Aku sekarang tahu,
hidup ini diciptakan agar aku mengerti
bagaimana caranya tersenyum,
bagaimana rasanya disakit,
bagaimana dengan menyakiti.
Pada intinya,
aku hidup untuk mengerti tentang cinta.
Senyum,
tak selamanya senyum itu terus ada,
yang aku tahu,
ketika aku terus tersenyum di saat hatiku menangis,
senyum itu akan rapuh.
Sekali aku disakiti,
airmata itu langsung menetes,
terlalu rapuh,
terlalu perasa.
Ketika aku disakiti,
entah,
aku bingung harus seperti apa.
Jujur saja,
rasa marah itu ada,
ketika senyumku tak dianggapnya,
ketika rasa sabarku diabaikannya.
Tapi pedulikah dia?
Sepertinya tidak,
dia terlalu asyik dengan dunianya sendiri,
dengan perasaannya sendiri.
Maaf,
jika caraku memberitahumu
tentang rasa tidak nyamanku denganmu terlalu menyakitkanmu.
Rasa tidak nyaman yang sebenarnya berdiam diri di sudut hatiku.
Terpencil,
bahkan terkadang dia menghilang.
Tapi mungkin saat ini dia datang di saat yang tidak tepat.
Sekali lagi maaf.
Jika kamu tidak nyaman dengan caraku bercanda.
Maafkan aku,
aku masih membutuhkanmu,
dan kumohon jangan munafik,
kamu juga membutuhkanku.
Jangan munafik jika kita pernah tertawa bersama,
akupun tidak akan munafik,
aku tidak ingin segalanya berakhir.
Aku butuh maafmu.
Sesusah apa memaafkanku?
Kumohon tetap buat aku tersenyum,
sudah banyak luka yang menderaku,
jangan tambah luka ini.
Aku masih butuh cinta darimu.
Cinta...
Senyum selalu menjadi malaikatnya,
dan tangis menjadi iblisnya.
Terimakasih sudah mengajariku tentang cinta hari ini,
tapi aku ingin selamanya kita tersenyum,
jangan ada tangis,
jangan ada benci.
karena aku ingin membuatmu tersenyum
dan dibuatmu tersenyum.
Karena yang aku tahu kita adalah teman.
Semoga rasamu juga sama sepertiku.
Salam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar