Setelah kejadian itu,
segalanya kembali seperti biasanya,
berjalan dengan tak ada perubahan.
Kecewa?
Ya, tentu saja aku kecewa
tapi bagaimana?
jika itu memang inginmu,
terus tidak mengenalku,
terus menyakiti aku,
terus mengabaikanku.
Padahal kenyataannya,
kamu tahu,
ada aku yang terus menyayangi kamu,
ada hatiku yang terus berdebar kala aku mendengar suaramu,
ada kakiku yang terus gemetar ketika berada di dekatmu.
Kamu hanya sekedar tahu,
tapi tidak pernah mau peduli.
Aku sedih,
tentu saja,
aku pikir cupcake itu tidak hanya istimewa untukku,
tapi juga untukmu,
kenyataannya?
Kamu tidak pernah mau membuatnya menjadi istimewa.
Bahkan tadi,
ketika ada orang lain memanggil namamu
untuk membantu kami,
dadaku serasa sesak,
karena jantungku berdebar terus menerus,
entah senang atau takut.
Kamu memang datang,
tapi seperti biasa,
hanya sekedar membantu,
tanpa mau menyapaku.
Dan lagi-lagi aku kecewa.
Apakah kamu tidak pernah merasakan kecewa?
Hingga terus membuatku kecewa di sini.
Tapi apa boleh buat,
aku harus tahu diri pada kenyataan,
aku bukan siapa-siapamu,
lalu pantaslah aku kecewa padamu?
Satu hal untukmu,
semoga ada sebuah keajaiban
yang membuatmu sadar,
aku masih di sini menunggu kamu.
Masih.
Dan cupcake itu masih tersimpan,
masih menjadi istimewa.
music box
Jumat, 17 Mei 2013
Senin, 13 Mei 2013
Ketakutanku Akhirnya Terjadi
Dan ternyata sekarang yang baru saja kutakutkan,
akhirnya terjadi.
Ketakutan apabila ada perempuan
yang sama denganku.
Sama-sama mencintai kamu.
Ketakutanku yang lain,
jika perempuan itu lebih baik di matamu,
mungkin lebih pintar,
mungkin lebih cantik,
atau mungkin dia lebih baik di segala hal.
Ketakutan jika kamu
lebih memilih dia yang sempurna daripada aku yang setia.
Ketakutan apabila kamu memilih tertawa bersama dia,
daripada menghapus airmataku di sini.
Dan sekarang semuanya sudah terjadi.
Segala ketakutanku terproyeksi jelas,
sangat jelas di kehidupanku.
Selamat untuk kalian berdua.
Untuk kamu,
cukup airmataku saja yang kamu hiraukan,
cukup perasaanku saja yang kamu abaikan.
Jangan dia,
dia yang sudah kamu pilih dan menerima kamu.
Semoga dia terus membuatmu tersenyum,
semoga dia bisa membuatmu menjadi pribadi yang lebih baik.
Semoga dia,
bukan hanya menjadi yang terbaik untuk kamu,
tapi juga menjadi yang paling setia.
Teruslah tersenyum,
agar aku tahu
bahwa kamu bahagia bersama dia.
Dan untuk kamu,
kamu yang aku sayangi
aku akan berusaha tersenyum
ketika kalian berdua juga tersenyum,
ketika kalian bahagia.
Dan perlahan aku akan mencoba pergi,
menjauh dari kamu.
Sekali lagi selamat.
akhirnya terjadi.
Ketakutan apabila ada perempuan
yang sama denganku.
Sama-sama mencintai kamu.
Ketakutanku yang lain,
jika perempuan itu lebih baik di matamu,
mungkin lebih pintar,
mungkin lebih cantik,
atau mungkin dia lebih baik di segala hal.
Ketakutan jika kamu
lebih memilih dia yang sempurna daripada aku yang setia.
Ketakutan apabila kamu memilih tertawa bersama dia,
daripada menghapus airmataku di sini.
Dan sekarang semuanya sudah terjadi.
Segala ketakutanku terproyeksi jelas,
sangat jelas di kehidupanku.
Selamat untuk kalian berdua.
Untuk kamu,
cukup airmataku saja yang kamu hiraukan,
cukup perasaanku saja yang kamu abaikan.
Jangan dia,
dia yang sudah kamu pilih dan menerima kamu.
Semoga dia terus membuatmu tersenyum,
semoga dia bisa membuatmu menjadi pribadi yang lebih baik.
Semoga dia,
bukan hanya menjadi yang terbaik untuk kamu,
tapi juga menjadi yang paling setia.
Teruslah tersenyum,
agar aku tahu
bahwa kamu bahagia bersama dia.
Dan untuk kamu,
kamu yang aku sayangi
aku akan berusaha tersenyum
ketika kalian berdua juga tersenyum,
ketika kalian bahagia.
Dan perlahan aku akan mencoba pergi,
menjauh dari kamu.
Sekali lagi selamat.
Jumat, 10 Mei 2013
Tentang Permintaan Maafku...
Aku harap waktu akan memberi aku kesempatan
untuk kita berbicara berdua.
Karena masih ada satu hal yang ingin aku katakan padamu,
sebelum aku meninggalkan semua tanya,
sebelum aku mengabaikan segala kesempatan,
sebelum aku tak lagi meneteskan airmata untuk kamu,
untuk segala soal tentangmu,
untuk segala penantian semuku,
untuk segala tawa mereka,
untuk segalanya tentangmu.
Satu hal itu,
adalah hal yang sejak dulu ingin aku sampaikan.
Tentang permintaan maafku,
kepada kamu,
kepada dia,
dan kepada mereka.
Permintaan maafku kepada kamu...
Maafkan aku,
jika aku masih terlalu lancang terus mencintai kamu.
Maaf apabila aku masih terlalu berani
menampakkan wajahku di hadapanmu.
Maaf jika aku membuat kamu terganggu.
Maaf membuat teman-temanmu tahu mengenai perasaanku ini,
sedangkan kamu berusaha menutupinya.
Tapi...
Aku tidak pernah merencanakan segalanya,
semuanya seperti terjadi begitu saja.
Terus mengalir secara alami.
Natural.
Maaf jika aku tidak bisa mengembalikan kehidupan kamu
secara normal.
Tanpa ada aku di sana.
Permintaan maafku kepada dia...
Sampaikan maafku kepada dia,
dia yang mungkin mempunyai rasa kepadamu,
dia yang mungkin merasa terganggu ada aku
yang tiba-tiba datang memasuki hubungan itu,
entah hubungan persahabatan atau percintaan,
segalanya masih semu,
masih menjadi sebuah tanya.
Sampaikanlah segala maafku,
dan bilang padanya aku akan berusaha pergi.
Toh aku sudah lelah,
menyakiti perasaanku sendiri,
kalian sakiti dengan tatapan itu,
melihat tawa kalian.
Yang segalanya terasa menyakitkan bagiku.
Dan yang terakhir,
permintaan maafku kepada mereka.
Teman-teman dekatmu.
Yang sepertinya tidak menyukaiku.
Yang terus menatapku sinis.
Yang selalu membuatku menunduk ketika bertemu.
Maaf,
jika secara kurang ajar aku masuk dalam cerita kalian.
Maaf jika menurut kalian aku bukanlah orang yang tepat untuk menjadi teman.
Maaf sudah terlihat buruk di hadapan kalian.
Sekali lagi...
Maaf
maaf
dan maaf.
Aku minta maaf untuk segalanya,
Entah kesalahan yang mana,
yang pasti,
tolong maafkan aku.
Oya,
mungkin segalanya tidak akan secepat yang kamu, dia, dan mereka pikir.
Tapi percayalah.
Aku ingin berusaha.
untuk kita berbicara berdua.
Karena masih ada satu hal yang ingin aku katakan padamu,
sebelum aku meninggalkan semua tanya,
sebelum aku mengabaikan segala kesempatan,
sebelum aku tak lagi meneteskan airmata untuk kamu,
untuk segala soal tentangmu,
untuk segala penantian semuku,
untuk segala tawa mereka,
untuk segalanya tentangmu.
Satu hal itu,
adalah hal yang sejak dulu ingin aku sampaikan.
Tentang permintaan maafku,
kepada kamu,
kepada dia,
dan kepada mereka.
Permintaan maafku kepada kamu...
Maafkan aku,
jika aku masih terlalu lancang terus mencintai kamu.
Maaf apabila aku masih terlalu berani
menampakkan wajahku di hadapanmu.
Maaf jika aku membuat kamu terganggu.
Maaf membuat teman-temanmu tahu mengenai perasaanku ini,
sedangkan kamu berusaha menutupinya.
Tapi...
Aku tidak pernah merencanakan segalanya,
semuanya seperti terjadi begitu saja.
Terus mengalir secara alami.
Natural.
Maaf jika aku tidak bisa mengembalikan kehidupan kamu
secara normal.
Tanpa ada aku di sana.
Permintaan maafku kepada dia...
Sampaikan maafku kepada dia,
dia yang mungkin mempunyai rasa kepadamu,
dia yang mungkin merasa terganggu ada aku
yang tiba-tiba datang memasuki hubungan itu,
entah hubungan persahabatan atau percintaan,
segalanya masih semu,
masih menjadi sebuah tanya.
Sampaikanlah segala maafku,
dan bilang padanya aku akan berusaha pergi.
Toh aku sudah lelah,
menyakiti perasaanku sendiri,
kalian sakiti dengan tatapan itu,
melihat tawa kalian.
Yang segalanya terasa menyakitkan bagiku.
Dan yang terakhir,
permintaan maafku kepada mereka.
Teman-teman dekatmu.
Yang sepertinya tidak menyukaiku.
Yang terus menatapku sinis.
Yang selalu membuatku menunduk ketika bertemu.
Maaf,
jika secara kurang ajar aku masuk dalam cerita kalian.
Maaf jika menurut kalian aku bukanlah orang yang tepat untuk menjadi teman.
Maaf sudah terlihat buruk di hadapan kalian.
Sekali lagi...
Maaf
maaf
dan maaf.
Aku minta maaf untuk segalanya,
Entah kesalahan yang mana,
yang pasti,
tolong maafkan aku.
Oya,
mungkin segalanya tidak akan secepat yang kamu, dia, dan mereka pikir.
Tapi percayalah.
Aku ingin berusaha.
Langganan:
Komentar (Atom)

