"Face your challenge whatever it cost. Because, it will give you something more valuable than just run away from it."
Hadapi tantanganmu terserah seberapapun harganya. Karena, itu akan memberimu sesuatu yang lebih berharga daripada hanya lari dari masalah itu.
Sudah banyak yang berkata dengan arti yang sama.
Hidup hanya sekali,
tapi tantangan tak akan datang hanya sekali.
Masalah akan terus datang,
dan menguji nyali kita,
mental kita dalam hidup ini.
Maka jalani saja tantangan itu.
Jika tak mau jadi pecundang.
Tapi kenapa,
kalimat itu terasa lain,
ketika namamu menyandang sang pembuat kalimat tersebut?
Rasanya seperti sebuah semangat baru,
Semangat untuk tidak menjadi pecundang.
Tapi dalam sisi gelap aku menertawakan kalimat itu,
kalimat yang mungkin telah menjebakku.
Semua tantangan sudah kujalani,
tantangan tentang kamu.
Tentang keinginanku bersamamu.
Sebuah tantangan kecil dalam hidupku,
harganya tak seberapa.
Tapi yang kudapatkan...
Malah malu,
aku mempermalukan diriku sendiri di hadapanmu.
Apakah itu,
yang disebut "sesuatu yang lebih berharga"
Apakah malu itu berharga?
music box
Selasa, 30 April 2013
Minggu, 28 April 2013
Rasa Takut itu Mulai Ada
Tuhan,
kali ini apakah ada yang salah dengan diriku?
Aku merasa aneh,
ketika rasa takut itu muncul.
Ketakutan jika aku tak bisa memiliki kamu,
dan kamu dimiliki oleh perempuan lain.
Ketakutan jika ada perempuan lain,
yang juga mencintai kamu.
Pempuan lain,
yang berhasil memikat hatimu.
Rasa takut,
jika semua perjuanganmu tetap kamu abaikan.
Rasa takut apabila tumpukan rasa rinduku
tak pernah kamu rasakan.
Hanya mampir sebentar,
lalu kamu abaikan.
Aku takut,
jika kamu lebih memilih untuk mencintai orang lain.
Tapi aku juga takut untuk memulai.
Memulai lagi.
Memulai untuk mempermalukan diriku lagi.
Lalu sekarang harus bagaimana?
Memulai untuk menjauh,
atau memulai untuk terus berjuang kembali?
Pulang ke rumah,
atau kembali ke medan perang?
Aku masih belum tahu jawabannya.
Aku masih belum tahu,
apakah aku akan terus tersenyum
dalam sedihku,
ataukah aku akan tersenyum
ketika aku bahagia,
bersama kamu di sisiku.
Bersama kamu yang mendampingi hidupku.
Akankah rasa takut itu bisa aku abaikan?
Ajari aku cara mengabaikan.
Kamu yang menurutku paling pintar mengabaikan.
Tolong aku.
Ajari aku,
untuk bisa mengabaikan rasa takut itu.
Agar aku bisa terus berjuang.
Agar aku tidak ketakutan lagi.
Kumohon...
Tolong aku.
kali ini apakah ada yang salah dengan diriku?
Aku merasa aneh,
ketika rasa takut itu muncul.
Ketakutan jika aku tak bisa memiliki kamu,
dan kamu dimiliki oleh perempuan lain.
Ketakutan jika ada perempuan lain,
yang juga mencintai kamu.
Pempuan lain,
yang berhasil memikat hatimu.
Rasa takut,
jika semua perjuanganmu tetap kamu abaikan.
Rasa takut apabila tumpukan rasa rinduku
tak pernah kamu rasakan.
Hanya mampir sebentar,
lalu kamu abaikan.
Aku takut,
jika kamu lebih memilih untuk mencintai orang lain.
Tapi aku juga takut untuk memulai.
Memulai lagi.
Memulai untuk mempermalukan diriku lagi.
Lalu sekarang harus bagaimana?
Memulai untuk menjauh,
atau memulai untuk terus berjuang kembali?
Pulang ke rumah,
atau kembali ke medan perang?
Aku masih belum tahu jawabannya.
Aku masih belum tahu,
apakah aku akan terus tersenyum
dalam sedihku,
ataukah aku akan tersenyum
ketika aku bahagia,
bersama kamu di sisiku.
Bersama kamu yang mendampingi hidupku.
Akankah rasa takut itu bisa aku abaikan?
Ajari aku cara mengabaikan.
Kamu yang menurutku paling pintar mengabaikan.
Tolong aku.
Ajari aku,
untuk bisa mengabaikan rasa takut itu.
Agar aku bisa terus berjuang.
Agar aku tidak ketakutan lagi.
Kumohon...
Tolong aku.
Kamis, 18 April 2013
Tantangan itu Menyakitkan...
Kata orang hidup itu hanya sekali,
tapi kita selalu dihadapkan dengan banyak tantangan.
Tapi aku tidak menyangka,
kenapa harus seperti ini tantangan yang diberikan?
Segalanya datang silih berganti.
Tanpa sadar
bahwa ada aku yang tersakiti.
Aku sebagai pelaku kehidupan sudah sangat tersakiti.
Lalu aku harus bagaimana?
Ingin rasanya aku menangis,
mengatakan pada mereka,
cukup jangan lakukan ini lagi,
biarkan aku larut bersama perasaanku sendiri.
Sendirian.
Kalian tak perlu tahu.
Kalian tak perlu mencari tahu.
Tak apa jika rasa itu berdiam
hingga tak sanggup bergerak.
Terserah dia.
Tapi apa daya?
Segalanya terlambat.
Baru sekarang aku sadar,
lebih baik aku berdiam diri bersama perasaanku.
Dari pada mereka semua tahu.
Mereka yang tak pernah kuundang
untuk tahu semua itu.
Bisakah jika aku ingin segalanya kembali normal?
Aku sudah bosan,
bosan tersakiti perasaanku sendiri.
Bosan terlihat bodoh di hadapanmu.
Bosan mempermalukan diriku di hadapanmu,
di hadapan teman-temanmu.
tapi kita selalu dihadapkan dengan banyak tantangan.
Tapi aku tidak menyangka,
kenapa harus seperti ini tantangan yang diberikan?
Segalanya datang silih berganti.
Tanpa sadar
bahwa ada aku yang tersakiti.
Aku sebagai pelaku kehidupan sudah sangat tersakiti.
Lalu aku harus bagaimana?
Ingin rasanya aku menangis,
mengatakan pada mereka,
cukup jangan lakukan ini lagi,
biarkan aku larut bersama perasaanku sendiri.
Sendirian.
Kalian tak perlu tahu.
Kalian tak perlu mencari tahu.
Tak apa jika rasa itu berdiam
hingga tak sanggup bergerak.
Terserah dia.
Tapi apa daya?
Segalanya terlambat.
Baru sekarang aku sadar,
lebih baik aku berdiam diri bersama perasaanku.
Dari pada mereka semua tahu.
Mereka yang tak pernah kuundang
untuk tahu semua itu.
Bisakah jika aku ingin segalanya kembali normal?
Aku sudah bosan,
bosan tersakiti perasaanku sendiri.
Bosan terlihat bodoh di hadapanmu.
Bosan mempermalukan diriku di hadapanmu,
di hadapan teman-temanmu.
Kamis, 11 April 2013
Malu Itu...
Kejadian itu...
Masih terputar jelas dalam benakku.
Kejadian yang terjadi
hanya dalam beberapa menit,
tapi rasanya merangkum
semua maluku dalam beberapa tahun itu.
Entah aku harus senang,
atau lebih baik aku mati saja.
Aku tidak tahu.
Yang aku tahu sekarang ini,
hanyalah rasa malu.
Malu...
Malu itu ketika aku ditarik paksa
menuju ruangan sempit,
yang setiap hari kamu kunjungi.
Malu itu ketika kamu yang keluar dari ruangan itu
dan bertanya apa yang terjadi.
Malu itu ketika aku memasuki ruangan itu.
Malu itu ketika temanmu,
justru menyuruhku masuk,
padahal dia tahu
hatiku ini untukmu,
tapi hatimu bukan untukku.
Dan malu itu...
Ketika kita berbicara berdua,
berbicara tentang hal yang biasa,
tapi kakiku gemetar.
Dan semua itu,
terjadi dalam satu waktu.
Kemarin,
saat pulang sekolah.
