music box

Kamis, 28 Juni 2012

MOVE ON

Aku mulai menangis...
mengingat kamu...
mengingat perjuanganku untukmu...

Airmata itu mulai mengalir
Saat kutahu kau hanya anganku...
Saat kutahu kau miliknya

Buliran airmata mulai jatuh
Ketika kita mulai jauh
Ketika aku merasa tak sanggup lagi menggapaimu

Airmata itu perlahan kuseka
Airmata yang ia tak dapat melihatnya
Airmata yang tak ia rasakan

Lalu untuk apa aku menangisinya?
Biar saja dia jauh
Biar saja dia bukan milikku

Menangisinya hanya membuang waktu
Lebih baik tersenyum untuk kebahagiaannya

Minggu, 24 Juni 2012

lirik Its Gonna be Okay! - iSKUL9

kalau kamu lagi galau
jangan risau
it’s gonna be okay!

langkahkan kaki ke depan dan sahabat dan teman
semuanya kan datang karena
bersama kita bisa kawan untuk menghadapi rintangan dan gelapnya malam
karena harapan di dalam hatimu berteriak kencang di dalam sanubariku
bersabar dan ikhlaskan saja dan bersama kita bisa itu janjiku
Santai.....
ikhlaskan semua yang sakit
santai.....
Semua berakhir dengan baik
dan apa yang terjadi maka terjadilah melihat masa depan
penuh warna dan kisah...


kalau kamu lagi galau
jangan risau
it’s gonna be okay!

they could never break me down,climb up higher
let us light your spirits and ignite that fire
karena kau tak sendirian dan pandangan rendah yang mereka berikan
tak ada artinya, ayo kita buktikan
tekanan mereka hanya bentuk berlian
bersatu kita teguh, bata
bercerai kita runtuh, galau , galau

lirik Mimpi - Willy Winarko feat. Niu-Niu

Kusering bermimpi jadi peri
Terbang ke langit biru yang tinggi
Berjalan di atas awan putih
Seberangi langit dengan pelangi

Bawa cahaya di malam hari
Beri cinta setulus hati
Terangi dunia gelap ini dengan sinarnya
Yang takkan pernah mati

Permisi.. bolehkah aku bercerita
Jalan untuk keluar dari dalam realita
Hari esok yang indah, dan mungkin lebih baik
Bebas dari pikiran dan perasaan yang sakit

Kutatap buku dan selalu kupikirkan
Apa yang datang besok yang selalu ku inginkan
Kata-kata berubah dalam khayalan
Melamun tuk sejenak dan kukosongkan pikiran

over the rainbow i’m past the clouds
you see i wanna be a rapper that’s rocking crowds
yeahi could be a kweli or az
i used to think i just wanna be a jay z

let’s play this life like a video game
i’ll have assasins creed of rap in my name
you see i’m in my final fantasy i wanna be a tidus
i wanna be the best, yeah i wanna be the tightest

kusering bermimpi jadi peri
terbang ke langit biru yang tinggi
berjalan diatas awan putih
seberangi langit dengan pelangi

bawa cahaya di malam hari
beri cinta setulus hati
terangi dunia gelap ini dengan sinarnya
yang takkan pernah mati

terkadang kubermimipi tuk jadi pahlawan
sembuhkan rasa sakit yang pernah engkau rasakan
di belakang kelasku berkhayal di pikiran
menjadi power ranger, satria baja hitam yo

Mr. teacher let me day dreamplease
in the back of the class with my dragon ball
with my jappanese animes all in the box
i’m trigun superman, taking a shot

tune in to my super harajuku rap
mixed that with a super kamehameha
and when ur done,then u gonna get me
i’m an over 9000 super saiyan Mc

this must be the life that they dreamed in
i wish its the live that i lived in
this must be the life that they dreamed in
i wish its the live that i lived in


kusering bermimpi jadi peri
terbang ke langit biru yang tinggi
berjalan diatas awan putih
seberangi langit dengan pelangi

bawa cahaya di malam hari
beri cinta setulus hati
terangi dunia gelap ini dengan sinarnya
yang takkan pernah mati

Jumat, 22 Juni 2012

Cinta Satu Hari


Cast :: iSKUL9 (Tamara, Anggara, Dycal, Kevin, Gege, Willy, Alia, Claresta, Puspa) + Bayu, Ujang, Budi, Suster, Dokter
Genre :: teenlite (romance+sad)
Author :: Assyifa Widiastomo :D



Tamara Tyasmara adalah nama kesayanganku. Tapi kalian cukup memanggilku Ara saja. Sekarang ini aku baru duduk dibangku kelas 2 SMP. Aku hidup dikelilingi oleh orang-orang yang sayang kepadaku. Kedua orang tuaku, sahabat, dan.... Ohya aku punya seorang sepupu laki-laki yang tinggal dirumahku karena dia telah kehilangan keluarganya dalam kecelakaan bus sekitas 4 tahun silam. Dan yang membuatku paling bahagia saat ini adalah Amdycal Siahaan, pacarku tersayang.
***
Dengan terburu-buru aku turun dari motor 75 Kevin. Ya, setiap hari aku selalu berangkat dan pulang sekolah bersama sepupuku yang satu ini. Seperti siang ini saat hujan turun dengan lebatnya dengan cepat aku turun dari motornya dan bergegas masuk rumah.
”Oi’ bantuin dong!”teriak Kevin yang sedang kesulitan membuka pintu pagar yang tadi aku buka asal-asalan saja.
”Besok-besok aja ya, Kev.”balasku berteriak dan berlari meninggalkankan Kevin dan motor 75 nya yang masih mengeluarkan asap knalpot yang mengepul.
Aku memasuki sebuah kamar berpintu putih. Kamar yang berukuran  3 meter x 4 meter dengan cat berwarna biru muda. Ada sebuah tempat tidur personal di pojok kiri dengan banyak boneka stitch di sekeliling tempat tidur juga bantal beberbentuk hati yang cukup besar pemberian dari Dycal. Inilah tempatku bersemayam disetiap waktu longgarku. Yaps! Ini kamar tidurku.
Aku membuang tas ranselku begitu saja kelantai. Dengan langkah malas-malasan aku berjalan ke tempat tidurku dan langsung merebahkan diri disana. Tiba-tiba si slonong boy alias Kevin masuk ke dalam kamarku tanpa permisi.
”Kevin!!!!!!! Permisi dulu kek!”seruku sebal seraya melempar boneka stitchku ke arahnya.
”Eits! Santai, Sis.”dengan cekatan Kevin menangkap boneka milikku. ”Ada yang aku mau omongin ke kamu.”lanjut Kevin setelah duduk di kasurku.
”Apa?”tanyaku.
”Teman aku ada yang suka tuh sama kamu.”Kevin memulai notification nya.
”Aku udah punya pacar.”tukasku cuek.
”Siapa?”tanya Kevin sedikit nada kecewa. Mungkin karena dia merasa gagal menjadi mak comblang.
”Dycal.”jawabku singkat.
”Dycal yang satu angkatan sama aku?”tanya Kevin lagi. Ohya, Kevin memang satu angkatan di atasku. Dia sekarang kelas 3 SMP. Aku hanya mengagguk mengiyakan.
”Satu tim sepak bola dong sama Anggara?”tanya Kevin sekaligus memberitahuku.
”Anggara yang kadang ponian kadang jambulan enggak jelas itu?”aku balik bertanya untuk memastikan.
”Betul! Dia suka lhoh sama kamu.”goda Kevin membuatku sebal.
“Emang gue pikirin?! Udah keluar kamu dari kamarku!”aku mendorong tubuh Kevin dari belakang agar ia segera keluar dari kamarku. Setelah memastikan Kevin keluar dari kamarku, aku membanting pintu kamarku dengan kasar lalu berjalan ke arah kasur lalu merebahkan diri kembali ke atas kasur melanjutkan tidur siangku yang tadinya sempat tertunda.
***
Hari ini diadakan pertandingan sepak bola antar sekolah. Dycal adalah salah satu pemainnya. Pemain bernomor punggung 13 yang sedang berlari mengejar bola. Pertandingan kali ini berjalan sangat  alot. Timer menunjukkan waktu telah berjalan 79 menit 34 detik, tapi score masih seri 3-3. Dycal berhasil menyumbangkan 2 gol dan yang satu gol lagi entah siapa aku tidak begitu kenal tapi aku lihat dari kaosnya, namanya Gege.
3 kali peluit dibunyikan wasit pertanda pertandingan telah berhenti dengan score seri, 3-3. Ke-22 pemain keluar lapangan dengan lesu karena tidak berhasil memenangkan pertandingan kali ini.
Aku menunggu Dycal berganti pakaian sekaligus diceramahi oleh pelatih tim sekolah kami karena tidak bisa menang dipertandingan hari ini. Cukup lama menunggu Dycal  akhirnya pemain-pemain sepak bola itu keluar, Dycal berada di antara mereka.
”Cus...”kata Dycal mengajakku pergi.
”Ke mana?”tanyaku untuk memastikan.
”Ke manapun kamu mau. Aku pasti ikut.”ujarnya membuatku semakin klepek-klepek.
”Ahh!! Gombal terus!!”seruku. Dycal tertawa pelan, dia mencubit hidungku yang kata dia pesek ini. Dycaly selalu mencubit hidungku katanya agar semakin lama hidungku jadi mancung.
Ternyata ada seorang pemain yang baru keluar dari kamar ganti. Dia Anggara. Anggara terlihat aneh, mukanya terlihat pucat. Jalannyapun pelan sekali, juga sedikit tertatih.
”Cal, kak Anggara kenapa tuh?”tanyaku. Dicky mengeryit memperhatikan Anggara.
”Ngga, kamu kayaknya lagi enggak enak badan. Mau aku antar pulang?”Dicky sedikit berteriak karena jarak Anggara sudah cukup jauh. Anggara membalikkan badannya. Dan menatap Dycal dengan aneh.
”Aku enggak apa-apa kok, Cal. Aku bisa pulang sendiri. Kasian cewek kamu kalo kamu tinggal buat nganter aku pulang.”jawab Anggara seraya berjalan pelan kembali. Dycal mengedikkan bahu, heran dengan kelakuan Anggara.
Langkah Anggara semakin tidak karuan. Langkahnya melemah dan tidak menentu arahnya. Pada akhirnya Anggara berhenti. Tangan kanannya memegang kepalanya. Entah mengapa. Saat dia mencoba melangkah, Anggara malah terjatuh kelantai. Anggara pingsan!
“Cal, Cal kak Anggara, Cal.”aku panik bukan main. Bagaimana tidak? Aku ada ditempat kejadian! Dengan sigap Dycal berlari ke arah tempat jatuh pingsannya Anggara.
“Ayo cepetan kita bawa Anggara ke rumah sakit.”ujar Dycal yang masih ribet memangku kepala Anggara agar kepalanya tidak terbentur lantai lebih keras lagi.
“Kita??”tanyaku sedikit memprotes. Setahuku Dycal kesekolah menggunakan sepeda motor, masa iya ke rumah sakit bertiga?
“Udahlah, Ra kalo ada moment polisi pasti polisinya juga ngerti. Ini darurat!! Kalo enggak cepet mungkin aja ada yang lebih buruk daripada ini.”tukas Dycal seperti bisa membaca apa yang ada dipikiranku.
Dycal akhirnya bersusah payah menggendong Anggara sampai ke parkiran motor. Dengan penuh perjuangan dibantu dengan tukang parkir yang ada disitu kami berhasil menaikkan Anggara dan menata tempat duduk kami agar Anggara tidak merasa sesak walaupun sedang tak sadarkan diri sekarang. Dengan kecepatan penuh Dycal mengarahkan motornya ke rumah sakit terdekat.
Setelah Anggara ditangani para dokter dan suster di Unit Gawat Darurat aku dan Dycal menunggu dengan gelisah di sebuah Ruang tunggu.
”Kita contact siapa nih, Cal?”tanyaku yang masih panik.
”Duhh aku enggak begitu deket sama Anggara. Aku enggak punya nomor handphone keluarganya.”ujar Dycal dengan gusar.
”Sahabatnya?”tanyaku penuh harap.
”Betul! Gege sama Willy pasti bisa bantuin.”tanpa banyak bicara lagi Dycal menelepon sahabat-sahabat Anggara yang tadi ku dengar namanya Gege dan Willy.
Tak lama datanglah 2 cowok yang pernah aku temui. Gege, ternyata dia yang tadi berhasil mencetak 1 gol untuk sekolah kami. Sedangkan Willy dia yang tadi pagi menjadi komentator bersama seorang cewek bernama Alia.
”Anggara kenapa, Cal?”tanya Willy dari raut wajahnya terlihat dia sangat cemas.
”Aku juga enggak tahu. Tadi tiba-tiba dia pingsan gitu aja. Kalian bisa bantu telepon keluarganya supaya datang kesini kan?”pinta Dycal yang masih belum bisa tenang semenjak tadi.
“Dia tinggal sendirian di sini. Semua keluarganya tinggal di Garut.”jawab Gege. Tiba-tiba dokter dengan tubuh yang kurus tinggi berlari kearah kami.
“Saya butuh bicara dengan salah seorang keluarga saudara Anggara. Ini penting sekali.”perasaanku semakin tidak enak. Pasti terjadi sesuatu dengan Anggara.
“Keluarganya enggak ada disini, Dok. Tapi kami bisa menggantikannya.”ujar Willy. Dokter tersebut terdiam sejenak.
“Ya sudah. Ayo, ikut saya.”ucapnya akhirnya. Sang dokter berjalan menuju sebuah ruangan dengan sedikit tergesa. Aku dan Dycal menunggu mereka keluar dengan hati yang kacau balau. Sedikit-sedikit melihat jam di handphone. Hampir 10 menit Willy dan Gege keluar dari ruangan tersebut.
”Kenapa, Wil?”tanya Dycal dengan segera. Tidak ada jawaban dari Willy. Gege pun tidak mau menjawab.
”Enggak terjadi apa-apakan ke Kak Anggara?”tanyaku dengan pelan.
”Kanker liver primer.”ucap Gege. Dia menyandarkan tubuhnya ke tembok.
”Aku bodoh banget enggak peka sama perubahan Anggara.”desah Willy menyesalkan sikapnya. ”Kulitnya semakin lama semakin menguning. Keadaan jelas kayak gitu aku bisa dibodohin sama omongan Anggara kalo itu efek berjemur yang gagal. Dan aku malah ketawa saat itu!”Willy memaki dirinya sendiri.
”Kalo lagi kumpul-kumpul dia sering menggigil sendiri. Kata dia itu cuma flu biasa. Aku bukan temen yang baik buat Anggara.”Gege tidak berhasil menahan laju airmatanya.
“Pantes. Kalo lagi latihan dia gampang capek. Kenapa dia enggak jujur aja.”timpal Dycal pelan.
“Tapi kak Anggara bisa sembuh kan?”tanyaku was-was.
“Bisa sih.”jawab Gege.
“Tapi kecil kemungkinannya. 85% kemungkinan dia enggak bisa bertahan hidup.”Willy melanjutkan ucapan Gege.
“Kata dokter hidupnya enggak lama lagi. Cuma 7 hari. Karena ternyata penyakit ini udah lama. 2 tahun sudah...”cerita Gege terduduk lesu dilantai.
”Kak! Yang nentuin umur manusia itu Tuhan bukan dokter. Kalo Tuhan masih berkehendak kak Anggara hidup pasti akan ada perpanjangan dari Tuhan, Kak.”protesku dengan menggebu-gebu.  Tidak ada jawaban dari siapapun. Hanya terdengan suara tangis yang tertahan. Aku miris melihat kedua sahabat Anggara.
”Tuhan, sembuhkan kak Anggara untuk mereka Tuhan..”do’aku di dalam hati.
***
Aku melangkah keluar kelas bersama beberapa teman dekatku. Kanker liver primer yang diidap Anggara sedang menjadi trending topic disekolahku. Sedikit-sedikit menggosip tentang Anggara. Aku sendiri sampai bosan menjawab pertanyaan yang silih berganti dari mulut teman-temanku.
”Jadi kamu beneran lihat dengan mata kepala kamu sendiri kejadian kemarin?”tanya Claresta untuk yang kesekian kalinya. Aku hanya mengangguk malas-malasan.
”Terus kamu enggak ngasih nafas buatan gitu?”tanya Puspa membuat tanganku yang tadinya diam saja jadi mencubit lengannya dengan emosi yang tinggi.
”Sembarangan aja kalo ngomong.”sentakku sebal.
”Ihh padahal badannya Anggara sama Dycal gedhean Anggara kemana-mana. Kuat banget si Dycal?”puji Alia yang menurutku juga sindiran.
”Katanya Anggara suka ya sama kamu? Katanya kalo orang yang sakit keras dicintai sama orang yang ia cintai pasti lebih mudah sembuhnya.”ujar Puspa membuatku terdiam sejenak.
”Tapi aku enggak suka sama Anggara.”jawabku.
”Kamu coba dulu. Kalo kamu bisa bantu dia dengan sepenuh hati kamu pasti lama-lama cinta itu bakal tumbuh dengan sendirinya.”bujuk Alia.
”Terus Dycal gimana?”tanyaku spontan.
”Kak Dycal pasti bisa ngerti kok. Walaupun berat, aku tahu kak Dycal pasti enggak tega lihat temennya terbaring lemah enggak berdaya di rumah sakit kayak gitu. Dan kamu harus ingat kak Dycal masih bisa ngerasain yang namanya cinta. Tapi kak Anggara? Kemungkinan sembuh kecil banget kan?”Claresta bermonolog panjang dengan penuh perasaan. Aku menggeleng lemah. Tidak ingin meninggalkan Dycal.
”Ra, ikut aku.”Kevin tiba-tiba menarik tanganku. Langkahnya begitu tergesa-gesa membuatku harus berlari kecil untuk mengikutinya. Kevin menghentikan langkah kakinya di sebuah lapangan kecil di sebuah tempat yang jarang penduduknya. Sudah ada Gege, Willy, dan Dycal yang terlihat tak sabar menunggu kami disana. Raut wajah terlihat murung. Aku semakin bertanya-tanya. Ada apa ini?
“Kita langsung aja kali ya, Ra.”ujar Willy ketika aku sudah berdiri di sebelah Dicky. “Hmm... Kita mau kalo kamu cintai Rangga. Walaupun cuma sebentar.”Willy menjelaskan maksud diculiknya aku kesini.
”HA?”seruku kurang mengerti maksud mereka. Tidak mungkin aku bisa meninggalkan Dycal hanya demi Anggara walaupun dia sedang sakit keras.
”Cuma sebentar, Ra. Kamu tahu kan umur Anggara enggak lama lagi?”tanya Willy membuatku terdiam. Haruskah aku melakukannya? ”Kami cuma mau lihat Anggara bahagia di saat-saat terakhirnya.”lanjut Willy semakin membuatku tak berdaya untuk berucap.
”Tapi kan...”ucapan ku terpotong ketika Dycal mengalungkan tangannya ke pundakku.
”Aku enggak mungkin bisa bahagia lihat Anggara kaya gitu. Kamu pasti bisa bikin sisa hidupnya jadi berarti untuk dia.”ucap Dycal membuatku terdiam kembali. Please, Ra. Aku mohon dengan sangat.”bujuk Dycal kembali seraya menggenggam kedua tanganku. Sulit untukku memutuskan. Ada perasaan ingin membantu Anggara tapi rasanya sulit untuk aku meninggalkan Dycal. Aku menghela nafas panjang.
”Bakalan aku coba.”desahku pelan berharap ini adalah keputusan yang benar.
”Makasih, Ra.”ujar Gege.
Setelah rapat itu selesai aku pulang bersama Kevin. Ditengah perjalanan pulang handphoneku bergetar. Ternyata itu sms dari Dycal. Yang isinya:
”Jalani semua ini dengan senyuman :). Jangan kecewain siapapun disini. You can do it, my sweety :). I will miss you :*.
Aku menghela nafas setelah membaca sms Dycal. Dycal terlalu perhatian kepadaku. Yang seperti ini membuatku semakin membuatku susah meninggalkan Dycal.
***
Tepat pukul 8 pagi aku sudah berdiri di depan rumah sakit tempat Anggara dirawat. Aku akan mencoba mengindahkan hari Anggara. Semoga saja semua berjalan sebagaimana mestinya. Dan semoga saja misi kami semua berhasil. Anggara bisa sembuh seperti dulu.
Aku berjalan menyusuri lorong-lorong rumah sakit. Mencari kamar ICU nomor 19. Tak lama aku sudah berhasil manemukannya. Aku intip dari luar kamar yang dihuni Anggara. Ternyata dia sudah bangun dari tidurnya. Aku memasuki kamar tersebut dengan perlahan.
“Hai, Kak.”sapaku. Anggara tersenyum ketika melihat kedatanganku.
“Ara?”tanyanya kaget bercampur senang.
”Maaf ya, Kak baru bisa jenguk sekarang. Kemarin-kemarin sekolahnya padat sampai sore.”aku berbasa-basi sebentar.
”Enggak apa-apa kok, Ra.”ujar Anggara. Aku duduk disebuah kursi desebelah ranjang Anggara.
”Udah sarapan, Kak?”tanyaku denagn masih nervouse.
”Udah.”jawab Anggara. Aku tidak tahu harus bertanya apa lagi. Lama kami berdiam diri. Membuat kamar rumah sakit ini menjadi sunyi senyap.
”Eh, Ra antar aku keluar ya.”pinta Anggara tiba-tiba.
”Ke mana, Kak?”tanyaku heran dengannya. Keadaannyakan tidak mendukung.
”Udah pokoknya keluar saja. Aku bosan dikamar terus 2 hari ini.”cetus Anggara. Akupun mengangguk menyanggupinya. Aku membantu Anggara duduk disebuah kursi roda yang sudah disiapkan dan mendorongnya keluar.
Rumah sakit ini memiliki sebuah taman yang asri. Rumputnya tumbuh subur dengan warna hijau lembut yang menyejukkan mata, tapi rumput ini rajin dipangkas membuatnya terlihat rapi. Pohon-pohon yang rindang membuat siapapun betah berada disitu. Aku menghentikan kursi roda Anggara disana.
”Awannya bagus.”celetuk Anggara. Sontak aku menengadahkan kepalaku untuk memandang awan-awan yang bergumpal dilangit.
”Iya. Bentuknya juga bagus-bagus.”ujarku yang masih terus memandang langit.
”Kamu lihat deh yang itu.”Anggara menunjuk kesebuah arah awan. ”Yang itu bentuknya kayak kamu.”lanjut Anggara.
”Kok bisa?”tanyaku tidak percaya.
”Kamu perhatikan deh. Bentuknya kayak muka kamu lagi senyum. Manis banget.”gumam Anggara.
”Ihh... Sok sweet deh.”ujarku menanggapi gombalannya.
”Kok sok sweet sih? Kan harusnya so sweet.”ucap Anggara seraya memanyunkan mulutnya. Pura-pura saja tentunya.
”Ih, ngambek. Cakepnya ilang deh.”candaku. Duk! Sebuah bola sepak mendarat dengan mantapnya tepat di betisku.
”Aduh! Siapa sih ini. Nendang enggak lihat-lihat.”runtukku sembari mengambil bola tersebut.
”Maaf, Mbak. Bayu enggak maksud nendang ke arah Mbak.”tiba-tiba datanglah seorang anak laki-laki. Mendengarnya mengatakan hal seperti itu dengan tulus aku menjadi tidak ada dendam apapun lagi.
”Enggak apa-apa kok. Siapa tadi namanya? Bayu ya?”aku berusaha mengakrabkan diri.
“Bayu, kamu main sepak bola sama siapa?”tanya Anggara tiba-tiba.
”Cuma sama Ujang dan Budi, Mas.”jawab Bayu.
”Kakak ikutan boleh? Nanti kakak ajarin teknik-teknik sepak bola.”aku kaget setangah mati. Gila apa ini bocah? Dia lagi sakit keras padahal.
”Tapi kan...”
”Aku kangen main sepak bola, Ra.”elak Aggara sebelum aku berucap. ”Please, aku masih kuat kok kalo berdiri.”pinta Anggara. Aku menggeleng pelan. Percuma aku melarang, dia pasti merengek terus. Tanpa bicara apa-apa aku membantunya berdiri. Ia langsung berjalan dengan sedikit tertatih ketempat anak-anak itu bermain.
Aku memandang dengan cemas. Kulihat Anggara tertawa-tawa bersama anak-anak kecil itu. Anggara seperti sehabis keluar dari penjara dan menghirup udara segar. Anggara tertawa dengan lepasnya saat bola itu berpindah kaki. Kebersamaan yang pasti Anggara rindukan. Jika aku jadi Anggara aku juga pasti rindu dengan rutinitasku.
Aku menunggu cukup lama. Akhirnya Anggara mengakhiri permainan mereka. Ia berjalan menghampiriku. Keringat sudah membasahi sekujur tubuhnya. Dia terlihat lelah sekali tetapi senyumannya tetap terpampang di wajahnya.
”Anak-anak tadi seru banget, Ra.”ujar Anggara sembari duduk kembali di kursi rodanya. Aku hanya tersenyum.
”Maaf, Mbak. Ini makan siangnya Anggara.”seorang suster memberikan semangkok bubur kepadaku.
”Oh, iya. Makasih ya, Mbak.”ucapku setelah menerima makanan Anggara.
”Ayo, Kak. Makan.”cetusku setelah suster tersebut berjalan pergi.
”Enggak ah bosan makan bubur terus. Aku enggak doyan.”tukas Anggara.
”Kalo enggak mau makan nanti enggak sembuh-sembuh dong. Berarti harus di sini terus, makan bubur terus.”ucapku sambil memainkan bubur yang ada di hadapanku.
”Emang aku bisa sembuh ya, Ra?”tanya Anggara membuatku tercekat.
”Hush! Enggak boleh bilang gitu. Kalo ada usaha, tekad, dan niat untuk sembuh di dalam hati kamu, pasti kamu bisa sembuh. Yakin deh.”nasehatku kepada Anggara.
”Iya deh. Aku mau makan. Ada tapinya nih.”
”Apa?”tanyaku penasaran.
”Suapin...”kata Anggara.
”Ihh manja banget.”seruku seraya tertawa. ”Iya deh. Ini... Aaaa...”aku menirukan cara orang tua menyuapi anaknya
Dalam sekejap saja bubur yang tadinya dihindari Anggara sudah habis. Setelah ia meminum beberapa obat dari dokter, aku berinisiatif  untuk menghibur Anggara.
”Kak, tunggu bentar ya. Aku mau beli sesuatu.”pamitku. Anggara mengeryitkan dahinya. ”Enggak lama kok.”lanjutku langsung berlari pergi. Tak lama aku kembali membawakan barang untuk Anggara.
”Ini buat kakak.”
”Kok aku dikasih balon sih? Kaya’ anak kecil aja.”protes Anggara ketika aku memberikan barang yang baru saja aku beli.
”Ehh, jangan protes dulu. Kamu pernah lihat enggak film-film barat atau Korea yang dia nulis surat untuk Tuhannya dan diterbangin pake balon?”tanyaku. ”Kamu tulis apa aja yang ingin kamu ungkapin ke Tuhan dikertas ini.”jelasku kemudian.
”Oh, kayak A Letter to God?”tanya Anggara.
”Kurang lebih sih.”jawabku. Rangga menerima kertas dan ballpoint yang aku serahkan sedari tadi. Dengan sedikit perjuangan Anggara menuliskan sebuah surat.
”Udah nih. Terbangin sekarang ya.”pinta Anggara setelah cukup lama menulis suratnya. Aku mengangguk dan mengaitkan sebuah tali di surat yang sudah dibentuk rapi dan menalinya dengan kuat.
See my letter, God.”bisik Anggara ketika melepaskan balon berwarna biru cerah itu.
Balon yang sengaja dilepaskan dari genggaman tangan Anggara mulai mengangkasa. Meliuk-liuk tertepa angin. Terkadang bermain bersama para kupu-kupu dan burung-burung kecil yang sedang melintas. Langit yang berwarna orange dengan paduan kuning dengan awan-awan lembut di atas sana tampak semakin cantik dengan kehadiran balon berwarna biru tersebut. Balon pegas itu terbang jauh mencari tujuan surat tersebut bagaikan burung merpati pengantar surat. Tuhan. Yaps. Tuhan yang diinginkan Anggara untuk membaca suratnya. Aku memang tidak tahu apa yang dituliskan oleh Anggara. Aku tidak tahu apa yang diinginkan Anggara saat ini. Tapi aku tahu, keinginan Anggara pasti mulia. Karena itu, Tuhan, aku pinta aku yakin engkau tahu isi surat tersebut. Kabulkan Tuhan. Jika memang dia tidak lama lagi di sini, dia pasti bisa pergi dengan bahagia jika isi suratnya terkabul, Tuhan.
Aku memandang ke arah Anggara. Ia masih terus memandang kemana arah balonnya pergi. Raut wajahnya terlihat bahagia bisa menulis sebuah surat kepada penguasa jagad raya ini, Tuhan. Anggara, andai saja aku bisa melakukan lebih dari ini pasti aku akan melakukannya. Sayangnya aku tidak mampu melakukan yang lebih indah dari ini.
***
Aku bergegas menuju rumah sakit. Kebetulan hari ini tanggal sedang merah jadi aku bisa pergi menjenguk Anggara. Saat aku memasuki kamarnya aku lihat ada beberapa dokter dan suster yang mengelilingi ranjang Anggara. DEG! Kenapa perasaanku menjadi tidak enak? Apakah terjadi sesuatu kepada Anggara?
Aku terus melangkah maju walaupun sangat lambat. Tidak berani berlari dan melihat apa yang terjadi kepada Anggara seperti di sinetron-sinetron. Akupun sampai di sebelah seorang dokter yang sepertinya menyadari kehadiranku.
”Dia sudah kembali ke Sang Pencipta.”ucap si dokter membuat jantungku serasa berhenti berdetak. Mataku tidak bisa lepas dari tubuh Anggara yang terbaring tanpa nafas, tanpa aliran darah.
”Saat kami datang tangannya menggenggam surat ini. Kami yakin ini untuk kamu.”lanjut sang dokter. Aku menerima sebuah surat. Aku lirik sejenak. Tulisan tangan Anggara semakin tidak terkontrol lebih parah dari kemarin. Tiba-tiba airmataku jatuh satu persatu seperti para dokter dan suster yang mulai meninggalkanku dan Anggara berdua di kamar ini. Lama aku menangis sendirian. Hanya ada jenazah Anggara yang menemaniku. Tak kusadari Dycal sudah ada disitu.
”Kamu jangan nagis terus. Kalo kamu masih nangis terus Anggara pasti ikut sedih dan merasa bersalah di alamnya sana.”bisik Anggara seraya menghapus airmata di pelupuk mataku dengan ibu jarinya.
”Aku belum sempat melakukan apapun untuk kak Anggara, Cal. Aku belum bisa bikin saat-saat terakhirnya jadi indah. Tapi dia... dia udah pergi begitu saja.”sesalku di tengah-tengah isak tangis.
”Ssttt... Kamu enggak boleh bilang seperti itu, Ra. Kamu lihat wajah Anggara. Dia tersenyum. Itu artinya dia pergi dengan bahagia sekarang. Jangan kamu usik kebahagian Anggara dengan tangisan kamu itu.”ucap Dycal masih berusaha menenangkan tangisku. Tapi sayang, bujuk rayunya tidak mempan untuk saat ini. Buktinya, airmataku tetap mengucur deras saat ini. Bukan karena aku mencintai Anggara tapi karena para sahabatnya. Aku tidak bisa melakukan amanat dari para sahabat Anggara. Itu yang membuat aku menyesal setengah mati.
Saat pemakaman Anggara aku masih belum bisa tenang sepenuhnya. Padahal sudah banyak orang berusaha menghiburku. Alia, Puspa, Claresta, bahkan Kevin yang sering meledekku saat airmataku jatuh berusaha membuatku tersenyum kembali. Apalagi Dycal. Dia berjuang keras untuk mengembalikan senyuman dan semangat yang telah tertutup kabut tebal.
Ketika tubuh Anggara dimasukkan ke liang kubur dan dikubur dengan tanah hatiku semakin perih. Tangisanku semakin menjadi-jadi seperti ingin mengulang sesuatu yang telah aku sia-siakan.
Tiba-tiba aku teringat oleh seuatu. Surat dari Anggara. Aku segera mengambilnya dari saku celanaku dan membacanya pelan:

Dear: Ara
Ra, makasih ya udah mencoba untuk mencintai aku meskipun hanya satu hari. Makasih juga bisa buat aku tersenyum bahagia disaat terakhirku. Maaf aku enggak bisa membalas kebaikanmu selama ini.
Oya, tolong bilang ke Willy dan Gege maaf aku enggak bisa bilang jujur tentang penyakitku selama 2 tahun ini. Aku cuma enggak mau mereka ngasihani aku. Dan makasih untuk Dycal yang udah mati-matian nganterin aku kerumah sakit dan ngedukung aku supaya cepat sembuh. Sampai-sampai dia rela kamu seharian berduaan sama aku. Dia pasti dapat balasan kebaikannya dari Tuhan karena aku udah enggak bisa ngebales dan cuma bisa bilang terima kasih.
Ra, kamu mau tahu kemarin apa isi surat aku? Aku bilang ke Tuhan aku enggak mau siapapun nangis saat aku sudah berada di alam lain. Semuanya harus tetap semangat menjalani hidup tanpa aku. Toh dengan kalian nangis aku enggak bisa hidup lagi kan? Ingat. Jangan sekali-lagi nangis karena aku.
Aku enggak bisa lama-lama, Ra. Liver aku semakin lama semakin sakit aja saat ini. Sepertinya udah saatnya aku pergi. Udah hapus airmata kamu. Aku mau pulang dulu. Pokoknya aku enggak mau lihat kamu nangis dari sini. Good bye, Ra. Salam Untuk yang lainnya ya.

                                                                                           Best love

                                                                                        Anggara
                                                                        Anggara Purnama Hadiansyah

”Sekarang kamu percayakan kalo Anggara enggak mau kamu nagis?”tanya seseorang di belakangku. Aku menengok kearahnya. Ternyata Dycal yang sepertinya sudah berada disitu sejak tadi. ”Jadi, jangan nangis ya, My sweety.”lanjut Dycal yang sekali lagi mengusap airmataku dengan ibu jarinya. Aku hanya tersenyum karenanya.
Benar kata Dycal, Anggara yang udah pergi dengan tersenyum akan menjadi sedih melihat aku menangis. Lagipula Anggara sudah merasa aku bisa membuat akhir hidupnya menjadi sebuah kenangan indah yang pasti akan ia kenang selalu di surga sana. Ini memang sudah jalan takdir Rangga.
”Kayaknya dari tadi pagi my sweety belum senyum. Senyum dulu dong.”ujar Dycal seraya tersenyum lebar kepadaku. Hatiku menjadi tergerak untuk membalas senyum manis Dycal.
”Sekarang udahkan.”aku tersenyum lebar tulus dari lubuk hatiku.
”Kalo gitukan tambah cantik my sweety....”aku tambah tertawa ketika Dycal mulai menggombal seperti sedia kala lagi.
Sekarang sudah saatnya aku kembali tertawa bahagia seperti dulu lagi. Tidak ada kesedihan karena kepergian Anggara. Aku harus berdiri tegap menjalani hariku lagi. Dengan tetap senyum juga semangat untuk hidupku. Selamat jalan, Anggara. Tidak akan aku menangis lagi agar kamu tenang di sana.

1 Cinta 3 Hati


Aku melangkah dengan sedikit cepat dengan berbagai macam obat dari apotek rumah sakit dalam sebuah kantong plastik ditanganku . Obat itu untuk ayahku yang sedang melaksanakan cuci darah untuk yang kesekian kalinya.
“Mbak! Mbak!”teriak seseorang. Aku tidak menghiraukannya. Itu pasti bukan aku.
“Mbak!”orang itu menepuk pundakku. Langkahku langsung terhenti seketika. Aku membalikkan badanku untuk melihat siapa yang memanggilku. Dari bajunya aku yakin dia juga seorang pasien di rumah sakit ini.
“Kenapa, Mas?”tanyaku.
“Ada obat yang ketinggalan, Mbak. Tadi sama yang jual udah dipanggil tapi mbaknya enggak dengar. Jadi saya kejar saja.”jelas orang tersebut seraya menyerahkan obat yang ia maksud.
“O iya. Makasih ya mas...”
“Ari ia meneruskan ucapanku.
”Makasih ya mas Ari padahal lagi sakit.”ujarku.
”Ahh... Enggak apa-apa, enggak .... parah kok.”ujarnya merendahkan diri.
”Maaf sakit apa, Mas?”entah mengapa timbulnya sifat ingin tahuku.
”Bukan apa-apa, cuma hepatitis B.”jawabnya. Aku tersentak kaget. Bukankah hepatitis B penyakit yang bisa mematikan tapi ia bilang enggak parah? Dan  cuma hepatitis B? Gila apa orang ini?
Dewi Lestari dan Lukman Sardi
”Ya sudah, Mas. Saya harus mengantar obat ini dulu.”pamitku seraya berjalan cepat lagi.
”Mbak nama kamu siapa?”tanya mas Ari sedikit berteriak.
”Mayang.”sahutku.
Kenapa hatiku merasakan hal yang aneh? Padahal aku sudah punya pendamping saat ini! Ares. Tidak mungkin aku mengkhianati dia dengan perasaan baru dengan orang yang baru saja aku kenal. Tidak! Ini hanya perasaan semu. Anggap saja aku tidak mengenal Ari. Aku harus bia melakukannya.
*
Satnite yang harusnya bisa aku lewati dengan romantisnya bersama Ares tidak bisa terjadi hari ini. Malam ini aku harus melewati satnite di rumaah sakit karena aku harus menunggui ayahku yang sedang cuci darah.
Dari kejauhan aku melihat mas Ari sedang duduk disebuah kursi pengunjung. Dia terlihat sendirian disana. Aku sebenarnya ingin menyapanya, tapi....
”Enggak, Mayang!!! Enggak boleh!!! Ingat Ares, Mayang!!!”angel di otak kananku menyuruhku menghindari mas Ari.
”Mayang!”panggil mas Ari. Mampus aku! Padahal aku sedang berusaha menghindari mas Ari, tapi aku tidak mungkin menganggapnya tidak ada!
”Eh mas Ari. Sendirian aja disini?”tanyaku berbasa-basi sedikit.
“Iya. Emang siapa yang mau nemenin aku?”ujarnya disusul dengan suara tawanya yang renyah.
“Lhah? Emang keluarga kamu?”tanyaku penasaran.
“Orang tua aku tinggal di Bandung. Adik aku lagi sibuk sekolah. Biasalah anak akselererasi pikirannya belajar terus. Kakaknya lagi sakit tetep aja masa bodoh.”jawabnya dengan masih menyunggingkan senyuman lebar. Ya Tuhan, dengan keadaan seperti itu dia bahkan masih bisa tersenyum!
“Hmm... boleh enggak setiap malam minggu aku jengukin kamu?”entah mengapa hatiku tergerak untuk membantunya. Walaupun hanya dengan menemaninya disetiap malam minggu.
Are you really?”tanyanya seperti sedikit tidak percaya.
Of course.”jawabku.
“Pastilah boleh.”ucapnya dengan mata berbinar. Aku tahu dia pasti kesepian ditempat ini. Tanpa siapa-siapa disampingnya.
”Oke deh sampai ketemu sabtu depan mas Ari.”pamitku seraya melangkah pergi.
See you soon.”serunya dengan nada yag lebih ceria dari biasanya. Aku tersenyum bisa membantunya saat ini.
”Bantu aku menjalankan tugas ini, Ya Allah.”do’aku didalam hati.
**
Aku benar-benar menepati janjiku kepada mas Ari. Aku selalu datang disetiap malam minggu untuk bersatnite ria bersama mas Ari. Banyak yang kami lakukan bersama. Bermain games, saling berbagi cerita. Tak jarang kami memandang ke langit yang penuh bintang dan berteman rembulan. Jika ada bintang jatuh kami selalu berlomba untuk berdo’a, memohon. Do’aku selalu sama:
”Sembuhkan mas Ari dari penyakit hepatitis B nya ini.”
Malam ini adalah minggu ke-4 aku melewatkan malam minggu dengan Ares untuk menjenguk mas Ari. Tapi aku heran sendiri kenapa aku sedikit malas malam ini? Aku rasa akan ada kejadian tidak mengenakkan malam ini. Tetapi aku tetap berangkat ke RS untuk menemani mas Ari.
Aku lihat mas Ari sedang duduk dikursi tempat biasanya dia menunggu kedatanganku.
”Hai mas Ari.”sapaku.
”Eh, Mayang udah dateng.”ucapnya yang sepertinya untuk dirinya sendiri. ”Mayang hari ini adik aku datang juga loh.”ujarnya memberiku informasi.
”Oh ya? Percuma dong aku kesini? Kamu udah ada yang nemenin.”ujarku pura-pura ngambek.
“Ya enggak lah. Nanti aku kenalkan ke adik aku.”ujarnya. ”Nah! Itu Ares.”aku tercengang kaget. ARES ADA DISINI!!
“Ares?”tanyaku sedikit grogi.
“Enggak usah kaget gitu kali’. Atau jangan-jangan kalian udah saling kenal?”selidik Ari.
”Dia pacar aku, Mas. Dan ternyata selama ini dia selalu menolak malam mingguan sama aku buat jengukin kamu disini.”ujar Ares yang ternyata sudah berdiri disampingku. Giliran mas Ari yang kaget.
”Maaf, Res. Aku enggak tahu. Beneran deh.”mas Ari terlihat begitu terkejut dan berusaha menjelaskan keadaan yang sedang terjadi kepada Ares tapi percuma. Ares terlalu keras kepala dan egois.
”Alah! Itu udah enggak penting. Sekarang semua keputusan ada ditangan kamu, May. Kamu masih mau mempertahankan hubungan kita atau kamu lebih milih kakak aku.”ujar Ares dengan nada sedikit kasar karena amarahnya.
Tuhan! Aku harus memilih siapa? Ini sangat sulit untuk aku. Ares. Dia orang yang aku cintai selama 2 tahun ini. Aku teringat betapa gembiranya hatiku saat dia menyatakan cinta kepadaku. Saat kami melewati waktu-waktu kami bersama. Disisi lain ada, mas Ari. Orang yang bisa membuatku jatuh cinta pada pandangan pertama. Dan bisa menggugahhati nuraniku untuk membantunya.
”Emm... Maaf... Mas Ari... Aku nganggep kamu cuma sebagai sahabat aku...”ucapku pelan berusaha menjelaskan dengan sehalus mungkin.
”Aku ngerti kok.”kata mas Ari seraya masuk kedalam kamarnya dengan lesu. Ya Tuhan. Semoga ini keputusan yang benar. Semoga keputusan ini tidak menimbulkan efek buruk untuk siapapun...
***
Aku menggeliat pelan saat nada dering handphoneku berbunyi nyaring. Jam digital handphoneku masih menunjukkan pukul 03.57 tapi sudah ada seseorang yang mengirimiku pesan singkat. Dia Ares. Beginilah isi pesannya.
Mas Ari udh g bisa bareng-bareng kta lg, May.
Handphone yang aku pegang langsung terlepa dari genggamanku, terjatuh tepat ditempat tiduku. Tangisku langsung pecah seketika. Mas Ari meninggal. Dia pergi setelah aku menyatakan bahwa aku tidak ada rasa dengannya. Ini salahku. Aku membuat keputusan yang salah.
Handphoneku kembali berdering pertanda adanya pesan masuk. Ternyata dari Ares lagi.
Jgn nyalahin dri km, May. Kata dokter keadaannya 2 bln ini emg smakin memburuk.
Benarkah ini bukan kesalahanku? Tapi kenapa timing yang diberikan Tuhan begitu tepat saat aku bilang tidak punya rasa cinta kepadanya? Tapi tunggu! Siapa bilang tidak ada rasa cinta? Sebenarnya ada satu cinta diantara 3 hati. Aku, Ares, dan mas Ari. Cinta persahabatan.
Aku langsung membalas SMS dari Ares:
“Innalilahi... :( . Yg sabar ya, Res. Smg aja mas Ari masih inget satu cinta persahabatan diantara kt :).
Tak lama Ares membalas pesanku:
Pasti :)
Kami memang terdiri dari tiga hati. Tapi tidak berarti jikalau tidak ada cinta diantara kami bertiga. Bahkan inilah cinta yang paling kuat. Satu cinta untuk sahabat.
“Selamat jalan mas Ari. Tetaplah ingat sahabatmu ini. Juga adikmu satu-satunya. Jangan pernah lupakan cinta diantara kita.”do’aku seketika. Tak terasa airmataku kmbali jatuh. Saat aku harus rela melepaskan dia, sahabatku.

Balada Kisah Cintaku


            Inilah sebuah kisahku tentang sulitnya mendapatkan cinta seorang laki-laki yang tidak menyukaiku.Sebut saja laki-laki tersebut Mr.Y .Mukanya biasa-biasa saja tapi senyum yang selalu menghiasi wajahnya membuat Mr.Y terlihat sangat manis.Tubuhnya tinggi dan kulitnya sawo matang.Itulah Mr.Y .
            Banyak orang tidak percaya pada cinta pada pandangan pertama , tapi aku percaya karena aku merasakannya.Dan Mr.Y lah cinta pada pandangan pertamaku.
***
13 Juli 2010.
            Inilah hari pertamaku MOS.Ya, dengan NEM yang tidak bisa dibilang “wah” aku bisa masuk sekolah unggulan dikotaku.Dan disinilah aku memulai balada kisahku ini.Didepan sana dia berdiri.Penuh dengan senyum dan gerak-geriknya yang kocak.
            “Gila!Ni orang manis bener!”batinku sambil senyum-senyum sendiri.
            Karena aku baru di SMP aku masih suka kembali ke SD ku dulu.Bukan untuk menjadi murid SD lagi hanya untuk say hello dan perpisahan.Just it!Dan entah mendapat ide dari mana, aku tiba-tiba berkata
            “Mas Y cakep ya?”ujarku tersipu
            “Saudaraku wi.Kenapa?Naksir?Tak bilangkan ya?”goda Sila membuatku kaget 2/3 mati
            Sopo to?”tanya Mutiara dengan PD-nya dan tanpa wajah bersalah
            “Enggak.Aku enggak naksir.Cuma suka aja lihat wajahnya.”jawabku nge-les
            Aku memang bodoh.Aku telah membohongi perasaanku sendiri.Apa boleh buat?ini juga demi dia.
***
            Ulangan tengah semester 1 ini baru saja selaesai.Aku masih merasa pening.Aku masih terlalu bingung dengan sistm ulangan di sekolahku.Melirik sedikit saja tidak bisa.Akan tetapi melihat Mr.Y didepan sana aku menjadi tersenyum sendiri.Jantungku tidak bisa diajak berkompromi.Di saat seperti ini malah asyik berdegup kencang membuatku semakin deg-degan.
            Setelah agak jauh dari Mr.Y aku berkata
http://www.hpgua.com/2011/06/kata-kata-sakit-hati.html
            “Pip.........Itu orangnya!”gumamku pada Hafifa sambil ketar-ketir tidak karuan.Hafifa langsung menengok ke belakang
            “Oalah...itu to Mas Y?”tanyanya sambil manggut-manggut
            “Cakep kan?”aku malah balik bertanya
            “Biasa.”jawabnya singkat sembrani kembali menyusuri jalan yang penuh dengan pedagang kaki lima
            “Nurut kamu emang biasa tapi nurut aku luar biasa”batinku seraya tersenyum
            Hampir 1 tahun aku 1 sekolah dengan Mr.Y tapi bertemu dengan Mr.Y adalah hal yang langka.Maklum saja, kelasku dengan kelas Mr.Y cukup jauh, jadi tidak bisa beralasan kekamar mandi lalu melewati kelasnya sambil mengintip.Atau sejuta alasan basi lainnya.Melempem.Paling banter juga kalau bertemu Mr.Y di Kantin.Pernah suatu hari aku bertemu Mr.Y di Kantin, bukannya senang aku malah kalutttttttttttttttttttttttt 1/4 mati.
            “Itu lo Mas Y”kata Hafifa memberitahuku
            “Mana?”tanyaku tak sabar sambil celingak-celinguk.Ketika sudah menemukan wajah manis Mr.Y aku tersenyum sendiri.Itulah adatku jika bertemu dengan Mr.Y
            “Tu orang kalo pake kacamata cakep juga.”gumam Hafifa langsung membuatku shock
            Aja naksir dia!”tegasku sebal
            “Enggak.Kan cuma muji.”ujarnya cepat.Hafifa.Orang yang disukai Hafifa memang banyak, tapi aku yakin Mr.Y tidak termasuk.Aku percaya kepadanya.
            23 Mei 2010.
            Aku menggeliat pelan.Aku sedang sebal.Karya tulis ilmiah sebentar lagi harus dikumpulkan jika aku masih ingin mengikuti lomba, tetapi semua anggota kelompokku tidak mau membalas smsku.
            “Buka facebook aja.”batinku.Semua kertas-kertas beserta flashdisk sudah berada di genggamanku.Rencananya setelah selesai membuka facebook aku akan mengerjakan karya ilmiah tersebut.
            Iseng-iseng aku membuka wall milik Mr.Y .Kubaca status terbarunya.WHAT?!!!Mr.Y dirawat di Rumah Sakit?Susah payah aku mencari tahu penyakit apa yang tega mampir ke tubuh Mr.Y .Akan tetapi hasilnya nol.Aku tidak mendapatkan apa-apa.
            Griya Usada kamar Mawar no.8, aku benar-benar ingin kesana sampai-sampai aku lupa bahwa aku berniat mengerjakan karya ilmiah saking sibuknya memikirkan cara untuk bisa menjenguk Mr.Y
            Hal gila pun aku lakukan.Bukan menjenguk langsung dengan alasan salah kamar atau apalah.Tetapi aku SMS Sila dan memaksanya mengajakku menjenguk Mr.Y .Tidak ada hasil apa-apa.Kalaupun ada hasil paling juga Sila menjadi mengerti bahwa aku benar-benar sayang kepada Mr.Y .Tapi apa boleh buat?
***
            25 Mei 2010.
            Aku masih terus memaksa Sila untuk mengajakku menjenguk Mr.Y, tapi ia tetap tidak mau.Aku mendengus kesal.Sekedar iseng, aku membuka wall milik Mr.Y .Aku tersenyum senang.Mr.Y sudah keluar dari rumah sakit.
            Karena terlalu penasaran aku masih mencari tahu tentang penyakit yang tega-teganya membuat sarang disana.Aku terkejut setengah mati mengetahuinya.Usus buntu.Penyakit itu ingin ku tendang sampai mengkerut.Tetapi tidak ada hal yang bisa aku perbuat.Sebelum membuat penyakit tersebut mengkerut aku sudah mengkerut duluan.
***
            Rencananya hari ini aku ingin mulai SMS Mr.Y .Tapi aku masih belum siap.Setelah melakukan ritual sholat Ashar dan dibantu dorongan semangat dari teman-temanku, aku memulainya.Bukannya senang aku malah kecewa.Karena apa?Pending.Itulah jawabannya.Saking sebalnya handphoneku ku matikan.Setelah malam handphone tersebut ku nyalakan kembali, Mr.Y sudah membalas SMS ku.2 hari ini aku dan Mr.Y ber-SMS ria.Akan tetapi hari ke-3 dia sama sekali tidak membalas SMs ku.Diusut-usut itu bukan nomer handphonenya Mr.Y.Semua tawa, tangis, dan marah ini tidak berarti apa-apa jika penyebabnya bukan Mr.Y!
            Hari ke empat tiba-tiba Sila menyatakan bahwa itu memang benar nomer handphone Mr.Y .Aku memulai kembali aksiku.Sama sekali tidak ada respon.Sampai akhirnya pukul 15.42 Mr.Y memulai perang dunia ke-3 diantara kami.Dengan PD-nya dia SMS
            We ki sopo to.Megelne.’
            Dia benar-benar marah besar. Aku juga tidak bisa terus bersabar. Walaupun memang akulah penyebab perang dunia ke-3 diantara kami ini. Aku telah berbohong kepadanya dan berdosa kepada banyak pihak. Papa, Mama, Mr.Y, Tuhan. Maaf semua. Aku telah berbohong tentang namaku. Bukannya aku tidak menghargai namaku. Aku hanya ingin Mr.Y mengenalku sebagai his secret admirer. Akan tetapi semua ini bisa di pikirnya dengan pikiran dingin akan tetapi kenapa Mr.Y tidak? Perang dunia ke-3 diantara kami berakhir dengan kehancuran.
            Mungkin dia tidak akan pernah lagi membalas SMSku. Dan mungkin aku tidak akan pernah berani SMS Mr.Y . But, everything that happen. I still will be your secret admirer ^v^.

Datang, Hilang, dan Kembali



            28 Agustus 2009. Itulah tanggal dimana aku resmi menjadi pacar seorang cowok bernama Radityatama Prakoso. Seorang wartawan dari sebuah surat kabar swasta. Sedangkan aku, seorang Zaskya Gitaclara hanya seorang pegawai kantoran yang sejak masuk perusahaan tak pernah sekalipun promosi.
            Aku ingat sekali tanggal 14 Mei 2009 saat pertama kali aku dan Radit bertemu. Simple. Kami hanya bertemu di perpustakaan kota langgananku. Tanpa diduga-duga Radit mengajakku berkenalan hampir saja aku mati ditempat melihat sosok tinggi yang sungguh kelewat cakep melebihi Daniel Radcliffe ataupun Dani Pedrosa senyuman Kim Bum saja kalah dengan Radit. Sekedar iseng saja aku menanyakan nomer handphone Radit kepada penjaga perpustakaan. Aku yakin sekali si mbak penjaga perpustakaan itu melihat aku bercakap-cakap sok mesra dengan Radit terbukti dia tidak mau memberikan nomor handphone milik Radit. Setelah ku ancam akan kutelepon atasannya dan mengadukannya tidak mau melayaniku dengan baik akhirnya dia memberikan nomer handphone Radit dengan muka lecek seperti uang Rp100 kertas. Aku tertawa sendiri, mengapa si mbak itu begitu bodoh? Bisa saja dia memberiku nomor handphone palsu dengan ikhlas kan? Lagi pula mana punya aku nomor telepon atasannya? Tetapi jodoh memang enggak kemana! Malamnya Radit SMS aku duluan mungkin dia juga menanyakan nomer handphoneku kepada penjaga perpustakaan itu juga.
 

Date : May 28, 19:43

 Hi
Wie geht es dir?
                                  Radit

From : +62856495239452



            Aku tahu wie geht es dir adalah bahasa jerman yang artinya apa kabar. Saking shocknya aku sampai loncat-loncat sendiri di kasur. Oh,God!!!! I’m shock! Enggak tau mau jawab apa iseng aku menjawab:
 


Not bad, you?

To : Kim Raditya
May 28, 19:47


            Jadilah semalaman suntuk kami SMS-an. Sayang semua itu harus berhenti di aku, sebenarnya aku masih mau SMS-an tapi aku hanya menjaga image di depan Radit. Terpaksa aku SMS
 

Eh, udh hmpir jam 1 nih!Udahan y?Have a good night c:

To : Kim Raditya
May 29, 00:57


            Tak lama SMS balasan dari Radit masuk ke handphoneku
 

Date :29 May 2009

Iya mimpiin ak aja y?:)..
Good night

From : Kim Raditya


            Gombal! Gombal memang, tapi aku suka. Aku sampai tidak bisa tidur karena terus memikirkan Radit. Apakah aku jatuh cinta? Whatever, mau jatuh cinta kek mau jatuh hati kek mau jatuh dari sepeda kek yang penting Radityatama Prakoso milikku!
            “DOOORRRRRRR!!!!!!!”teriakkan dari belakang membuyarkan lamunan masa laluku. Siapa dia?Siapa lagi kalau bukan pacarku satu-satunya itu.
            “Mulai deh usilnya!”ujarku jutek atau lebih tepatnya sok jutek
            “Oooooccccchhhhh, pacarku marah.” Ini yang tidak kusukai dari orang pacaran sok MESRA serasa dunia milik berdua meskipun aku juga kadang begitu.
            “Tumben kesini? Ngapain?”tanyaku tanpa ya-yi-yu-ye-yo dulu
            “Nih.”jawabnya singkat sambil menyodorkan sebuah undangan. Kubaca sekilas. Undangan pernikahan teman seprofesi Radit.
            “Mau nyusul nih?”godaku sekaligus berharap
            “Maunya sih. Aku yakin kamu juga mau kan?”tanyanya yang balas menggodaku
            “Alah!Umur jaga masih belom nyampe 30 udah minta kawin! Mau punya anak berapa? Kasian yang ngelahirin dong?!”protesku yang tumben-tumbennya bisa ngomong agak serius sedikit
            “Hehe. Udahlah. Kita dateng ya? Lumayan kan kita bisa liat-liat buat modal kawinan kita.”ujarnya sambil nyengir. Kalau Kim Bum hanya tersenyum tipis sudah bisa mengguncang cewek-cewek seluruh negeri apalagi Kim Raditya ku satu ini yang selalu nyengir lebar?
            “Iya deh!Dandan yang cakep ya?”pesanku
            “Iya dech sayangs.”jawabnya
            “Perezzzz!!!!”jeritku sok sebal padahal aslinya senang
            “Udah ah!!Pulang dulu ya says.”pamitnya padahal belum sampai 1 jam dia disana
            “Kebiasaan deh pulang cepet-cepet. Berenti aja deh jadi wartawan.”ujarku sebal bukan sok sebal
            “Jangan gitu dong! Entar anak kita makan apaan?”tanyanya yang aku jakin hanya bergurau
            “Au’ ah gelap.”jawabku ngasal
            “Dadaaaaaaaaa.......”teriaknya yang tanpa ya-yi-yu-ye-yo langsung ngacir keluar trenyuh ati iki ndelok kedadean koyo ngono.
***
            Jika tanggal 14 Mei 2009 aku bertemu dengan Radit tanggal 28 Agustus 2009 akhirnya aku resmi menjadi kekasih Radit. Banyak problema yang menerjang hubungan kami tapi kami yakin kami mampu tuk tetap tenang. See, kami masih langgeng. Tapi mungkinkah suatu saat hubungan kami di uji karena kekuranganku?
            Di saat aku asyik merenung HP ku malah menyanyi dengan nyaringnya. Ku lihat layar handphoneku. Radit. Akhirnya ku jawab telepon itu.
            “Assalamualaikum?”
            “Waalaikumsalam. Says kesini dongs!!”pintanya penuh harap sekaligus maksa
            “Kemana?”tanyaku aras-arasan
            “Ke depan rumahmu!”jawab Radit penuh semangat
            “Iya deh.”kataku akhirnya. Yes!Aku mengalah. Malam-malam pukul 11 malam pacaran di depan rumah?Apa kata tetangga? Radit terlihat berbeda. Baru kali ini (kecuali kalau di ajak kondangan) aku melihat Radit mengenakan kemeja walaupun tetap saja di setia pada celana jins buluknya yang jarang ia cuci. Radit terlihat cengir lebih lebar dari pada biasanya
            “Pasti ada apa-apanya.”batinku penuh keyakinan
            “Ikut aku yuk?”ajaknya langsung menggandeng tanganku. What? Gila ni bocah! Dia keliatan keci gitu sih enggak apa-apa. Lha aku? Coba kita lihat dari atas kebawah. Aku hanya memakai jilbab yang asal samber berwarna merah, kaus dengan warna krem dan cardigan hijau, dan oow...aku masih memakai celana tidur biru kesayanganku. Dan apalagi ini?Aku memakai sandal jepit kedodoran!Dan aku yakin Radit tidak akan memperbolehkan aku dandan meskipun hanya 15 menit.
            “Ganti baju dulu ya?”usulku
            “Enggak usah.”ujarnya sambil mencekeram tanganku kuat-kuat. Apa aku bilang? Egois! Radit langsung menarikku menuju vespa kesayangannya. Kurang cinta apalagi aku? Walaupun tampil ancur-ancuran gini tetap saja aku rela mengikutinya pergi.
            Lumayan lama perjalanan ke tempat yang dituju Radit. Setelah vespa Radit berhenti mengeluarkan suara aneh aku langsung geleng-geleng seperti orang disko. Bayangkan Radit mengajakku ke Cafe yang romantissssssssss bangetttttttttttttttttttttttttttt! Oh, God!!!!! Help me!!!!!!!!!!!!!!!!
            “Ayo masuk!”ajak Radit tanpa sedikit pun terganggu oleh penampilanku
            “Tapi masak aku pake baju kayak gini?”tanyaku sedikit gemas pada orang ini. Kenapa cueknya keterlaluan sih?
            “Udah lah enggak apa-apa.”jawabnya santai seraya menarikku masuk. Enggak usah ditanya! Disini aku menjadi tontonan yang mungkin menurut mereka menarik. Akhirnya Radit memilih tempat duduk yang agak ke pojok.
            “Mau ngapain sih, says?”tanyaku dengan wajah bersungut-sungut
            “Eee....3 hari lagi aku mau ngeliput perang antar warga di Timika...”ucapnya perlahan
            “Perang?Enggak!”ujarku tegas
            “Tapi ini Cuma perang kecil di kota kecil kamu jangan jadi kayak anak kecil dong!”timpalnya mulai memanas
            “Iya. Tapi ini perang Radit. PERANG!”seruku tetap keukeuh tidak memperbolehkan
            “Ini Cuma pertengkaran kecil. Enggak kayak Irak dan Iran, Israel sama Palestina! Enggak pake bom!”tegasnya mulai mengeras
            “Aku enggak pingin kamu kenapa-napa! Entar yang kawin sama aku siapa?”tanyaku berusaha membuat Radit berubah pikiran.
            “Percaya deh aku enggak bakal kenapa-napa!”jawabnya tetap saja ngeyel pada pendapatnya. Tuhan!!! Gimana ini? Bantu aku Tuhan.
            “Istikharah sambil sholat Tahajud dulu deh!”usulku
            “Jadi intinya kalau Tuhan mempersilahkan aku ngeliput berita ini aku boleh pergi kan?”tanyanya dengan berbinar-binar. Aku hanya bisa mengangkat bahu. Pasrah.
            “Tapi kamu enggak boleh kenapa-napa ya?Jangan selingkuh. Jangan sampe kamu hilang ingatan terus diselametin cewek akhirnya kalian pacaran, tunangan, nikah! No way!”pesanku lebih panjang daripada jembatan Suramadu.
            “Kayak sinetron aja!”candanya mulai mencair. Aku mengalah. Yang penting Radit seneng. Tuhan jaga dia!!
***
            Hari ini hari keberangkatan Radit. Kenapa aku malah jadi nervous? Ini bukan sidang kelulusan! Apakah ini yang namanya Felling not good? Pesawat Radit akan berangkat 15 menit lagi dan dia baru saja akan boarding. Sungguh keterlaluan anak itu! Kelewat santai. Dan inilah saat-sat paling mengharukan, saat dia akan meninggalkan kami. Aku mendapat kesempatan terakhir untuk menyampaikan pesan-pesan kepada Radit. Setelah Orang-orang terdahuluku selesai akhirnya tiba giliranku.
            “Disana jangan cari selingkuhan ya!”pesanku singkat. Dia hanya nyengir saja, tapi aku tahu dari matanya terlihat bahwa dia sedih. Akhirnya pesawat Radit benar-benar berangkat. Dan akankah Radit akan pulang seminggu lagi seperti janjinya?
            “Ya Allah, Ya Tuhan ku...Jagalah Kim Raditya ku di kota orang.”do’a ku dalam hati. Aku yakin Radit pasti pulang.
***
            Sudah 1 minggu lebih Radit pergi ke kota orang. Tapi kontak denganku saja tidak. Mungkinkah terjadi sesuatu pada Radit? Ku sambar koran yang ada didepanku untuk menghilangkan penatku. Tetapi..Astaga!! ‘16 Reporter Terluka dalam Peliputan Rusuh di Timika, 2 Meninggal’ itulah judul berita utama hari ini. Mungkinkah itu Radit? Sekarang jam 10.30, segera aku ambil air wudhu untuk sholat Dhuha dan berdoa kepada Allah untuk keselamatan Radit.
            Sorenya aku pergi ke cafe tempat Radit pamit kepadaku. Aku suka tempat ini. Sunyi. Seonggong Sirloin steak dan Cappucino milkshake telah terhidang dihadapanku. Ini adalah makanan dan minuman favorit Radit, yang aku harap bukan Alm.Radit. Ketika sedang siap-siap memakan steak ku kulihat sosok tinggi yang mirip sekali dengan Radit. Apakah itu Radit? Tidak perlu dipertanyakan lagi, itu Radit. Radityatama Prakoso dengan seorang cewek yang tinggi mugkin akibat sepatu haknya dan dia hanya memakai dress mini. Apakah iman Radit sudah tergoyah karena cewek ini? Apakah Radit sudah tidak menyukai cewek berjilbab?
            “Radit!!”panggilku sedikit berteriak. Radit menengok ke arahku mencari orang yang memanggilnya. Ketika melihatku dia malah nyengir kuda seperti biasanya. Bukannya salting udah ketahuan selingkuh malah melambai kearahku.
            “Gita!Sini!”Ya Allah, dia malah memanggilku. Aku menururutinya.
God! cewek itu malah menggenggam mesra lengan Radit. “Says, kenalin ini..” ketauan selingkuh masih manggil sayang?
            “Bener-bener ya kamu! Katanya apa? Enggak bakalan nyari selingkuhan!”potongku sebal. Kebetulan ada Ice Lemon Squash di dekatku ingin ku siram tapi enggak tega. Akhirnya ku urungkan niatku itu.
            “Tapi ini..”ujarnya mencoba menjelaskan
            “Udah deh! Selingkuh tetep aja selingkuh! Tapi lain kali kalo nyari selingkuhan yang bener dong!”lagi-lagi aku memotong bicaranya. Segeraku sambar tasku dan meninggalkan cafe itu.
            “Mbak tunggu!!”tiba-tiba penjaga cafe memanggil-manggil. Aku pun berhenti.
            “Bayar dulu, Mbak!”ingat penjaga cafe sambil ngos-ngosan berusaha mengatur nafas. Alamak!!! Kenapa sekarang? Kenapa didepan Radit dan selingkuhannya? Selingkuhan Radit tampak mesem-mesem sendiri. Segera kubayar makananku tadi dan segera meninggalkan cafe sialan itu.
            Sesampainya dirumah aku segera berlari untuk mengurung diri dikamar. Teriakan mama sama sekali tidak kugubris. Moodku sedang kacau. Dikamar aku menangis sejadi-jadi nya. Setelah sekian lama aku setia, menutup mataku untuk semua cowok cakep yang mencoba mendekatiku tapi diujung pacaran (karena berencana ingin menikah) Radit malah selingkuh? Karena terlalu banyak menangis aku menjadi mengantuk dan tertidur. Lama aku tertidur, bangun pun karena ada seseorang yang ketok-ketok kamarku. Siapa gerangan? Kalau Mama atau Kak Cita pasti sudah langsung njelundus masuk tanpa permisi. Aku baru ingat bahwa kamarku kukuci rapat-rapat sebelum tidur. Segera kubuka pintu kamarku, ternyata Mama.
            “Dicari Radit didepan.”ujar Mama memberi pengumuman
            “Males ah!Bilang aja aku lagi tidur.”jawabku santai
            “Kalo ada masalah sama Radit jangan Mama dong yang jadi tumbal di suruh bo’ong yang dosa ya Mama.”elak Mama panjang
 

            “Udah?”tanyaku cuek bebek. Segera aku masuk dan kututup rapat-rapat . Baru kali ini aku sedikit kurang ajar pada Mama. Tapi aku tidak mau bertemu Radit. Paling tidak, tidak untuk sekarang. Tiba-tiba HP ku berbunyi tanda ada SMS masuk


Date :13 June 2010

Gita, keluar dong masa pacar baru pulang ngeliput perang enggak di temuin?

From : Kim Raditya


            Ada 47 SMS serupa yang masuk ke handphoneku dan juga ada 34 misscall. Handphoneku tiba-tiba berdering lagi. Radit. Enggak ada kapok-kapoknya juga ya? Saking sebalnya handphoneku sampai ku non aktifkan. Daripada bete akhirnya aku memutuskan untuk membuka twitter dan facebook. Siapa tahu nemu jodoh baru.
            Tapi apa-apaan ini? Radit telah mengirim banyak message yang intinya aku salah paham. Salah paham gimana? Jelas-jelas dia ke gap selingkuh bukan salah paham.
***


            Sudah hampir 1 minggu aku nyuekin semua SMS, telpon, message, bahkan e-mail walaupun setiap saat dia tetap mengirimiku. Pagi ini, tanggal 19 Juni 2010 aku bangun dngan bugar. Baru jam 06.30 saja aku sudah mandi dan sempat dandan. Tiba-tiba terdengar parade. Perasaanku hari ini tidak ada karnaval.
            “Bikin jus mangga dikasih mengkudu
              Lama bikinnya enggak kelar-kelar
              Wahai Gita cantik oh sayangku
              Ku mohon dirimu mau keluar”teriak orang dibawah sana disambut musik parade yang membahana. Ku intip orang setengah sinting itu. Ternyata dia.....Radit. Segera aku berlari menuruni tangga untuk menemuinya. Untung saja aku sudah mandi dan dandan biar enggak malu-maluin.
            “Beli baju di Nusa Dua
              Jadi bingung milih baju
              Eh abang ini siapa
              Teriak-teriak melulu”balasku. Sebenarnya aku enggak tahu dapet kata-kata dari mana.
            “Gita, aku mau ngomong sama kamu.”serunya tanpa basa-basi
            “Mau ngapain? Ngenalin pacar baru?”tanyaku sok judes
            “Bukan, Git! Kamu bener-bener salah sangka!”tegas Radit. Dia terlihat mengayunkan tangan kepada seseorang. Aku enggak heran kalo yang dipanggil adalah cewek yang kemarin di cafe.
            “Hai!Saya Katie saudara Radit dari California. Jadi kita belum pernah bertemu saya maklum kamu marah waktu di cafe.”ujar orang yang katanya bernama Katie itu. Memang wajahnya terlihat western. Dan logatnya memang bukan Indonesia.
            “Tunggu sebentar ya!”ujarku lalu masuk rumah. Seingatku Radit pernah memberiku foto saudaranya yang ada di California tak lama foto itu kutemukan. Langsung aku meluncur menuju keluar. Kuamati orang difoto dan Katie
            “Mirip. Maaf ya soal yang di cafe wajarlah kalo aku cemburu.”ujarku
            “No problem. Itu wajar kok.”timpalnya sambil tersenyum manis “So, selamat bersenang-senang.”serunya seraya meninggalkan halaman rumahku bersama para pemain musik itu.
            “Jadi dimaafin kan?”tanya Radit tiba-tiba. Aku hanya mengangguk sambil nyengir kelinci
            “Tapi kamu harus gendong aku dari sini ke taman trus balik kesini lagi.”tantangku.
            “Boleh!”jawab Radit sambil mengangkatku. Kembalilah kami menjadi Radit dan Gita yang selalu merasa dunia milik berdua.
***
            Tanggal 29 Oktober 2010. Hari ini adalah hari bersejarah untukku. Yeah, aku akan ijab kabul. Dari tadi Mama dan Ibunya Radit sudah menangis sesenggukan. Entah tangis bahagia atau tangis sedih karena kehilangan. Dan inilah saatnya. Saat paling mendebarkan. It’s show time!
            Aku tidak berani mendengarkan semua ini. Aku memejamkan mata untuk menenangkan pikiranku. Tiba-tiba terdengar suara disebelahku. Suara Radit, calon suamiku yang mungkin beberapa menit lagi sudah resmi menjadi suamiku.
            “Saya terima nikahnya, Zaskya Gitaclara binti Andika Nugraha Priambudi dengan mas kawin seperangkat alat sholat beserta uang sebesar 3 juta 7 raus ribu dibayar tunai.”ucap Radit secara khusyuk.
            Terdengar suara orang-orang mengatakan ”sah”, dan itu pertanda aku adalah istri dari Bapak Radityatama Prakoso dan saya adalah Ibu Raditya. Radit benar-benar anugrah terindah dari Tuhan setelah Mama, Papa, dan Kak Cita tentunya.
            Thanks God! Thanks for your gift and opportunity that yuo have given for me. I’m promise won’t be useless it. And I hope you always take care and bless me. My live is very perfect for me. Once again I say thanks  for you God!!I love my live.