music box

Sabtu, 29 Desember 2012

Sebuah HARMONI #puisimalam

28 Desember 2012.
Di saat liburan pastikan enggak mikirin yang namanya pr, tugas, apalagi ulangan. Nah, terus apa yang bisa saya lakukan ketika hal itu terjadi? Kenyataan tidak ada! Akhirnya saya memilih untuk mengikuti kegiatan #puisimalam oleh account twitter @nulisbuku  yang dimulai jam 23.00 sampai dengan 00.00, dan kali ini temanya HARMONI! Keghiatannya lumayan lah, walaupun enggak ada satupun yang di RT sama @nulisbuku tapi bikin aku bisa nulis lagi :D. Nah, cekidot deh #puisimalam @aassyifaa :D, hope you like this :)


Aku tak peduli dengan indahnya harmoni nada, aku hanya peduli dengan harmoni cinta kita 

Benarkah harmoni itu milik indosat mentari? Bagiku tidak. Harmoni itu milik kita. Aku dan keluargaku 

Petir dan hujan. Bagimu itu harmoni alam yang indah. Tapi aku tidak. Kumohon... Peluk aku. Aku takut. 

Bolehkah aku datang di hidupmu? Sebagai pelengkap untuk nadamu. Agar tercipta harmoni, untuk kita. 

Merekalah yang melengkapi melodi-melodi dalam hidupku. Merekalah harmoniku. Dan merekalah keluargaku. 

Bersediakah kamu bersimfoni melantunkan nada dan melodi indah untukku dan menjadi harmoni untukku? 

Saat aku sudah tak bisa menuliskan beribu harmoni puisi untukmu, aku hanya bisa melantunkan kata maaf 

Hembusan angin, ranting yang patah, dan dedauan kering yang terinjak. Itulah harmoni terindah. Alam. 

Dan ketika harmoni itu sudah lenyap terlupakan, kuharap aku masih bertahan di sisimu 

Aku menunggu melodimu di sini tapi simfonimu untuknya di sana. Mungkin harmoni itu bukan milik kita 

Nah itu dia #puisimalam yang kemarin malam saya (@aassyifaa) shared :D cuma 10 biji (padahal 1 jam, @nulisbuku ga nge-RT sama sekali, cuma ada 1 account yang nge-retweet salah satu #puisimalam saya. Terimakasih untukmu :D

Kamis, 27 Desember 2012

Kembali Kamu...

[THREE WORDS, RANGKAI 3 KATA EDISI 23/12/2012]
INDONESIAN WRITER UNIVERSITY



GENDONG - BELAIAN - RENTA



Apa yang sebenarnya ada di pikiranku? Apa aku sudah gila? Tidak bisa membedakan mana yang harus kulakukan dan mana yang harus kuhindari, sepertinya memang begitu. Aku sudah mulai gila karena mencintai kamu. 
Mengapa aku selalu mengingatmu, padahal kamu tak mau diingat olehku?
Mengapa aku merindukan kamu padahal aku tahu kamu tak menginginkan rinduku?
Mengapa aku masih memimpikan kamu, padahal aku tahu kamu tak mau dimimpikan sedikitpun lagi olehku?
Mimpiku tentang kamu masih saja hadir. Mimpiku... Aku dan kamu menjalin sebuah kasih. Kita tertawa bersama, kita menjalani segalanya bersama. Saat aku terjatuh dan tak sanggup bangkit lagi, kamu rela mengGENDONG tubuhku. Di mimpiku... aku dapat merasakan BELAIAN kasih darimu, belaian yang kudambakan, meskipun tak dapat kurasakan di dunia nyata.
Dan ketika aku terbangun dari segala mimpi indahku tentangmu, aku hanya bisa menangis... Mengingat semua itu hanya mimpiku. Hanya sebuah mimpi... Mimpi yang tak akan bisa menjadi kenyataan. Karena kamu tak menginginkan cintaku ini. Bahkan kamu tidak pernah peduli.
Di saat seperti ini hanya dengan berada di pelukan dan menatap senyuman yang tersungging di wajah RENTA ibu yang bisa menenangkanku. Ibu... Aku menginginkannya tapi dia tak menginginkanku. Aku harus bagaimana, Ibu?