Aku mulai menangis...
mengingat kamu...
mengingat perjuanganku untukmu...
Airmata itu mulai mengalir
Saat kutahu kau hanya anganku...
Saat kutahu kau miliknya
Buliran airmata mulai jatuh
Ketika kita mulai jauh
Ketika aku merasa tak sanggup lagi menggapaimu
Airmata itu perlahan kuseka
Airmata yang ia tak dapat melihatnya
Airmata yang tak ia rasakan
Lalu untuk apa aku menangisinya?
Biar saja dia jauh
Biar saja dia bukan milikku
Menangisinya hanya membuang waktu
Lebih baik tersenyum untuk kebahagiaannya
music box
Kamis, 28 Juni 2012
Minggu, 24 Juni 2012
lirik Its Gonna be Okay! - iSKUL9
kalau kamu lagi galau
jangan risau
it’s gonna be okay!
langkahkan kaki ke depan dan sahabat dan teman
semuanya kan datang karena
bersama kita bisa kawan untuk menghadapi rintangan dan gelapnya malam
karena harapan di dalam hatimu berteriak kencang di dalam sanubariku
bersabar dan ikhlaskan saja dan bersama kita bisa itu janjiku
Santai.....
ikhlaskan semua yang sakit
santai.....
Semua berakhir dengan baik
dan apa yang terjadi maka terjadilah melihat masa depan
penuh warna dan kisah...
kalau kamu lagi galau
jangan risau
it’s gonna be okay!
they could never break me down,climb up higher
let us light your spirits and ignite that fire
karena kau tak sendirian dan pandangan rendah yang mereka berikan
tak ada artinya, ayo kita buktikan
tekanan mereka hanya bentuk berlian
bersatu kita teguh, bata
bercerai kita runtuh, galau , galau
jangan risau
it’s gonna be okay!
langkahkan kaki ke depan dan sahabat dan teman
semuanya kan datang karena
bersama kita bisa kawan untuk menghadapi rintangan dan gelapnya malam
karena harapan di dalam hatimu berteriak kencang di dalam sanubariku
bersabar dan ikhlaskan saja dan bersama kita bisa itu janjiku
Santai.....
ikhlaskan semua yang sakit
santai.....
Semua berakhir dengan baik
dan apa yang terjadi maka terjadilah melihat masa depan
penuh warna dan kisah...
kalau kamu lagi galau
jangan risau
it’s gonna be okay!
they could never break me down,climb up higher
let us light your spirits and ignite that fire
karena kau tak sendirian dan pandangan rendah yang mereka berikan
tak ada artinya, ayo kita buktikan
tekanan mereka hanya bentuk berlian
bersatu kita teguh, bata
bercerai kita runtuh, galau , galau
lirik Mimpi - Willy Winarko feat. Niu-Niu
Kusering bermimpi jadi peri
Terbang ke langit biru yang tinggi
Berjalan di atas awan putih
Seberangi langit dengan pelangi
Bawa cahaya di malam hari
Beri cinta setulus hati
Terangi dunia gelap ini dengan sinarnya
Yang takkan pernah mati
Permisi.. bolehkah aku bercerita
Jalan untuk keluar dari dalam realita
Hari esok yang indah, dan mungkin lebih baik
Bebas dari pikiran dan perasaan yang sakit
Kutatap buku dan selalu kupikirkan
Apa yang datang besok yang selalu ku inginkan
Kata-kata berubah dalam khayalan
Melamun tuk sejenak dan kukosongkan pikiran
over the rainbow i’m past the clouds
you see i wanna be a rapper that’s rocking crowds
yeahi could be a kweli or az
i used to think i just wanna be a jay z
let’s play this life like a video game
i’ll have assasins creed of rap in my name
you see i’m in my final fantasy i wanna be a tidus
i wanna be the best, yeah i wanna be the tightest
kusering bermimpi jadi peri
terbang ke langit biru yang tinggi
berjalan diatas awan putih
seberangi langit dengan pelangi
bawa cahaya di malam hari
beri cinta setulus hati
terangi dunia gelap ini dengan sinarnya
yang takkan pernah mati
terkadang kubermimipi tuk jadi pahlawan
sembuhkan rasa sakit yang pernah engkau rasakan
di belakang kelasku berkhayal di pikiran
menjadi power ranger, satria baja hitam yo
Mr. teacher let me day dreamplease
in the back of the class with my dragon ball
with my jappanese animes all in the box
i’m trigun superman, taking a shot
tune in to my super harajuku rap
mixed that with a super kamehameha
and when ur done,then u gonna get me
i’m an over 9000 super saiyan Mc
this must be the life that they dreamed in
i wish its the live that i lived in
this must be the life that they dreamed in
i wish its the live that i lived in
kusering bermimpi jadi peri
terbang ke langit biru yang tinggi
berjalan diatas awan putih
seberangi langit dengan pelangi
bawa cahaya di malam hari
beri cinta setulus hati
terangi dunia gelap ini dengan sinarnya
yang takkan pernah mati
Terbang ke langit biru yang tinggi
Berjalan di atas awan putih
Seberangi langit dengan pelangi
Bawa cahaya di malam hari
Beri cinta setulus hati
Terangi dunia gelap ini dengan sinarnya
Yang takkan pernah mati
Permisi.. bolehkah aku bercerita
Jalan untuk keluar dari dalam realita
Hari esok yang indah, dan mungkin lebih baik
Bebas dari pikiran dan perasaan yang sakit
Kutatap buku dan selalu kupikirkan
Apa yang datang besok yang selalu ku inginkan
Kata-kata berubah dalam khayalan
Melamun tuk sejenak dan kukosongkan pikiran
over the rainbow i’m past the clouds
you see i wanna be a rapper that’s rocking crowds
yeahi could be a kweli or az
i used to think i just wanna be a jay z
let’s play this life like a video game
i’ll have assasins creed of rap in my name
you see i’m in my final fantasy i wanna be a tidus
i wanna be the best, yeah i wanna be the tightest
kusering bermimpi jadi peri
terbang ke langit biru yang tinggi
berjalan diatas awan putih
seberangi langit dengan pelangi
bawa cahaya di malam hari
beri cinta setulus hati
terangi dunia gelap ini dengan sinarnya
yang takkan pernah mati
terkadang kubermimipi tuk jadi pahlawan
sembuhkan rasa sakit yang pernah engkau rasakan
di belakang kelasku berkhayal di pikiran
menjadi power ranger, satria baja hitam yo
Mr. teacher let me day dreamplease
in the back of the class with my dragon ball
with my jappanese animes all in the box
i’m trigun superman, taking a shot
tune in to my super harajuku rap
mixed that with a super kamehameha
and when ur done,then u gonna get me
i’m an over 9000 super saiyan Mc
this must be the life that they dreamed in
i wish its the live that i lived in
this must be the life that they dreamed in
i wish its the live that i lived in
kusering bermimpi jadi peri
terbang ke langit biru yang tinggi
berjalan diatas awan putih
seberangi langit dengan pelangi
bawa cahaya di malam hari
beri cinta setulus hati
terangi dunia gelap ini dengan sinarnya
yang takkan pernah mati
Jumat, 22 Juni 2012
Cinta Satu Hari
Cast :: iSKUL9 (Tamara, Anggara, Dycal, Kevin, Gege, Willy, Alia, Claresta, Puspa) + Bayu, Ujang, Budi, Suster, Dokter
Genre :: teenlite (romance+sad)
Author :: Assyifa Widiastomo :D
Tamara Tyasmara adalah nama kesayanganku. Tapi
kalian cukup memanggilku Ara saja. Sekarang ini aku baru duduk dibangku kelas 2
SMP. Aku hidup dikelilingi oleh orang-orang yang sayang kepadaku. Kedua orang
tuaku, sahabat, dan.... Ohya aku punya seorang sepupu laki-laki yang tinggal
dirumahku karena dia telah kehilangan keluarganya dalam kecelakaan bus sekitas
4 tahun silam. Dan yang membuatku paling bahagia saat ini adalah Amdycal
Siahaan, pacarku tersayang.
***
Dengan terburu-buru aku turun dari motor 75 Kevin.
Ya, setiap hari aku selalu berangkat dan pulang sekolah bersama sepupuku yang
satu ini. Seperti siang ini saat hujan turun dengan lebatnya dengan cepat aku
turun dari motornya dan bergegas masuk rumah.
”Oi’ bantuin dong!”teriak Kevin yang sedang
kesulitan membuka pintu pagar yang tadi aku buka asal-asalan saja.
”Besok-besok aja ya, Kev.”balasku berteriak dan
berlari meninggalkankan Kevin dan motor 75 nya yang masih mengeluarkan asap
knalpot yang mengepul.
Aku memasuki sebuah kamar berpintu putih. Kamar yang berukuran 3 meter x 4 meter dengan cat berwarna biru
muda. Ada sebuah tempat tidur personal di pojok kiri dengan banyak boneka
stitch di sekeliling tempat tidur juga bantal beberbentuk hati yang cukup besar
pemberian dari Dycal. Inilah
tempatku bersemayam disetiap waktu longgarku. Yaps! Ini kamar tidurku.
Aku membuang tas ranselku begitu saja kelantai.
Dengan langkah malas-malasan aku berjalan ke tempat tidurku dan langsung
merebahkan diri disana. Tiba-tiba si slonong boy alias Kevin masuk ke dalam kamarku tanpa permisi.
”Kevin!!!!!!! Permisi dulu kek!”seruku sebal
seraya melempar boneka stitchku ke arahnya.
”Eits! Santai, Sis.”dengan cekatan Kevin menangkap
boneka milikku. ”Ada yang aku mau omongin ke kamu.”lanjut Kevin setelah duduk di
kasurku.
”Apa?”tanyaku.
”Teman aku ada yang suka tuh sama kamu.”Kevin
memulai notification nya.
”Aku udah punya pacar.”tukasku cuek.
”Siapa?”tanya Kevin sedikit nada kecewa. Mungkin
karena dia merasa gagal menjadi mak comblang.
”Dycal.”jawabku singkat.
”Dycal yang satu angkatan sama aku?”tanya Kevin
lagi. Ohya, Kevin memang satu angkatan di atasku. Dia sekarang kelas 3 SMP. Aku
hanya mengagguk mengiyakan.
”Satu tim sepak bola dong sama Anggara?”tanya Kevin
sekaligus memberitahuku.
”Anggara yang kadang ponian kadang jambulan enggak jelas itu?”aku balik
bertanya untuk memastikan.
”Betul! Dia suka lhoh sama kamu.”goda Kevin membuatku sebal.
“Emang gue pikirin?! Udah keluar kamu
dari kamarku!”aku mendorong tubuh Kevin dari belakang agar ia segera keluar
dari kamarku. Setelah memastikan Kevin keluar dari kamarku, aku membanting
pintu kamarku dengan kasar lalu berjalan ke arah kasur lalu merebahkan diri
kembali ke atas kasur melanjutkan tidur siangku yang tadinya sempat tertunda.
***
Hari ini diadakan pertandingan sepak bola antar
sekolah. Dycal adalah salah satu pemainnya. Pemain bernomor punggung 13 yang
sedang berlari mengejar bola. Pertandingan kali ini berjalan sangat alot. Timer
menunjukkan waktu telah berjalan 79 menit 34 detik, tapi score masih seri 3-3. Dycal berhasil menyumbangkan 2 gol dan yang
satu gol lagi entah siapa aku tidak begitu kenal tapi aku lihat dari kaosnya,
namanya Gege.
3 kali peluit dibunyikan wasit pertanda
pertandingan telah berhenti dengan score
seri, 3-3. Ke-22 pemain keluar lapangan dengan lesu karena tidak berhasil
memenangkan pertandingan kali ini.
Aku menunggu Dycal berganti pakaian sekaligus
diceramahi oleh pelatih tim sekolah kami karena tidak bisa menang
dipertandingan hari ini. Cukup lama menunggu Dycal akhirnya pemain-pemain sepak bola itu keluar,
Dycal berada di antara mereka.
”Cus...”kata Dycal mengajakku pergi.
”Ke mana?”tanyaku untuk memastikan.
”Ke manapun kamu mau. Aku pasti ikut.”ujarnya
membuatku semakin klepek-klepek.
”Ahh!! Gombal terus!!”seruku. Dycal tertawa pelan,
dia mencubit hidungku yang kata dia pesek ini. Dycaly selalu mencubit hidungku
katanya agar semakin lama hidungku jadi mancung.
Ternyata ada seorang pemain yang baru keluar dari
kamar ganti. Dia Anggara. Anggara terlihat aneh, mukanya terlihat pucat.
Jalannyapun pelan sekali, juga sedikit tertatih.
”Cal, kak Anggara kenapa tuh?”tanyaku. Dicky
mengeryit memperhatikan Anggara.
”Ngga, kamu kayaknya lagi enggak enak badan. Mau aku
antar pulang?”Dicky sedikit berteriak karena jarak Anggara sudah cukup jauh. Anggara
membalikkan badannya. Dan menatap Dycal dengan aneh.
”Aku enggak apa-apa kok, Cal. Aku bisa pulang
sendiri. Kasian cewek kamu kalo kamu tinggal buat nganter aku pulang.”jawab Anggara
seraya berjalan pelan kembali. Dycal mengedikkan bahu, heran dengan kelakuan Anggara.
Langkah Anggara semakin tidak karuan. Langkahnya
melemah dan tidak menentu arahnya. Pada akhirnya Anggara berhenti. Tangan
kanannya memegang kepalanya. Entah mengapa. Saat dia mencoba melangkah, Anggara
malah terjatuh kelantai. Anggara pingsan!
“Cal, Cal kak Anggara, Cal.”aku panik bukan main.
Bagaimana tidak? Aku ada ditempat kejadian! Dengan sigap Dycal berlari ke arah
tempat jatuh pingsannya Anggara.
“Ayo cepetan kita bawa Anggara ke rumah
sakit.”ujar Dycal yang masih ribet memangku kepala Anggara agar kepalanya tidak
terbentur lantai lebih keras lagi.
“Kita??”tanyaku sedikit memprotes. Setahuku Dycal
kesekolah menggunakan sepeda motor, masa iya ke rumah sakit bertiga?
“Udahlah, Ra kalo ada moment polisi pasti polisinya juga ngerti. Ini darurat!! Kalo
enggak cepet mungkin aja ada yang lebih buruk daripada ini.”tukas Dycal seperti
bisa membaca apa yang ada dipikiranku.
Dycal akhirnya bersusah payah menggendong Anggara
sampai ke parkiran motor. Dengan penuh perjuangan dibantu dengan tukang parkir
yang ada disitu kami berhasil menaikkan Anggara dan menata tempat duduk kami
agar Anggara tidak merasa sesak walaupun sedang tak sadarkan diri sekarang.
Dengan kecepatan penuh Dycal mengarahkan motornya ke rumah sakit terdekat.
Setelah Anggara ditangani para dokter dan suster
di Unit Gawat Darurat aku dan Dycal menunggu dengan gelisah di sebuah Ruang
tunggu.
”Kita contact siapa nih, Cal?”tanyaku yang masih
panik.
”Duhh aku enggak begitu deket sama Anggara. Aku
enggak punya nomor handphone keluarganya.”ujar Dycal dengan gusar.
”Sahabatnya?”tanyaku penuh harap.
”Betul! Gege sama Willy pasti bisa bantuin.”tanpa
banyak bicara lagi Dycal menelepon sahabat-sahabat Anggara yang tadi ku dengar
namanya Gege dan Willy.
Tak lama datanglah 2 cowok yang pernah aku temui. Gege,
ternyata dia yang tadi berhasil mencetak 1 gol untuk sekolah kami. Sedangkan Willy
dia yang tadi pagi menjadi komentator bersama seorang cewek bernama Alia.
”Anggara kenapa, Cal?”tanya Willy dari raut
wajahnya terlihat dia sangat cemas.
”Aku juga enggak tahu. Tadi
tiba-tiba dia pingsan gitu aja. Kalian bisa bantu telepon keluarganya supaya
datang kesini kan?”pinta Dycal yang masih belum bisa tenang semenjak tadi.
“Dia tinggal sendirian di sini.
Semua keluarganya tinggal di Garut.”jawab Gege. Tiba-tiba dokter dengan tubuh
yang kurus tinggi berlari kearah kami.
“Saya butuh bicara dengan salah
seorang keluarga saudara Anggara. Ini penting sekali.”perasaanku semakin tidak
enak. Pasti terjadi sesuatu dengan Anggara.
“Keluarganya enggak ada disini, Dok.
Tapi kami bisa menggantikannya.”ujar Willy. Dokter tersebut terdiam sejenak.
“Ya sudah. Ayo, ikut saya.”ucapnya
akhirnya. Sang dokter
berjalan menuju sebuah ruangan dengan sedikit tergesa. Aku dan Dycal menunggu
mereka keluar dengan hati yang kacau balau. Sedikit-sedikit melihat jam di handphone.
Hampir 10 menit Willy dan Gege keluar dari ruangan tersebut.
”Kenapa, Wil?”tanya Dycal dengan segera. Tidak ada
jawaban dari Willy. Gege pun tidak mau menjawab.
”Enggak terjadi apa-apakan ke Kak Anggara?”tanyaku
dengan pelan.
”Kanker liver primer.”ucap Gege. Dia menyandarkan
tubuhnya ke tembok.
”Aku bodoh banget enggak peka sama perubahan Anggara.”desah
Willy menyesalkan sikapnya. ”Kulitnya semakin lama semakin menguning. Keadaan
jelas kayak gitu aku bisa dibodohin sama omongan Anggara kalo itu efek berjemur
yang gagal. Dan aku malah ketawa saat itu!”Willy memaki dirinya sendiri.
”Kalo lagi kumpul-kumpul dia sering menggigil
sendiri. Kata dia itu cuma
flu biasa. Aku bukan temen yang baik buat Anggara.”Gege tidak berhasil menahan
laju airmatanya.
“Pantes. Kalo lagi latihan dia gampang capek. Kenapa dia enggak jujur aja.”timpal
Dycal pelan.
“Tapi kak Anggara bisa sembuh
kan?”tanyaku was-was.
“Bisa sih.”jawab Gege.
“Tapi kecil kemungkinannya. 85%
kemungkinan dia enggak bisa bertahan hidup.”Willy melanjutkan ucapan Gege.
“Kata dokter hidupnya enggak lama lagi. Cuma 7 hari. Karena ternyata penyakit ini
udah lama. 2 tahun sudah...”cerita Gege terduduk lesu dilantai.
”Kak! Yang nentuin umur manusia itu Tuhan bukan
dokter. Kalo Tuhan masih berkehendak kak Anggara hidup pasti akan ada
perpanjangan dari Tuhan, Kak.”protesku dengan menggebu-gebu. Tidak ada jawaban dari siapapun. Hanya
terdengan suara tangis yang tertahan. Aku miris melihat kedua sahabat Anggara.
”Tuhan, sembuhkan kak Anggara untuk mereka
Tuhan..”do’aku di dalam hati.
***
Aku melangkah keluar kelas bersama beberapa teman
dekatku. Kanker liver primer
yang diidap Anggara sedang menjadi trending
topic disekolahku. Sedikit-sedikit menggosip tentang Anggara. Aku sendiri
sampai bosan menjawab pertanyaan yang silih berganti dari mulut teman-temanku.
”Jadi kamu beneran lihat dengan mata kepala kamu
sendiri kejadian kemarin?”tanya Claresta untuk yang kesekian kalinya. Aku hanya
mengangguk malas-malasan.
”Terus kamu enggak ngasih nafas buatan gitu?”tanya
Puspa membuat tanganku yang tadinya diam saja jadi mencubit lengannya dengan
emosi yang tinggi.
”Sembarangan aja kalo ngomong.”sentakku sebal.
”Ihh padahal badannya Anggara sama Dycal gedhean Anggara
kemana-mana. Kuat banget si Dycal?”puji
Alia yang menurutku juga sindiran.
”Katanya Anggara suka ya sama kamu? Katanya kalo
orang yang sakit keras dicintai sama orang yang ia cintai pasti lebih mudah
sembuhnya.”ujar Puspa membuatku terdiam sejenak.
”Tapi aku enggak suka sama Anggara.”jawabku.
”Kamu coba dulu. Kalo kamu bisa bantu dia dengan
sepenuh hati kamu pasti lama-lama cinta itu bakal tumbuh dengan
sendirinya.”bujuk Alia.
”Terus Dycal gimana?”tanyaku spontan.
”Kak Dycal pasti bisa ngerti kok. Walaupun berat,
aku tahu kak Dycal pasti enggak tega lihat temennya terbaring lemah enggak
berdaya di rumah sakit kayak gitu. Dan kamu harus ingat kak Dycal masih bisa
ngerasain yang namanya cinta. Tapi kak Anggara? Kemungkinan sembuh kecil banget
kan?”Claresta bermonolog panjang dengan penuh perasaan. Aku menggeleng lemah.
Tidak ingin meninggalkan Dycal.
”Ra, ikut aku.”Kevin tiba-tiba menarik tanganku. Langkahnya begitu tergesa-gesa
membuatku harus berlari kecil untuk mengikutinya. Kevin menghentikan langkah
kakinya di sebuah lapangan kecil di sebuah tempat yang jarang penduduknya.
Sudah ada Gege, Willy, dan Dycal yang terlihat tak sabar menunggu kami disana.
Raut wajah terlihat murung. Aku semakin bertanya-tanya. Ada apa ini?
“Kita langsung aja kali ya, Ra.”ujar
Willy ketika aku sudah berdiri di sebelah Dicky. “Hmm... Kita mau kalo kamu
cintai Rangga. Walaupun cuma sebentar.”Willy menjelaskan maksud diculiknya aku
kesini.
”HA?”seruku kurang mengerti maksud mereka. Tidak
mungkin aku bisa meninggalkan Dycal hanya demi Anggara walaupun dia sedang
sakit keras.
”Cuma sebentar, Ra. Kamu tahu kan umur Anggara
enggak lama lagi?”tanya Willy membuatku terdiam. Haruskah aku melakukannya?
”Kami cuma mau lihat Anggara bahagia di saat-saat terakhirnya.”lanjut Willy
semakin membuatku tak berdaya untuk berucap.
”Tapi kan...”ucapan ku terpotong ketika Dycal
mengalungkan tangannya ke pundakku.
”Aku enggak mungkin bisa bahagia lihat Anggara
kaya gitu. Kamu pasti bisa bikin sisa hidupnya jadi berarti untuk dia.”ucap Dycal
membuatku terdiam kembali. ”Please, Ra. Aku mohon dengan sangat.”bujuk
Dycal kembali seraya menggenggam kedua tanganku. Sulit untukku memutuskan. Ada
perasaan ingin membantu Anggara tapi rasanya sulit untuk aku meninggalkan Dycal.
Aku menghela nafas panjang.
”Bakalan aku coba.”desahku pelan berharap ini
adalah keputusan yang benar.
”Makasih, Ra.”ujar Gege.
Setelah rapat itu selesai aku pulang bersama Kevin.
Ditengah perjalanan pulang handphoneku bergetar. Ternyata itu sms dari Dycal.
Yang isinya:
”Jalani
semua ini dengan senyuman :). Jangan kecewain siapapun disini. You can
do it, my sweety :). I will miss you :*.
Aku menghela nafas setelah membaca
sms Dycal. Dycal terlalu perhatian kepadaku. Yang seperti ini membuatku semakin
membuatku susah meninggalkan Dycal.
***
Tepat pukul 8 pagi aku sudah berdiri di depan rumah
sakit tempat Anggara dirawat. Aku akan mencoba mengindahkan hari Anggara.
Semoga saja semua berjalan sebagaimana mestinya. Dan semoga saja misi kami
semua berhasil. Anggara bisa sembuh seperti dulu.
Aku berjalan menyusuri lorong-lorong rumah sakit. Mencari
kamar ICU nomor 19. Tak lama aku sudah berhasil manemukannya. Aku intip dari
luar kamar yang dihuni Anggara. Ternyata dia sudah bangun dari tidurnya. Aku
memasuki kamar tersebut dengan perlahan.
“Hai, Kak.”sapaku. Anggara tersenyum ketika
melihat kedatanganku.
“Ara?”tanyanya kaget bercampur senang.
”Maaf ya, Kak baru bisa jenguk sekarang. Kemarin-kemarin
sekolahnya padat sampai sore.”aku berbasa-basi sebentar.
”Enggak apa-apa kok, Ra.”ujar Anggara. Aku duduk
disebuah kursi desebelah ranjang Anggara.
”Udah sarapan, Kak?”tanyaku denagn masih nervouse.
”Udah.”jawab Anggara. Aku tidak tahu harus
bertanya apa lagi. Lama kami berdiam diri. Membuat kamar rumah sakit ini
menjadi sunyi senyap.
”Eh, Ra antar aku keluar ya.”pinta Anggara
tiba-tiba.
”Ke mana, Kak?”tanyaku heran dengannya.
Keadaannyakan tidak mendukung.
”Udah pokoknya keluar saja. Aku bosan dikamar
terus 2 hari ini.”cetus Anggara. Akupun mengangguk menyanggupinya. Aku membantu
Anggara duduk disebuah kursi roda yang sudah disiapkan dan mendorongnya keluar.
Rumah sakit ini memiliki sebuah taman yang asri. Rumputnya
tumbuh subur dengan warna hijau lembut yang menyejukkan mata, tapi rumput ini
rajin dipangkas membuatnya terlihat rapi. Pohon-pohon yang rindang membuat
siapapun betah berada disitu. Aku menghentikan kursi roda Anggara disana.
”Awannya bagus.”celetuk Anggara. Sontak aku
menengadahkan kepalaku untuk memandang awan-awan yang bergumpal dilangit.
”Iya. Bentuknya juga bagus-bagus.”ujarku yang
masih terus memandang langit.
”Kamu lihat deh yang itu.”Anggara menunjuk
kesebuah arah awan. ”Yang itu bentuknya kayak kamu.”lanjut Anggara.
”Kok bisa?”tanyaku tidak percaya.
”Kamu perhatikan deh. Bentuknya kayak muka kamu
lagi senyum. Manis banget.”gumam Anggara.
”Ihh... Sok sweet
deh.”ujarku menanggapi gombalannya.
”Kok sok sweet
sih? Kan harusnya so sweet.”ucap Anggara
seraya memanyunkan mulutnya. Pura-pura saja tentunya.
”Ih, ngambek. Cakepnya ilang deh.”candaku. Duk! Sebuah bola sepak mendarat dengan
mantapnya tepat di betisku.
”Aduh! Siapa sih ini. Nendang enggak
lihat-lihat.”runtukku sembari mengambil bola tersebut.
”Maaf, Mbak. Bayu enggak maksud nendang ke arah Mbak.”tiba-tiba
datanglah seorang anak laki-laki. Mendengarnya mengatakan hal seperti itu
dengan tulus aku menjadi tidak ada dendam apapun lagi.
”Enggak apa-apa kok. Siapa tadi namanya? Bayu ya?”aku berusaha mengakrabkan diri.
“Bayu, kamu main sepak bola sama siapa?”tanya Anggara
tiba-tiba.
”Cuma sama Ujang dan Budi, Mas.”jawab Bayu.
”Kakak ikutan boleh? Nanti kakak ajarin
teknik-teknik sepak bola.”aku kaget setangah mati. Gila apa ini bocah? Dia lagi
sakit keras padahal.
”Tapi kan...”
”Aku kangen main sepak bola, Ra.”elak Aggara
sebelum aku berucap. ”Please, aku
masih kuat kok kalo berdiri.”pinta Anggara. Aku menggeleng pelan. Percuma aku
melarang, dia pasti merengek terus. Tanpa bicara apa-apa aku membantunya
berdiri. Ia langsung berjalan dengan sedikit tertatih ketempat anak-anak itu
bermain.
Aku memandang dengan cemas. Kulihat Anggara
tertawa-tawa bersama anak-anak kecil itu. Anggara seperti sehabis keluar dari
penjara dan menghirup udara segar. Anggara tertawa dengan lepasnya saat bola
itu berpindah kaki. Kebersamaan yang pasti Anggara rindukan. Jika aku jadi Anggara
aku juga pasti rindu dengan rutinitasku.
Aku menunggu cukup lama. Akhirnya Anggara
mengakhiri permainan mereka. Ia berjalan menghampiriku. Keringat sudah
membasahi sekujur tubuhnya. Dia terlihat lelah sekali tetapi senyumannya tetap
terpampang di wajahnya.
”Anak-anak tadi seru banget, Ra.”ujar Anggara
sembari duduk kembali di kursi rodanya. Aku hanya tersenyum.
”Maaf, Mbak. Ini makan siangnya Anggara.”seorang
suster memberikan semangkok bubur kepadaku.
”Oh, iya. Makasih ya, Mbak.”ucapku setelah menerima makanan Anggara.
”Ayo, Kak. Makan.”cetusku setelah suster
tersebut berjalan pergi.
”Enggak ah bosan makan bubur terus. Aku enggak doyan.”tukas Anggara.
”Kalo enggak mau makan nanti enggak
sembuh-sembuh dong. Berarti harus di sini terus, makan bubur terus.”ucapku
sambil memainkan bubur yang ada di hadapanku.
”Emang aku bisa sembuh ya, Ra?”tanya Anggara
membuatku tercekat.
”Hush! Enggak boleh bilang gitu. Kalo ada
usaha, tekad, dan niat untuk sembuh di dalam hati kamu, pasti kamu bisa sembuh.
Yakin deh.”nasehatku kepada Anggara.
”Iya deh. Aku mau makan. Ada tapinya nih.”
”Apa?”tanyaku penasaran.
”Suapin...”kata Anggara.
”Ihh manja banget.”seruku seraya tertawa.
”Iya deh. Ini... Aaaa...”aku menirukan cara orang tua menyuapi anaknya
Dalam sekejap saja bubur yang tadinya
dihindari Anggara sudah habis. Setelah ia meminum beberapa obat dari dokter,
aku berinisiatif untuk menghibur Anggara.
”Kak, tunggu bentar ya. Aku mau beli
sesuatu.”pamitku. Anggara mengeryitkan dahinya. ”Enggak lama kok.”lanjutku
langsung berlari pergi. Tak lama aku kembali membawakan barang untuk Anggara.
”Ini buat kakak.”
”Kok aku dikasih balon sih? Kaya’ anak
kecil aja.”protes Anggara ketika aku memberikan barang yang baru saja aku beli.
”Ehh, jangan protes dulu. Kamu pernah
lihat enggak film-film barat atau Korea yang dia nulis surat untuk Tuhannya dan
diterbangin pake balon?”tanyaku. ”Kamu tulis apa aja yang ingin kamu ungkapin
ke Tuhan dikertas ini.”jelasku kemudian.
”Oh, kayak A Letter to God?”tanya Anggara.
”Kurang lebih sih.”jawabku. Rangga
menerima kertas dan ballpoint yang
aku serahkan sedari tadi. Dengan sedikit perjuangan Anggara menuliskan sebuah
surat.
”Udah nih. Terbangin sekarang ya.”pinta Anggara
setelah cukup lama menulis suratnya. Aku mengangguk dan mengaitkan sebuah tali
di surat yang sudah dibentuk rapi dan menalinya dengan kuat.
”See
my letter, God.”bisik Anggara ketika melepaskan balon berwarna biru cerah
itu.
Balon yang sengaja dilepaskan dari
genggaman tangan Anggara mulai mengangkasa. Meliuk-liuk tertepa angin.
Terkadang bermain bersama para kupu-kupu dan burung-burung kecil yang sedang
melintas. Langit yang berwarna orange dengan paduan kuning dengan awan-awan
lembut di atas sana tampak semakin cantik dengan kehadiran balon berwarna biru
tersebut. Balon pegas itu terbang jauh mencari tujuan surat tersebut bagaikan
burung merpati pengantar surat. Tuhan. Yaps. Tuhan yang diinginkan Anggara untuk
membaca suratnya. Aku memang tidak tahu apa yang dituliskan oleh Anggara. Aku
tidak tahu apa yang diinginkan Anggara saat ini. Tapi aku tahu, keinginan Anggara pasti mulia.
Karena itu, Tuhan, aku pinta aku yakin engkau tahu isi surat tersebut. Kabulkan
Tuhan. Jika memang dia tidak lama lagi di sini, dia pasti bisa pergi dengan
bahagia jika isi suratnya terkabul, Tuhan.
Aku memandang ke arah Anggara. Ia masih
terus memandang kemana arah balonnya pergi. Raut wajahnya terlihat bahagia bisa
menulis sebuah surat kepada penguasa jagad raya ini, Tuhan. Anggara, andai saja
aku bisa melakukan lebih dari ini pasti aku akan melakukannya. Sayangnya aku
tidak mampu melakukan yang lebih indah dari ini.
***
Aku bergegas menuju rumah sakit. Kebetulan
hari ini tanggal sedang merah jadi aku bisa pergi menjenguk Anggara. Saat aku
memasuki kamarnya aku lihat ada beberapa dokter dan suster yang mengelilingi
ranjang Anggara. DEG! Kenapa perasaanku menjadi tidak enak? Apakah terjadi
sesuatu kepada Anggara?
Aku terus melangkah maju walaupun sangat
lambat. Tidak berani berlari dan melihat apa yang terjadi kepada Anggara
seperti di sinetron-sinetron. Akupun sampai di sebelah seorang dokter yang
sepertinya menyadari kehadiranku.
”Dia sudah kembali ke Sang Pencipta.”ucap
si dokter membuat jantungku serasa berhenti berdetak. Mataku tidak bisa lepas
dari tubuh Anggara yang terbaring tanpa nafas, tanpa aliran darah.
”Saat kami datang tangannya menggenggam
surat ini. Kami yakin ini untuk kamu.”lanjut sang dokter. Aku menerima sebuah
surat. Aku lirik sejenak. Tulisan tangan Anggara semakin tidak terkontrol lebih
parah dari kemarin. Tiba-tiba airmataku jatuh satu persatu seperti para dokter
dan suster yang mulai meninggalkanku dan Anggara berdua di kamar ini. Lama aku
menangis sendirian. Hanya ada jenazah Anggara yang menemaniku. Tak kusadari Dycal
sudah ada disitu.
”Kamu jangan nagis terus. Kalo kamu masih
nangis terus Anggara pasti ikut sedih dan merasa bersalah di alamnya
sana.”bisik Anggara seraya menghapus airmata di pelupuk mataku dengan ibu
jarinya.
”Aku belum sempat melakukan apapun untuk kak
Anggara, Cal. Aku belum bisa bikin saat-saat terakhirnya jadi indah. Tapi
dia... dia udah pergi begitu saja.”sesalku di tengah-tengah isak tangis.
”Ssttt... Kamu enggak boleh bilang seperti
itu, Ra. Kamu lihat wajah Anggara. Dia tersenyum. Itu artinya dia pergi dengan
bahagia sekarang. Jangan kamu usik kebahagian Anggara dengan tangisan kamu
itu.”ucap Dycal masih berusaha menenangkan tangisku. Tapi sayang, bujuk rayunya
tidak mempan untuk saat ini. Buktinya, airmataku tetap mengucur deras saat ini.
Bukan karena aku mencintai Anggara tapi karena para sahabatnya. Aku tidak bisa
melakukan amanat dari para sahabat Anggara. Itu yang membuat aku menyesal
setengah mati.
Saat pemakaman Anggara aku masih belum
bisa tenang sepenuhnya. Padahal sudah banyak orang berusaha menghiburku. Alia, Puspa,
Claresta, bahkan Kevin yang sering meledekku saat airmataku jatuh berusaha
membuatku tersenyum kembali. Apalagi Dycal. Dia berjuang keras untuk
mengembalikan senyuman dan semangat yang telah tertutup kabut tebal.
Ketika tubuh Anggara dimasukkan ke liang
kubur dan dikubur dengan tanah hatiku semakin perih. Tangisanku semakin
menjadi-jadi seperti ingin mengulang sesuatu yang telah aku sia-siakan.
Tiba-tiba aku teringat oleh seuatu. Surat
dari Anggara. Aku segera mengambilnya dari saku celanaku dan membacanya pelan:
Dear:
Ara
Ra,
makasih ya udah mencoba untuk mencintai aku meskipun hanya satu hari. Makasih
juga bisa buat aku tersenyum bahagia disaat terakhirku. Maaf aku enggak bisa
membalas kebaikanmu selama ini.
Oya,
tolong bilang ke Willy dan Gege maaf aku enggak bisa bilang jujur tentang
penyakitku selama 2 tahun ini. Aku cuma enggak mau mereka ngasihani aku. Dan
makasih untuk Dycal yang udah mati-matian nganterin aku kerumah sakit dan
ngedukung aku supaya cepat sembuh. Sampai-sampai dia rela kamu seharian
berduaan sama aku. Dia pasti dapat balasan kebaikannya dari
Tuhan karena aku udah enggak bisa ngebales dan cuma bisa bilang terima kasih.
Ra,
kamu mau tahu kemarin apa isi surat aku? Aku bilang ke Tuhan aku enggak mau
siapapun nangis saat aku sudah berada di alam lain. Semuanya harus tetap
semangat menjalani hidup tanpa aku. Toh dengan kalian nangis aku
enggak bisa hidup lagi kan? Ingat. Jangan sekali-lagi nangis
karena aku.
Aku
enggak bisa lama-lama, Ra. Liver aku semakin lama semakin sakit aja saat ini.
Sepertinya udah saatnya aku pergi. Udah hapus airmata kamu. Aku mau pulang
dulu. Pokoknya aku enggak mau lihat kamu nangis dari sini. Good bye, Ra. Salam
Untuk yang lainnya ya.
Best love
Anggara
Anggara
Purnama Hadiansyah
”Sekarang kamu percayakan kalo Anggara
enggak mau kamu nagis?”tanya seseorang di belakangku. Aku menengok kearahnya.
Ternyata Dycal yang sepertinya sudah berada disitu sejak tadi. ”Jadi, jangan
nangis ya, My sweety.”lanjut Dycal yang sekali lagi mengusap airmataku dengan
ibu jarinya. Aku hanya tersenyum karenanya.
Benar kata Dycal, Anggara yang udah pergi
dengan tersenyum akan menjadi sedih melihat aku menangis. Lagipula Anggara
sudah merasa aku bisa membuat akhir hidupnya menjadi sebuah kenangan indah yang
pasti akan ia kenang selalu di surga sana. Ini memang sudah jalan takdir
Rangga.
”Kayaknya dari tadi pagi my sweety belum
senyum. Senyum dulu dong.”ujar Dycal seraya tersenyum lebar kepadaku. Hatiku
menjadi tergerak untuk membalas senyum manis Dycal.
”Sekarang udahkan.”aku tersenyum lebar
tulus dari lubuk hatiku.
”Kalo gitukan tambah cantik my
sweety....”aku tambah tertawa ketika Dycal mulai menggombal seperti sedia kala
lagi.
Sekarang sudah saatnya aku kembali tertawa
bahagia seperti dulu lagi. Tidak ada kesedihan karena kepergian Anggara. Aku
harus berdiri tegap menjalani hariku lagi. Dengan tetap senyum juga semangat
untuk hidupku. Selamat jalan, Anggara. Tidak akan aku menangis lagi agar kamu
tenang di sana.
1 Cinta 3 Hati
Aku melangkah dengan sedikit
cepat dengan berbagai macam obat dari apotek rumah sakit dalam sebuah kantong
plastik ditanganku . Obat itu untuk ayahku yang sedang melaksanakan cuci darah
untuk yang kesekian kalinya.
“Mbak! Mbak!”teriak seseorang.
Aku tidak menghiraukannya. Itu pasti
bukan aku.
“Mbak!”orang itu menepuk pundakku. Langkahku langsung terhenti seketika.
Aku membalikkan badanku untuk melihat siapa yang memanggilku. Dari bajunya aku
yakin dia juga seorang pasien di rumah sakit ini.
“Kenapa, Mas?”tanyaku.
“Ada obat yang ketinggalan, Mbak. Tadi sama yang jual udah dipanggil tapi
mbaknya enggak dengar. Jadi saya kejar saja.”jelas orang tersebut seraya
menyerahkan obat yang ia maksud.
“O iya. Makasih ya mas...”
“Ari ia meneruskan ucapanku.
”Makasih ya mas Ari padahal lagi sakit.”ujarku.
”Ahh... Enggak apa-apa, enggak .... parah kok.”ujarnya merendahkan diri.
”Maaf sakit apa, Mas?”entah mengapa timbulnya sifat ingin tahuku.
”Bukan apa-apa, cuma hepatitis B.”jawabnya. Aku tersentak kaget. Bukankah
hepatitis B penyakit yang bisa mematikan tapi ia bilang enggak parah? Dan cuma hepatitis B? Gila apa orang ini?
![]() |
| Dewi Lestari dan Lukman Sardi |
”Ya sudah, Mas. Saya harus mengantar obat ini dulu.”pamitku seraya berjalan
cepat lagi.
”Mbak nama kamu siapa?”tanya mas Ari sedikit berteriak.
”Mayang.”sahutku.
Kenapa hatiku merasakan hal yang aneh? Padahal aku sudah punya pendamping
saat ini! Ares. Tidak mungkin aku mengkhianati dia dengan perasaan baru dengan
orang yang baru saja aku kenal. Tidak! Ini hanya perasaan semu. Anggap saja aku
tidak mengenal Ari. Aku harus bia melakukannya.
*
Satnite yang harusnya bisa aku lewati dengan
romantisnya bersama Ares tidak bisa terjadi hari ini. Malam ini aku harus
melewati satnite di rumaah sakit
karena aku harus menunggui ayahku yang sedang cuci darah.
Dari kejauhan aku melihat mas Ari sedang duduk disebuah kursi pengunjung.
Dia terlihat sendirian disana. Aku sebenarnya ingin menyapanya, tapi....
”Enggak, Mayang!!! Enggak boleh!!! Ingat Ares, Mayang!!!”angel di otak kananku menyuruhku
menghindari mas Ari.
”Mayang!”panggil mas Ari. Mampus aku! Padahal aku sedang berusaha
menghindari mas Ari, tapi aku tidak mungkin menganggapnya tidak ada!
”Eh mas Ari. Sendirian
aja disini?”tanyaku berbasa-basi sedikit.
“Iya. Emang siapa yang mau nemenin aku?”ujarnya disusul dengan suara
tawanya yang renyah.
“Lhah? Emang keluarga kamu?”tanyaku penasaran.
“Orang tua aku tinggal di Bandung. Adik aku lagi sibuk sekolah. Biasalah
anak akselererasi pikirannya belajar terus. Kakaknya lagi sakit tetep aja masa
bodoh.”jawabnya dengan masih menyunggingkan senyuman lebar. Ya Tuhan, dengan
keadaan seperti itu dia bahkan masih bisa tersenyum!
“Hmm... boleh enggak setiap malam minggu aku jengukin kamu?”entah mengapa
hatiku tergerak untuk membantunya. Walaupun hanya dengan menemaninya disetiap
malam minggu.
“Are you really?”tanyanya seperti sedikit tidak percaya.
“Of course.”jawabku.
“Pastilah boleh.”ucapnya dengan mata berbinar. Aku tahu dia pasti kesepian ditempat ini. Tanpa
siapa-siapa disampingnya.
”Oke deh sampai ketemu sabtu depan mas Ari.”pamitku seraya melangkah pergi.
”See you soon.”serunya dengan
nada yag lebih ceria dari biasanya. Aku tersenyum bisa membantunya saat ini.
”Bantu aku menjalankan tugas ini, Ya Allah.”do’aku didalam hati.
**
Aku benar-benar menepati janjiku kepada mas Ari. Aku selalu datang disetiap
malam minggu untuk bersatnite ria
bersama mas Ari. Banyak yang kami lakukan bersama. Bermain games, saling
berbagi cerita. Tak jarang kami memandang ke langit yang penuh bintang dan
berteman rembulan. Jika ada bintang jatuh kami selalu berlomba untuk berdo’a,
memohon. Do’aku selalu sama:
”Sembuhkan mas Ari dari penyakit hepatitis B nya ini.”
Malam ini adalah minggu ke-4 aku melewatkan malam minggu dengan Ares untuk
menjenguk mas Ari. Tapi aku heran sendiri kenapa aku sedikit malas malam ini?
Aku rasa akan ada kejadian tidak mengenakkan malam ini. Tetapi aku tetap
berangkat ke RS untuk menemani mas Ari.
Aku lihat mas Ari sedang duduk dikursi tempat biasanya dia menunggu
kedatanganku.
”Hai mas Ari.”sapaku.
”Eh, Mayang udah dateng.”ucapnya yang sepertinya untuk dirinya sendiri.
”Mayang hari ini adik aku datang juga loh.”ujarnya memberiku informasi.
”Oh ya? Percuma dong aku kesini? Kamu udah ada yang nemenin.”ujarku
pura-pura ngambek.
“Ya enggak lah. Nanti aku kenalkan ke adik aku.”ujarnya. ”Nah! Itu Ares.”aku tercengang kaget. ARES
ADA DISINI!!
“Ares?”tanyaku sedikit grogi.
“Enggak usah kaget gitu kali’. Atau jangan-jangan kalian udah saling
kenal?”selidik Ari.
”Dia pacar aku, Mas. Dan ternyata selama ini dia selalu menolak malam
mingguan sama aku buat jengukin kamu disini.”ujar Ares yang ternyata sudah
berdiri disampingku. Giliran mas Ari yang kaget.
”Maaf, Res. Aku enggak tahu. Beneran deh.”mas Ari terlihat begitu terkejut
dan berusaha menjelaskan keadaan yang sedang terjadi kepada Ares tapi percuma.
Ares terlalu keras kepala dan egois.
”Alah! Itu udah enggak penting. Sekarang semua keputusan ada ditangan kamu, May. Kamu masih mau
mempertahankan hubungan kita atau kamu lebih milih kakak aku.”ujar Ares dengan
nada sedikit kasar karena amarahnya.
Tuhan! Aku harus memilih siapa? Ini sangat sulit untuk aku. Ares. Dia orang yang aku cintai
selama 2 tahun ini. Aku teringat betapa gembiranya hatiku saat dia menyatakan
cinta kepadaku. Saat kami melewati waktu-waktu kami bersama. Disisi lain ada, mas Ari. Orang yang bisa
membuatku jatuh cinta pada pandangan pertama. Dan bisa menggugahhati nuraniku
untuk membantunya.
”Emm... Maaf... Mas Ari... Aku nganggep kamu cuma sebagai sahabat
aku...”ucapku pelan berusaha menjelaskan dengan sehalus mungkin.
”Aku ngerti kok.”kata mas Ari seraya masuk kedalam kamarnya dengan lesu. Ya
Tuhan. Semoga ini keputusan yang benar. Semoga keputusan ini tidak menimbulkan
efek buruk untuk siapapun...
***
Aku menggeliat pelan saat nada dering handphoneku berbunyi nyaring. Jam
digital handphoneku masih menunjukkan pukul 03.57 tapi sudah ada seseorang yang
mengirimiku pesan singkat. Dia Ares. Beginilah isi pesannya.
”Mas Ari udh g bisa bareng-bareng kta lg, May.”
Handphone yang aku pegang langsung terlepa dari genggamanku, terjatuh tepat
ditempat tiduku. Tangisku
langsung pecah seketika. Mas Ari meninggal. Dia pergi setelah aku menyatakan
bahwa aku tidak ada rasa dengannya. Ini salahku. Aku membuat keputusan yang
salah.
Handphoneku kembali berdering pertanda adanya pesan masuk. Ternyata dari
Ares lagi.
”Jgn nyalahin dri km, May. Kata dokter keadaannya 2 bln ini emg smakin
memburuk.”
Benarkah ini bukan kesalahanku? Tapi kenapa timing yang diberikan Tuhan begitu tepat saat aku bilang tidak
punya rasa cinta kepadanya? Tapi tunggu! Siapa bilang tidak ada rasa cinta? Sebenarnya ada satu cinta diantara 3
hati. Aku, Ares, dan mas Ari. Cinta persahabatan.
Aku langsung membalas SMS dari Ares:
“Innalilahi... :( . Yg sabar ya, Res. Smg
aja mas Ari masih inget satu cinta persahabatan diantara kt :).”
Tak lama Ares membalas pesanku:
“Pasti :)”
Kami memang terdiri dari tiga hati. Tapi tidak
berarti jikalau tidak ada cinta diantara kami bertiga. Bahkan inilah cinta yang
paling kuat. Satu cinta untuk
sahabat.
“Selamat jalan mas Ari. Tetaplah ingat sahabatmu ini. Juga adikmu
satu-satunya. Jangan pernah lupakan cinta diantara kita.”do’aku seketika. Tak
terasa airmataku kmbali jatuh. Saat aku harus rela melepaskan dia, sahabatku.
Balada Kisah Cintaku
Inilah sebuah kisahku tentang
sulitnya mendapatkan cinta seorang laki-laki yang tidak menyukaiku.Sebut saja
laki-laki tersebut Mr.Y .Mukanya biasa-biasa saja tapi senyum yang selalu
menghiasi wajahnya membuat Mr.Y terlihat sangat manis.Tubuhnya tinggi dan
kulitnya sawo matang.Itulah Mr.Y .
Banyak orang tidak percaya pada
cinta pada pandangan pertama , tapi aku percaya karena aku merasakannya.Dan
Mr.Y lah cinta pada pandangan pertamaku.
***
13 Juli 2010.
Inilah hari pertamaku MOS.Ya, dengan
NEM yang tidak bisa dibilang “wah” aku bisa masuk sekolah unggulan dikotaku.Dan
disinilah aku memulai balada kisahku ini.Didepan sana dia berdiri.Penuh dengan
senyum dan gerak-geriknya yang kocak.
“Gila!Ni orang manis
bener!”batinku sambil senyum-senyum sendiri.
Karena aku baru di SMP aku masih
suka kembali ke SD ku dulu.Bukan untuk menjadi murid SD lagi hanya untuk say
hello dan perpisahan.Just it!Dan entah mendapat ide dari mana, aku tiba-tiba
berkata
“Mas Y cakep
ya?”ujarku tersipu
“Saudaraku
wi.Kenapa?Naksir?Tak bilangkan ya?”goda Sila membuatku kaget 2/3 mati
“Sopo
to?”tanya Mutiara dengan PD-nya dan tanpa wajah bersalah
“Enggak.Aku
enggak naksir.Cuma suka aja lihat wajahnya.”jawabku nge-les
Aku
memang bodoh.Aku telah membohongi perasaanku sendiri.Apa boleh buat?ini juga
demi dia.
***
Ulangan
tengah semester 1 ini baru saja selaesai.Aku masih merasa pening.Aku masih
terlalu bingung dengan sistm ulangan di sekolahku.Melirik sedikit saja tidak
bisa.Akan tetapi melihat Mr.Y didepan sana aku menjadi tersenyum
sendiri.Jantungku tidak bisa diajak berkompromi.Di saat seperti ini malah asyik
berdegup kencang membuatku semakin deg-degan.
Setelah
agak jauh dari Mr.Y aku berkata
![]() |
| http://www.hpgua.com/2011/06/kata-kata-sakit-hati.html |
“Pip.........Itu
orangnya!”gumamku pada Hafifa sambil ketar-ketir tidak karuan.Hafifa langsung
menengok ke belakang
“Oalah...itu
to Mas Y?”tanyanya sambil manggut-manggut
“Cakep
kan?”aku malah balik bertanya
“Biasa.”jawabnya
singkat sembrani kembali menyusuri jalan yang penuh dengan pedagang kaki lima
“Nurut
kamu emang biasa tapi nurut aku luar biasa”batinku seraya tersenyum
Hampir 1
tahun aku 1 sekolah dengan Mr.Y tapi bertemu dengan Mr.Y adalah hal yang
langka.Maklum saja, kelasku dengan kelas Mr.Y cukup jauh, jadi tidak bisa
beralasan kekamar mandi lalu melewati kelasnya sambil mengintip.Atau sejuta
alasan basi lainnya.Melempem.Paling banter juga kalau bertemu Mr.Y di
Kantin.Pernah suatu hari aku bertemu Mr.Y di Kantin, bukannya senang aku malah
kalutttttttttttttttttttttttt 1/4 mati.
“Itu lo Mas
Y”kata Hafifa memberitahuku
“Mana?”tanyaku
tak sabar sambil celingak-celinguk.Ketika sudah menemukan wajah manis Mr.Y aku
tersenyum sendiri.Itulah adatku jika bertemu dengan Mr.Y
“Tu
orang kalo pake kacamata cakep juga.”gumam Hafifa langsung membuatku shock
“Aja
naksir dia!”tegasku sebal
“Enggak.Kan
cuma muji.”ujarnya cepat.Hafifa.Orang yang disukai Hafifa memang banyak, tapi
aku yakin Mr.Y tidak termasuk.Aku percaya kepadanya.
23 Mei
2010.
Aku
menggeliat pelan.Aku sedang sebal.Karya tulis ilmiah sebentar lagi harus dikumpulkan
jika aku masih ingin mengikuti lomba, tetapi semua anggota kelompokku tidak mau
membalas smsku.
“Buka
facebook aja.”batinku.Semua kertas-kertas beserta flashdisk sudah berada di
genggamanku.Rencananya setelah selesai membuka facebook aku akan mengerjakan
karya ilmiah tersebut.
Iseng-iseng
aku membuka wall milik Mr.Y .Kubaca status terbarunya.WHAT?!!!Mr.Y dirawat di
Rumah Sakit?Susah payah aku mencari tahu penyakit apa yang tega mampir ke tubuh
Mr.Y .Akan tetapi hasilnya nol.Aku tidak mendapatkan apa-apa.
Griya
Usada kamar Mawar no.8, aku benar-benar ingin kesana sampai-sampai aku lupa
bahwa aku berniat mengerjakan karya ilmiah saking sibuknya memikirkan cara
untuk bisa menjenguk Mr.Y
Hal gila
pun aku lakukan.Bukan menjenguk langsung dengan alasan salah kamar atau
apalah.Tetapi aku SMS Sila dan memaksanya mengajakku menjenguk Mr.Y .Tidak ada
hasil apa-apa.Kalaupun ada hasil paling juga Sila menjadi mengerti bahwa aku
benar-benar sayang kepada Mr.Y .Tapi apa boleh buat?
***
25 Mei
2010.
Aku
masih terus memaksa Sila untuk mengajakku menjenguk Mr.Y, tapi ia tetap tidak
mau.Aku mendengus kesal.Sekedar iseng, aku membuka wall milik Mr.Y .Aku
tersenyum senang.Mr.Y sudah keluar dari rumah sakit.
Karena
terlalu penasaran aku masih mencari tahu tentang penyakit yang tega-teganya
membuat sarang disana.Aku terkejut setengah mati mengetahuinya.Usus
buntu.Penyakit itu ingin ku tendang sampai mengkerut.Tetapi tidak ada hal yang
bisa aku perbuat.Sebelum membuat penyakit tersebut mengkerut aku sudah
mengkerut duluan.
***
Rencananya
hari ini aku ingin mulai SMS Mr.Y .Tapi aku masih belum siap.Setelah melakukan
ritual sholat Ashar dan dibantu dorongan semangat dari teman-temanku, aku
memulainya.Bukannya senang aku malah kecewa.Karena apa?Pending.Itulah
jawabannya.Saking sebalnya handphoneku ku matikan.Setelah malam handphone
tersebut ku nyalakan kembali, Mr.Y sudah membalas SMS ku.2 hari ini aku dan
Mr.Y ber-SMS ria.Akan tetapi hari ke-3 dia sama sekali tidak membalas SMs
ku.Diusut-usut itu bukan nomer handphonenya Mr.Y.Semua tawa, tangis, dan marah
ini tidak berarti apa-apa jika penyebabnya bukan Mr.Y!
Hari ke
empat tiba-tiba Sila menyatakan bahwa itu memang benar nomer handphone Mr.Y
.Aku memulai kembali aksiku.Sama sekali tidak ada respon.Sampai akhirnya pukul
15.42 Mr.Y memulai perang dunia ke-3 diantara kami.Dengan PD-nya dia SMS
’We ki
sopo to.Megelne.’
Dia
benar-benar marah besar. Aku juga tidak bisa terus bersabar. Walaupun memang
akulah penyebab perang dunia ke-3 diantara kami ini. Aku telah berbohong kepadanya
dan berdosa kepada banyak pihak. Papa, Mama, Mr.Y, Tuhan. Maaf semua. Aku telah
berbohong tentang namaku. Bukannya aku tidak menghargai namaku. Aku hanya ingin
Mr.Y mengenalku sebagai his secret admirer. Akan tetapi semua ini bisa di
pikirnya dengan pikiran dingin akan tetapi kenapa Mr.Y tidak? Perang dunia ke-3
diantara kami berakhir dengan kehancuran.
Mungkin dia tidak akan pernah lagi membalas SMSku. Dan
mungkin aku tidak akan pernah berani SMS Mr.Y . But, everything that happen. I
still will be your secret admirer ^v^.
Datang, Hilang, dan Kembali
28
Agustus 2009. Itulah tanggal dimana aku resmi menjadi pacar seorang cowok
bernama Radityatama Prakoso. Seorang wartawan dari sebuah surat kabar swasta. Sedangkan aku, seorang
Zaskya Gitaclara hanya seorang pegawai kantoran yang sejak masuk perusahaan tak
pernah sekalipun promosi.
Aku
ingat sekali tanggal 14 Mei 2009 saat pertama kali aku dan Radit bertemu.
Simple. Kami hanya bertemu di perpustakaan kota langgananku. Tanpa diduga-duga Radit
mengajakku berkenalan hampir saja aku mati ditempat melihat sosok tinggi yang
sungguh kelewat cakep melebihi Daniel Radcliffe ataupun Dani Pedrosa senyuman
Kim Bum saja kalah dengan Radit. Sekedar
iseng saja aku menanyakan nomer handphone Radit kepada penjaga perpustakaan. Aku
yakin sekali si mbak penjaga perpustakaan itu melihat aku bercakap-cakap sok
mesra dengan Radit terbukti dia tidak mau memberikan nomor handphone milik
Radit. Setelah ku ancam akan kutelepon atasannya dan mengadukannya tidak mau
melayaniku dengan baik akhirnya dia memberikan nomer handphone Radit dengan
muka lecek seperti uang Rp100 kertas. Aku tertawa sendiri, mengapa si mbak itu
begitu bodoh? Bisa saja dia memberiku nomor handphone palsu dengan ikhlas kan ? Lagi pula mana punya aku nomor telepon atasannya? Tetapi
jodoh memang enggak kemana! Malamnya Radit SMS aku duluan mungkin dia juga
menanyakan nomer handphoneku kepada penjaga perpustakaan itu juga.
Date : May 28, 19:43
Hi
Wie geht es dir?
Radit
From : +62856495239452
Aku tahu wie geht es dir adalah bahasa jerman
yang artinya apa kabar. Saking shocknya aku sampai loncat-loncat sendiri di
kasur. Oh,God!!!! I’m shock! Enggak
tau mau jawab apa iseng aku menjawab:
Not bad, you?
To : Kim Raditya
May 28, 19:47
Jadilah
semalaman suntuk kami SMS-an. Sayang semua itu harus berhenti di aku, sebenarnya aku masih mau SMS-an tapi aku hanya
menjaga image di depan Radit. Terpaksa aku SMS
Eh, udh hmpir jam 1 nih!Udahan y?Have a good night c:
To : Kim Raditya
May 29, 00:57
Tak lama SMS balasan dari Radit masuk ke
handphoneku
Date :29 May 2009
Iya mimpiin ak
aja y?:)..
Good night
From : Kim Raditya
Gombal! Gombal memang,
tapi aku suka. Aku sampai tidak bisa tidur karena terus memikirkan Radit.
Apakah aku jatuh cinta? Whatever, mau
jatuh cinta kek mau jatuh hati kek mau jatuh dari sepeda kek yang penting
Radityatama Prakoso milikku!
“DOOORRRRRRR!!!!!!!”teriakkan
dari belakang membuyarkan lamunan masa laluku. Siapa dia?Siapa lagi kalau bukan pacarku
satu-satunya itu.
“Mulai deh usilnya!”ujarku
jutek atau lebih tepatnya sok jutek
“Oooooccccchhhhh, pacarku
marah.” Ini yang tidak kusukai dari orang pacaran sok MESRA serasa dunia milik
berdua meskipun aku juga kadang begitu.
“Tumben kesini? Ngapain?”tanyaku
tanpa ya-yi-yu-ye-yo dulu
“Nih.”jawabnya singkat sambil menyodorkan sebuah
undangan. Kubaca sekilas.
Undangan pernikahan teman seprofesi Radit.
“Mau nyusul nih?”godaku
sekaligus berharap
“Maunya sih. Aku yakin
kamu juga mau kan?”tanyanya yang balas menggodaku
“Alah!Umur jaga masih
belom nyampe 30 udah minta kawin! Mau punya anak berapa? Kasian yang ngelahirin
dong?!”protesku yang tumben-tumbennya bisa ngomong agak serius sedikit
“Hehe. Udahlah. Kita
dateng ya? Lumayan kan kita bisa liat-liat buat modal kawinan kita.”ujarnya
sambil nyengir. Kalau Kim Bum hanya tersenyum tipis sudah bisa mengguncang
cewek-cewek seluruh negeri apalagi Kim Raditya ku satu ini yang selalu nyengir
lebar?
“Iya deh!Dandan yang cakep ya?”pesanku
“Iya dech sayangs.”jawabnya
“Perezzzz!!!!”jeritku sok
sebal padahal aslinya senang
“Udah ah!!Pulang dulu ya
says.”pamitnya padahal belum sampai 1 jam dia disana
“Kebiasaan deh pulang
cepet-cepet. Berenti aja deh
jadi wartawan.”ujarku sebal bukan sok sebal
“Jangan gitu dong! Entar
anak kita makan apaan?”tanyanya yang aku jakin hanya bergurau
“Au’ ah gelap.”jawabku ngasal
“Dadaaaaaaaaa.......”teriaknya
yang tanpa ya-yi-yu-ye-yo langsung ngacir keluar trenyuh ati iki ndelok
kedadean koyo ngono.
***
Jika tanggal 14 Mei 2009
aku bertemu dengan Radit tanggal 28 Agustus 2009 akhirnya aku resmi menjadi
kekasih Radit. Banyak problema yang menerjang hubungan kami tapi kami yakin
kami mampu tuk tetap tenang. See,
kami masih langgeng. Tapi
mungkinkah suatu saat hubungan kami di uji karena kekuranganku?
Di saat aku asyik merenung
HP ku malah menyanyi dengan nyaringnya. Ku lihat layar handphoneku. Radit.
Akhirnya ku jawab telepon itu.
“Assalamualaikum?”
“Waalaikumsalam. Says
kesini dongs!!”pintanya penuh harap sekaligus maksa
“Kemana?”tanyaku
aras-arasan
“Ke depan rumahmu!”jawab Radit penuh semangat
“Iya deh.”kataku
akhirnya. Yes!Aku mengalah. Malam-malam pukul 11 malam pacaran di depan
rumah?Apa kata tetangga? Radit terlihat berbeda. Baru kali ini (kecuali kalau
di ajak kondangan) aku melihat Radit mengenakan kemeja walaupun tetap saja di
setia pada celana jins buluknya yang jarang ia cuci. Radit terlihat cengir
lebih lebar dari pada biasanya
“Pasti ada
apa-apanya.”batinku penuh keyakinan
“Ikut aku yuk?”ajaknya
langsung menggandeng tanganku. What?
Gila ni bocah! Dia keliatan keci gitu sih enggak apa-apa. Lha aku? Coba kita
lihat dari atas kebawah. Aku hanya memakai jilbab yang asal samber berwarna
merah, kaus dengan warna krem dan cardigan hijau, dan oow...aku masih memakai
celana tidur biru kesayanganku. Dan apalagi ini?Aku memakai sandal jepit
kedodoran!Dan aku yakin Radit tidak akan memperbolehkan aku dandan meskipun
hanya 15 menit.
“Ganti baju dulu ya?”usulku
“Enggak usah.”ujarnya
sambil mencekeram tanganku kuat-kuat. Apa aku bilang? Egois! Radit langsung
menarikku menuju vespa kesayangannya. Kurang cinta apalagi aku? Walaupun tampil
ancur-ancuran gini tetap saja aku rela mengikutinya pergi.
Lumayan lama perjalanan ke tempat yang dituju
Radit. Setelah vespa Radit berhenti mengeluarkan suara aneh aku langsung
geleng-geleng seperti orang disko. Bayangkan Radit mengajakku ke Cafe yang
romantissssssssss bangetttttttttttttttttttttttttttt! Oh, God!!!!! Help me!!!!!!!!!!!!!!!!
“Ayo masuk!”ajak Radit
tanpa sedikit pun terganggu oleh penampilanku
“Tapi masak aku pake baju
kayak gini?”tanyaku sedikit gemas pada orang ini. Kenapa cueknya keterlaluan
sih?
“Udah lah enggak
apa-apa.”jawabnya santai seraya menarikku masuk. Enggak usah ditanya! Disini
aku menjadi tontonan yang mungkin menurut mereka menarik. Akhirnya Radit
memilih tempat duduk yang agak ke pojok.
“Mau ngapain sih,
says?”tanyaku dengan wajah bersungut-sungut
“Eee....3 hari lagi aku
mau ngeliput perang antar warga di Timika...”ucapnya perlahan
“Perang?Enggak!”ujarku tegas
“Tapi ini Cuma perang
kecil di kota kecil kamu jangan jadi kayak anak kecil dong!”timpalnya mulai
memanas
“Iya. Tapi ini perang
Radit. PERANG!”seruku tetap keukeuh tidak memperbolehkan
“Ini Cuma pertengkaran
kecil. Enggak kayak Irak dan Iran, Israel sama Palestina! Enggak pake
bom!”tegasnya mulai mengeras
“Aku enggak pingin kamu
kenapa-napa! Entar yang kawin sama aku siapa?”tanyaku berusaha membuat Radit
berubah pikiran.
“Percaya deh aku enggak
bakal kenapa-napa!”jawabnya tetap saja ngeyel pada pendapatnya. Tuhan!!! Gimana
ini? Bantu aku Tuhan.
“Istikharah sambil sholat
Tahajud dulu deh!”usulku
“Jadi intinya kalau Tuhan
mempersilahkan aku ngeliput berita ini aku boleh pergi kan?”tanyanya dengan
berbinar-binar. Aku hanya bisa mengangkat bahu. Pasrah.
“Tapi kamu enggak boleh kenapa-napa ya?Jangan selingkuh.
Jangan sampe kamu hilang ingatan terus diselametin cewek akhirnya kalian
pacaran, tunangan, nikah! No way!”pesanku lebih panjang daripada jembatan
Suramadu.
“Kayak sinetron
aja!”candanya mulai mencair. Aku mengalah. Yang penting Radit seneng. Tuhan jaga dia!!
***
Hari ini hari keberangkatan Radit. Kenapa aku
malah jadi nervous? Ini bukan sidang
kelulusan! Apakah ini yang namanya Felling
not good? Pesawat Radit akan berangkat 15 menit lagi dan dia baru saja akan
boarding. Sungguh keterlaluan anak itu! Kelewat santai. Dan inilah saat-sat
paling mengharukan, saat dia akan meninggalkan kami. Aku mendapat kesempatan
terakhir untuk menyampaikan pesan-pesan kepada Radit. Setelah Orang-orang
terdahuluku selesai akhirnya tiba giliranku.
