music box

Minggu, 23 Juni 2013

Paket Lengkap Menunggu

Mungkin bukan menunggu namanya,
jika aku terus menanyakan kapan datangnya waktu.
Mungkin bukan bersabar namanya,
jika aku terus gelisah
menanti dia yang tak kunjung datang.

Karena yang namanya menunggu,
harus satu paket dengan bersabar.
Terus menanti tanpa pernah menangis.
Selalu percaya,
bahwa Tuhan punya timing tersendiri.
Terus percaya tanpa pernah mengeluh,
bahwa apa yang kita lakukan tidak akan sia-sia.
Saat itu akan datang.
Suatu hari.
Pasti.

Karena yang namanya bersabar,
harus setia menunggu.
Hanya bisa menghapus peluh,
jangan pernah mengeluh.

Apa susahnya percaya?
Pada Tuhan,
takdir,
keadaan,
dan dia.

Seperti paket lengkap saat makan,
nasi, lauk, sayur, buah, minum harus ada.
Seperti itu juga menunggu
Karena ini sudah saatnya,
tidak hanya menunggu dengan sabar,
tapi juga meyakini,
dia layak untuk ditunggu.
Karena aku layak memilikinya.



Terdengar terlalu kekanakan?
Seperti terlalu percaya diri?
Bukan,
itu hanya penyemangatku.
Pengobar harapan.
Teman saat menunggu.

Karena aku hanya bisa menunggu-bersabar-dan meyakini.
itu tidak salah kan?

Jumat, 21 Juni 2013

Mungkin Salah Paham (?)

Mungkin ini yang namanya salah paham.
Ketika obyek semu kita
tertebak secara salah,
mengenai orang lain.
ZONK!!!

Karena yang namanya salah paham,
adalah dua pemikiran berbeda
yang terus bergelut dalam pikiran kita sendiri-sendiri.
Kamu tidak tahu apa yang aku maksud,
aku juga tidak tahu apa yang kamu inginkan.

Aku bukannya mau sok tahu,
mengira semua literatur itu untukku,
atau kembali,
aku terkena penyakit ke-PD-an.

Mungkin memang benar,
dalam sebuah ketidak tahuan
lebih elegan jika kita diam.
Tidak sok tahu.
Tapi aku tidak ingin semuanya semakin semu.

Kita saling berbicara tanpa saling mengajak bicara
dengan bahasa kita masing-masing.
Tanpa pernah tahu kebenarannya.
Apa kamu tidak lelah dengan cara itu?
Mungkin benar apa yang ku katakan,
Dua pemikiran yang berbeda ini harus bertemu.
Cepat atau lambat,
agar dua pemikiran ini
bisa menemukan satu jalan yang kita pilih berdua.

Pada saatnya kita pasti akan bertemu,
memberi tahukan obyek itu dengan jelas.
Menyelesaikan kesalahan pahaman.
Mencari satu jalan untuk bisa kita lalui bersama.



Kamis, 20 Juni 2013

Potret Kisah #PIRATES XE

Baru setahun,
baru satu tahun bersama saja
aku sudah banyak belajar dari kalian semua.
Tentang cerita kalian,
cerita kita.
Tentang tawa kalian,
tawa kita.
Tentang tangis kalian,
tangis kita.




Kalian tahu tentang pelajaran kimia?
Pelajaran di mana angka dan huruf menjadi satu padu.
Pelajaran yang membuat kepala pening,
dan hati nelangsa.
Pelajaran yang susah.
Tapi dari kimia kita belajar banyak hal.
Belajar kehidupan.

Kalian itu ya seperti pelajaran kimia.
Orang dari utara, selatan, timur, barat bersatu padu.
Terkadang membuat jengkel,
tapi kalian sudah seperti sumber kehidupanku,
asupan tawaku.

Di setiap potret kisah kita,
di sana ada canda tawa kita.
Meski terkadang tangis dan amarah menjadi pengganggu.
Tapi tetap saja,
kalian yang terbaik.

Karena bagiku,
kalian yang selalu berhasil mengubah tangisku menjadi tawa
ketika rasa sesak di hatiku berubah menjadi airmata.
Karena kalian,
yang mau mendengarkan cerita sumbangku,
mampu menghapuskan tangisku dengan setiap tawa kalian.



Ya,
satu tahun sudah berlalu.
Aku tahu,
hidup memang harus berotasi untuk mendapatkan
rasa manis, pahit, asam, dan asin.
Untuk tahu apa artinya hidup.
Hidup harus berpindah,
tidak mungkin berhenti begitu saja.
Jalani rotasi kehidupan kalian dengan baik, teman.

Terimakasih untuk segala canda dan tawa yang kalian buat.
Dan aku menyayangi kalian.
Kita selamanya teman kan?


dedicated for my beloved PIRATES XE SMADA MADIUN
Arab-Yeye-Adit-Iman-Kukun-Bast-Alvin-Della-Wita-Dyta-Elsa-Ebi-Mamak-Wati-Oced-Junet-Manda-Owob-Miami-Vira-Hadi-Mami-Alip-Roy-Rona-Risma-Sesil-Inos-Anggi-Tiwi-Tommy-Aseng


Rabu, 19 Juni 2013

Hanya Membingungkan

"Obyek kamu tidak kalah semu,
membingungkan.
Membuatku penasaran,
itu siapa?"

Pernyataan dan pertanyaannya itu terus tergantung di pikiranku,
ketika aku membaca tulisan yang kamu publikasikan di sosial media.
Semuanya seakan menjawab literatur yang kutuliskan,
tapi ada satu benang yang membuatnya seakan bukan aku.

Jujur saja,
aku ingin sekali lebih mengenalmu,
menjadi temanmu.
Menunggu kepastian darinya bersamamu.
Iya, bersama kamu yang mungkin memiliki rasa ingin memiliki lelaki itu,
lelaki yang juga aku sayangi,
sejak dulu.

Tapi selalu saja,
seakan ada satu tembok pemisah antara kita berdua
yang sulit dirobohkan,
mungkin malu,
mungkin gengsi.
Atau mungkin waktu yang ditunggu-tunggu tapi tidak kunjung datang?

Aku tahu,
waktu tidak perlu ditunggu,
dia tidak peka.
Toh, waktu tidak bisa memulai segalanya.
Hanya aku dan kamu yang bisa.
Tapi kenyataannya?
Kita malah saling tunggu.

Sekali lagi aku ingin jujur padamu,
aku benar-benar ingin berteman,
tidak ingin bertengkar.
Sama seperti kamu,
aku tidak ingin ada salah paham.

Hanya saja...
Ada satu argumen dalam benakku yang membuatku mengurungkan niat,
apa yang kamu maksud benar-benar aku?

Itu saja yang membuatku enggan memulai terlebih dulu.
Takut kamu tidak memiliki niat yang sama,
takut bahwa kenyataannya dalam literaturmu itu bukan aku,
takut jika ternyata kamu membenciku,
takut kamu hanya menganggapku modus,
sok kenal,
ke-PD-an.

Maaf,
aku ingin berteman dengan kamu.
Aku ingin...
Tapi tidak bisa memulai.
Tidak tahu apa yang akan pertama kubicarakan.
Tidak tahu bagaimana caranya.
Mungkin hanya bisa menunggu kamu yang memulai.
Atau semuanya tidak akan terjalin....
Segalanya membingungkan.
Lagi-lagi membingungkan.
Terus membingungkan.

Selasa, 18 Juni 2013

'Seperti' Harapan

Aku heran denganmu,
sebenarnya di sini,
kamu yang tidak punya perasaan
atau aku yang terlalu perasa?
Terlalu berharap,
terlalu ke-gr-an akan tindakan kecilmu.
Tindakan yang mungkin tidak berarti bagimu.

Kamu terus saja begitu.
Sedetik memberi harapan,
tapi ribuan detik memberi abaian.
Sedikit mengukir senyum,
tapi banyak melukiskan tangis.
Sebentar mendekat,
lalu pergi berkelana entah kemana.
Mungkin jauh,
lama,
membuatku menunggu,
meninggalkan tangis,
menyisakan sakit,
dan menggantungkan harapan


Ya, itulah kamu.
Kamu yang 'seperti' meninggalkan harapan
ketika aku ingin pergi jauh.
Ketika aku tidak ingin mengganggu kamu lagi.
Selalu begitu,
harapan itu seakan selalu di saat aku sudah merasa tidak kuat,
merasa kesakitan.

Tapi kenapa,
tidak pernah kamu tampakkan harapan nyata?
Atau memang benar,
aku yang terlalu perasa.

Sepertinya aku tidak perlu terus menunggu,
menunggu datangnya jawab akan tanyaku.
Tentang pilihanmu,
tentang perasaanmu,
Tentang kejelasanmu.

Mungkin benar,
itu bukan harapan,
itu hanya perlakuan kecil tak berarti bagimu.

Dan lagi-lagi,
aku merasa sakit di hati.
Lagi-lagi....

Selasa, 11 Juni 2013

Dalam Keadaan Ini...

Dalam keadaan ini,
bukan hanya kamu yang berharap.
Berharap dia akan lebih memilih kamu.
Dalam keadaan ini,
bukan hanya kamu yang merasa tersakiti,
tersaingi.
Dalam keadaan ini,
bukan hanya kamu yang terus mengeluarkan tanya,
dan menunggu datangnya jawaban.
Dalam keadaan ini,
bukan hanya kamu yang mengharapkan kejelasan darinya,
siapa yang diinginkannya pergi,
dan siapa yang ingin dia miliki.

Tapi dalam keadaan ini,
ada aku yang juga merasakan hal yang sama dengan kamu.
Aku ingin mendekat,
tapi sudah ada kamu yang lebih dekat.
Aku ingin menjauh,
tapi aku tidak tega dengan segala perjuanganku.

Menurutku,
dalam keadaan ini kita sama,
hanya bisa berharap pada dia,
pada penjelasannya,
pada keputusannya.

Dan kamu yang sudah berada jauh lebih dekat dengannya daripada aku,
kamu belum bisa menyuruhku pergi.
Menjauhi dia,
mengikhlaskan dia untuk menjadi milikmu.
Belum.

Suatu saat kita akan tahu jawabannya,
dia akan memilih kamu yang lebih baik daripada aku,
lebih kuat,
lebih pintar,
lebih cerdas,
atau dia akan memilih aku,
yang sudah 3 tahun ini menyimpan rasaku untuk dia.
Setia menunggu.

Tapi dalam keadaan ini,
bisakah kamu jangan menganggapku musuh?
Ini masalah hati,
kamu tidak bisa menyalahkan aku,
aku tidak bisa menyalahkan kamu.

Karena aku di sini,
sudah siap memperjuangkan perasaanku,
tapi aku...
juga sudah siap kalah.
Kalah setelah aku benar-benar memperjuangkan dia.
Kehilangan...
Di saat aku belum bisa memiliki dia.


"...do you care if I don't know what you say?
Will you sleep to night?
or will you think of me?
Will I shake this of? Pretend it's all OK 
that there's someone out there who feels just like me
there is..." - There Is - Box Car Racer

Jumat, 17 Mei 2013

Tanpa Ada Perubahan

Setelah kejadian itu,
segalanya kembali seperti biasanya,
berjalan dengan tak ada perubahan.

Kecewa?
Ya, tentu saja aku kecewa
tapi bagaimana?
jika itu memang inginmu,
terus tidak mengenalku,
terus menyakiti aku,
terus mengabaikanku.
Padahal kenyataannya,
kamu tahu,
ada aku yang terus menyayangi kamu,
ada hatiku yang terus berdebar kala aku mendengar suaramu,
ada kakiku yang terus gemetar ketika berada di dekatmu.
Kamu hanya sekedar tahu,
tapi tidak pernah mau peduli.

Aku sedih,
tentu saja,
aku pikir cupcake itu tidak hanya istimewa untukku,
tapi juga untukmu,
kenyataannya?
Kamu tidak pernah mau membuatnya menjadi istimewa.

Bahkan tadi,
ketika ada orang lain memanggil namamu
untuk membantu kami,
dadaku serasa sesak,
karena jantungku berdebar terus menerus,
entah senang atau takut.
Kamu memang datang,
tapi seperti biasa,
hanya sekedar membantu,
tanpa mau menyapaku.
Dan lagi-lagi aku kecewa.

Apakah kamu tidak pernah merasakan kecewa?
Hingga terus membuatku kecewa di sini.
Tapi apa boleh buat,
aku harus tahu diri pada kenyataan,
aku bukan siapa-siapamu,
lalu pantaslah aku kecewa padamu?

Satu hal untukmu,
semoga ada sebuah keajaiban
yang membuatmu sadar,
aku masih di sini menunggu kamu.
Masih.
Dan cupcake itu masih tersimpan,
masih menjadi istimewa.

Senin, 13 Mei 2013

Ketakutanku Akhirnya Terjadi

Dan ternyata sekarang yang baru saja kutakutkan,
akhirnya terjadi.
Ketakutan apabila ada perempuan
yang sama denganku.
Sama-sama mencintai kamu.

Ketakutanku yang lain,
jika perempuan itu lebih baik di matamu,
mungkin lebih pintar,
mungkin lebih cantik,
atau mungkin dia lebih baik di segala hal.

Ketakutan jika kamu
lebih memilih dia yang sempurna daripada aku yang setia.

Ketakutan apabila kamu memilih tertawa bersama dia,
daripada menghapus airmataku di sini.

Dan sekarang semuanya sudah terjadi.
Segala ketakutanku terproyeksi jelas,
sangat jelas di kehidupanku.

Selamat untuk kalian berdua.
Untuk kamu,
cukup airmataku saja yang kamu hiraukan,
cukup perasaanku saja yang kamu abaikan.
Jangan dia,
dia yang sudah kamu pilih dan menerima kamu.
Semoga dia terus membuatmu tersenyum,
semoga dia bisa membuatmu menjadi pribadi yang lebih baik.

Semoga dia,
bukan hanya menjadi yang terbaik untuk kamu,
tapi juga menjadi yang paling setia.
Teruslah tersenyum,
agar aku tahu
bahwa kamu bahagia bersama dia.

Dan untuk kamu,
kamu yang aku sayangi
aku akan berusaha tersenyum
ketika kalian berdua juga tersenyum,
ketika kalian bahagia.
Dan perlahan aku akan mencoba pergi,
menjauh dari kamu.
Sekali lagi selamat.

Jumat, 10 Mei 2013

Tentang Permintaan Maafku...

Aku harap waktu akan memberi aku kesempatan
untuk kita berbicara berdua.
Karena masih ada satu hal yang ingin aku katakan padamu,
sebelum aku meninggalkan semua tanya,
sebelum aku mengabaikan segala kesempatan,
sebelum aku tak lagi meneteskan airmata untuk kamu,
untuk segala soal tentangmu,
untuk segala penantian semuku,
untuk segala tawa mereka,
untuk segalanya tentangmu.
Satu hal itu,
adalah hal yang sejak dulu ingin aku sampaikan.
Tentang permintaan maafku,
kepada kamu,
kepada dia,
dan kepada mereka.

Permintaan maafku kepada kamu...
Maafkan aku,
jika aku masih terlalu lancang terus mencintai kamu.
Maaf apabila aku masih terlalu berani
menampakkan wajahku di hadapanmu.
Maaf jika aku membuat kamu terganggu.
Maaf membuat teman-temanmu tahu mengenai perasaanku ini,
sedangkan kamu berusaha menutupinya.
Tapi...
Aku tidak pernah merencanakan segalanya,
semuanya seperti terjadi begitu saja.
Terus mengalir secara alami.
Natural.
Maaf jika aku tidak bisa mengembalikan kehidupan kamu
secara normal.
Tanpa ada aku di sana.

Permintaan maafku kepada dia...
Sampaikan maafku kepada dia,
dia yang mungkin mempunyai rasa kepadamu,
dia yang mungkin merasa terganggu ada aku
yang tiba-tiba datang memasuki hubungan itu,
entah hubungan persahabatan atau percintaan,
segalanya masih semu,
masih menjadi sebuah tanya.
Sampaikanlah segala maafku,
dan bilang padanya aku akan berusaha pergi.
Toh aku sudah lelah,
menyakiti perasaanku sendiri,
kalian sakiti dengan tatapan itu,
melihat tawa kalian.
Yang segalanya terasa menyakitkan bagiku.

Dan yang terakhir,
permintaan maafku kepada mereka.
Teman-teman dekatmu.
Yang sepertinya tidak menyukaiku.
Yang terus menatapku sinis.
Yang selalu membuatku menunduk ketika bertemu.
Maaf,
jika secara kurang ajar aku masuk dalam cerita kalian.
Maaf jika menurut kalian aku bukanlah orang yang tepat untuk menjadi teman.
Maaf sudah terlihat buruk di hadapan kalian.

Sekali lagi...
Maaf
maaf
dan maaf.
Aku minta maaf untuk segalanya,
Entah kesalahan yang mana,
yang pasti,
tolong maafkan aku.
Oya,
mungkin segalanya tidak akan secepat yang kamu, dia, dan mereka pikir.
Tapi percayalah.
Aku ingin berusaha.

Selasa, 30 April 2013

Face Your Challenge Whatever it Cost

"Face your challenge whatever it cost. Because, it will give you something more valuable than just run away from it."

Hadapi tantanganmu terserah seberapapun harganya. Karena, itu akan memberimu sesuatu yang lebih berharga daripada hanya lari dari masalah itu.

Sudah banyak yang berkata dengan arti yang sama.

Hidup hanya sekali,
tapi tantangan tak akan datang hanya sekali.
Masalah akan terus datang,
dan menguji nyali kita,
mental kita dalam hidup ini.
Maka jalani saja tantangan itu.
Jika tak mau jadi pecundang.

Tapi kenapa,
kalimat itu terasa lain,
ketika namamu menyandang sang pembuat kalimat tersebut?
Rasanya seperti sebuah semangat baru,
Semangat untuk tidak menjadi pecundang.

Tapi dalam sisi gelap aku menertawakan kalimat itu,
kalimat yang mungkin telah menjebakku.

Semua tantangan sudah kujalani,
tantangan tentang kamu.
Tentang keinginanku bersamamu.
Sebuah tantangan kecil dalam hidupku,
harganya tak seberapa.
Tapi yang kudapatkan...
Malah malu,
aku mempermalukan diriku sendiri di hadapanmu.
Apakah itu,
yang disebut "sesuatu yang lebih berharga"
Apakah malu itu berharga?

Minggu, 28 April 2013

Rasa Takut itu Mulai Ada

Tuhan,
kali ini apakah ada yang salah dengan diriku?
Aku merasa aneh,
ketika rasa takut itu muncul.
Ketakutan jika aku tak bisa memiliki kamu,
dan kamu dimiliki oleh perempuan lain.
Ketakutan jika ada perempuan lain,
yang juga mencintai kamu.
Pempuan lain,
yang berhasil memikat hatimu.
Rasa takut,
jika semua perjuanganmu tetap kamu abaikan.
Rasa takut apabila tumpukan rasa rinduku
tak pernah kamu rasakan.
Hanya mampir sebentar,
lalu kamu abaikan.
Aku takut,
jika kamu lebih memilih untuk mencintai orang lain.

Tapi aku juga takut untuk memulai.
Memulai lagi.
Memulai untuk mempermalukan diriku lagi.

Lalu sekarang harus bagaimana?
Memulai untuk menjauh,
atau memulai untuk terus berjuang kembali?
Pulang ke rumah,
atau kembali ke medan perang?

Aku masih belum tahu jawabannya.
Aku masih belum tahu,
apakah aku akan terus tersenyum
dalam sedihku,
ataukah aku akan tersenyum
ketika aku bahagia,
bersama kamu di sisiku.
Bersama kamu yang mendampingi hidupku.

Akankah rasa takut itu bisa aku abaikan?
Ajari aku cara mengabaikan.
Kamu yang menurutku paling pintar mengabaikan.
Tolong aku.
Ajari aku,
untuk bisa mengabaikan rasa takut itu.
Agar aku bisa terus berjuang.
Agar aku tidak ketakutan lagi.

Kumohon...
Tolong aku.

Kamis, 18 April 2013

Tantangan itu Menyakitkan...

Kata orang hidup itu hanya sekali,
tapi kita selalu dihadapkan dengan banyak tantangan.

Tapi aku tidak menyangka,
kenapa harus seperti ini tantangan yang diberikan?
Segalanya datang silih berganti.
Tanpa sadar
bahwa ada aku yang tersakiti.
Aku sebagai pelaku kehidupan sudah sangat tersakiti.

Lalu aku harus bagaimana?
Ingin rasanya aku menangis,
mengatakan pada mereka,
cukup jangan lakukan ini lagi,
biarkan aku larut bersama perasaanku sendiri.
Sendirian.
Kalian tak perlu tahu.
Kalian tak perlu mencari tahu.

Tak apa jika rasa itu berdiam
hingga tak sanggup bergerak.
Terserah dia.

Tapi apa daya?
Segalanya terlambat.
Baru sekarang aku sadar,
lebih baik aku berdiam diri bersama perasaanku.
Dari pada mereka semua tahu.
Mereka yang tak pernah kuundang
untuk tahu semua itu.

Bisakah jika aku ingin segalanya kembali normal?
Aku sudah bosan,
bosan tersakiti perasaanku sendiri.
Bosan terlihat bodoh di hadapanmu.
Bosan mempermalukan diriku di hadapanmu,
di hadapan teman-temanmu.

Kamis, 11 April 2013

Malu Itu...

Kejadian itu...
Masih terputar jelas dalam benakku.
Kejadian yang terjadi
hanya dalam beberapa menit,
tapi rasanya merangkum
semua maluku dalam beberapa tahun itu.
Entah aku harus senang,
atau lebih baik aku mati saja.
Aku tidak tahu.
Yang aku tahu sekarang ini,
hanyalah rasa malu.

Malu...
Malu itu ketika aku ditarik paksa
menuju ruangan sempit,
yang setiap hari kamu kunjungi.
Malu itu ketika kamu yang keluar dari ruangan itu
dan bertanya apa yang terjadi.
Malu itu ketika aku memasuki ruangan itu.
Malu itu ketika temanmu,
justru menyuruhku masuk,
padahal dia tahu
hatiku ini untukmu,
tapi hatimu bukan untukku.
Dan malu itu...
Ketika kita berbicara berdua,
berbicara tentang hal yang biasa,
tapi kakiku gemetar.

Dan semua itu,
terjadi dalam satu waktu.
Kemarin,
saat pulang sekolah.
Saat kamu sedang di ruangan itu.
Saat aku mempermalukan diriku sendiri.

Maaf,
jika aku terlalu berani melakukan hal itu.
Maaf,
jika aku lancang berbuat seperti itu.
Aku terlalu bodoh.
Tolong maafkan aku.
Semoga kejadian itu tak terulang.
Dan aku tidak akan membuatmu malu
di hadapan teman-temanmu,
sedangkan aku sendiri tidak akan menahan malu.

Sabtu, 06 April 2013

Selamat Pagi

Selamat pagi dunia,
biarkan hari ini aku tersenyum.
Bersama apapun keadaan yang ada,
bersama apapun cerita hari ini,
bersama tangis ataupun tawa hari ini.
Aku bosan terus bersedih,
dan pagi ini aku berjanji pada diriku sendiri,
Sesakit apapun luka itu,
tentang siapapun,
tentang apapun itu,
senyum ini tak akan lelah untuk terus ada.

Awali pagi dengan senyum,
jalani hari dengan tawa.
Dan semua pagi akan terasa indah,
ketika aku mengingat hari kemarin yang menyenangkan,
dan ketika aku menebak hari ini yang menggembirakan.

Tuhan,
semoga senyum itu bukan hanya milikku,
berikan senyuman untuk
bapakku,
ibuku,
saudaraku,
temanku,
dan dia.
Dia si pembuat tangis itu,
dia yang membuatku mengerti,
menangis tidak akan membuat keadaan mengerti,
menangis tidak akan membuat dia paham.
Tapi senyuman akan membuat dia mengerti,
aku masih di sini,
masih tegar untuk menunggunya.

Selamat pagi semua,
selamat tersenyum.
Aku mencintai kalian,
Aku mencintaimu,
Masih sama seperti ketika tangis itu ada.

Hari Ini Aku Belajar

Aku sekarang tahu,
hidup ini diciptakan agar aku mengerti
bagaimana caranya tersenyum,
bagaimana rasanya disakit,
bagaimana dengan menyakiti.

Pada intinya,
aku hidup untuk mengerti tentang cinta.

Senyum,
tak selamanya senyum itu terus ada,
yang aku tahu,
ketika aku terus tersenyum di saat hatiku menangis,
senyum itu akan rapuh.
Sekali aku disakiti,
airmata itu langsung menetes,
terlalu rapuh,
terlalu perasa.

Ketika aku disakiti,
entah,
aku bingung harus seperti apa.
Jujur saja,
rasa marah itu ada,
ketika senyumku tak dianggapnya,
ketika rasa sabarku diabaikannya.
Tapi pedulikah dia?
Sepertinya tidak,
dia terlalu asyik dengan dunianya sendiri,
dengan perasaannya sendiri.

Maaf,
jika caraku memberitahumu
tentang rasa tidak nyamanku denganmu terlalu menyakitkanmu.
Rasa tidak nyaman yang sebenarnya berdiam diri di sudut hatiku.
Terpencil,
bahkan terkadang dia menghilang.
Tapi mungkin saat ini dia datang di saat yang tidak tepat.

Sekali lagi maaf.
Jika kamu tidak nyaman dengan caraku bercanda.
Maafkan aku,
aku masih membutuhkanmu,
dan kumohon jangan munafik,
kamu juga membutuhkanku.
Jangan munafik jika kita pernah tertawa bersama,
akupun tidak akan munafik,
aku tidak ingin segalanya berakhir.
Aku butuh maafmu.

Sesusah apa memaafkanku?
Kumohon tetap buat aku tersenyum,
sudah banyak luka yang menderaku,
jangan tambah luka ini.
Aku masih butuh cinta darimu.
Cinta...
Senyum selalu menjadi malaikatnya,
dan tangis menjadi iblisnya.
Terimakasih sudah mengajariku tentang cinta hari ini,
tapi aku ingin selamanya kita tersenyum,
jangan ada tangis,
jangan ada benci.
karena aku ingin membuatmu tersenyum
dan dibuatmu tersenyum.
Karena yang aku tahu kita adalah teman.
Semoga rasamu juga sama sepertiku.
Salam.

Selasa, 02 April 2013

Romantic Penyu in the Poems

"Kamu sekarang tahu bukan,
bagaimana rasa ingin menyimpan perasaan,
sendirian...
Tak ingin orang lain,
terlebih dia...
Tahu tentang rasa itu,
rasa cinta.
Biarlah cinta ini tetap untuknya,
tanpa pernah dia tahu.
Tapi suatu saat,
orang lain juga perlu tahu.
Orang lain bisa membantu kita,
entah kita akan bersatu dengannya atau tidak,
dia tahu saja sudah cukup." - @aassyifaa

"Andai dunia ini tak membisu...
Andai dunia ini bisa menjadi kawan curhatku...
Mungkin tak setragis ini kisahku.
Jika ini memang jalanku,
kuingin seperti penyu.
Menimbun telur hingga yang lain tak tahu.
Dan telur itu adalah rahasiaku." - @dytase

"Tapi,
Maukah kamu,
ketika telur-telur menetas
kemudian dirampas begitu saja,
tidakkah kamu akan menyesal?" - @aassyifaa

"Itulah saat dimana dunia harus tahu
inilah kenyataannya,
sekarang mau apa?" - @dytase

"Sekarang,
ketika telur itu belum direbut,
segera ambil.
Katakan padanya,
kamu membutuhkannya." - @aassyifaa

"Tapi sebelumnya...
Kan kusimpan mereka dalam singgasana
yang tak terjamah kejahatan manusia...." - @dytase

"Mereka terlalu pintar,
untuk mencari yang mereka cinta
untuk merebut yang mereka inginkan.
Jangan jadi orang bodoh,
yang tidak mau mempertahankan apa yang kamu cinta." - @aassyifaa

"Bolehkah kujujur?
Siapa yang kau maksud bodoh?" - @dytase

"Kamu...
Kamu yang tidak mau merebut
apa yang kamu inginkan." - @aassyifaa

"Aku lebih memilih untuk tidak menjadi manusia
yang merasuki dan memasuki kisahku.
Namun jika aku penyu,
tak akan kubiarkan telur-telurku tertimbun,
tanpa ada yang menjaga untuk menggantikanku." - @dytase

"Jaga telurmu sendiri,
orang lain belum tentu bisa lebih baik.
jadilah penyu yang baik.
Jangan jadi pengecut." - @aassyifaa

"Setidaknya aku tak setega yang kau kira.
Aku penyu berotak,
tak asal memilih.
Aku memandati penyu,
dengan tempurung yang kupasang CCTV.
Aku akan tahu apa yang iaperbuat
selama aku mengais makanan.
Jika aku terlalu jauh untuk menggapainya,
kuhentakkan kaki-kakiku ke pasir,
memohon pada Tuhan untuk mendatangkan Dewa Neptunus.
Yang membawa Superman untuk mengantarku
pada telur-telurku yang dilanda bahaya
Dan akulah surviver untuk telur-telurku." - @dytase

"Lalu sebenarnya telur-telur itu pasanganmu,
atau anak-anakmu?" - @aassyifaa

"Telur,
bukan anak.
Kapan kita membahas anak?" - @dytase

"Kembali ke romantis...." - @aassyifaa

"Romantis itu terjungkal ke sungai
untuk meraih sahabatnya yang tenggelam
dan tidak bisa renang." - @dytase

"Romantis itu ketika ta
dia yang kucinta namun tak mencintaku
mau untuk bertemu." - @aassyifaa

Senin, 01 April 2013

Semua itu Karena Kamu

Tahukah kamu,
sabar juga ada batasnya,
ada saatnya airmata sudah enggan menjadi pemalu,
ada kalanya rasa sakit berkoar-koar.
Tapi bagaimana,
jika aku dituntut untuk terus bersabar,
masalah
dan cobaan hadir tanpa pernah mengerti jadwal.
Mungkin memang benar,
aku lemah,
aku bukanlah seseorang yang kuat
dalam segala hal.
Setiap ada masalah,
setiap ada cerita kehidupan yang membuatku
malu,
sedih,
merasa tidak sanggup menghadapinya,
aku selalu saja menangis,
meski aku tahu,
tangis itu tidak akan menghilangkan malu itu,
tidak akan menghapus masalahku.
Dan kenapa,
masalahku, selalu saja sama.
Kamu...
Kamu yang sejak dulu tak pernah tahu,
ada aku yang terus tersakiti
ketika aku terus saja tak mau berpaling darimu.
Mungkin,
sudah takdirnya,
kamu diciptakan tak pernah peduli dengan
siapa yang mencintai kamu.
Cukup lama,
cukup membuatku menjadi melankolis,
menangis tentang masalah yang terus datang.
Terima kasih,
aku menjadi tahu apa itu cinta
apa itu tersakiti,
dan bagaimana cara tersenyum,
meskipun di atas tangisku.
Semua itu karena kamu.

Maaf, Kuharap Kamu Mengerti

Hai kamu yang di sana
Semoga kamu baik-baik saja
Semoga kamu tidak pernah marah kepadaku.
Ketika semuanya sudah terbongkar,
ketika semua teman-temanmu tahu,
tentang rasa yang sudah sangat lama aku simpan,
untuk kamu.
Maaf...
Hanya maaf yang bisa aku ucap sekarang,
sejujurnya,
selamanya aku ingin rasa ini kusimpan begitu saja,
serapi mungkin,
tanpa dapat dibongkar begitu saja.
Tapi maaf,
rasa yang tidak kamu inginkan itu terungkap begitu saja,
menurut kamu sekarang aku harus bagaimana?
Masih ada kesempatankah rasa ini terus ada?
Aku harap begitu,
karena hingga saat ini,
saat dimana aku sudah merasa dunia ini tidak berpihak kepadaku
ketika Tuhan terus mengujiku
dan ketika senyum terus terukir dalam tangisku.
aku masih mencintai kamu,
maaf,
sekali lagi maaf
jika rasa ini belum bisa berhenti,
maaf jika kamu keberatan dengan rasa ini,
tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa,
kuharap kamu mengerti.

Kamis, 14 Februari 2013

Let it Rain - Nichkhun [닉쿤] 2PM live tour "What Time Is It?


This is..for my Hottests.
Close my eyes and let the world go by
I feel the rain drops on my mind
And when the time gets the hard with nowhere left to hide
Just wanna drop down and cry
Then you came and changed my life
Being the bestest friend of mine
Oooh Oh I can’t ask for more
So let them bring it all…

Let it rain [x2]
Oh I ain’t scared no more
Let it rain [x2]
I know I got you by my side

And you came and changed my life
Being the guardian angel of mine
Oooh baby
You have the means to protect me
Without you I can’t make it through the rain
Let it rain [x2]
Ooh I ain’t scared no more
Let it rain [x2]
I know I got you by my side

Like an angel
Like my mother
Like the bestest friend of mine

Like an angel
Like my mother
Like the bestest friend of mine

Like an angel
Like my mother
Like the bestest friend of mine

So I..
Let it Rain

Untuk Kamu yang di Sana



Tahukah kamu apa yang aku rasakan sekarang?
Karena kamu tidak pernah peduli denganku,
atau bahkan mungkin kamu sudah lupa,
aku masih di sini
masih mencintai kamu.
Walaupun hari demi hari,
dan akhirnya sampai pada hari ini,
kamu sekalipun tidak pernah peduli akan rasa sayangku padamu.
Hingga kapan aku menangisi kepercumaan ini?
Lagipula kamu tidak pernah sadar,
aku butuh tanganmu untuk mengusap airmataku.
Aku butuh tanganmu...
Karena kamulah penyebab airmataku ini terus bergulir.
Aku yakin,
kamu seharusnya mengerti akan hal itu,
tapi kamu tidak pernah mencoba untuk mengerti.
Sekarang apalagi,
hal yang bisa aku lakukan untuk membuat kamu mengerti?
Kumohon...
Beritahu aku,
sekarang.