Saat kamu sedang di ruangan itu.
Saat aku mempermalukan diriku sendiri.
Maaf,
jika aku terlalu berani melakukan hal itu.
Maaf,
jika aku lancang berbuat seperti itu.
Aku terlalu bodoh.
Tolong maafkan aku.
Semoga kejadian itu tak terulang.
Dan aku tidak akan membuatmu malu
di hadapan teman-temanmu,
sedangkan aku sendiri tidak akan menahan malu.
Masih terputar jelas dalam benakku.
Kejadian yang terjadi
hanya dalam beberapa menit,
tapi rasanya merangkum
semua maluku dalam beberapa tahun itu.
Entah aku harus senang,
atau lebih baik aku mati saja.
Aku tidak tahu.
Yang aku tahu sekarang ini,
hanyalah rasa malu.
Malu...
Malu itu ketika aku ditarik paksa
menuju ruangan sempit,
yang setiap hari kamu kunjungi.
Malu itu ketika kamu yang keluar dari ruangan itu
dan bertanya apa yang terjadi.
Malu itu ketika aku memasuki ruangan itu.
Malu itu ketika temanmu,
justru menyuruhku masuk,
padahal dia tahu
hatiku ini untukmu,
tapi hatimu bukan untukku.
Dan malu itu...
Ketika kita berbicara berdua,
berbicara tentang hal yang biasa,
tapi kakiku gemetar.
Dan semua itu,
terjadi dalam satu waktu.
Kemarin,
saat pulang sekolah.
Saat kamu sedang di ruangan itu.
Saat aku mempermalukan diriku sendiri.
Maaf,
jika aku terlalu berani melakukan hal itu.
Maaf,
jika aku lancang berbuat seperti itu.
Aku terlalu bodoh.
Tolong maafkan aku.
Semoga kejadian itu tak terulang.
Dan aku tidak akan membuatmu malu
di hadapan teman-temanmu,
sedangkan aku sendiri tidak akan menahan malu.
Sabtu, 06 April 2013
Selamat Pagi
Selamat pagi dunia,
biarkan hari ini aku tersenyum.
Bersama apapun keadaan yang ada,
bersama apapun cerita hari ini,
bersama tangis ataupun tawa hari ini.
Aku bosan terus bersedih,
dan pagi ini aku berjanji pada diriku sendiri,
Sesakit apapun luka itu,
tentang siapapun,
tentang apapun itu,
senyum ini tak akan lelah untuk terus ada.
Awali pagi dengan senyum,
jalani hari dengan tawa.
Dan semua pagi akan terasa indah,
ketika aku mengingat hari kemarin yang menyenangkan,
dan ketika aku menebak hari ini yang menggembirakan.
Tuhan,
semoga senyum itu bukan hanya milikku,
berikan senyuman untuk
bapakku,
ibuku,
saudaraku,
temanku,
dan dia.
Dia si pembuat tangis itu,
dia yang membuatku mengerti,
menangis tidak akan membuat keadaan mengerti,
menangis tidak akan membuat dia paham.
Tapi senyuman akan membuat dia mengerti,
aku masih di sini,
masih tegar untuk menunggunya.
Selamat pagi semua,
selamat tersenyum.
Aku mencintai kalian,
Aku mencintaimu,
Masih sama seperti ketika tangis itu ada.
biarkan hari ini aku tersenyum.
Bersama apapun keadaan yang ada,
bersama apapun cerita hari ini,
bersama tangis ataupun tawa hari ini.
Aku bosan terus bersedih,
dan pagi ini aku berjanji pada diriku sendiri,
Sesakit apapun luka itu,
tentang siapapun,
tentang apapun itu,
senyum ini tak akan lelah untuk terus ada.
Awali pagi dengan senyum,
jalani hari dengan tawa.
Dan semua pagi akan terasa indah,
ketika aku mengingat hari kemarin yang menyenangkan,
dan ketika aku menebak hari ini yang menggembirakan.
Tuhan,
semoga senyum itu bukan hanya milikku,
berikan senyuman untuk
bapakku,
ibuku,
saudaraku,
temanku,
dan dia.
Dia si pembuat tangis itu,
dia yang membuatku mengerti,
menangis tidak akan membuat keadaan mengerti,
menangis tidak akan membuat dia paham.
Tapi senyuman akan membuat dia mengerti,
aku masih di sini,
masih tegar untuk menunggunya.
Selamat pagi semua,
selamat tersenyum.
Aku mencintai kalian,
Aku mencintaimu,
Masih sama seperti ketika tangis itu ada.
Hari Ini Aku Belajar
Aku sekarang tahu,
hidup ini diciptakan agar aku mengerti
bagaimana caranya tersenyum,
bagaimana rasanya disakit,
bagaimana dengan menyakiti.
Pada intinya,
aku hidup untuk mengerti tentang cinta.
Senyum,
tak selamanya senyum itu terus ada,
yang aku tahu,
ketika aku terus tersenyum di saat hatiku menangis,
senyum itu akan rapuh.
Sekali aku disakiti,
airmata itu langsung menetes,
terlalu rapuh,
terlalu perasa.
Ketika aku disakiti,
entah,
aku bingung harus seperti apa.
Jujur saja,
rasa marah itu ada,
ketika senyumku tak dianggapnya,
ketika rasa sabarku diabaikannya.
Tapi pedulikah dia?
Sepertinya tidak,
dia terlalu asyik dengan dunianya sendiri,
dengan perasaannya sendiri.
Maaf,
jika caraku memberitahumu
tentang rasa tidak nyamanku denganmu terlalu menyakitkanmu.
Rasa tidak nyaman yang sebenarnya berdiam diri di sudut hatiku.
Terpencil,
bahkan terkadang dia menghilang.
Tapi mungkin saat ini dia datang di saat yang tidak tepat.
Sekali lagi maaf.
Jika kamu tidak nyaman dengan caraku bercanda.
Maafkan aku,
aku masih membutuhkanmu,
dan kumohon jangan munafik,
kamu juga membutuhkanku.
Jangan munafik jika kita pernah tertawa bersama,
akupun tidak akan munafik,
aku tidak ingin segalanya berakhir.
Aku butuh maafmu.
Sesusah apa memaafkanku?
Kumohon tetap buat aku tersenyum,
sudah banyak luka yang menderaku,
jangan tambah luka ini.
Aku masih butuh cinta darimu.
Cinta...
Senyum selalu menjadi malaikatnya,
dan tangis menjadi iblisnya.
Terimakasih sudah mengajariku tentang cinta hari ini,
tapi aku ingin selamanya kita tersenyum,
jangan ada tangis,
jangan ada benci.
karena aku ingin membuatmu tersenyum
dan dibuatmu tersenyum.
Karena yang aku tahu kita adalah teman.
Semoga rasamu juga sama sepertiku.
Salam.
hidup ini diciptakan agar aku mengerti
bagaimana caranya tersenyum,
bagaimana rasanya disakit,
bagaimana dengan menyakiti.
Pada intinya,
aku hidup untuk mengerti tentang cinta.
Senyum,
tak selamanya senyum itu terus ada,
yang aku tahu,
ketika aku terus tersenyum di saat hatiku menangis,
senyum itu akan rapuh.
Sekali aku disakiti,
airmata itu langsung menetes,
terlalu rapuh,
terlalu perasa.
Ketika aku disakiti,
entah,
aku bingung harus seperti apa.
Jujur saja,
rasa marah itu ada,
ketika senyumku tak dianggapnya,
ketika rasa sabarku diabaikannya.
Tapi pedulikah dia?
Sepertinya tidak,
dia terlalu asyik dengan dunianya sendiri,
dengan perasaannya sendiri.
Maaf,
jika caraku memberitahumu
tentang rasa tidak nyamanku denganmu terlalu menyakitkanmu.
Rasa tidak nyaman yang sebenarnya berdiam diri di sudut hatiku.
Terpencil,
bahkan terkadang dia menghilang.
Tapi mungkin saat ini dia datang di saat yang tidak tepat.
Sekali lagi maaf.
Jika kamu tidak nyaman dengan caraku bercanda.
Maafkan aku,
aku masih membutuhkanmu,
dan kumohon jangan munafik,
kamu juga membutuhkanku.
Jangan munafik jika kita pernah tertawa bersama,
akupun tidak akan munafik,
aku tidak ingin segalanya berakhir.
Aku butuh maafmu.
Sesusah apa memaafkanku?
Kumohon tetap buat aku tersenyum,
sudah banyak luka yang menderaku,
jangan tambah luka ini.
Aku masih butuh cinta darimu.
Cinta...
Senyum selalu menjadi malaikatnya,
dan tangis menjadi iblisnya.
Terimakasih sudah mengajariku tentang cinta hari ini,
tapi aku ingin selamanya kita tersenyum,
jangan ada tangis,
jangan ada benci.
karena aku ingin membuatmu tersenyum
dan dibuatmu tersenyum.
Karena yang aku tahu kita adalah teman.
Semoga rasamu juga sama sepertiku.
Salam.
Selasa, 02 April 2013
Romantic Penyu in the Poems
"Kamu sekarang tahu bukan,
bagaimana rasa ingin menyimpan perasaan,
sendirian...
Tak ingin orang lain,
terlebih dia...
Tahu tentang rasa itu,
rasa cinta.
Biarlah cinta ini tetap untuknya,
tanpa pernah dia tahu.
Tapi suatu saat,
orang lain juga perlu tahu.
Orang lain bisa membantu kita,
entah kita akan bersatu dengannya atau tidak,
dia tahu saja sudah cukup." - @aassyifaa
"Andai dunia ini tak membisu...
Andai dunia ini bisa menjadi kawan curhatku...
Mungkin tak setragis ini kisahku.
Jika ini memang jalanku,
kuingin seperti penyu.
Menimbun telur hingga yang lain tak tahu.
Dan telur itu adalah rahasiaku." - @dytase
"Tapi,
Maukah kamu,
ketika telur-telur menetas
kemudian dirampas begitu saja,
tidakkah kamu akan menyesal?" - @aassyifaa
"Itulah saat dimana dunia harus tahu
inilah kenyataannya,
sekarang mau apa?" - @dytase
"Sekarang,
ketika telur itu belum direbut,
segera ambil.
Katakan padanya,
kamu membutuhkannya." - @aassyifaa
"Tapi sebelumnya...
Kan kusimpan mereka dalam singgasana
yang tak terjamah kejahatan manusia...." - @dytase
"Mereka terlalu pintar,
untuk mencari yang mereka cinta
untuk merebut yang mereka inginkan.
Jangan jadi orang bodoh,
yang tidak mau mempertahankan apa yang kamu cinta." - @aassyifaa
"Bolehkah kujujur?
Siapa yang kau maksud bodoh?" - @dytase
"Kamu...
Kamu yang tidak mau merebut
apa yang kamu inginkan." - @aassyifaa
"Aku lebih memilih untuk tidak menjadi manusia
yang merasuki dan memasuki kisahku.
Namun jika aku penyu,
tak akan kubiarkan telur-telurku tertimbun,
tanpa ada yang menjaga untuk menggantikanku." - @dytase
"Jaga telurmu sendiri,
orang lain belum tentu bisa lebih baik.
jadilah penyu yang baik.
Jangan jadi pengecut." - @aassyifaa
"Setidaknya aku tak setega yang kau kira.
Aku penyu berotak,
tak asal memilih.
Aku memandati penyu,
dengan tempurung yang kupasang CCTV.
Aku akan tahu apa yang iaperbuat
selama aku mengais makanan.
Jika aku terlalu jauh untuk menggapainya,
kuhentakkan kaki-kakiku ke pasir,
memohon pada Tuhan untuk mendatangkan Dewa Neptunus.
Yang membawa Superman untuk mengantarku
pada telur-telurku yang dilanda bahaya
Dan akulah surviver untuk telur-telurku." - @dytase
"Lalu sebenarnya telur-telur itu pasanganmu,
atau anak-anakmu?" - @aassyifaa
"Telur,
bukan anak.
Kapan kita membahas anak?" - @dytase
"Kembali ke romantis...." - @aassyifaa
"Romantis itu terjungkal ke sungai
untuk meraih sahabatnya yang tenggelam
dan tidak bisa renang." - @dytase
"Romantis itu ketika ta
dia yang kucinta namun tak mencintaku
mau untuk bertemu." - @aassyifaa
bagaimana rasa ingin menyimpan perasaan,
sendirian...
Tak ingin orang lain,
terlebih dia...
Tahu tentang rasa itu,
rasa cinta.
Biarlah cinta ini tetap untuknya,
tanpa pernah dia tahu.
Tapi suatu saat,
orang lain juga perlu tahu.
Orang lain bisa membantu kita,
entah kita akan bersatu dengannya atau tidak,
dia tahu saja sudah cukup." - @aassyifaa
"Andai dunia ini tak membisu...
Andai dunia ini bisa menjadi kawan curhatku...
Mungkin tak setragis ini kisahku.
Jika ini memang jalanku,
kuingin seperti penyu.
Menimbun telur hingga yang lain tak tahu.
Dan telur itu adalah rahasiaku." - @dytase
"Tapi,
Maukah kamu,
ketika telur-telur menetas
kemudian dirampas begitu saja,
tidakkah kamu akan menyesal?" - @aassyifaa
"Itulah saat dimana dunia harus tahu
inilah kenyataannya,
sekarang mau apa?" - @dytase
"Sekarang,
ketika telur itu belum direbut,
segera ambil.
Katakan padanya,
kamu membutuhkannya." - @aassyifaa
"Tapi sebelumnya...
Kan kusimpan mereka dalam singgasana
yang tak terjamah kejahatan manusia...." - @dytase
"Mereka terlalu pintar,
untuk mencari yang mereka cinta
untuk merebut yang mereka inginkan.
Jangan jadi orang bodoh,
yang tidak mau mempertahankan apa yang kamu cinta." - @aassyifaa
"Bolehkah kujujur?
Siapa yang kau maksud bodoh?" - @dytase
"Kamu...
Kamu yang tidak mau merebut
apa yang kamu inginkan." - @aassyifaa
"Aku lebih memilih untuk tidak menjadi manusia
yang merasuki dan memasuki kisahku.
Namun jika aku penyu,
tak akan kubiarkan telur-telurku tertimbun,
tanpa ada yang menjaga untuk menggantikanku." - @dytase
"Jaga telurmu sendiri,
orang lain belum tentu bisa lebih baik.
jadilah penyu yang baik.
Jangan jadi pengecut." - @aassyifaa
"Setidaknya aku tak setega yang kau kira.
Aku penyu berotak,
tak asal memilih.
Aku memandati penyu,
dengan tempurung yang kupasang CCTV.
Aku akan tahu apa yang iaperbuat
selama aku mengais makanan.
Jika aku terlalu jauh untuk menggapainya,
kuhentakkan kaki-kakiku ke pasir,
memohon pada Tuhan untuk mendatangkan Dewa Neptunus.
Yang membawa Superman untuk mengantarku
pada telur-telurku yang dilanda bahaya
Dan akulah surviver untuk telur-telurku." - @dytase
"Lalu sebenarnya telur-telur itu pasanganmu,
atau anak-anakmu?" - @aassyifaa
"Telur,
bukan anak.
Kapan kita membahas anak?" - @dytase
"Kembali ke romantis...." - @aassyifaa
"Romantis itu terjungkal ke sungai
untuk meraih sahabatnya yang tenggelam
dan tidak bisa renang." - @dytase
"Romantis itu ketika ta
dia yang kucinta namun tak mencintaku
mau untuk bertemu." - @aassyifaa
Senin, 01 April 2013
Semua itu Karena Kamu
Tahukah kamu,
sabar juga ada batasnya,
ada saatnya airmata sudah enggan menjadi pemalu,
ada kalanya rasa sakit berkoar-koar.
Tapi bagaimana,
jika aku dituntut untuk terus bersabar,
masalah
dan cobaan hadir tanpa pernah mengerti jadwal.
Mungkin memang benar,
aku lemah,
aku bukanlah seseorang yang kuat
dalam segala hal.
Setiap ada masalah,
setiap ada cerita kehidupan yang membuatku
malu,
sedih,
merasa tidak sanggup menghadapinya,
aku selalu saja menangis,
meski aku tahu,
tangis itu tidak akan menghilangkan malu itu,
tidak akan menghapus masalahku.
Dan kenapa,
masalahku, selalu saja sama.
Kamu...
Kamu yang sejak dulu tak pernah tahu,
ada aku yang terus tersakiti
ketika aku terus saja tak mau berpaling darimu.
Mungkin,
sudah takdirnya,
kamu diciptakan tak pernah peduli dengan
siapa yang mencintai kamu.
Cukup lama,
cukup membuatku menjadi melankolis,
menangis tentang masalah yang terus datang.
Terima kasih,
aku menjadi tahu apa itu cinta
apa itu tersakiti,
dan bagaimana cara tersenyum,
meskipun di atas tangisku.
Semua itu karena kamu.
sabar juga ada batasnya,
ada saatnya airmata sudah enggan menjadi pemalu,
ada kalanya rasa sakit berkoar-koar.
Tapi bagaimana,
jika aku dituntut untuk terus bersabar,
masalah
dan cobaan hadir tanpa pernah mengerti jadwal.
Mungkin memang benar,
aku lemah,
aku bukanlah seseorang yang kuat
dalam segala hal.
Setiap ada masalah,
setiap ada cerita kehidupan yang membuatku
malu,
sedih,
merasa tidak sanggup menghadapinya,
aku selalu saja menangis,
meski aku tahu,
tangis itu tidak akan menghilangkan malu itu,
tidak akan menghapus masalahku.
Dan kenapa,
masalahku, selalu saja sama.
Kamu...
Kamu yang sejak dulu tak pernah tahu,
ada aku yang terus tersakiti
ketika aku terus saja tak mau berpaling darimu.
Mungkin,
sudah takdirnya,
kamu diciptakan tak pernah peduli dengan
siapa yang mencintai kamu.
Cukup lama,
cukup membuatku menjadi melankolis,
menangis tentang masalah yang terus datang.
Terima kasih,
aku menjadi tahu apa itu cinta
apa itu tersakiti,
dan bagaimana cara tersenyum,
meskipun di atas tangisku.
Semua itu karena kamu.
Maaf, Kuharap Kamu Mengerti
Hai kamu yang di sana
Semoga kamu baik-baik saja
Semoga kamu tidak pernah marah kepadaku.
Ketika semuanya sudah terbongkar,
ketika semua teman-temanmu tahu,
tentang rasa yang sudah sangat lama aku simpan,
untuk kamu.
Maaf...
Hanya maaf yang bisa aku ucap sekarang,
sejujurnya,
selamanya aku ingin rasa ini kusimpan begitu saja,
serapi mungkin,
tanpa dapat dibongkar begitu saja.
Tapi maaf,
rasa yang tidak kamu inginkan itu terungkap begitu saja,
menurut kamu sekarang aku harus bagaimana?
Masih ada kesempatankah rasa ini terus ada?
Aku harap begitu,
karena hingga saat ini,
saat dimana aku sudah merasa dunia ini tidak berpihak kepadaku
ketika Tuhan terus mengujiku
dan ketika senyum terus terukir dalam tangisku.
aku masih mencintai kamu,
maaf,
sekali lagi maaf
jika rasa ini belum bisa berhenti,
maaf jika kamu keberatan dengan rasa ini,
tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa,
kuharap kamu mengerti.
Semoga kamu baik-baik saja
Semoga kamu tidak pernah marah kepadaku.
Ketika semuanya sudah terbongkar,
ketika semua teman-temanmu tahu,
tentang rasa yang sudah sangat lama aku simpan,
untuk kamu.
Maaf...
Hanya maaf yang bisa aku ucap sekarang,
sejujurnya,
selamanya aku ingin rasa ini kusimpan begitu saja,
serapi mungkin,
tanpa dapat dibongkar begitu saja.
Tapi maaf,
rasa yang tidak kamu inginkan itu terungkap begitu saja,
menurut kamu sekarang aku harus bagaimana?
Masih ada kesempatankah rasa ini terus ada?
Aku harap begitu,
karena hingga saat ini,
saat dimana aku sudah merasa dunia ini tidak berpihak kepadaku
ketika Tuhan terus mengujiku
dan ketika senyum terus terukir dalam tangisku.
aku masih mencintai kamu,
maaf,
sekali lagi maaf
jika rasa ini belum bisa berhenti,
maaf jika kamu keberatan dengan rasa ini,
tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa,
kuharap kamu mengerti.
Langganan:
Komentar (Atom)