music box

Jumat, 22 Juni 2012

Datang, Hilang, dan Kembali



            28 Agustus 2009. Itulah tanggal dimana aku resmi menjadi pacar seorang cowok bernama Radityatama Prakoso. Seorang wartawan dari sebuah surat kabar swasta. Sedangkan aku, seorang Zaskya Gitaclara hanya seorang pegawai kantoran yang sejak masuk perusahaan tak pernah sekalipun promosi.
            Aku ingat sekali tanggal 14 Mei 2009 saat pertama kali aku dan Radit bertemu. Simple. Kami hanya bertemu di perpustakaan kota langgananku. Tanpa diduga-duga Radit mengajakku berkenalan hampir saja aku mati ditempat melihat sosok tinggi yang sungguh kelewat cakep melebihi Daniel Radcliffe ataupun Dani Pedrosa senyuman Kim Bum saja kalah dengan Radit. Sekedar iseng saja aku menanyakan nomer handphone Radit kepada penjaga perpustakaan. Aku yakin sekali si mbak penjaga perpustakaan itu melihat aku bercakap-cakap sok mesra dengan Radit terbukti dia tidak mau memberikan nomor handphone milik Radit. Setelah ku ancam akan kutelepon atasannya dan mengadukannya tidak mau melayaniku dengan baik akhirnya dia memberikan nomer handphone Radit dengan muka lecek seperti uang Rp100 kertas. Aku tertawa sendiri, mengapa si mbak itu begitu bodoh? Bisa saja dia memberiku nomor handphone palsu dengan ikhlas kan? Lagi pula mana punya aku nomor telepon atasannya? Tetapi jodoh memang enggak kemana! Malamnya Radit SMS aku duluan mungkin dia juga menanyakan nomer handphoneku kepada penjaga perpustakaan itu juga.
 

Date : May 28, 19:43

 Hi
Wie geht es dir?
                                  Radit

From : +62856495239452



            Aku tahu wie geht es dir adalah bahasa jerman yang artinya apa kabar. Saking shocknya aku sampai loncat-loncat sendiri di kasur. Oh,God!!!! I’m shock! Enggak tau mau jawab apa iseng aku menjawab:
 


Not bad, you?

To : Kim Raditya
May 28, 19:47


            Jadilah semalaman suntuk kami SMS-an. Sayang semua itu harus berhenti di aku, sebenarnya aku masih mau SMS-an tapi aku hanya menjaga image di depan Radit. Terpaksa aku SMS
 

Eh, udh hmpir jam 1 nih!Udahan y?Have a good night c:

To : Kim Raditya
May 29, 00:57


            Tak lama SMS balasan dari Radit masuk ke handphoneku
 

Date :29 May 2009

Iya mimpiin ak aja y?:)..
Good night

From : Kim Raditya


            Gombal! Gombal memang, tapi aku suka. Aku sampai tidak bisa tidur karena terus memikirkan Radit. Apakah aku jatuh cinta? Whatever, mau jatuh cinta kek mau jatuh hati kek mau jatuh dari sepeda kek yang penting Radityatama Prakoso milikku!
            “DOOORRRRRRR!!!!!!!”teriakkan dari belakang membuyarkan lamunan masa laluku. Siapa dia?Siapa lagi kalau bukan pacarku satu-satunya itu.
            “Mulai deh usilnya!”ujarku jutek atau lebih tepatnya sok jutek
            “Oooooccccchhhhh, pacarku marah.” Ini yang tidak kusukai dari orang pacaran sok MESRA serasa dunia milik berdua meskipun aku juga kadang begitu.
            “Tumben kesini? Ngapain?”tanyaku tanpa ya-yi-yu-ye-yo dulu
            “Nih.”jawabnya singkat sambil menyodorkan sebuah undangan. Kubaca sekilas. Undangan pernikahan teman seprofesi Radit.
            “Mau nyusul nih?”godaku sekaligus berharap
            “Maunya sih. Aku yakin kamu juga mau kan?”tanyanya yang balas menggodaku
            “Alah!Umur jaga masih belom nyampe 30 udah minta kawin! Mau punya anak berapa? Kasian yang ngelahirin dong?!”protesku yang tumben-tumbennya bisa ngomong agak serius sedikit
            “Hehe. Udahlah. Kita dateng ya? Lumayan kan kita bisa liat-liat buat modal kawinan kita.”ujarnya sambil nyengir. Kalau Kim Bum hanya tersenyum tipis sudah bisa mengguncang cewek-cewek seluruh negeri apalagi Kim Raditya ku satu ini yang selalu nyengir lebar?
            “Iya deh!Dandan yang cakep ya?”pesanku
            “Iya dech sayangs.”jawabnya
            “Perezzzz!!!!”jeritku sok sebal padahal aslinya senang
            “Udah ah!!Pulang dulu ya says.”pamitnya padahal belum sampai 1 jam dia disana
            “Kebiasaan deh pulang cepet-cepet. Berenti aja deh jadi wartawan.”ujarku sebal bukan sok sebal
            “Jangan gitu dong! Entar anak kita makan apaan?”tanyanya yang aku jakin hanya bergurau
            “Au’ ah gelap.”jawabku ngasal
            “Dadaaaaaaaaa.......”teriaknya yang tanpa ya-yi-yu-ye-yo langsung ngacir keluar trenyuh ati iki ndelok kedadean koyo ngono.
***
            Jika tanggal 14 Mei 2009 aku bertemu dengan Radit tanggal 28 Agustus 2009 akhirnya aku resmi menjadi kekasih Radit. Banyak problema yang menerjang hubungan kami tapi kami yakin kami mampu tuk tetap tenang. See, kami masih langgeng. Tapi mungkinkah suatu saat hubungan kami di uji karena kekuranganku?
            Di saat aku asyik merenung HP ku malah menyanyi dengan nyaringnya. Ku lihat layar handphoneku. Radit. Akhirnya ku jawab telepon itu.
            “Assalamualaikum?”
            “Waalaikumsalam. Says kesini dongs!!”pintanya penuh harap sekaligus maksa
            “Kemana?”tanyaku aras-arasan
            “Ke depan rumahmu!”jawab Radit penuh semangat
            “Iya deh.”kataku akhirnya. Yes!Aku mengalah. Malam-malam pukul 11 malam pacaran di depan rumah?Apa kata tetangga? Radit terlihat berbeda. Baru kali ini (kecuali kalau di ajak kondangan) aku melihat Radit mengenakan kemeja walaupun tetap saja di setia pada celana jins buluknya yang jarang ia cuci. Radit terlihat cengir lebih lebar dari pada biasanya
            “Pasti ada apa-apanya.”batinku penuh keyakinan