“Disana jangan cari
selingkuhan ya!”pesanku singkat. Dia hanya nyengir saja, tapi aku tahu dari
matanya terlihat bahwa dia sedih. Akhirnya pesawat Radit benar-benar berangkat.
Dan akankah Radit akan pulang seminggu lagi seperti janjinya?
“Ya Allah, Ya Tuhan
ku...Jagalah Kim Raditya ku di kota orang.”do’a ku dalam hati. Aku yakin Radit
pasti pulang.
***
Sudah 1 minggu lebih Radit
pergi ke kota orang. Tapi
kontak denganku saja tidak. Mungkinkah terjadi sesuatu pada Radit? Ku sambar
koran yang ada didepanku untuk menghilangkan penatku. Tetapi..Astaga!! ‘16
Reporter Terluka dalam Peliputan Rusuh di Timika, 2 Meninggal’ itulah judul berita
utama hari ini. Mungkinkah itu Radit? Sekarang jam 10.30, segera aku ambil air
wudhu untuk sholat Dhuha dan berdoa kepada Allah untuk keselamatan Radit.
Sorenya
aku pergi ke cafe tempat Radit pamit kepadaku. Aku suka tempat ini. Sunyi. Seonggong Sirloin steak dan Cappucino milkshake telah terhidang dihadapanku. Ini adalah makanan
dan minuman favorit Radit, yang aku harap bukan Alm.Radit. Ketika sedang
siap-siap memakan steak ku kulihat sosok tinggi yang mirip sekali dengan Radit.
Apakah itu Radit? Tidak perlu dipertanyakan lagi, itu Radit. Radityatama
Prakoso dengan seorang cewek yang tinggi mugkin akibat sepatu haknya dan dia
hanya memakai dress mini. Apakah iman Radit sudah tergoyah karena cewek ini?
Apakah Radit sudah tidak menyukai cewek berjilbab?
“Radit!!”panggilku sedikit
berteriak. Radit menengok ke arahku mencari orang yang memanggilnya. Ketika
melihatku dia malah nyengir kuda seperti biasanya. Bukannya salting udah
ketahuan selingkuh malah melambai kearahku.
“Gita!Sini!”Ya Allah, dia
malah memanggilku. Aku menururutinya.
God! cewek itu malah menggenggam mesra lengan
Radit. “Says, kenalin ini..” ketauan selingkuh masih manggil sayang?
“Bener-bener ya kamu! Katanya apa? Enggak bakalan
nyari selingkuhan!”potongku sebal. Kebetulan ada Ice Lemon Squash di dekatku ingin ku siram tapi enggak tega. Akhirnya
ku urungkan niatku itu.
“Tapi ini..”ujarnya mencoba menjelaskan
“Udah deh! Selingkuh tetep
aja selingkuh! Tapi lain kali kalo nyari selingkuhan yang bener dong!”lagi-lagi
aku memotong bicaranya. Segeraku sambar tasku dan meninggalkan cafe itu.
“Mbak tunggu!!”tiba-tiba
penjaga cafe memanggil-manggil. Aku pun berhenti.
“Bayar dulu, Mbak!”ingat
penjaga cafe sambil ngos-ngosan berusaha mengatur nafas. Alamak!!! Kenapa
sekarang? Kenapa didepan Radit dan selingkuhannya? Selingkuhan Radit tampak
mesem-mesem sendiri. Segera
kubayar makananku tadi dan segera meninggalkan cafe sialan itu.
Sesampainya dirumah aku
segera berlari untuk mengurung diri dikamar. Teriakan mama sama sekali tidak
kugubris. Moodku sedang kacau.
Dikamar aku menangis sejadi-jadi nya. Setelah sekian lama aku setia, menutup
mataku untuk semua cowok cakep yang mencoba mendekatiku tapi diujung pacaran
(karena berencana ingin menikah) Radit malah selingkuh? Karena terlalu banyak
menangis aku menjadi mengantuk dan tertidur. Lama aku tertidur, bangun pun
karena ada seseorang yang ketok-ketok kamarku. Siapa gerangan? Kalau Mama atau
Kak Cita pasti sudah langsung njelundus masuk tanpa permisi. Aku baru ingat
bahwa kamarku kukuci rapat-rapat sebelum tidur. Segera kubuka pintu kamarku,
ternyata Mama.
“Dicari Radit didepan.”ujar Mama memberi
pengumuman
“Males ah!Bilang aja aku
lagi tidur.”jawabku santai
“Kalo ada masalah sama
Radit jangan Mama dong yang jadi tumbal di suruh bo’ong yang dosa ya Mama.”elak
Mama panjang
“Udah?”tanyaku cuek bebek.
Segera aku masuk dan kututup rapat-rapat . Baru kali ini aku sedikit kurang ajar pada Mama.
Tapi aku tidak mau bertemu Radit. Paling tidak, tidak untuk sekarang. Tiba-tiba
HP ku berbunyi tanda ada SMS masuk
Date :13 June 2010
Gita, keluar dong
masa pacar baru pulang ngeliput perang enggak di temuin?
From : Kim Raditya
Ada 47 SMS serupa yang
masuk ke handphoneku dan juga ada 34 misscall. Handphoneku tiba-tiba berdering
lagi. Radit. Enggak ada kapok-kapoknya juga ya? Saking sebalnya handphoneku
sampai ku non aktifkan. Daripada bete akhirnya aku memutuskan untuk membuka
twitter dan facebook. Siapa tahu nemu jodoh baru.
Tapi apa-apaan ini? Radit
telah mengirim banyak message yang intinya aku salah paham. Salah paham gimana? Jelas-jelas dia
ke gap selingkuh bukan salah paham.
***
Sudah
hampir 1 minggu aku nyuekin semua SMS, telpon, message, bahkan e-mail
walaupun setiap saat dia tetap mengirimiku. Pagi ini, tanggal 19 Juni 2010 aku
bangun dngan bugar. Baru jam 06.30 saja aku sudah mandi dan sempat dandan. Tiba-tiba terdengar parade. Perasaanku
hari ini tidak ada karnaval.
“Bikin jus mangga dikasih mengkudu
Lama bikinnya enggak kelar-kelar
Wahai Gita cantik oh sayangku
Ku mohon dirimu mau keluar”teriak orang
dibawah sana disambut musik parade yang membahana. Ku intip orang setengah
sinting itu. Ternyata dia.....Radit. Segera aku berlari menuruni tangga untuk
menemuinya. Untung saja aku sudah mandi dan dandan biar enggak malu-maluin.
“Beli baju di Nusa Dua
Jadi bingung milih baju
Eh abang ini siapa
Teriak-teriak melulu”balasku. Sebenarnya aku enggak tahu dapet kata-kata
dari mana.
“Gita, aku mau ngomong
sama kamu.”serunya tanpa basa-basi
“Mau ngapain? Ngenalin pacar baru?”tanyaku sok
judes
“Bukan, Git! Kamu bener-bener salah
sangka!”tegas Radit. Dia terlihat mengayunkan tangan kepada seseorang. Aku
enggak heran kalo yang dipanggil adalah cewek yang kemarin di cafe.
“Hai!Saya Katie saudara Radit dari California.
Jadi kita belum pernah bertemu saya maklum kamu marah waktu di cafe.”ujar orang
yang katanya bernama Katie itu. Memang wajahnya terlihat western.
Dan logatnya memang bukan Indonesia.
“Tunggu sebentar
ya!”ujarku lalu masuk rumah. Seingatku Radit pernah memberiku foto saudaranya
yang ada di California tak lama foto itu kutemukan. Langsung aku meluncur
menuju keluar. Kuamati orang difoto dan Katie
“Mirip. Maaf ya soal yang
di cafe wajarlah kalo aku cemburu.”ujarku
“No problem. Itu wajar kok.”timpalnya sambil tersenyum manis “So, selamat bersenang-senang.”serunya
seraya meninggalkan halaman rumahku bersama para pemain musik itu.
“Jadi dimaafin kan?”tanya
Radit tiba-tiba. Aku
hanya mengangguk sambil nyengir kelinci
“Tapi
kamu harus gendong aku dari sini ke taman trus balik kesini lagi.”tantangku.
“Boleh!”jawab
Radit sambil mengangkatku. Kembalilah kami menjadi Radit dan Gita yang selalu
merasa dunia milik berdua.
***
Tanggal 29 Oktober 2010. Hari ini
adalah hari bersejarah untukku. Yeah, aku akan ijab kabul. Dari tadi Mama dan
Ibunya Radit sudah menangis sesenggukan. Entah tangis bahagia atau tangis sedih karena kehilangan. Dan inilah
saatnya. Saat paling mendebarkan. It’s
show time!
Aku tidak berani mendengarkan semua
ini. Aku memejamkan mata
untuk menenangkan pikiranku. Tiba-tiba terdengar suara disebelahku. Suara Radit,
calon suamiku yang mungkin beberapa menit lagi sudah resmi menjadi suamiku.
“Saya terima nikahnya, Zaskya
Gitaclara binti Andika Nugraha Priambudi dengan mas kawin seperangkat alat
sholat beserta uang sebesar 3 juta 7 raus ribu dibayar tunai.”ucap Radit secara
khusyuk.
Terdengar suara orang-orang
mengatakan ”sah”, dan itu pertanda aku adalah istri dari Bapak Radityatama
Prakoso dan saya adalah Ibu Raditya. Radit benar-benar anugrah terindah dari
Tuhan setelah Mama, Papa, dan Kak Cita tentunya.
Thanks God! Thanks for your gift and
opportunity that yuo have given for me. I’m promise won’t be useless it. And I
hope you always take care and bless me. My live is very perfect for me. Once
again I say thanks for you God!!I love
my live.
Langganan:
Komentar (Atom)






