Setelah kejadian itu,
segalanya kembali seperti biasanya,
berjalan dengan tak ada perubahan.
Kecewa?
Ya, tentu saja aku kecewa
tapi bagaimana?
jika itu memang inginmu,
terus tidak mengenalku,
terus menyakiti aku,
terus mengabaikanku.
Padahal kenyataannya,
kamu tahu,
ada aku yang terus menyayangi kamu,
ada hatiku yang terus berdebar kala aku mendengar suaramu,
ada kakiku yang terus gemetar ketika berada di dekatmu.
Kamu hanya sekedar tahu,
tapi tidak pernah mau peduli.
Aku sedih,
tentu saja,
aku pikir cupcake itu tidak hanya istimewa untukku,
tapi juga untukmu,
kenyataannya?
Kamu tidak pernah mau membuatnya menjadi istimewa.
Bahkan tadi,
ketika ada orang lain memanggil namamu
untuk membantu kami,
dadaku serasa sesak,
karena jantungku berdebar terus menerus,
entah senang atau takut.
Kamu memang datang,
tapi seperti biasa,
hanya sekedar membantu,
tanpa mau menyapaku.
Dan lagi-lagi aku kecewa.
Apakah kamu tidak pernah merasakan kecewa?
Hingga terus membuatku kecewa di sini.
Tapi apa boleh buat,
aku harus tahu diri pada kenyataan,
aku bukan siapa-siapamu,
lalu pantaslah aku kecewa padamu?
Satu hal untukmu,
semoga ada sebuah keajaiban
yang membuatmu sadar,
aku masih di sini menunggu kamu.
Masih.
Dan cupcake itu masih tersimpan,
masih menjadi istimewa.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar