matematika oh matematika...
Ada apa sih dengan matematika?
ada apa dengan rumus a log b?
ada apa dengan rumus akar -b kuadrat +-b kuadrat-4ac per 2a?
ada apa dengan rumus y=a(X-Xp)kuadrat+Yp?
Tak ada yang salah dengan semua itu
tapi kenapa semua terasa susah untuk dimengerti...
ah... Matematika...
Aku sudah berusaha keras
belajar mati-matian,
datang ke sekolah dengan muka frustasi ke sekolah...
Tapi apa?
Soal dibagipun aku hanya bengong...
matematika oh matematika...
Aku ingin mencintaimu...
Sungguh...
Seandainya matematika dan sastra tidak berbanding terbalik...
Seandainya aku dilahirkan menyukai matematika dan lihai dalam sastra...
Seandainya aku boleh memilih...
Aku akan memilih sastra sebagai hidupku
dan matematika sebagai cintaku....
Tapi apa boleh buat,
beginilah aku...
Dilahirkan dengan mencintai sastra
dan menyerah untuk matematika...
Matematika oh matematika....
Apa boleh buat,
beginilah aku...
hanya bisa berusaha dan berdo'a saat ujian matematika...
hanya bisa mengingat semua rumus dan sifat...
a log (b.c) = a log b+a log c
AKU BISA!!!
music box
Sabtu, 29 September 2012
Rabu, 19 September 2012
Mungkinkah Ini Saatnya?
Saatnya galau? Mungkin enggak sih.... Yah, cuma bisa berharap itu bukan.... :( tapi kalo iya semoga bahagia aja deh :')
Mungkin sekarang ini waktunya aku mengibarkan BENDERA pertanda aku mulai menyerah. Menyerah untuk menunjukkan kasih tulusku padamu. Karena aku mulai tak kuat membuatmu mengerti akulah yang terbaik untukmu. Aku mulai tak kuat dengan rasa sakit karena mencintaimu. Semua itu ada di BAYANGANku saat aku melihat seseorang. Siapa gadis itu? Entah, aku juga tidak tahu. Yang aku tahu dia memakai seragam yang sama denganmu. Kaos biru tua tebal dengan lambang pecinta alam sekolah kita di dada sebelah kiri. Dengan rambut panjang lurus, dan perawakan tinggi dipadu dengan kulit putih bersih. Ya, dia cantik. Tapi tahukah apa yang membuatku berpikir seperti itu? Sesuatu hal yang konyol. Aku berpikir dia kekasihmu karena dia membawa sebuah tongkat yang beberapa bulan terakhir ini kerap kamu gunakan. Mungkin jika kamu tahu pemikiranku ini, kamu akan menyebutku tolol. Tapi asal kamu tahu itu karena aku mencintai kamu. Andaikan aku punya sebatang RANTING untuk memukul kepalamu, agar kamu tahu aku tulus mencintamu, dari dulu dan sampai kapanpun. Walaupun aku ingin TIUPan angin tak hanya membawa pergi guguran daun kering, tapi juga membawa pergi perasaanku padamu. Supaya aku bebas dari rasa sakit yang terus menikamku. Karena kamu, yang mungkin sudah termiliki.
Madiun, 9 September 2012
Mungkin sekarang ini waktunya aku mengibarkan BENDERA pertanda aku mulai menyerah. Menyerah untuk menunjukkan kasih tulusku padamu. Karena aku mulai tak kuat membuatmu mengerti akulah yang terbaik untukmu. Aku mulai tak kuat dengan rasa sakit karena mencintaimu. Semua itu ada di BAYANGANku saat aku melihat seseorang. Siapa gadis itu? Entah, aku juga tidak tahu. Yang aku tahu dia memakai seragam yang sama denganmu. Kaos biru tua tebal dengan lambang pecinta alam sekolah kita di dada sebelah kiri. Dengan rambut panjang lurus, dan perawakan tinggi dipadu dengan kulit putih bersih. Ya, dia cantik. Tapi tahukah apa yang membuatku berpikir seperti itu? Sesuatu hal yang konyol. Aku berpikir dia kekasihmu karena dia membawa sebuah tongkat yang beberapa bulan terakhir ini kerap kamu gunakan. Mungkin jika kamu tahu pemikiranku ini, kamu akan menyebutku tolol. Tapi asal kamu tahu itu karena aku mencintai kamu. Andaikan aku punya sebatang RANTING untuk memukul kepalamu, agar kamu tahu aku tulus mencintamu, dari dulu dan sampai kapanpun. Walaupun aku ingin TIUPan angin tak hanya membawa pergi guguran daun kering, tapi juga membawa pergi perasaanku padamu. Supaya aku bebas dari rasa sakit yang terus menikamku. Karena kamu, yang mungkin sudah termiliki.Madiun, 9 September 2012
Sabtu, 15 September 2012
Dari Pecinta Alam #FF2in1
Takkan Terganti - Kahitna
Kulangkahkan kakiku ke jalanan terjal
menuju puncak gunung. Sendirian. Sebenarnya tidak benar-benar sendirian. Hanya
aku merasa sepi. Tanpa kamu yang menemaniku melangkah. Tanpa tawamu, tanpa
candamu. Sebenarnya semua itu tak pernah terpikirkan olehku. Tak pernah ada
sebersit pikiran bahwa pada akhirnya kita akan berpisah. Kamu pergi dari
sisiku.
Aku tak memahami waktu. Dia datang dan pergi membuatku
merasa bodoh. Waktu, saat kita bertemu dalam sebuah komunitas pecinta alam di
sekolah kita. Aku terpesona oleh sosokmu. Kuat, menarik, membuatku terpesona.
Kamu selalu membuatku semangat ketika harus melewaati jalanan terjal menuju
puncak gunung. Tapi apa sekarang? Waktu telah pergi membawamu pergi
meninggalkanku. Atau mungkin kamu sudah bosan? Karena semua itu berjalan terus
menerus? Atau mungkin lebih banyak cewek yang menurutmu lebih kuat menjalani
kehidupan di pecinta alam? Mungkin. Tapi asal kamu tahu. Hanya kamu yang ada di
relung hatiku. Mengisi setiap sudutnya. Hingga sulit untukku membuang semua
itu. Kamu tak akan pernah tergantikan.
Tahukah
kamu, aku belum pernah mencintai seseorang dengan seperti ini sebelumnya. Sebelum
melihatmu aku belum pernah jatuh cinta. Tapi kamu bisa dengan segala pesonamu. Kamu
tak akan tergantikan. Karena kamu bukan sekedar indah di mata, tapi juga di
hati. Semua kisah yang kamu ukir juga semua hal tentang kamu. Pribadimu. Semua
membuatmu tak tergantikan.
Tapi
mungkin benar. Waktu yang bersalah. Tanpa pernah permisi selalu datang dan pergi. Membawa senyuman lalu diganti
dengan tangios. Ibarat naik gung. Kita sudah gembira bisa mencapai puncak
tetapi di perjalanan pulang terjatuh. Rasanya sakit. Sampai mungkin rasanya tak
tahan. Tapi untuk mencintaimu sesakit apapun itu, tak akan pernah mengubahku. Aku
tetap mencintaimu. Hanya kamu yang ada di dalam hatiku.
Waktu. Salahkah aku
menyalahkan waktu? Hanya karena dia datang daan pergi selalu mengikut
sertakanmu? Apa dia tidak bisa meninggalkanmu terus di sisiku? Atau kamu yang
sudah tak betah untuk bertahan? Ya, mungkin aku bukan segalanya untukmu. Tapi
bagaimanapun kamu tetap di relung hatiku.
Aku suka pecinta alam.
Atau mungkin aku membencinya? Karena dari pencinta alam aku mengenalmu. Aku mulai mencintamu. Lelaki
pertama yang membuatku jatuh cinta. Ya, itu kamu. Kamu orang pertama. Karena
hal itu kamu adalah segalanya. Kamu bukan hanya sekedar ciptaan Tuhan yang
indah, tapi juga orang yang sempurna. Sempurna untuk dicintai. Kamu tak akan terganti. Terima kasih, kekasihku. Terima
kasih juga pecinta alam. Sayang, semoga kamu menemukan yang lebih baik dari
aku.
Sekali Ini Saja - Glenn Fredly #FF2in1
Semuanya
sudah terjadi. Ribuan malam kita lewati berdua hanya kita bersama sang rembulan
dan beribu bintang. Di tengah dinginnya malam. Ditemani dengan hembusan angina yang
merasuk sampai tulangku. Sudah lama
kita tak melakukannya, ketika waktu memutuskan bahwa jalan kita tak untuk
bersama. Sejujurnya aku rindu masa itu, kasih. Tapi apa daya kita tak sejalan.
Kasih, andai waktu bisa
kuulang. Andai aku diberi kesempatan untuk terus berada di dekapanmu. Andai
Tuhan memberi aku kesempatan. Aku ingin mencintaimu, kasihku. Sungguh, Tuhan
biarkan cinta ini hidup untuk sekali ini saja. Tapi jika memang waktu kita
sudah ditakdirkan untuk berakhir sampai di sini, apa boleh buat, aku tidak bisa
melakukan apapun. Ragamu tak bisa ku sentuh kembali. Derkap hangatmu tak bisa
kurasakan kembali. Hanya kisah dan kenangan kita yang bisa terus menemaniku.
Aku ikhlas. Ketika maut telah menyeretmu ke dunia lain tak hanya air mata yang
mengantarmu, tapi juga do’aku. Selamat jalan, kasih.
Walaupun berat apabila aku
harus jujur. Sungguh aku tak sanggup untuk ungkapkan yang sesungguhnya. Bahwa
aku tidak ikhlas kamu pergi, membawa luka yang kamu simpan sendiri, penyakit
yang tidak pernah kamu ceritakan. Sungguh, kasih aku tak sanggup. Aku tak bisa
terus hidup bernafas tanpamu. Hidup ini tak akan sempurna.
Andaikan aku punya mesin
waktu, andaikan aku bisa kembali ke masa lalu, andaikan aku bisa memutar waktu
aku ingin kembali ke masa ketika aku bisa membimbingmu untuk melakukan
pengobatan. Andai aku bisa terus mencintainya. Agar aku bisa hidup ditemani
senyumannya. Agar aku bisa mencintaimu lagi. Selamanya. Dengan ragamu di
sisiku. Namun apabila waktuku memang telah habis denganmu tak apa. Yang penting
cinta ini terus hidup walau sekali ini saja.
Berta. Jujur itu berat.
Sulit untuk aku jujur aku tak kuat hidup tanpamu. Tapi aku bisa apa? Waktuku
denganmu sudah habis, kasih. Biarkan kisah kita terus hidup sekali ini saja. Di
hati kita berdua. Selamat jalan. Aku mencintaimu. Selalu.
Langganan:
Komentar (Atom)