            “Ikut aku yuk?”ajaknya langsung menggandeng tanganku. What? Gila ni bocah! Dia keliatan keci gitu sih enggak apa-apa. Lha aku? Coba kita lihat dari atas kebawah. Aku hanya memakai jilbab yang asal samber berwarna merah, kaus dengan warna krem dan cardigan hijau, dan oow...aku masih memakai celana tidur biru kesayanganku. Dan apalagi ini?Aku memakai sandal jepit kedodoran!Dan aku yakin Radit tidak akan memperbolehkan aku dandan meskipun hanya 15 menit.
            “Ganti baju dulu ya?”usulku
            “Enggak usah.”ujarnya sambil mencekeram tanganku kuat-kuat. Apa aku bilang? Egois! Radit langsung menarikku menuju vespa kesayangannya. Kurang cinta apalagi aku? Walaupun tampil ancur-ancuran gini tetap saja aku rela mengikutinya pergi.
            Lumayan lama perjalanan ke tempat yang dituju Radit. Setelah vespa Radit berhenti mengeluarkan suara aneh aku langsung geleng-geleng seperti orang disko. Bayangkan Radit mengajakku ke Cafe yang romantissssssssss bangetttttttttttttttttttttttttttt! Oh, God!!!!! Help me!!!!!!!!!!!!!!!!
            “Ayo masuk!”ajak Radit tanpa sedikit pun terganggu oleh penampilanku
            “Tapi masak aku pake baju kayak gini?”tanyaku sedikit gemas pada orang ini. Kenapa cueknya keterlaluan sih?
            “Udah lah enggak apa-apa.”jawabnya santai seraya menarikku masuk. Enggak usah ditanya! Disini aku menjadi tontonan yang mungkin menurut mereka menarik. Akhirnya Radit memilih tempat duduk yang agak ke pojok.
            “Mau ngapain sih, says?”tanyaku dengan wajah bersungut-sungut
            “Eee....3 hari lagi aku mau ngeliput perang antar warga di Timika...”ucapnya perlahan
            “Perang?Enggak!”ujarku tegas
            “Tapi ini Cuma perang kecil di kota kecil kamu jangan jadi kayak anak kecil dong!”timpalnya mulai memanas
            “Iya. Tapi ini perang Radit. PERANG!”seruku tetap keukeuh tidak memperbolehkan
            “Ini Cuma pertengkaran kecil. Enggak kayak Irak dan Iran, Israel sama Palestina! Enggak pake bom!”tegasnya mulai mengeras
            “Aku enggak pingin kamu kenapa-napa! Entar yang kawin sama aku siapa?”tanyaku berusaha membuat Radit berubah pikiran.
            “Percaya deh aku enggak bakal kenapa-napa!”jawabnya tetap saja ngeyel pada pendapatnya. Tuhan!!! Gimana ini? Bantu aku Tuhan.
            “Istikharah sambil sholat Tahajud dulu deh!”usulku
            “Jadi intinya kalau Tuhan mempersilahkan aku ngeliput berita ini aku boleh pergi kan?”tanyanya dengan berbinar-binar. Aku hanya bisa mengangkat bahu. Pasrah.
            “Tapi kamu enggak boleh kenapa-napa ya?Jangan selingkuh. Jangan sampe kamu hilang ingatan terus diselametin cewek akhirnya kalian pacaran, tunangan, nikah! No way!”pesanku lebih panjang daripada jembatan Suramadu.
            “Kayak sinetron aja!”candanya mulai mencair. Aku mengalah. Yang penting Radit seneng. Tuhan jaga dia!!
***
            Hari ini hari keberangkatan Radit. Kenapa aku malah jadi nervous? Ini bukan sidang kelulusan! Apakah ini yang namanya Felling not good? Pesawat Radit akan berangkat 15 menit lagi dan dia baru saja akan boarding. Sungguh keterlaluan anak itu! Kelewat santai. Dan inilah saat-sat paling mengharukan, saat dia akan meninggalkan kami. Aku mendapat kesempatan terakhir untuk menyampaikan pesan-pesan kepada Radit. Setelah Orang-orang terdahuluku selesai akhirnya tiba giliranku.
            “Disana jangan cari selingkuhan ya!”pesanku singkat. Dia hanya nyengir saja, tapi aku tahu dari matanya terlihat bahwa dia sedih. Akhirnya pesawat Radit benar-benar berangkat. Dan akankah Radit akan pulang seminggu lagi seperti janjinya?
            “Ya Allah, Ya Tuhan ku...Jagalah Kim Raditya ku di kota orang.”do’a ku dalam hati. Aku yakin Radit pasti pulang.
***
            Sudah 1 minggu lebih Radit pergi ke kota orang. Tapi kontak denganku saja tidak. Mungkinkah terjadi sesuatu pada Radit? Ku sambar koran yang ada didepanku untuk menghilangkan penatku. Tetapi..Astaga!! ‘16 Reporter Terluka dalam Peliputan Rusuh di Timika, 2 Meninggal’ itulah judul berita utama hari ini. Mungkinkah itu Radit? Sekarang jam 10.30, segera aku ambil air wudhu untuk sholat Dhuha dan berdoa kepada Allah untuk keselamatan Radit.
            Sorenya aku pergi ke cafe tempat Radit pamit kepadaku. Aku suka tempat ini. Sunyi. Seonggong Sirloin steak dan Cappucino milkshake telah terhidang dihadapanku. Ini adalah makanan dan minuman favorit Radit, yang aku harap bukan Alm.Radit. Ketika sedang siap-siap memakan steak ku kulihat sosok tinggi yang mirip sekali dengan Radit. Apakah itu Radit? Tidak perlu dipertanyakan lagi, itu Radit. Radityatama Prakoso dengan seorang cewek yang tinggi mugkin akibat sepatu haknya dan dia hanya memakai dress mini. Apakah iman Radit sudah tergoyah karena cewek ini? Apakah Radit sudah tidak menyukai cewek berjilbab?
            “Radit!!”panggilku sedikit berteriak. Radit menengok ke arahku mencari orang yang memanggilnya. Ketika melihatku dia malah nyengir kuda seperti biasanya. Bukannya salting udah ketahuan selingkuh malah melambai kearahku.
            “Gita!Sini!”Ya Allah, dia malah memanggilku. Aku menururutinya.
God! cewek itu malah menggenggam mesra lengan Radit. “Says, kenalin ini..” ketauan selingkuh masih manggil sayang?
            “Bener-bener ya kamu! Katanya apa? Enggak bakalan nyari selingkuhan!”potongku sebal. Kebetulan ada Ice Lemon Squash di dekatku ingin ku siram tapi enggak tega. Akhirnya ku urungkan niatku itu.
            “Tapi ini..”ujarnya mencoba menjelaskan
            “Udah deh! Selingkuh tetep aja selingkuh! Tapi lain kali kalo nyari selingkuhan yang bener dong!”lagi-lagi aku memotong bicaranya. Segeraku sambar tasku dan meninggalkan cafe itu.
            “Mbak tunggu!!”tiba-tiba penjaga cafe memanggil-manggil. Aku pun berhenti.
            “Bayar dulu, Mbak!”ingat penjaga cafe sambil ngos-ngosan berusaha mengatur nafas. Alamak!!! Kenapa sekarang? Kenapa didepan Radit dan selingkuhannya? Selingkuhan Radit tampak mesem-mesem sendiri. Segera kubayar makananku tadi dan segera meninggalkan cafe sialan itu.
            Sesampainya dirumah aku segera berlari untuk mengurung diri dikamar. Teriakan mama sama sekali tidak kugubris. Moodku sedang kacau. Dikamar aku menangis sejadi-jadi nya. Setelah sekian lama aku setia, menutup mataku untuk semua cowok cakep yang mencoba mendekatiku tapi diujung pacaran (karena berencana ingin menikah) Radit malah selingkuh? Karena terlalu banyak menangis aku menjadi mengantuk dan tertidur. Lama aku tertidur, bangun pun karena ada seseorang yang ketok-ketok kamarku. Siapa gerangan? Kalau Mama atau Kak Cita pasti sudah langsung njelundus masuk tanpa permisi. Aku baru ingat bahwa kamarku kukuci rapat-rapat sebelum tidur. Segera kubuka pintu kamarku, ternyata Mama.
            “Dicari Radit didepan.”ujar Mama memberi pengumuman
            “Males ah!Bilang aja aku lagi tidur.”jawabku santai
            “Kalo ada masalah sama Radit jangan Mama dong yang jadi tumbal di suruh bo’ong yang dosa ya Mama.”elak Mama panjang
 

            “Udah?”tanyaku cuek bebek. Segera aku masuk dan kututup rapat-rapat . Baru kali ini aku sedikit kurang ajar pada Mama. Tapi aku tidak mau bertemu Radit. Paling tidak, tidak untuk sekarang. Tiba-tiba HP ku berbunyi tanda ada SMS masuk


Date :13 June 2010

Gita, keluar dong masa pacar baru pulang ngeliput perang enggak di temuin?

From : Kim Raditya


            Ada 47 SMS serupa yang masuk ke handphoneku dan juga ada 34 misscall. Handphoneku tiba-tiba berdering lagi. Radit. Enggak ada kapok-kapoknya juga ya? Saking sebalnya handphoneku sampai ku non aktifkan. Daripada bete akhirnya aku memutuskan untuk membuka twitter dan facebook. Siapa tahu nemu jodoh baru.
            Tapi apa-apaan ini? Radit telah mengirim banyak message yang intinya aku salah paham. Salah paham gimana? Jelas-jelas dia ke gap selingkuh bukan salah paham.
***


            Sudah hampir 1 minggu aku nyuekin semua SMS, telpon, message, bahkan e-mail walaupun setiap saat dia tetap mengirimiku. Pagi ini, tanggal 19 Juni 2010 aku bangun dngan bugar. Baru jam 06.30 saja aku sudah mandi dan sempat dandan. Tiba-tiba terdengar parade. Perasaanku hari ini tidak ada karnaval.
            “Bikin jus mangga dikasih mengkudu
              Lama bikinnya enggak kelar-kelar
              Wahai Gita cantik oh sayangku
              Ku mohon dirimu mau keluar”teriak orang dibawah sana disambut musik parade yang membahana. Ku intip orang setengah sinting itu. Ternyata dia.....Radit. Segera aku berlari menuruni tangga untuk menemuinya. Untung saja aku sudah mandi dan dandan biar enggak malu-maluin.
            “Beli baju di Nusa Dua
              Jadi bingung milih baju
              Eh abang ini siapa
              Teriak-teriak melulu”balasku. Sebenarnya aku enggak tahu dapet kata-kata dari mana.
            “Gita, aku mau ngomong sama kamu.”serunya tanpa basa-basi
            “Mau ngapain? Ngenalin pacar baru?”tanyaku sok judes
            “Bukan, Git! Kamu bener-bener salah sangka!”tegas Radit. Dia terlihat mengayunkan tangan kepada seseorang. Aku enggak heran kalo yang dipanggil adalah cewek yang kemarin di cafe.
            “Hai!Saya Katie saudara Radit dari California. Jadi kita belum pernah bertemu saya maklum kamu marah waktu di cafe.”ujar orang yang katanya bernama Katie itu. Memang wajahnya terlihat western. Dan logatnya memang bukan Indonesia.
            “Tunggu sebentar ya!”ujarku lalu masuk rumah. Seingatku Radit pernah memberiku foto saudaranya yang ada di California tak lama foto itu kutemukan. Langsung aku meluncur menuju keluar. Kuamati orang difoto dan Katie
            “Mirip. Maaf ya soal yang di cafe wajarlah kalo aku cemburu.”ujarku
            “No problem. Itu wajar kok.”timpalnya sambil tersenyum manis “So, selamat bersenang-senang.”serunya seraya meninggalkan halaman rumahku bersama para pemain musik itu.
            “Jadi dimaafin kan?”tanya Radit tiba-tiba. Aku hanya mengangguk sambil nyengir kelinci
            “Tapi kamu harus gendong aku dari sini ke taman trus balik kesini lagi.”tantangku.
            “Boleh!”jawab Radit sambil mengangkatku. Kembalilah kami menjadi Radit dan Gita yang selalu merasa dunia milik berdua.
***
            Tanggal 29 Oktober 2010. Hari ini adalah hari bersejarah untukku. Yeah, aku akan ijab kabul. Dari tadi Mama dan Ibunya Radit sudah menangis sesenggukan. Entah tangis bahagia atau tangis sedih karena kehilangan. Dan inilah saatnya. Saat paling mendebarkan. It’s show time!
            Aku tidak berani mendengarkan semua ini. Aku memejamkan mata untuk menenangkan pikiranku. Tiba-tiba terdengar suara disebelahku. Suara Radit, calon suamiku yang mungkin beberapa menit lagi sudah resmi menjadi suamiku.
            “Saya terima nikahnya, Zaskya Gitaclara binti Andika Nugraha Priambudi dengan mas kawin seperangkat alat sholat beserta uang sebesar 3 juta 7 raus ribu dibayar tunai.”ucap Radit secara khusyuk.
            Terdengar suara orang-orang mengatakan ”sah”, dan itu pertanda aku adalah istri dari Bapak Radityatama Prakoso dan saya adalah Ibu Raditya. Radit benar-benar anugrah terindah dari Tuhan setelah Mama, Papa, dan Kak Cita tentunya.
            Thanks God! Thanks for your gift and opportunity that yuo have given for me. I’m promise won’t be useless it. And I hope you always take care and bless me. My live is very perfect for me. Once again I say thanks  for you God!!I love my live.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar