
membantah ketika digiring ke ruang BP,Tapi Alamak!Kevin ada di situ!Bukan main
malunya aku!
“Ven...Venna...Ada Kevin
Ven!”bisikku pada Venna.Venna hanya tersenyum.Tapi aku tahu itu bukan senyuman
Venna,itu senyum yang dipaksakan.
Kevin terlihat memberesi kertas –
kertas yang berserakan dimeja.Jantungku berdegup semakin kencang.Bukan karena
Mr.Gomi sedang menghakimiku, tapi karena Kevin tersenyum ke arahku!Ku lirik
Venna sekilas, dia tampak salah tingkah menyadari aku memperhatikannya.
“Nah,brandal kecil!”bentaknya
seperti sadar aku dan Venna tidak memperhatikannya“7 point saya rasa
cukup.”lanjutnya tanpa nada bersalah sedikitpun.
“7 point????!”pekikku dan Venna
bersamaan
“Sudah kalian buang – buang waktu
saya saja!”gertaknya puas.Aku lemas.Semester ini aku sudah mengumpulkan 12
point kenapa harus ditambah lagi?Guru BP hanya bisa geleng – geleng ketika
menandatangani buku bimbinganku.
***
Jam istirahatku hari ini tidak ada
makan tidak ada minum,hanya ada cabut rumput,siram tanaman dan bersihkan
kebun.Tentunya ini karena ulah Mr.Gomi yang
tega mempekerjakan dua gadis manis menjadi seorang tukang kebun.
“Mr.Gomi itu...”kataku membuka pembicaraan
“Guru yang enggak pantes jadi
guru”gumam Venna melanjutkan ucapanku.
“Udah ah!Ngomongin tu orang jadi
jadi mules gue!!”ucapku asal saja
“Hello???Yang ngomong pertama kamu
kali!”ujar Venna tetap asyik mencabut rumput liar yang tumbuh di taman
sekolah.Aku hanya tertawa tidak bisa menjawab ucapan Venna dan kami hanya
berkerja dalam diam.
“Udahan yuk!”cetusku sambil berjongkok
“Mr.Gomi??”tanyanya ragu
“Hello??Kamu lupa ama
Pak Bony yang berbaik hati jadi Pak Bon sekolah kita.Pasti dia jadi malaikat
penyelamat kita.”gumamku tidak jelas saking cepatnya.Venna tersenyum bukan
senyum bijaksananya dan bukan senyum yang dipaksakan lagi.Itu senyum usilnya
yang hanya muncul seabad sekali.Tanpa banyak omong Venna menarik tanganku.Tak
lain dan tak bukan untuk ke Kantin.
“Ugh,kayak udah enggak
makan ama minum 1 abad!!”celotehnya agak keras hingga menjadi seperti
teriakan.Aku terdiam.Tidak menanggapi perkataan Venna.Aku merenung.
“Kayaknya aku perlu dan harus
ngelupain Kevin deh,Ven.”gumamku secara tiba – tiba.Di luar dugaanku Venna
tertawa alih – alih kaget
“Berarti harus ada penggantinya
dong?” tanyanya girang
“May be.”jawabku nyaris mendesis
“Gimana kalo yang itu.”sarannya
menunjuk ke arah utara
“Alvin?”tanyaku 100 persen tidak
percaya.Alvin Raditya.Sohib terdeket Kevin.Semua yang ada di Kevin pasti ada di
Alvin.Kecuali kepopuleran.
“Ya iyalah Fisya.Siapa lagi yang ada
disana”jawab Venna bersemangat
“Benaran??Alvin,Alvin Raditya
beneran??”aku masih terus bertanya saking shock
“Iya,Fisya.Kenapa sih emang
nya?”ujarnya jengkel
“Ogah dah!Buat kamu aja
deh!”gerutuku sebal
“Plin – plan lu.”gumamnya
pelan
“Up to me
dong ”ujarku mulai gusar
“Kagak usah
pake otot neng!”tegurnya spontan seraya meminum es yang ia pesan
“Terserah!”gertakku
sedikit kasar kepada Venna.Venna tetap diam masih meminum jusnya.Aku semakin
jengkel dengan tingkahnya,segera ku tinggalkan Venna yang tetap tidak bereaksi sama sekali.
Aku mulai menjahui Venna, begitu
juga dia.Semuanya berubah.Aku tak suka ini semua, tapi semuanya sudah terlanjur
terjadi.Semuanya tidak menyadari ini.Kecuali Mama.
“Fis,kok Venna enggak pernah main ke
sini kenapa?”tanya Mama ketika aku baru pulang sekolah
“Lagi marahan,Ma.”jawabku asal
sekaligus jujur
“Lho, kok marahan
kenapa?”Mama kembali bertanya.Ku ceritakan semua uneg – unegku,asal mula aku
marahan dengan Venna, sampai ekspresi kami berdua. “Masalah kayak gitu aja
kenapa musti marahan?Udah..minta maaf sana
sama Venna.”nasehatnya setelah mendengar ceritaku
“Kenapa
Mama malah belain Venna sih?Udah ah Fisya capek!”ujarku kalut.Mataku mulai
berkaca – kaca.Aku berlari menaiki tangga menuju kamarku.Aku menangis.Semua
sudah tidak berpihak kepada kepadaku.Entah mengapa tiba – tiba aku memikirkan
Alvin.Anaknya memang baik.Prestasinya tidak kalah dengan Kevin.Bahkan wajahnya
lebih ganteng daripada Kevin.Aku menggelengkan kepala.Kenapa aku harus
memikirkan Alvin ?Dia
bukan siapa – siapa.
Aku bersiap
– siap kesekolah lagi sorenya.Hanya Basket yang bisa mengalihkan
perhatianku.Dan untuk itu aku mengikuti ekskul Basket.
“Ma,aku
ekskul.”pamitku singkat dan langsung ngeloyor pergi.Mama hanya bisa
menggelengkan kepalanya akan sifat putri sulungnya.
Basket pun
tidak begitu menarik minatku hari ini.Kuputus kan
untuk pergi ke Kantin.Aku berjalan setengah melamun.Entah aku melamunkan
siapa.Mama, Kevin, Venna, bahkan Alvin !Langkahku
berhenti seketika dan lamunanku buyar , hanya karena dia……
“Venna!!”teriakku histeris.Tak ku sangka
Venna akan melakukan hal ini.Dia......bermesraan(^v^)dengan …Kevin!Venna
terlihat setengah kaget dan mengharapkan mujizat mendatanginya agar dia tetap
tenang “Aku enggak nyangka , Ven!Kamu pengkhianat.”gumamku lirih.Segera ku
berlari meninggalkan Venna dan Kevin.Aku benar – benar tidak menyangka semua
ini akan terjadi.
“Fisya,tunggu!!”teriak Venna.Tidak
kuperdulikan teriakkan Venna.
Kubiarkan kakiku
membawaku lari sesukanya dan berakhir di depan ruang Wokshop yang sepi.Aku
duduk di bawah dan menangis sepuas ku.
Tiba – tiba
bahuku di tepuk dari belakang.Aku menoleh ke belakang.Alvin.
“Kenapa musti nangis??”tanyanya sembrani
duduk di sampingku. “Kan masih ada cinta buat Fisya.”hiburnya seraya
tersenyum.Aku hanya tersenyum lalu menggeleng.“Hei!Liat aku dong!Aku enggak
kalah keren kan sama Kevin?”tanyanya sekaligus untuk menghiburku.
“Gimana?Mau,mau,mau?”tanyanya tetap tersenyum.Aku mengeryitkan dahi pertanda
aku tidak mengerti maksudnya.Dia mengerti maksudku . “Aku beneran
Fisya.”lanjutnya menepuk punggungku.Aku kalut.Kaget,senang,tapi aku masih sakit
hati.
“Hem..hem..”ku dongakkan
kepalaku.Venna dan Kevin sudah di dekatku.Mereka terlihat senyum – senyum
sendiri.aku ikut tersenyum dan ku anggukkan kepalaku pertanda aku setuju
“Yeheiii!!!”teriak Alvin histeris
senang.Alvin Raditya.Aku bangga memilikinya.Tidak hanya bermodal tampang dan
prestasi tapi juga hati.

Good... ^-^
BalasHapusGood... ^-^
BalasHapus