Semuanya
sudah terjadi. Ribuan malam kita lewati berdua hanya kita bersama sang rembulan
dan beribu bintang. Di tengah dinginnya malam. Ditemani dengan hembusan angina yang
merasuk sampai tulangku. Sudah lama
kita tak melakukannya, ketika waktu memutuskan bahwa jalan kita tak untuk
bersama. Sejujurnya aku rindu masa itu, kasih. Tapi apa daya kita tak sejalan.
Kasih, andai waktu bisa
kuulang. Andai aku diberi kesempatan untuk terus berada di dekapanmu. Andai
Tuhan memberi aku kesempatan. Aku ingin mencintaimu, kasihku. Sungguh, Tuhan
biarkan cinta ini hidup untuk sekali ini saja. Tapi jika memang waktu kita
sudah ditakdirkan untuk berakhir sampai di sini, apa boleh buat, aku tidak bisa
melakukan apapun. Ragamu tak bisa ku sentuh kembali. Derkap hangatmu tak bisa
kurasakan kembali. Hanya kisah dan kenangan kita yang bisa terus menemaniku.
Aku ikhlas. Ketika maut telah menyeretmu ke dunia lain tak hanya air mata yang
mengantarmu, tapi juga do’aku. Selamat jalan, kasih.
Walaupun berat apabila aku
harus jujur. Sungguh aku tak sanggup untuk ungkapkan yang sesungguhnya. Bahwa
aku tidak ikhlas kamu pergi, membawa luka yang kamu simpan sendiri, penyakit
yang tidak pernah kamu ceritakan. Sungguh, kasih aku tak sanggup. Aku tak bisa
terus hidup bernafas tanpamu. Hidup ini tak akan sempurna.
Andaikan aku punya mesin
waktu, andaikan aku bisa kembali ke masa lalu, andaikan aku bisa memutar waktu
aku ingin kembali ke masa ketika aku bisa membimbingmu untuk melakukan
pengobatan. Andai aku bisa terus mencintainya. Agar aku bisa hidup ditemani
senyumannya. Agar aku bisa mencintaimu lagi. Selamanya. Dengan ragamu di
sisiku. Namun apabila waktuku memang telah habis denganmu tak apa. Yang penting
cinta ini terus hidup walau sekali ini saja.
Berta. Jujur itu berat.
Sulit untuk aku jujur aku tak kuat hidup tanpamu. Tapi aku bisa apa? Waktuku
denganmu sudah habis, kasih. Biarkan kisah kita terus hidup sekali ini saja. Di
hati kita berdua. Selamat jalan. Aku mencintaimu. Selalu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar