music box

Jumat, 22 Juni 2012

Masih Ada Cinta untuk Fisya


            Dia bisa dibilang sempurna.Punya tubuh tinggi tegap, smart, dan punya segudang prestasi.Sudah sepantasnya dia menjadi cowok ideal bagi semua cewek sekolahan. Siapa lagi cewek yang enggak naksir Kevin Jonathan?Hanya cewek yang matanya rabun yang enggak kesemsem sama dia.Kecuali Venna, yang tahu udah 2 tahun ini aku memendam rasa kepada Kevin.
            “Kamu enggak bercanda kan Ven?"tanyaku kaget, Venna mau melakukan hal gila itu hanya karena aku.
            “Kenapa harus bercanda?”Venna balas bertanya.
            “Kevin,Venna.Kevin!?”teriakku histeris
            “Iya.Emang kalo Kevin kenapa?Ada yang salah?”jawabnya santai.Aku tidak bisa menjawab pernyataan Venna.”Hoi?!Ketiduran ya?Mahal nih pulsa telepon!”ujarnya mengagetkanku
            “Ya sorry.Kenapa?”tanyaku sebisanya
            “Karena kamu temenku.”jawab Venna singkat “Eh,udahan ya!Udah di pelototin sama Bunda nih!”lanjutnya.
Perbincangan via telepon itu terputus.Aku melangkah gontai ke kamar.Entah mengapa aku masih ragu.Kevin Jonathan.Aku tersenyum memandang fotonya, cakep memang tapi tidak ada yang melihatnya dari hati seperti aku.Tak ku sadari aku tertidur dan masih memeluk foto itu.
***
            Pagi sekali aku terbangun.Ku pandangi foto Kevin yang sedang kupeluk sekali lagi.Tiba - tiba aku menangis.Aku rindu Kevin.Walaupun aku tahu tangis itu tidak bisa membuat Kevin ada di hadapanku.Lama aku menangis hingga tak terasa matahari sudah meninggi aku segera siap – siap pergi ke sekolah, dan sarapan tetapi...O..ow...
http://randykapratana.blogspot.com/2011/04/masa-cinta.html
            “Belekan Fis?”tanya Ayah tanpa merasa bersalah.Aku pura – pura cemberut dan langsung pamit.Segera ku ambil sepeda ku.Tak perlu waktu lama aku sudah sampai di sekolah dan ku langkahkan kakiku ke kelas ku yang berada di belakang.Ocehan Venna menyambut ke hadiranku
            “Hai Fis!!Kok lama  banget?Tumben?
Bangkok?Lhooooo?........” ocehannya terhenti seketika“Kamu belekan??”lanjutnya pelan dan berhati – hati
        “Enak aja!Kenapa sih hari semua orang bilang aku belekan?Nyebelin deh!”cerososku sebal.Venna menarikku ke kamar mandi tanpa peduli jeritanku.Jeritanku semakin menjadi ketika sampai ke kamar mandi.Mataku merah membengkak, lebih parah daripada pikiranku tadi pagi.Tentu karena sehabis menangis tapi aku pun tidak menyangkal itu seperti,BELEK!Aku melongo memandang bayanganku di kaca.
            “Nah,loe”ujar Venna,tidak keras tapi cukup membuatku terkejut dari lamunanku.Aku menatap miris ke Venna.Venna balik menatapku.Ada sedikit kegelian diraut wajahnya.
            “Venna..”kataku entah mengapa ikut menahan tawa.Venna sudah tidak bisa menahan tawanya.Tawanya meledak bersamaan dengan tawaku.“Gimana ini?”tanyaku semakin kalut.
            “Masalah loe derita loe!”jawabnya santai diakhiri dengan tawanya yang khas.Aku mendengus.Tanpa menunggu persetujuanku,tiba - tiba Venna menarik tanganku keluar kamar mandi.
            “Venna!!!Jahat banget sih suka ngelihat ntar anak – anak ngetawain mataku?” teriakku sebal.Dia berhenti seketika.
            “Enggak kalo ini belum bel dan kalo kamu enggak mau kena BP!!Tahukan jam pertama jamnya siapa?”makinya tidak kalah sebal dengan aku.Aku kalah dengannya.Akan tetapi Venna telat,  guru yang ia maksud sudah dibelakangnya.Beliau berdehem.Jika aku tidak sedang dalam masalah tentu aku akan tertawa melihat wajah Venna yang kaget bercampur takut.
            “Wah..wah..wah..Brandal kecil rupanya?”ujar Mr.Gomi guru Bahasa Jawaku.Aku dan Venna mati kutu.tidak dapat membantah ketika digiring ke ruang BP,Tapi Alamak!Kevin ada di situ!Bukan main malunya aku!
            “Ven...Venna...Ada Kevin Ven!”bisikku pada Venna.Venna hanya tersenyum.Tapi aku tahu itu bukan senyuman Venna,itu senyum yang dipaksakan.
            Kevin terlihat memberesi kertas – kertas yang berserakan dimeja.Jantungku berdegup semakin kencang.Bukan karena Mr.Gomi sedang menghakimiku, tapi karena Kevin tersenyum ke arahku!Ku lirik Venna sekilas, dia tampak salah tingkah menyadari aku memperhatikannya.
            “Nah,brandal kecil!”bentaknya seperti sadar aku dan Venna tidak memperhatikannya“7 point saya rasa cukup.”lanjutnya tanpa nada bersalah sedikitpun.
            “7 point????!”pekikku dan Venna bersamaan
            “Sudah kalian buang – buang waktu saya saja!”gertaknya puas.Aku lemas.Semester ini aku sudah mengumpulkan 12 point kenapa harus ditambah lagi?Guru BP hanya bisa geleng – geleng ketika menandatangani buku bimbinganku.
***
            Jam istirahatku hari ini tidak ada makan tidak ada minum,hanya ada cabut rumput,siram tanaman dan bersihkan kebun.Tentunya ini karena ulah Mr.Gomi  yang tega mempekerjakan dua gadis manis menjadi seorang tukang kebun.
            “Mr.Gomi itu...”kataku membuka pembicaraan
            “Guru yang enggak pantes jadi guru”gumam Venna melanjutkan ucapanku.
            “Udah ah!Ngomongin tu orang jadi jadi mules gue!!”ucapku asal saja
            “Hello???Yang ngomong pertama kamu kali!”ujar Venna tetap asyik mencabut rumput liar yang tumbuh di taman sekolah.Aku hanya tertawa tidak bisa menjawab ucapan Venna dan kami hanya berkerja dalam diam.
            “Udahan yuk!”cetusku sambil berjongkok
            “Mr.Gomi??”tanyanya ragu
            “Hello??Kamu lupa ama Pak Bony yang berbaik hati jadi Pak Bon sekolah kita.Pasti dia jadi malaikat penyelamat kita.”gumamku tidak jelas saking cepatnya.Venna tersenyum bukan senyum bijaksananya dan bukan senyum yang dipaksakan lagi.Itu senyum usilnya yang hanya muncul seabad sekali.Tanpa banyak omong Venna menarik tanganku.Tak lain dan tak bukan untuk ke Kantin.
            “Ugh,kayak udah enggak makan ama minum 1 abad!!”celotehnya agak keras hingga menjadi seperti teriakan.Aku terdiam.Tidak menanggapi perkataan Venna.Aku merenung.
            “Kayaknya aku perlu dan harus ngelupain Kevin deh,Ven.”gumamku secara tiba – tiba.Di luar dugaanku Venna tertawa alih – alih kaget
            “Berarti harus ada penggantinya dong?” tanyanya girang
            “May be.”jawabku nyaris mendesis
            “Gimana kalo yang itu.”sarannya menunjuk ke arah utara
            “Alvin?”tanyaku 100 persen tidak percaya.Alvin Raditya.Sohib terdeket Kevin.Semua yang ada di Kevin pasti ada di Alvin.Kecuali kepopuleran.
            “Ya iyalah Fisya.Siapa lagi yang ada disana”jawab Venna bersemangat
            “Benaran??Alvin,Alvin Raditya beneran??”aku masih terus bertanya saking shock
            “Iya,Fisya.Kenapa sih emang nya?”ujarnya jengkel
            “Ogah dah!Buat kamu aja deh!”gerutuku sebal
            “Plin – plan lu.”gumamnya pelan
            “Up to me dong ”ujarku mulai gusar
            “Kagak usah pake otot neng!”tegurnya spontan seraya meminum es yang ia pesan
            “Terserah!”gertakku sedikit kasar kepada Venna.Venna tetap diam masih meminum jusnya.Aku semakin jengkel dengan tingkahnya,segera ku tinggalkan Venna yang  tetap tidak bereaksi sama sekali.
            Aku mulai menjahui Venna, begitu juga dia.Semuanya berubah.Aku tak suka ini semua, tapi semuanya sudah terlanjur terjadi.Semuanya tidak menyadari ini.Kecuali Mama.
            “Fis,kok Venna enggak pernah main ke sini kenapa?”tanya Mama ketika aku baru pulang sekolah
            “Lagi marahan,Ma.”jawabku asal sekaligus jujur
            “Lho, kok marahan kenapa?”Mama kembali bertanya.Ku ceritakan semua uneg – unegku,asal mula aku marahan dengan Venna, sampai ekspresi kami berdua. “Masalah kayak gitu aja kenapa musti marahan?Udah..minta maaf sana sama Venna.”nasehatnya setelah mendengar ceritaku
            “Kenapa Mama malah belain Venna sih?Udah ah Fisya capek!”ujarku kalut.Mataku mulai berkaca – kaca.Aku berlari menaiki tangga menuju kamarku.Aku menangis.Semua sudah tidak berpihak kepada kepadaku.Entah mengapa tiba – tiba aku memikirkan Alvin.Anaknya memang baik.Prestasinya tidak kalah dengan Kevin.Bahkan wajahnya lebih ganteng daripada Kevin.Aku menggelengkan kepala.Kenapa aku harus memikirkan Alvin?Dia bukan siapa – siapa.
            Aku bersiap – siap kesekolah lagi sorenya.Hanya Basket yang bisa mengalihkan perhatianku.Dan untuk itu aku mengikuti ekskul Basket.
            “Ma,aku ekskul.”pamitku singkat dan langsung ngeloyor pergi.Mama hanya bisa menggelengkan kepalanya akan sifat putri sulungnya.
            Basket pun tidak begitu menarik minatku hari ini.Kuputus kan untuk pergi ke Kantin.Aku berjalan setengah melamun.Entah aku melamunkan siapa.Mama, Kevin, Venna, bahkan Alvin!Langkahku berhenti seketika dan lamunanku buyar , hanya karena dia……
            “Venna!!”teriakku histeris.Tak ku sangka Venna akan melakukan hal ini.Dia......bermesraan(^v^)dengan …Kevin!Venna terlihat setengah kaget dan mengharapkan mujizat mendatanginya agar dia tetap tenang “Aku enggak nyangka , Ven!Kamu pengkhianat.”gumamku lirih.Segera ku berlari meninggalkan Venna dan Kevin.Aku benar – benar tidak menyangka semua ini akan terjadi.
            “Fisya,tunggu!!”teriak Venna.Tidak kuperdulikan teriakkan Venna.
Kubiarkan kakiku membawaku lari sesukanya dan berakhir di depan ruang Wokshop yang sepi.Aku duduk di bawah dan menangis sepuas ku.
            Tiba – tiba bahuku di tepuk dari belakang.Aku menoleh ke belakang.Alvin.
            “Kenapa musti nangis??”tanyanya sembrani duduk di sampingku. “Kan masih ada cinta buat Fisya.”hiburnya seraya tersenyum.Aku hanya tersenyum lalu menggeleng.“Hei!Liat aku dong!Aku enggak kalah keren kan sama Kevin?”tanyanya sekaligus untuk menghiburku. “Gimana?Mau,mau,mau?”tanyanya tetap tersenyum.Aku mengeryitkan dahi pertanda aku tidak mengerti maksudnya.Dia mengerti maksudku . “Aku beneran Fisya.”lanjutnya menepuk punggungku.Aku kalut.Kaget,senang,tapi aku masih sakit hati.
            “Hem..hem..”ku dongakkan kepalaku.Venna dan Kevin sudah di dekatku.Mereka terlihat senyum – senyum sendiri.aku ikut tersenyum dan ku anggukkan kepalaku pertanda aku setuju
            “Yeheiii!!!”teriak Alvin histeris senang.Alvin Raditya.Aku bangga memilikinya.Tidak hanya bermodal tampang dan prestasi tapi juga hati.

2 komentar: