28
Agustus 2009. Itulah tanggal dimana aku resmi menjadi pacar seorang cowok
bernama Radityatama Prakoso. Seorang wartawan dari sebuah surat kabar swasta. Sedangkan aku, seorang
Zaskya Gitaclara hanya seorang pegawai kantoran yang sejak masuk perusahaan tak
pernah sekalipun promosi.
Aku
ingat sekali tanggal 14 Mei 2009 saat pertama kali aku dan Radit bertemu.
Simple. Kami hanya bertemu di perpustakaan kota langgananku. Tanpa diduga-duga Radit
mengajakku berkenalan hampir saja aku mati ditempat melihat sosok tinggi yang
sungguh kelewat cakep melebihi Daniel Radcliffe ataupun Dani Pedrosa senyuman
Kim Bum saja kalah dengan Radit. Sekedar
iseng saja aku menanyakan nomer handphone Radit kepada penjaga perpustakaan. Aku
yakin sekali si mbak penjaga perpustakaan itu melihat aku bercakap-cakap sok
mesra dengan Radit terbukti dia tidak mau memberikan nomor handphone milik
Radit. Setelah ku ancam akan kutelepon atasannya dan mengadukannya tidak mau
melayaniku dengan baik akhirnya dia memberikan nomer handphone Radit dengan
muka lecek seperti uang Rp100 kertas. Aku tertawa sendiri, mengapa si mbak itu
begitu bodoh? Bisa saja dia memberiku nomor handphone palsu dengan ikhlas kan ? Lagi pula mana punya aku nomor telepon atasannya? Tetapi
jodoh memang enggak kemana! Malamnya Radit SMS aku duluan mungkin dia juga
menanyakan nomer handphoneku kepada penjaga perpustakaan itu juga.
Date : May 28, 19:43
Hi
Wie geht es dir?
Radit
From : +62856495239452
Aku tahu wie geht es dir adalah bahasa jerman
yang artinya apa kabar. Saking shocknya aku sampai loncat-loncat sendiri di
kasur. Oh,God!!!! I’m shock! Enggak
tau mau jawab apa iseng aku menjawab:
Not bad, you?
To : Kim Raditya
May 28, 19:47
Jadilah
semalaman suntuk kami SMS-an. Sayang semua itu harus berhenti di aku, sebenarnya aku masih mau SMS-an tapi aku hanya
menjaga image di depan Radit. Terpaksa aku SMS
Eh, udh hmpir jam 1 nih!Udahan y?Have a good night c:
To : Kim Raditya
May 29, 00:57
Tak lama SMS balasan dari Radit masuk ke
handphoneku
Date :29 May 2009
Iya mimpiin ak
aja y?:)..
Good night
From : Kim Raditya
Gombal! Gombal memang,
tapi aku suka. Aku sampai tidak bisa tidur karena terus memikirkan Radit.
Apakah aku jatuh cinta? Whatever, mau
jatuh cinta kek mau jatuh hati kek mau jatuh dari sepeda kek yang penting
Radityatama Prakoso milikku!
“DOOORRRRRRR!!!!!!!”teriakkan
dari belakang membuyarkan lamunan masa laluku. Siapa dia?Siapa lagi kalau bukan pacarku
satu-satunya itu.
“Mulai deh usilnya!”ujarku
jutek atau lebih tepatnya sok jutek
“Oooooccccchhhhh, pacarku
marah.” Ini yang tidak kusukai dari orang pacaran sok MESRA serasa dunia milik
berdua meskipun aku juga kadang begitu.
“Tumben kesini? Ngapain?”tanyaku
tanpa ya-yi-yu-ye-yo dulu
“Nih.”jawabnya singkat sambil menyodorkan sebuah
undangan. Kubaca sekilas.
Undangan pernikahan teman seprofesi Radit.
“Mau nyusul nih?”godaku
sekaligus berharap
“Maunya sih. Aku yakin
kamu juga mau kan?”tanyanya yang balas menggodaku
“Alah!Umur jaga masih
belom nyampe 30 udah minta kawin! Mau punya anak berapa? Kasian yang ngelahirin
dong?!”protesku yang tumben-tumbennya bisa ngomong agak serius sedikit
“Hehe. Udahlah. Kita
dateng ya? Lumayan kan kita bisa liat-liat buat modal kawinan kita.”ujarnya
sambil nyengir. Kalau Kim Bum hanya tersenyum tipis sudah bisa mengguncang
cewek-cewek seluruh negeri apalagi Kim Raditya ku satu ini yang selalu nyengir
lebar?
“Iya deh!Dandan yang cakep ya?”pesanku
“Iya dech sayangs.”jawabnya
“Perezzzz!!!!”jeritku sok
sebal padahal aslinya senang
“Udah ah!!Pulang dulu ya
says.”pamitnya padahal belum sampai 1 jam dia disana
“Kebiasaan deh pulang
cepet-cepet. Berenti aja deh
jadi wartawan.”ujarku sebal bukan sok sebal
“Jangan gitu dong! Entar
anak kita makan apaan?”tanyanya yang aku jakin hanya bergurau
“Au’ ah gelap.”jawabku ngasal
“Dadaaaaaaaaa.......”teriaknya
yang tanpa ya-yi-yu-ye-yo langsung ngacir keluar trenyuh ati iki ndelok
kedadean koyo ngono.
***
Jika tanggal 14 Mei 2009
aku bertemu dengan Radit tanggal 28 Agustus 2009 akhirnya aku resmi menjadi
kekasih Radit. Banyak problema yang menerjang hubungan kami tapi kami yakin
kami mampu tuk tetap tenang. See,
kami masih langgeng. Tapi
mungkinkah suatu saat hubungan kami di uji karena kekuranganku?
Di saat aku asyik merenung
HP ku malah menyanyi dengan nyaringnya. Ku lihat layar handphoneku. Radit.
Akhirnya ku jawab telepon itu.
“Assalamualaikum?”
“Waalaikumsalam. Says
kesini dongs!!”pintanya penuh harap sekaligus maksa
“Kemana?”tanyaku
aras-arasan
“Ke depan rumahmu!”jawab Radit penuh semangat
“Iya deh.”kataku
akhirnya. Yes!Aku mengalah. Malam-malam pukul 11 malam pacaran di depan
rumah?Apa kata tetangga? Radit terlihat berbeda. Baru kali ini (kecuali kalau
di ajak kondangan) aku melihat Radit mengenakan kemeja walaupun tetap saja di
setia pada celana jins buluknya yang jarang ia cuci. Radit terlihat cengir
lebih lebar dari pada biasanya
“Pasti ada
apa-apanya.”batinku penuh keyakinan
“Ikut aku yuk?”ajaknya
langsung menggandeng tanganku. What?
Gila ni bocah! Dia keliatan keci gitu sih enggak apa-apa. Lha aku? Coba kita
lihat dari atas kebawah. Aku hanya memakai jilbab yang asal samber berwarna
merah, kaus dengan warna krem dan cardigan hijau, dan oow...aku masih memakai
celana tidur biru kesayanganku. Dan apalagi ini?Aku memakai sandal jepit
kedodoran!Dan aku yakin Radit tidak akan memperbolehkan aku dandan meskipun
hanya 15 menit.
“Ganti baju dulu ya?”usulku
“Enggak usah.”ujarnya
sambil mencekeram tanganku kuat-kuat. Apa aku bilang? Egois! Radit langsung
menarikku menuju vespa kesayangannya. Kurang cinta apalagi aku? Walaupun tampil
ancur-ancuran gini tetap saja aku rela mengikutinya pergi.
Lumayan lama perjalanan ke tempat yang dituju
Radit. Setelah vespa Radit berhenti mengeluarkan suara aneh aku langsung
geleng-geleng seperti orang disko. Bayangkan Radit mengajakku ke Cafe yang
romantissssssssss bangetttttttttttttttttttttttttttt! Oh, God!!!!! Help me!!!!!!!!!!!!!!!!
“Ayo masuk!”ajak Radit
tanpa sedikit pun terganggu oleh penampilanku
“Tapi masak aku pake baju
kayak gini?”tanyaku sedikit gemas pada orang ini. Kenapa cueknya keterlaluan
sih?
“Udah lah enggak
apa-apa.”jawabnya santai seraya menarikku masuk. Enggak usah ditanya! Disini
aku menjadi tontonan yang mungkin menurut mereka menarik. Akhirnya Radit
memilih tempat duduk yang agak ke pojok.
“Mau ngapain sih,
says?”tanyaku dengan wajah bersungut-sungut
“Eee....3 hari lagi aku
mau ngeliput perang antar warga di Timika...”ucapnya perlahan
“Perang?Enggak!”ujarku tegas
“Tapi ini Cuma perang
kecil di kota kecil kamu jangan jadi kayak anak kecil dong!”timpalnya mulai
memanas
“Iya. Tapi ini perang
Radit. PERANG!”seruku tetap keukeuh tidak memperbolehkan
“Ini Cuma pertengkaran
kecil. Enggak kayak Irak dan Iran, Israel sama Palestina! Enggak pake
bom!”tegasnya mulai mengeras
“Aku enggak pingin kamu
kenapa-napa! Entar yang kawin sama aku siapa?”tanyaku berusaha membuat Radit
berubah pikiran.
“Percaya deh aku enggak
bakal kenapa-napa!”jawabnya tetap saja ngeyel pada pendapatnya. Tuhan!!! Gimana
ini? Bantu aku Tuhan.
“Istikharah sambil sholat
Tahajud dulu deh!”usulku
“Jadi intinya kalau Tuhan
mempersilahkan aku ngeliput berita ini aku boleh pergi kan?”tanyanya dengan
berbinar-binar. Aku hanya bisa mengangkat bahu. Pasrah.
“Tapi kamu enggak boleh kenapa-napa ya?Jangan selingkuh.
Jangan sampe kamu hilang ingatan terus diselametin cewek akhirnya kalian
pacaran, tunangan, nikah! No way!”pesanku lebih panjang daripada jembatan
Suramadu.
“Kayak sinetron
aja!”candanya mulai mencair. Aku mengalah. Yang penting Radit seneng. Tuhan jaga dia!!
***
Hari ini hari keberangkatan Radit. Kenapa aku
malah jadi nervous? Ini bukan sidang
kelulusan! Apakah ini yang namanya Felling
not good? Pesawat Radit akan berangkat 15 menit lagi dan dia baru saja akan
boarding. Sungguh keterlaluan anak itu! Kelewat santai. Dan inilah saat-sat
paling mengharukan, saat dia akan meninggalkan kami. Aku mendapat kesempatan
terakhir untuk menyampaikan pesan-pesan kepada Radit. Setelah Orang-orang
terdahuluku selesai akhirnya tiba giliranku.
“Disana jangan cari
selingkuhan ya!”pesanku singkat. Dia hanya nyengir saja, tapi aku tahu dari
matanya terlihat bahwa dia sedih. Akhirnya pesawat Radit benar-benar berangkat.
Dan akankah Radit akan pulang seminggu lagi seperti janjinya?
“Ya Allah, Ya Tuhan
ku...Jagalah Kim Raditya ku di kota orang.”do’a ku dalam hati. Aku yakin Radit
pasti pulang.
***
Sudah 1 minggu lebih Radit
pergi ke kota orang. Tapi
kontak denganku saja tidak. Mungkinkah terjadi sesuatu pada Radit? Ku sambar
koran yang ada didepanku untuk menghilangkan penatku. Tetapi..Astaga!! ‘16
Reporter Terluka dalam Peliputan Rusuh di Timika, 2 Meninggal’ itulah judul berita
utama hari ini. Mungkinkah itu Radit? Sekarang jam 10.30, segera aku ambil air
wudhu untuk sholat Dhuha dan berdoa kepada Allah untuk keselamatan Radit.
Sorenya
aku pergi ke cafe tempat Radit pamit kepadaku. Aku suka tempat ini. Sunyi. Seonggong Sirloin steak dan Cappucino milkshake telah terhidang dihadapanku. Ini adalah makanan
dan minuman favorit Radit, yang aku harap bukan Alm.Radit. Ketika sedang
siap-siap memakan steak ku kulihat sosok tinggi yang mirip sekali dengan Radit.
Apakah itu Radit? Tidak perlu dipertanyakan lagi, itu Radit. Radityatama
Prakoso dengan seorang cewek yang tinggi mugkin akibat sepatu haknya dan dia
hanya memakai dress mini. Apakah iman Radit sudah tergoyah karena cewek ini?
Apakah Radit sudah tidak menyukai cewek berjilbab?
“Radit!!”panggilku sedikit
berteriak. Radit menengok ke arahku mencari orang yang memanggilnya. Ketika
melihatku dia malah nyengir kuda seperti biasanya. Bukannya salting udah
ketahuan selingkuh malah melambai kearahku.
“Gita!Sini!”Ya Allah, dia
malah memanggilku. Aku menururutinya.
God! cewek itu malah menggenggam mesra lengan
Radit. “Says, kenalin ini..” ketauan selingkuh masih manggil sayang?
“Bener-bener ya kamu! Katanya apa? Enggak bakalan
nyari selingkuhan!”potongku sebal. Kebetulan ada Ice Lemon Squash di dekatku ingin ku siram tapi enggak tega. Akhirnya
ku urungkan niatku itu.
“Tapi ini..”ujarnya mencoba menjelaskan
“Udah deh! Selingkuh tetep
aja selingkuh! Tapi lain kali kalo nyari selingkuhan yang bener dong!”lagi-lagi
aku memotong bicaranya. Segeraku sambar tasku dan meninggalkan cafe itu.
“Mbak tunggu!!”tiba-tiba
penjaga cafe memanggil-manggil. Aku pun berhenti.
“Bayar dulu, Mbak!”ingat
penjaga cafe sambil ngos-ngosan berusaha mengatur nafas. Alamak!!! Kenapa
sekarang? Kenapa didepan Radit dan selingkuhannya? Selingkuhan Radit tampak
mesem-mesem sendiri. Segera
kubayar makananku tadi dan segera meninggalkan cafe sialan itu.
Sesampainya dirumah aku
segera berlari untuk mengurung diri dikamar. Teriakan mama sama sekali tidak
kugubris. Moodku sedang kacau.
Dikamar aku menangis sejadi-jadi nya. Setelah sekian lama aku setia, menutup
mataku untuk semua cowok cakep yang mencoba mendekatiku tapi diujung pacaran
(karena berencana ingin menikah) Radit malah selingkuh? Karena terlalu banyak
menangis aku menjadi mengantuk dan tertidur. Lama aku tertidur, bangun pun
karena ada seseorang yang ketok-ketok kamarku. Siapa gerangan? Kalau Mama atau
Kak Cita pasti sudah langsung njelundus masuk tanpa permisi. Aku baru ingat
bahwa kamarku kukuci rapat-rapat sebelum tidur. Segera kubuka pintu kamarku,
ternyata Mama.
“Dicari Radit didepan.”ujar Mama memberi
pengumuman
“Males ah!Bilang aja aku
lagi tidur.”jawabku santai
“Kalo ada masalah sama
Radit jangan Mama dong yang jadi tumbal di suruh bo’ong yang dosa ya Mama.”elak
Mama panjang
“Udah?”tanyaku cuek bebek.
Segera aku masuk dan kututup rapat-rapat . Baru kali ini aku sedikit kurang ajar pada Mama.
Tapi aku tidak mau bertemu Radit. Paling tidak, tidak untuk sekarang. Tiba-tiba
HP ku berbunyi tanda ada SMS masuk
Date :13 June 2010
Gita, keluar dong
masa pacar baru pulang ngeliput perang enggak di temuin?
From : Kim Raditya
Ada 47 SMS serupa yang
masuk ke handphoneku dan juga ada 34 misscall. Handphoneku tiba-tiba berdering
lagi. Radit. Enggak ada kapok-kapoknya juga ya? Saking sebalnya handphoneku
sampai ku non aktifkan. Daripada bete akhirnya aku memutuskan untuk membuka
twitter dan facebook. Siapa tahu nemu jodoh baru.
Tapi apa-apaan ini? Radit
telah mengirim banyak message yang intinya aku salah paham. Salah paham gimana? Jelas-jelas dia
ke gap selingkuh bukan salah paham.
***
Sudah
hampir 1 minggu aku nyuekin semua SMS, telpon, message, bahkan e-mail
walaupun setiap saat dia tetap mengirimiku. Pagi ini, tanggal 19 Juni 2010 aku
bangun dngan bugar. Baru jam 06.30 saja aku sudah mandi dan sempat dandan. Tiba-tiba terdengar parade. Perasaanku
hari ini tidak ada karnaval.
“Bikin jus mangga dikasih mengkudu
Lama bikinnya enggak kelar-kelar
Wahai Gita cantik oh sayangku
Ku mohon dirimu mau keluar”teriak orang
dibawah sana disambut musik parade yang membahana. Ku intip orang setengah
sinting itu. Ternyata dia.....Radit. Segera aku berlari menuruni tangga untuk
menemuinya. Untung saja aku sudah mandi dan dandan biar enggak malu-maluin.
“Beli baju di Nusa Dua
Jadi bingung milih baju
Eh abang ini siapa
Teriak-teriak melulu”balasku. Sebenarnya aku enggak tahu dapet kata-kata
dari mana.
“Gita, aku mau ngomong
sama kamu.”serunya tanpa basa-basi
“Mau ngapain? Ngenalin pacar baru?”tanyaku sok
judes
“Bukan, Git! Kamu bener-bener salah
sangka!”tegas Radit. Dia terlihat mengayunkan tangan kepada seseorang. Aku
enggak heran kalo yang dipanggil adalah cewek yang kemarin di cafe.
“Hai!Saya Katie saudara Radit dari California.
Jadi kita belum pernah bertemu saya maklum kamu marah waktu di cafe.”ujar orang
yang katanya bernama Katie itu. Memang wajahnya terlihat western.
Dan logatnya memang bukan Indonesia.
“Tunggu sebentar
ya!”ujarku lalu masuk rumah. Seingatku Radit pernah memberiku foto saudaranya
yang ada di California tak lama foto itu kutemukan. Langsung aku meluncur
menuju keluar. Kuamati orang difoto dan Katie
“Mirip. Maaf ya soal yang
di cafe wajarlah kalo aku cemburu.”ujarku
“No problem. Itu wajar kok.”timpalnya sambil tersenyum manis “So, selamat bersenang-senang.”serunya
seraya meninggalkan halaman rumahku bersama para pemain musik itu.
“Jadi dimaafin kan?”tanya
Radit tiba-tiba. Aku
hanya mengangguk sambil nyengir kelinci
“Tapi
kamu harus gendong aku dari sini ke taman trus balik kesini lagi.”tantangku.
“Boleh!”jawab
Radit sambil mengangkatku. Kembalilah kami menjadi Radit dan Gita yang selalu
merasa dunia milik berdua.
***
Tanggal 29 Oktober 2010. Hari ini
adalah hari bersejarah untukku. Yeah, aku akan ijab kabul. Dari tadi Mama dan
Ibunya Radit sudah menangis sesenggukan. Entah tangis bahagia atau tangis sedih karena kehilangan. Dan inilah
saatnya. Saat paling mendebarkan. It’s
show time!
Aku tidak berani mendengarkan semua
ini. Aku memejamkan mata
untuk menenangkan pikiranku. Tiba-tiba terdengar suara disebelahku. Suara Radit,
calon suamiku yang mungkin beberapa menit lagi sudah resmi menjadi suamiku.
“Saya terima nikahnya, Zaskya
Gitaclara binti Andika Nugraha Priambudi dengan mas kawin seperangkat alat
sholat beserta uang sebesar 3 juta 7 raus ribu dibayar tunai.”ucap Radit secara
khusyuk.
Terdengar suara orang-orang
mengatakan ”sah”, dan itu pertanda aku adalah istri dari Bapak Radityatama
Prakoso dan saya adalah Ibu Raditya. Radit benar-benar anugrah terindah dari
Tuhan setelah Mama, Papa, dan Kak Cita tentunya.
Thanks God! Thanks for your gift and
opportunity that yuo have given for me. I’m promise won’t be useless it. And I
hope you always take care and bless me. My live is very perfect for me. Once
again I say thanks for you God!!I love
my live.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar